
CH 85. Pertarungan Dua Naga
" Wah..tubuh ini cukup kuat nampaknya. Aku sepertinya bisa bertahan untuk waktu yang lama atau bahkan untuk selamanya dalam tubuh ini." Gea yang merasa seperti kembali mendapatkan tubuh kuat untuk bersemayam tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.Muncul niatan dalam dirinya untuk menguasai tubuh itu.
" Kau..apakah kau roh naga api?" Terisab berbicara dalam kepalanya.
" Kau bisa memanggilku Gea. Tubuh mu cukup kuat. Bagaimana kalau kau membiarkan aku mengambil alih dari sini?"
"Kau.." Terisab yang masih tidak percaya bingung dengan perasaannya. Pada satu sisi, dia merasakan kekuatan besar dari pancaran tenaga dalam naga api. Niatan untuk menguasai sepenuhnya tenaga dalam itu mulai terbersit.
Hasea yang masih waspada memperhatikan Terisab untuk beberapa saat.
" Sepertinya naga api benar-benar muncul." Benak Hasea.
" Tuan Terisab, biarkan aku berbicara dengan naga api."
Terisab tidak merespon. Orang tua itu kemudian bangkit. Matanya merah, raut wajahnya terlihat aneh.
" Gawat,sepertinya Naga api menguasai tubuh tuan Terisab."
Hasea yang melihat perubahan ekspresi Terisab mulai khawatir.
" Naga Api, Hasea hanya ingin berbicara dengan mu."
Terisab berupaya mengambil alih tubuhnya. Tetapi rasanya hampir seluruh kesadarannya diambil alih oleh Gea. Mungkin itu dikarenakan ada niatan juga dalam dirinya untuk selamanya menyatu dengan naga api. Hal itu menyulitkannya untuk fokus pada tujuan awal.
" Kenapa aku harus berbicara pada orang bodoh itu saat aku telah mendapatkan tubuh yang layak?"
Gea melesat ke arah Hasea. Tubuh Terisab seperti bergerak sendiri.
Hasea waspada, dia memancarkan tenaga dalam Naga Gumoang dalam jumlah yang sangat besar. Tenaga dalam itu menyelimuti tubuhnya. Seluruh tubuh Hasea menancarjan aura tenaga dalam berwarna biru, bahkan rambutnya juga. Dia tau Gea akan menyerangnya. Kewaspadaan Hasea berada dalam tingkat penuh.
Kembali terjadi dentuman besar saat tenaga dalam naga api berbenturan dengan tenaga dalam Naga Gumoang.
__ADS_1
Pertarungan tidak terelakkan. Puluhan jurus saling bertukar. Tenaga dalam dua naga terkuat beradu.
" Gea, apa yang kau lakukan? Apa kau benar-benar ingin membunuh ku?"
Hasea marah. Dia seperti tidak mengenal Gea. Naga api itu sangat berbeda.
" Hahaha..sudah sangat lama aku tidak bisa memancarkan tenaga dalam sebesar ini. Rasanya ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja."
Gea kembali menyerang Hasea. Walau marah, Hasea tetap meladeni serangan Gea. Terisab hampir seperti tidak mendapat kendali lagi atas tubuhnya. Disatu sisi dia sadar ini salah, tapi disisi lain dia juga menikmati kekuatan besar tenaga dalam Gea.
Naga air bentukan Hasea melayang di udara. Naga air berselimut aura biru dan pancaran kilat di setiap sisinya itu siap menyerang Terisab.
" Sepertinya kau lawan yang sepadan." Tangan Terisab terangkat ke udara. Terpancar kobaran api dari kedua telapak tangan itu , kobaran api yang sangat besar. Lidah api menyala-nyala. Perlahan terbentuk naga dari kumpulan kobaran api itu.
" Itu Naga api yang sesungguhnya...Apa saat seperti ini bantuan dari diriku akan berpengaruh ?"
Gilok yang sempat ingin membatu Hasea menjadi ragu. Sepertinya kekuatannya tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang sedang disaksikannya saat ini.
Hasea mengeluarkan kipas merak putih dari balik pakaiannya.
Hasea melayang dan berputar ke udara. Tubuhnya berputar dalam kecepatan tinggi. Terbentuk pusaran tornado dengan Hasea sebagai pusatnya. Naga air meliuk-liuk mengitari tornado. Hasea menggabungkan ke dua jurus dalam kitab Naga Gumoang itu.
Angin tornado bisar itu menyedot hampir semua benda di sekitarnya. Semakin lama pusaran tornado itu semakin besar. Kilat menyambar-nyambar dari sana.
Gilok memegang tangan Hasapi. Sedari tadi orang tua itu telah kehilangan kesadaran. Gilok menggunakan seluruh tenaga dalamnya agar dirinya dan Hasapi tidak tersedot ke dalam pusaran.
" Sepertinya kau mulai serius. Aku suka itu."
Gea yang sudah menguasai tubuh Terisab sepenuhnya melayang di udara.
" Jurus Naga Api lagit."
Gea melayangkan pukulan ke udara. Bola-bola api yang diselimuti tenaga dalam dengan jumlah yang besar melesat ke arah Hasea.
__ADS_1
Bola-bola api tersebut membentur Tornado. Setiap kali bola api itu bersentuhan dengan dinding tornado,saat itu juga terjadi dentuman besar. Percikan api berhamburan dan meledak, ledakan itu menghacurkan setiap benda yang disentuhnya.
" Jurus Naga api petir langit." Naga yang terbentuk dari api itu melesat ke arah Hasea. Naga api itu disambut dan berbenturan dengan naga air. Kembali terjadi dentuma keras. Kali ini Gilok dan Hasapi terkena imbasnya. Kedua orang tua itu terpental cukup jauh. Sementara Terisab dan Gea masih bertahan.
Hasea melesat. Tornado berputar bergerak semakin cepat ke arah Gea. Naga Api dan naga air turut meliuk dan melingkar pada dinding tornado itu. Kedua naga yang berbeda itu saling melilit.
" Bukan begini rencananya."
Hasea yang mulai khawatir berfikir cepat. Dia harus mengakhiri semua ini sebelum jatuh korban. Sebelum semua tempat itu hancur.
" Tuan Terisab. Tolong kendalikan Gea. Sepertinya dia kehilangan akal sehatnya."
Terisab tidak merespon.
" Hahaha. Percuma kau memanggilnya. Hanya ada aku sekarang."
" Gea, kau sudah keterlaluan. Jangan paksa aku bertindak lebih jauh."
" Coba saja Anak muda, aku penasaran sampai sejauh mana kau bisa mengeluarkan tenaga dalam Naga pendiam mu itu." Gea menantang Hasea.
" Jangan menyesali ucapan mu. Kau yang memaksa ku."
Hasea memusatkan seluruh kekuatan yang dia punya untuk menggerakkan Tornado. Dia melesatkan tornado ke arah tubuh Terisab.
Tubuh Terisab memancarkan kobaran api yang semakin besar tetapi putaran tornado yang semakin cepat itu berhasil menyedot tubuh orang tua itu mendekati Hasea.
Terisab bukan tidak tau apa yang terjadi. Namun tetap saja, Gea yang mengendalikan dirinya kini.
" Jurus Naga Api abadi. "
Tubuh Terisab berputar cepat. Kobaran api dalam tubuh nya itu perlahan berubah warna menjadi kebiruan.
" Pukulan Api langit tingkat 5." Kedua kepal tinju Terisab melesat ke arah tornado. Terpancar api berwarna biru dari kedua tinju itu menembus dinding tornado. Naga api dan naga air yang saling melilit pada dinding tornado itu buyar seketika.
__ADS_1
Tubuh Hasea yang berada di pusat tornado bahkan juga terkena imbas pukulan Gea itu. Putaran Angin tornado perlahan mengecil dan hilang. Tubuh Hasea terpental cukup jauh. Hasea memuntahkan darah segar.
" Pukulan api langit tingkat 10." Gea seolah tidak memberi celah, dia kembali melesat ke arah Hasea. Tubuh Terisab berputar cepat melesat ke arah Hasea. Kalau saja ada orang lain yang melihat tubuh Terisab saat itu pastilah mereka mengira itu adalah bola api yang jatuh dari langit.