PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 51. Bukit Menagis


__ADS_3

Hasea memasuki gua semakin dalam. Walau dari luar pintu masuk gua terlihat kecil, namun ternyata di dalam ruangan gua cukup luas. Tubuh Hasea yang terasa ringan memudahkannya untuk berpindah tempat dengan melompat. Mata nya menyisir seluruh ruangan gua, namun tidak menemukan apa pun disana selain tembok batu dan sebuah telaga di tengah Gua. Keberadaan tenaga di tengah gua itu memang aneh, tetapi yang lain tampak normal.


" Selain karena tubuh ku bisa melayang, sepertinya ini hanya gua biasa. Sama sekali tidak ada apa-apa di tempat ini selain bebatuan dan telaga ini."


Hasea kembali memutari gua, meraba setiap dinding gua, melompat jauh ke langit-langit gua. Menyelidiki setiap sudut berharap menemukan sesuatu. Hasea sampai dikejutkan oleh beberapa kelelawar yang tiba-tiba terbang. Mungkin gerombolan kelelawar itu terganggu akan kehadiran Hasea.


" Tunggu dulu, apa aku tidak salah lihat. Kelelawar-kelelawar itu menyelam? Apakah kelelawar sungguh bisa berenang?" . Hasea begitu terkejut melihat gerombolan kelelawar itu terjun ke dalam telaga begitu saja. " Lagipula kemana perginya kelinci tadi?" Hasea masih ingat dia sebelumnya mengejar seekor kelinci. Namun Hasea tidak mendapati kelinci tersebut di dalam gua. Sementara pintu keluar dan masuk ke dalam gua itu hanya satu.


Hasea kemudian melompat ke dalam telaga. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh disana. Namun saat sudah berenang di dalam telaga tersebut dia tidak merasakan apa-apa. " Sepertinya ini sia-sia." Gumamnya.


Hasea kemudian teringat akan sesuatu. " Tenggelam untuk mengapung. Jadi begitu ya?" Hasea kembali memasuki telaga. Tetapi kali ini dia bermaksud untuk menyelami telaga sedalam mungkin. Hasea terus menyelam, sudah cukup dalam tetapi dia belum juga menemukan dasar telaga. Hasea mulai panik, dia mulai kehabisan nafas. " Telaga ini tidak memiliki dasar, apa aku harus terus menyelam?"


Paru-paru Hasea serasa kehabisan cadangan oksigen. Dadanya serasa sakit dan sesak. Pembuluh darahnya seolah akan meledak. Hasea benar-benar tenggelam tanpa kakinya menyentuh dasar telaga. Matanya juga tidak dapat melihat apa-apa karena cahaya sama sekali tidak dapat menembus di kedalaman itu. Badan Hasea serasa lemas. Sepertinya tubuhnya sudah berada di batas kemampuan menahan tekanan air. Naluri tubuh Hasea yang ingin bertahan memutuskannya untuk naik ke permukaan telaga sesaat sebelum dia akan kehilangan kesadaran.


Hasea tergesa-gesa berenang ke atas menuju permukaan telaga. Matanya mulai menangkap cahaya. Tubuh Hasea muncul di permukaan, dengan mata yang masih terpejam, hal pertama yang dia lakukan adalah menarik nafas dalam-dalam.


" Tadi itu berbahaya sekali. Harusnya aku tidak melakukan hal bodoh seperti itu." Hasea perlahan membuka mata saat nafas serta jantungnya kembali normal. " Ini...tempat ini? Dimana aku? Kenapa aku tidak kembali ke dalam gua dan malah berada di tepat ini . Apakah aku terbawa arus air?" Hasea terkejut. Bukannya muncul di telaga dalam gua, Hasea malah mendapati dirinya berada di sebuah danau. Tempat itu sungguh asing. Pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di sana begitu berbeda. Hasea bahkan belum pernah melihatnya sama sekali. Tumbuh-tumbuhan itu terlihat aneh. Tetapi tumbuh-tumbuhan itu begitu indah.


Hasea berenang ke tepi danau. Dia keluar dari air danau tersebut kemudian kembali mengamati sekitarnya. Dia dapat melihat pohon-pohon yang begitu besar, bentuknya seperti beringin dengan akar-akar dari dahan pohon menjulang kebawah, hanya saja pohon itu berwarna ungu dan daunnya yang seperti untaian benang-benang memancarkan cahaya ungu. Terdapat juga tanaman seperti jamur. Namun tumbuhnya begitu besar. Tanaman itu juga memancarkan cahaya. Semak belukar yang berada di tempat itu juga begitu asing. Semak-semak itu tidak berhenti berliuk seolah dapat bergerak seperti binatang. Terdapat tanaman seperti talas namun tumbuhnya begitu besar. Rasanya 3 orang sekalipun bisa berteduh dibawah daunnya saat turun hujan.

__ADS_1


Hasea takjub akan keindahan tempat itu, dia memutuskan untuk memasuki tempat itu lebih jauh lagi. Dia ingin segera menemukan apa yang dia cari. Hasea tiba di tempat yang indah lainnya. Tempat ini dipenuhi bukit-bukit bertebing dan lembah yang curam. Banyak binatang seperti burung terbang disana. Hewan-hewan itu bertubuh sangat besar. Paruhnya panjang tetapi tidak seperti paruh burung, leher panjangnya dan seluruh tubuhnya dilapisi sisik yang tebal dan bercahaya. Tetapi sayapnya seperti sayap kelelawar raksasa, ekornya juga runcing seperti ekor pari. Suara burung-burung itu seperti suara paus di lautan.


Hasea menatap tempat itu dengan takjub. Belum pernah dia melihat tempat seindah itu. Hasea mendengar suara tangisan dari kejauhan. " Pastilah ini tempatnya. Bukit menangis."


Hasea mencari asal suara itu, sampai matanya terhenti di satu bukit. Hasea dapat melihat bukit itu begitu tinggi. Seperti ada dinding tebing yang sepenuhnya dari batu di salah satu sisi bukit. Terdapat sebuah celah di dinding itu seperti pintu masuk ke dalam gua. Hasea bahkan bisa merasakan angin yang kencang memasuki gua itu. " Jadi seperti itu, angin yang masuk ke celah itu yang menyebabkan suara seperti tangisan.Tapi bagaimana cara ku ke sana? Tebing itu begitu tinggi. Tidak ada jalan menuju mulut gua."


Hasea mencari cara. Kalaupun dia memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi, rasanya tetap saja dia tidak bisa meraih mulut gua itu. Hasea mencoba berfikir keras namun fikirannya masih buntu. " Kenapa jadi serumit ini. Tidak adakah jalan masuk menuju gua itu?"


Saat Hasea masih mencoba berfikir, tiba-tiba lengan kanannya memancarkan cahaya biru. Naga Gumoang bereaksi tetapi entah untuk apa. Belum sempat Hasea berhenti dari keterkejutannya , seekor burung mendekatinya. Untuk sesaat Hasea panik, dia siaga. Dia berfikir burung itu akan menyerangnya. Namun saat burung itu mendaratkan kakinya dan perlahan mendekati Hasea, barulah kemudian Hasea mengerti bahwa burung itu tidak bermaksud buruk . Burung tersebut kemudian seperti berlutut. Kepalanya menunduk seolah mempersilahkan Hasea menaiki punggungnya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu Hasea akhirnya menaiki punggung burung itu. Burung melesat terbang ke mulut gua seolah bisa membaca pikiran Hasea.


Burung yang ditunggangi Hasea berhenti tepat setelah berpijak di mulut Gua. Hasea turun dari punggung gua itu kemudian melangkahkan kaki memasuki gua. Mulut Hasea menganga, dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya di sana.


" Benda-benda pusaka ini, bagaimana bisa ada benda pusaka sebanyak ini dalam satu tempat? Untuk apa pula ada orang yang menimbun begitu banyak kepingan emas di dalam gua ini?" Wajar saja Hasea terbelalak. Hal seperti yang dia saksikan di hadapannya saat ini bukanlah hal yang biasa.


Hasea mendekati salah satu pedang yang tertancap di lantai gua. Dia menarik pedang itu dari sana. Hasea dapat merasakan kekuatan yang besar yang terpancar dari pedang itu. Hasea mencoba melafalkan jurus pedangnya. Mengalirkan tenaga dalam dari Naga Gumoang ke sana. Bereaksi, pedang itu diselimuti tenaga dalam yang besar, cahaya biru terpancar dari sana.


" Itu pedang Surit Podang Pencabut Nyawa." Suara di salah satu sudut gua mengagetkan Hasea. Menghentikannya dari gerakan jurusnya. Hasea sama sekali tidak mengharapkan ada seorang manusiapun ada di sana. Saat Hasea menoleh ke arah suara itu, betapa terkejutnya dia mendapati seorang pria berperawakan tinggi tegap. Penampakan usia pria itu sekitar 35 tahun. Mata Hasea hanya bisa melotot. Mulutnya bahkan menganga. Hasea dapat merasakan aura tenaga dalam yang sangat besar terpancar dari orang itu. Tubuh Hasea bahkan tidak bisa bergerak dari tempatnya. Dadanya terasa sesak. Keringat dingin tidak berhenti bercucuran dari tubuh Hasea. Hasea ingin berucap. Tapi mulutnya sama sekali tidak dapat bergerak. Tubuh Hasea masih terpengaruh pancaran tenaga dalam orang itu.


" Oh.. maaf, sepertinya aku terlalu berlebihan." Pria itu menarik aura tenaga dalam yang dia pancarkan sehingga Hasea kembali bisa bernafas lega. " Mohon maaf senior, saya sungguh tidak tahu kalau ada orang lain di tempat ini." Ucap Hasea terbata-bata , kepalanya tertunduk dia tidak berani menatap Pria itu. Dari yang dapat Hasea rasakan bahwa pria itu memiliki tenaga dalam yang sangat besar. Pastilah kemampuan bela diri pria itu sangat tinggi. Bahkan kemampuan pria itu lebih tinggi dari Ketua Harimotting maupun Panglima Angkar. Pastilah pria itu berkemampuan pendekar Legenda atau bisa jadi jauh diatas itu.

__ADS_1


" Ah.. sudahlah, kau bisa mendatangi tempat ini berarti alam telah menuntunmu ke sini. Sudah ratusan tahun tidak ada orang yang berkunjung ke sini. Kau tidak usah sungkan.Anggap saja rumah sendiri. "


" Ratusan tahun? Apa itu artinya orang ini sudah berumur ratusan tahun?" Gumam Hasea.


" Tuan rumah macam apa aku, aku sampai lupa menjamu mu. Rasanya aku lupa bagaimana bersikap saat bertemu manusia lain, ayo silahkan duduk lah." Pria itu mengajak Hasea duduk di salah satu tempat di gua itu.


" Maaf senior, apakah anda pemilik tempat ini?" Hasea memberanikan diri memulai percakapan. " Oh, tidak..tidak.Aku hanya lah tamu di sini sama sepertimu. Entahlah saat aku pertama kali berkunjung ke tempat ini, aku tidak menemukan manusia lain." Pria itu mencoba tersenyum ramah walau jadinya seperti canggung. Maklum saja, dia sudah ratusan tahun tidak berbincang dengan manusia . Namun walau begitu , Hasea masih merasa tidak nyaman. Masih ada rasa ngeri di benak Hasea membayangkan hal yang baru saja terjadi . Pancaran tenaga dalam yang dikeluarkan pria itu, Hasea hanya bisa mempercayai hal seperti itu hanya ada dalam mitos.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Teman2 ayo dukung Author agar lebih semangat dalam berkarya. Caranya mudah kok, cukup;


- Tekan Like


- Tinggalkan jejak di kolom komentar


- Rate Bintang 5


- Vote bila berkenan

__ADS_1


- Share juga boleh.


__ADS_2