PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 86. Pertarungan Dua Naga II


__ADS_3

Hasea bangkit berdiri. Dia berfikir cepat.


" Jurus Naga air menggulung lautan. Naga air abadi."


Jurus terakhir dari bab Naga air menggulung lautan akhirnya Hasea pergunakan. Jurus yang sebenarnya belum pernah dia praktekkan sekalipun dalam latihannya selama ini.


Tubuh Hasea kembali menyedot hampir semua air dalam telaga itu. Terbentuk naga air, namun kali ini Hasea ada didalamnya. Naga air meliuk cepat. Tubuh Hasea berputar dengan kecepatan tinggi.


Tubuh Terisab berbenturan dengan Naga Air.


Tubuh Terisab dengan kobaran api biru nya itu terperangkap di dalam Naga air. Terkunci tidak bergerak dikarenakan naga air tiba-tiba membeku.


" Kau, apa yang kau lakukan?" Gea yang merasa seolah kehilangan kemampuannya memancarkan tenaga dalam sedikit panik.


" Gea, kau sungguh sudah keterlaluan. Apa kau akan terus menyerangku? Jangan paksa aku bertindak lebih jauh lagi. "


" Hai bodoh, aku bahkan belum mengerahkan semua tenaga dalam ku tetapi kau sudah ketakutan seperti itu. Kalau saja tubuh orang tua ini memiliki Tulang naga tua, mungkin pertarungan kita bisa lebih menarik lagi."


Hasea tidak mengerti dengan ucapan Gea. Jelas Hasea memiliki tulang naga tua dalam tubuhnya. Tetapi sesungguhnya selama ini dia hanya menggunakan kekuatan tulang itu untuk pertarungan fisik dan untuk menahan pukulan langsung.


Gea memusatkan Tanaga dalamnya. Pancaran tenaga dalam besar kembali muncul dari tubuh Terisab. Tubuh orang tua itu serasa tidak sanggup menahan lonjakan-lonjakan tenaga dalam Gea.


" Gawat, naga air ini tidak akan bisa menahannya lebih lama." Benak Hasea. Dia sadar sebentar lagi Gea akan bisa keluar dari perangkap es nya.


Tubuh Terisab memancarkan aura tenaga dalam dengan kekuatan besar. Kedua tangan Terisab akhirnya bisa bergerak. Bongkahan es berbentuk naga itu pecah. Gea terbebas .


" Pukulan naga Api."


" Pukulan naga Air."


Tubuh kedua pendekar itu terpental saat kedua telapak tangan mereka beradu.


Hasea berupaya bangkit lebih dahulu. Dia sadar Gea belum menyerah untuk menyerangnya.

__ADS_1


" Pukulan Naga air."


Hasea kembali melesat, Gea belum bangkit.


'Ini kesempatan terbaik untuk menyerangnya.' Itu yang terlintas dalam benak Hasea.


" Tubuh ini, tubuh orang tua ini tidak sekuat yang ku perkirakan. " Gea menggeremang kesal.


Mungkin hanya separuh dari tenaga dalamnya dia pancarkan tetapi Gea dapat merasakan tubuh Terisab seperti telah berada dalam batas kemampuannya. Gea tidak bisa memancarkan tenaga dalam lebih banyak lagi. Jantung Terisab bisa pecah karenanya.


Gea bangkit. Dia siap menyerang Hasea untuk kesekian kalinya.


" Pukulan naga api." Gea melesat.


" Pukulan naga Api." Gilok yang telah sadar memutuskan untuk terlibat. Walau beresiko tetapi dia tau saat ini bantuannya sangat dibutuhkan oleh Hasea.


Gea menyadari kekuatan tenaga dalam yang cukup besar juga sedang mengincarnya dari belakang. Dia tidak mengabaikan Gilok, tetapi dari bagian depan, pukulan Hasea juga sedang mengarah kepadanya.


Kembali terjadi dentuman besar saat tiga tenaga dalam besar berbenturan. Tubuh ketiga pendekar itu terpental. Tanah bergetar. Bukit di dekat telaga itu retak terbelah . Gelombang akibat benturan itu bahkan sampai terasa di desa Sipoholon yang berjarak puluhan kilometer. Warga yang merasakan gelombang itu tidak tau sedang ada pertarungan besar disekitar desa mereka. Para warga itu beranggapan bahwa getaran dibawah tanah itu hanya akibat dari fenomena alam biasa.


Gea mengendurkan dominasi tenaga dalamnya pada tubuh Terisab. Roh naga itu merasa semua ini telah cukup. Terisab kembali mendapatkan sedikit kuasa akan tubuhnya. Pendekar tua itu memancarkan tenaga dalamnya sendiri. Berharap hal itu bisa sedikit menekan dominasi Hasea.


" Naga Api, sudah cukup . Apa kau seserius itu ingin membunuh orang yang pernah menjadi teman mu?" Terisab dengan sepenuh kekuatannya berusaha menjalin komunikasi dengan Gea.


" Tenanglah orang tua, aku hanya bermain-main dengannya. Ini kesempatan yang baik untuk mengajarinya. Untuk memaksanya mengeluarkan seluruh potensinya."


" Tenang kata mu? Kau hampir saja membunuhnya. Lihat kondisinya. Anak muda itu berantakan."


" Tetapi itu berhasil bukan? Walaupun hanya sedikit, tetapi paling tidak dia mengerti sekarang bahwa selama ini dia baru mempergunakan sebagian dari tenaga dalam roh naga yang bersemayam di tubuhnya."


Hasea yang telah kembali bangkit memasang sikap waspada. Dia kembali memancarkan aura tenaga dalam Naga Gumoang.


" Tenaga dalam naga Gumoang ini seolah tak pernah ada habisnya. Sepertinya selama ini aku kurang menarik potensi nya."

__ADS_1


Wajar Hasea sedikit bingung. Selama ini setiap kali Hasea menggunakan tenaga dalam Gumoang dengan jumlah yang besar pasti setelah itu tubuhnya seperti berada pada batas kemampuannya. Namun kali ini berbeda, tubuhnya seolah mampu menerima lonjakan tenaga dalam Naga Gumoang berulang kali.


Hasea kembali merentangkan tangannya. Tubuhnya kembali memancarkan aura tenaga dalam berwarna biru. Kedua kepal tinjunya dipenuhi tenaga dalam dengan jumlah yang sangat besar. Dia siap menyerang Gea.


" Naga api, sepertinya Hasea akan kembali menyerang. Sekarang apa yang kau rencanakan?"


" Apa tujuan awal kalian memanggilku?" Gea berucap santai dalam kepala Terisab.


" Entahlah, pemuda itu perlu berbicara dengan mu. Ada hal yang harus Hasea tanyakan kepadamu. Dia yakin kau bisa memberinya petunjuk akan sesuatu."


" Kalau begitu, ayo kita bicara."


Nada santai Gea dalam mengucapkan kalimat terakhirnya berhasil membuat Terisab jengkel.


" Naga api, jalan pikiran mu sungguh sulit untuk dimengerti. Setelah hampir membunuh pemuda itu dan menghancurkan tempat ini, kau masih saja bisa berbicara sesantai itu seolah tidak ada yang terjadi."


" Ayolah, jujur saja orang tua. Kau menikmati lonjakan tenaga dalam Naga api yang sesungguhnya dalam tubuh mu bukan?"


Terisab hanya terdiam. Ucapan Gea benar. Sebenarnya Terisab sangat senang bisa merasakan tenaga dalam naga api yang sesungguhnya. Dia bahkan sempat berfikir untuk selamanya menggunakan tenaga dalam Gea. Hanya saja setelah pertarungan tadi, Terisab sadar bahwa tubuhnya tidak sekuat itu. Dia tidak akan bisa menampung tenaga dalam Gea secara utuh. Kalau tetap memaksakan diri bisa saja Gea yang akhirnya mengambil kendali penuh atas tubuhnya.


" Kalau begitu ayo kita bicara. " Kalimat yang keluar dari mulut Terisab itu membuat Hasea mengendurkan aura tenaga dalam nya.


" Kau, apa sedari tadi kau hanya mempermainkan ku?" Hasea protes dengan sikap Gea yang seolah tidak memiliki salah.


" Sudahlah, kau terlalu sentimen. Apa yang ingin kau bicarakan?"


Tubuh Terisab masih mengobarkan nyala api. Tetapi Hasea bisa merasakan sudah tidak ada ancaman dari sana.


Hasea perlahan mendekati Gea namun tidak sedikitpun Hasea mengendurkan kewaspadaannya. 'Bisa saja ini jebakan' Benak Hasea.


Gea duduk bersila. Dia siap berbicara dengan Hasea. Walau awalnya kesal, terapi akhirnya Hasea mulai bercerita.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Manteman, Kasih Vote boleh Kali..Hehehe


__ADS_2