PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 43. Kekuatan Kitab Naga Biru


__ADS_3

" Gawat, sepertinya pangeran dikuasai oleh amarah. Dia tidak sadar betapa besarnya tenaga dalam yang dia miliki." Gumam Panglima Suhad. Panglima itu kembali melancarkan berbagai jurus. Namun dengan lihai, Hasea masih dapat menghindar. " Aku dapat melihat kemampuan bela dirinya masih sadikit mentah, tetapi dengan tenaga dalam sebesar itu.. tak bisa kubayangkan akan menjadi orang seperti apa dia kelak."


Sejenak panglima Suhad mundur. Pukulan Hasea yang bersarang di tubuhnya masih terasa perih.


" Kau telah membunuh semua keluargaku. Kau sungguh keji." Hasea melesat , dia akan melayangkan pukulan ke arah Kaisar Tossao. Entah kenapa, Hasea menjadi dipenuhi rasa dendam dan dia seolah ingin melampiaskannya kepada kaisar Tossao.


" Pukulan Bulan Level 5." Panglima Suhad memusatkan tenaga dalamnya pada kepalan tangan kanannya. Keselamatan Kaisar menjadi yang utama baginya saat ini. Melihat Hasea mengincar Kaisar membuat panglima itu berniat melumpuhkan Hasea. Pukulan panglima itu mendarat ke punggung Hasea. Hasea yang kalut dan dipenuhi amarah membuat kewaspadaannya menurun. Tubuh Hasea terpental membentur dinding ruangan saat pukulan Panglima Suhad mendarat di punggungnya. Darah segar mengalir dari mulut Hasea.


Hasea segera bangkit. Dia dapat merasakan sakit di sekujur tubuhnya. " Aku bersumpah akan membunuh dan menghancurkan kerajaan ini." Ucap Hasea lantang sambil berlari meninggalkan ruangan itu. Saat ini dia merasa tidak akan bisa berbuat banyak. Hasea berlari menerobos penjaga Istana. Hasea berlari sekencang dia mampu. Beberapa prajurit begitu terkejut melihat seorang pemuda bisa melesat secepat itu.


" Tahan orang itu." Seorang prajurit kepala berteriak kepada para pengawal pintu masuk . Prajurit kepala itu sebenarnya tidak tau apa yang sedang terjadi, namun yang dia yakini, orang itu tentu memiliki maksud yang tidak baik dengan caranya melesat dan memancarkan aura tenaga dalam yang besar seperti itu.


10 Pengawal di pintu masuk istana mencoba menahan Hasea. " Jurus pukulan lebah level 5." Hasea bergerak jig jag. Gerakannya sangat cepat. Bahkan para prajurit itu tidak dapat melihatnya. Hasea seketika melumpuhkan 5 orang dari antara prajurit itu. Sementara prajurit yang lain hanya bisa terdiam.


Hasea berlari sangat cepat membelah gelapnya malam. Dia sungguh ingin menjauhi istana itu secepat Mungkin.


Tak seorangpun mengejar Hasea. Kaisar menghentikan mereka saat panglima Angkar memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengejar Hasea.


"Yang mulia..sebenarnya apa yang terjadi?" Panglima Angkar bertanya kepada kaisar Tossao saat mereka bersama-sama telah berada di halaman Istana sambil memandangi arah larinya Hasea. Kaisar Tossao hanya bisa terdiam. Tidak mungkin dia berkata bahwa orang yang kabur itu adalah Hasea, anak darah dagingnya dari wanita yang dulu pernah sangat dicintainya. Kaisar tau betul, hal itu justru akan membahayakan nyawa Hasea.

__ADS_1


" Sepertinya dia seorang penyusup Panglima." Panglima Suhad yang muncul belakangan segera menjawab pertanyaan panglima Angkar. Panglima yang loyal kepada kaisar itu juga tidak berniat memberi tahu Panglima Angkar tentang hal yang sebenarnya terjadi. Dia tau betul, kalau panglima dihadapannya itu adalah salah satu sumber dari semua masalah di kerajaan ini. Orang itu yang paling ingin Hasea mati sedari dulu.


" Jadi seperti itu. Dari jurus yang digunakannya, dia pasti salah satu dari antara perampok Harinuan. Jadi dia yang membocorkan rencana ku beberapa waktu silam." Gumam Panglima Angkar. " Apakah anda baik-baik saja yang mulia?" Tanya Panglima Angkar. Tapi itu sungguh hanya sebuah kekhawatiran yang palsu, panglima Angkar justru berharap Kaisar terbunuh .


" Tidak usah khawatir Panglima, panglima Suhad tadi melindungiku." Jawab Kaisar sambil tetap memandangi arah perginya Hasea. Hatinya serasa teriris-iris. Seperti ada lubang disana. Dadanya sesak. Baru sebentar dia merasa kehadiran Larasati dalam hidupnya melalui Hasea, kini Darah dagingnya itu meninggalkannya begitu saja. Bahkan darah dagingnya itu menaruhkan dendam dan amarah pada pertemuan terakhir mereka.


Kaisar Tossao seperti menyesali perbuatannya. " Kalau saja aku tidak mengungkapkan kebenarannya, mungkin anakku masih disini." Gumamnya.


***


Hasea masih saja terus berlari. Gelapnya Malam tidak menghalanginya untuk terus berlari. Kaki Hasea yang berlari tanpa tujuan itu tetap membelah malam, sesekali tubuhnya terjatuh karena kakinya tersangkut sesuatu . Entah itu batu atau akar pohon tapi hal itu tidak menghentikannya.


Hujan yang tiba -tiba turun sangat deras di malam itu seolah- olah ikut merasakan kesedihan Hasea, seolah mengerti akan perih yang dirasakan olah Hasea. Air mata yang keluar dari kedua sisi mata Hasea tersamarkan oleh air hujan itu.


Ucapan-ucapan Kaisar masih berbekas di pikirannya. Sedari awal memang dia sudah memiliki firasat bahwa ada hubungan darah antara dirinya dengan keluarga Kaisar Tossao atau kaisar itu sendiri.


Bukan tanpa alasan, semenjak bertemu dengan para Sesepuh dan mendengar penjelasan dari mereka, maka bukan hal yang aneh kalau Hasea akhirnya berfikiran bahwa sebenarnya dia memiliki hubungan darah dengan keluarga kaisar Tossao. Tetapi bukan hal seperti ini yang ada dalam bayangannya. Ini semua diluar pemikirannya.


Hal yang membuat hatinya semakin teriris adalah kenyataan bahwa orang yang mengandung dan melahirkannya , yang dia pikir meninggal saat melahirkannya itu rupanya adalah orang yang dulu dia panggil bibi. Orang yang sebenarnya tidak jarang bertemu dengannya. Larasati selama hidupnya dulu memang selalu menyempatkan dirinya mengunjungi ibunya setidaknya sekali dalam setahun. Namun dalam setiap pertemuan itu tidak sekalipun wanita itu menunjukkan kasih sayang seorang ibu kepada Hasea . Sekedar menegur Hasea saja dia tidak pernah . Jangankan menegur,menatap Hasea pun seolah Wanita itu tidak mau.

__ADS_1


Mungkin mengetahui kenyataan itu yang membuat Hasea semakin terpukul. Betapa dulu dia merindukan kasih sayang seorang ibu, namun saat itu dia ikhlas karena sepengetahuannya ibunya meninggal karena melahirkannya. Tetapi kini, dia merasa seperti anak yang tidak pernah diinginkan.


Hasea berlari semakin dalam memasuki hutan. Gelapnya malam membutakan pandangannya sampai tiba-tiba tubuhnya terperosok ke dalam sebuah jurang. Gelapnya malam dan kalutnya pikirannya membuat dia tidak menyadari bahwa yang di depannya adalah ujung tebing yang curam. Hasea terjatuh cukup dalam. Dia seolah membiarkan tubuhnya terperosok kesana.


" Ibu..bagaimana mungkin kau mencampakkan ku begitu saja, bahkan sampai akhir hayat mu, kau tidak memberi tahu apa-apa kepadaku .Tidak tau kah kau berapa aku merindukanmu ?"


" Ayah.. tidak, kau bahkan tidak pantas Kupanggil ayah. Bagai mana Mungkin kau mampu memberi perintah untuk membunuh istrimu sendiri. Orang yang melahirkan darah daging mu sendiri." Kalimat itu yang terlintas di benak Hasea.


Seandainya bisa memutar waktu, Hasea mungkin akan lebih memilih untuk tidak mengetahui semua ini. Mengetahui fakta bahwa ibu yang melahirkannya adalah orang yang selama ini dianggapnya bibi. Orang yang sebenarnya beberapa kali bertemu dengannya tetapi tak sekalipun menganggap dia anak.


Mengetahui fakta bahwa ayahnya adalah kaisar, orang yang memerintahkan panglimanya untuk membunuh ibu dari anak darah dagingnya sendiri membuat hati Hasea semakin hancur. Hasea sungguh tidak tau apa jadinya perasaannya sekarang. Rasa benci yang besar akhirnya timbul disana. Dia benci kedua orang tuanya.


"Nona Mentari...Nek.. Nenek..aku merindukanmu nek.." mata Hasea terasa berat. Tubuhnya seperti mati rasa saat sudah mendarat di dasar jurang. Hasea kehilangan kesadarannya. Dia hanya bisa terbaring di dasar jurang itu .


***


Teman-teman, ayo ubah warna gambar jempol yang tadinya putih menjadi merah ya.


😊😊😊

__ADS_1


you are the best deh pokoknya.


__ADS_2