
Hasea mendekati roh Arinauli. Dia mendekati roh wanita cantik itu perlahan. Melihat Arinauli hanya tertunduk dan merangkul kedua lututnya, Hasea tau jiwa putri yang baru dikenalnya itu belum tenang. Perlu hati-hati menjelaskan segala sesuatu kepadanya.
" Putri, ayo ikutlah pulang dengan ku, tidak ada gunanya kau tetap berada disini." Hasea mengulurkan tangannya.
" Apa peduli mu? Bukankah sudah ku katakan aku akan tetap disini."
" Putri, aku memang tidak mengenal mu. Tetapi aku tau pasti, orang-orang yang mengenal mu di dunia sana sangat menantikan kehadiran mu. Apakah kau sama sekali tidak peduli dengan mereka?"
" Kenapa aku harus memperdulikan mereka disaat mereka tidak pernah mengagapku ada sama sekali? Aku tau mereka hanya menganggap ku sebagai pembawa sial."
" Kau...bagaimana kau bisa berkata demikian? Kakek mu..Ingat kakek mu. Orang tua itu dalam usianya yang entah berapa lama lagi harus diterpa sengsara seperti itu. Menderita dengan perasaan bersalah yang setiap hari membayanginya. Apa kau sanggup membiarkannya menderita di sisa hidupnya?"
" Kakek..." mata Arinauli berkaca-kaca. Terlintas wajah kakek nya di benak Arinauli.
Hasiahan memang selama ini seolah tidak peduli dengan Arinauli. Pada beberapa kesempatan memang sempat terlintas di benak orang tua itu bahwa Arinauli hanya membawa petaka. Karena cucu nya itu, dia harus kehilangan anak kesayangannya. Tetapi sebenarnya Hasiahan juga sangat menyayangi cucu nya. Hanya saja memang dasar orang tua itu sama sekali tidak tau bagaimana caranya menunjukkan rasa sayang nya.
Hasiahan bukan mengabaikan Arinauli. Hanya saja selaku orang yang sangat dituakan di desanya, Hasiahan terkadang terlalu sibuk membantu dan mengurusi masalah yang terjadi di desanya. Tapi sayangnya, hal tersebut justru membuat Arinauli merasa terabaikan. Orang tua itu lupa bahwa cucunya sangat membutuhkan perhatian darinya.
Putri cantik itu berada dalam kondisi labil. Kasih sayang dari kedua orang tua yang seharusnya dia terima justru tidak pernah dia rasakan sejak dia lahir.
" Putri, kau sungguh egois. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Apa kau tidak pernah berfikir betapa kehilangannya orang-orang yang menyayangimu saat kau menghilang?"
Hasea sedikit membentak Arinauli.
" Apa yang kau ketahui ? Apa kau pernah tau bagaimana rasanya tidak memiliki orang tua?"
Suara Arinauli tidak kalah kuat membentah Hasea.
" Ha?? Orang tua? Aku bahkan adalah anak yang tidak diharapkan. Ya, aku tidak tau rasanya memiliki orang tua. Aku tidak tau bagaimana rasanya kasih sayang dari orang yang melahirkan ku ke dunia. Yang aku tau adalah bagaimana sakitnya tidak diharapkan kehadirannya. Aku tau bagai mana rasanya dianggap sebagai anak pembawa sial. "
Arinauli melunak. Dia menatap Hasea untuk waktu yang lama.
" Benarkah? Lalu bagaimana kau bisa bertahan?"
" Aku memiliki nenek yang menyayangiku. Dia yang membuatku bertahan. Tapi saat aku masih membutuhkannya, dia harus pergi dari dunia untuk selamanya."
Mata Hasea menatap nanar. Dia kembali teringat akan nenek yang disayanginya.
" Putri ayo pulanglah dengan ku, aku tau kakek mu sangat menyayangi mu. Setidaknya senangkanlah dia di masa-masa terakhirnya. Jangan buat dirimu menyesal dikemudian hari."
__ADS_1
Arinauli seperti melunak. Dia bangkit dan perlahan mendekati Hasea.
" Bagai mana kau bisa bertahan setelah nenek mu meninggal?"
" Kau tau, aku hampir saja frustasi. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama dengan mu kalau saja aku tidak mengingat semua nasehat nenek ku. Lagi pula aku akhirnya menyadari, dari sekian banyak orang yang membenci ku, masih ada orang yang benar-benar memperdulikan ku. Aku berusaha kuat dan berfokus kepada mereka. "
Sesaat wajah Mentari terlintas di kepala Hasea. Dia kembali mengingat wanita cantik itu. Wanita yang selalu memberi perhatian kepadanya saat seluruh desa berupaya menjauhi Hasea.
" Aku yakin anda juga demikian Putri. Aku yakin, masih banyak orang yang mempedulikan anda. Hanya saja anda tidak menyadarinya. "
Arinauli menangis sejadi-jadinya. Entah kenapa ucapan Hasea menyadarkannya. Sebenarnya dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia bisa merasakan kasih sayang dari kakeknya. Hanya saja kerinduannya yang besar akan kasih sayang kedua orang tuanya membuat pikirannya kacau. Mencoba bunuh diri, menjadi jalan yang dia pilih. Yang Arinauli tidak sadari adalah kematian mungkin tidak akan menjadi jalan baginya untuk bertemu kedua orang tua nya.
Sekali lagi Hasea mengulurkan tangan kepada Arinauli. Dia menggenggam telapak tangan putri cantik itu. Mata Arinauli sendu menatap Hasea.
" Ayo putri, ikutlah pulang dengan ku."
Arinauli seperti terhipnotis. Dia menuruti Hasea. Untuk beberapa lama mereka hanya berpegangan tangan.
" Baiklah..aku akan ikut dengan mu." Suara Arinauli memecah keheningan. " Kenapa kita belum berangkat?"
" Heeh..itu.."
" Bukan begitu..hanya saja." Hasea hanya menatap Arinauli. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Aku tidak tau bagaimana caranya keluar dari tempat ini."
" Apa? Kau ini, bagaimana kau bisa kemari kalau tidak tau caranya kembali?"
" Heeh. Aku kemari dibantu oleh Gea..hanya saja aku tidak terpikir untuk bertanya bagaimana caranya kembali."
" Astaga..kau ini bodoh sekali. Ini sama hal nya aku yang menyelamatkan mu dari tempat ini. Ayo ikutlah dengan ku."
" Apa? Apa kau tau jalan keluar dari tempat ini?"
" Tentu saja..kenapa memangnya?"
" Jadi selama ini kau...?"
" Kenapa? Kenapa aku tidak kembali? Aku tidak pernah berkata aku tidak tau jalan pulang bukan? Aku hanya tidak mau kembali."
__ADS_1
Roh Arinauli melesat, Hasea mengikutinya. Perlahan Hasea bisa melihat cahaya putih dari kejauhan. Cahaya itu semakin lama semakin terlihat jelas seiring mereka mendekat.
" Ini jalan keluar dari tempat ini, aku yakin setelah melewati lorong ini kita akan kembali pada tubuh kita masing-masing."
Arinauli tersenyum manis kepada Hasea. Senyuman itu, senyuman paling menyejukkan yang pernah Hasea lihat seumur hidupnya. Pemuda itu sepertinya jatuh cinta. Memang dasar pemuda yang diperbudak cinta. Dia mudah sekali jatuh cinta.
" Apa kau baik-baik saja?"
" Maksud mu?" Arinauli memperjelas arah pertanyaan Hasea.
" Ya.. kau tau lah, kalau seseorang kehilangan sahabatnya biasanya ada rasa sedih yang tertinggal bukan?"
" Maksud mu rajawali hijau itu ? Hahaha.. aku tidak pernah menganggapnya sahabat. Aku tau dia hanya menginginkan aku menyerahkan roh ku kepadanya. Dengan mendapatkan roh ku, dia berharap bisa menguasai tubuh ku, kau tau kata orang tubuh ku adalah tubuh pusaka. Entah apa maksudnya. Selama ini dia selalu membujukku. Tapi aku tau niatan dalam hatinya sangat jahat. "
Hasea hanya tertegun mendengar penjelasan Arianuli.
" Oh ia..setelah kembali ke dunia manusia, apa kita akan bertemu lagi?"
" Tentu saja, aku salah satu tabib mu. Sepertinya kita akan bertemu lagi."
" Wah..bukankah usiamu masih terlalu muda untuk menjadi seorang tabib?"
" Hehe..begitulah kata orang-orang, tetapi usia kadang tidak memberi pengaruh apa-apa bukan?"
Arinauli melangkahkan kakinya menuju lorong putih. Pintu keluar dari dunia para roh penasaran.
" Siapa namamu?"
Teriak Arinauli pada langkah terakhirnya sebelum keluar dari dunia hampa itu.
" Hasea....nama ku Hasea...ku harap kau mengingatnya.." teriak Hasea.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hi, good day to all,
Kata pihak Noveltoon nih, salah satu cara meningkatkan performa Novel adalah dengan sering-sering berinteraksi dgn pembaca.
So, Ayo berinteraksi.
__ADS_1
Jangan lupa terbar senyum hari ini ya.