PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 77. Sekte Walet Hitam


__ADS_3

Hasea dan Hasapi berada di sebuah gerbang kota. Kota Pintu Suona. Kota itu adalah pusat perdagangan di wilayah kerajaan Partungko Naginjang. Kota yang di dalamnya dipenuhi banyak pendatang dan warga lokal. Tempat itu ramai, dipenuhi orang yang sedang bertransaksi . Bahkan pendatang dari luar kerajaan Partungko Naginjang ada di sana.


Penjagaan di pintu masuk kota cukup ketat. Hasea dapat merasakan prajurit kerajaan yang berjaga disana dikepalai oleh prajurit berkemampuan setara dengan pendekar Ahli. Selain itu terdapat juga beberapa pendekar berpakaian biasa yang nampak mengawasi keamanan kota.


Hasea dan Hasapi dipersilahkan masuk ke kota tanpa hambatan berarti. Hasapi takjub melihat keindahan kota itu. Mereka seolah berada di tempat yang berbeda. Seolah tempat itu bukan kota di wilayah kerajaan Partungko Naginjang.


Bangunan-bangunan besar terdapat di kiri kanan jalan. Kebersihan kota itu juga nampak terjaga. Hal yang membuat Hasea dan Hasapi semakin takjub adalah sungai besar yang mengalir membelah kota itu memiliki air yang sangat jernih. Hasea bahkan bisa melihat ikan-ikan berenang di sana. Bahkan bebatuan dan rumput air yang tumbuh di dasar sungai dapat dilihat dengan mata telanjang.


Di dalam kota Pintu Suona juga tidak ditemukan pengemis atau gelandangan. Sangat berbeda dengan kota-kota di wilayah kerajaan Partungko Naginjang lain yang biasanya dipenuhi orang miskin dan bangunan kumuh. Kota Pintu Suona ini bahkan lebih tertata rapih dan bersih dibandingkan kota Ronggur. Hanya saja kota Pintu Suona lebih kecil luasannya dibanding kota pusat kerajaan Partungko Naginjang itu.


" Hampir di semua bangunan kota ini ada lambang sekte bulan purnama."


Sedari tadi Hasapi memang dengan mudah menemukan lambang sekte bulan purnama hampir di setiap banguna kota.


" Anda benar juga. Aku hampir tidak memperhatikannya. Apa itu artinya kota ini berada dalam pengawasan sekte itu?" Hasea tampak berfikir . Kalau saja itu benar, itu artinya sekte bulan purnama cukup baik dalam mengawasi dan mengelola kota ini.


***


Hasea dan Hasapi berdiri di depan sebuah pintu gerbang. Terdapat lambang burung walet hitam di depan gerbang besar itu. Mereka berada di depan pintu gerbang sekte Walet hitam.


" Mohon maaf tuan apa keperluan kalian kemari?" Seorang pendekar muda menyambut ramah kedua tamu mereka itu.


" Kami ingin bertemu dengan ketua Apodi. Tolong serahkan ini kepada beliau."


Pendekar sekte Walet hitam itu menerima gulungan kertas yang diberikan oleh Hasea, gulungan kertas yang dia terima dari Natta, ketua sekte Obor merah. Gulungan kertas sebagai pertanda bahwa Natta lah yang mengutus mereka ke sana


" Baiklah tuan, mohon tunggulah sebentar."

__ADS_1


Hasea dan Hasapi masih berdiri di luar gerbang sampai prajurit yang tadi menyambut mereka mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk.


Hasea dan Hasapi berada di sebuah ruangan besar. Ruang pertemuan sekte Walet hitam. Ruangan itu dipenuhi oleh benda-benda antik yang tertata rapi. Hasea dan Hasapi menunggu di ruangan itu untuk beberapa saat.


"Maafkan saya tuan,saya sedikit terlambat. Tadi saya ada sedikit urusan."


Hasea dan Hasapi hanya tersenyum ramah. Mereka tidak mengenali orang yang menyapa mereka.


" Oh.. maaf, saya sampai lupa memperkenalkan diri. Saya Apodi, ketua sekte Walet hitam."


Ke tiga orang itu kemudian duduk. Hanya ada mereka disana.


" Lalu ada urusan apa kira-kira yang membawa kalian sampai menempuh perjalanan panjang ke tempat ini tuan?"


Hasapi memulai pembicaraan, sebenarnya tidak akan terlalu banyak yang dia harus sampaikan karena semua tujuan Hasea dan Hasapi sudah dituliskan oleh Natta di gulungan surat yang dibawa oleh Hasea. Hubungan Sekte Obor Merah dan sekte Walet hitam memang cukup baik. Entah apa mulanya, tetapi pada waktu terdahulu sekte Walet hitam memiliki hutang jasa kepada sekte yang dipimpin oleh Natta tersebut.


" Jadi bagaimana tuan?apakah anda bersedia?" Hasapi menatap wajah Apodi penuh harap.


Apodi hanya terdiam. Sesekali dia mengusap dagu nya. Sepertinya pria paruh baya itu sedang menimbang matang-matang sebelum memutuskan.


" Ah.. sebaiknya kalian istirahat dulu tuan. Perjalanan jauh pasti membuat kalian lelah. Lagi pula hal sepenting ini tidak mungkin bisa ku putuskan dalam waktu singkat."


***


Hasea duduk bersila di kamar yang disediakan oleh sekte Walet hitam bagi mereka. Hanya ada Hasea di sana, mereka memang diberi kamar terpisah.


Kesempatan itu digunakan oleh Hasea untuk bersemedi. Sebelumnya dia telah mengkonsumsi beberapa sumber daya. Memulihkan luka dan tenaga dalam adalah tujuan utama Hasea.

__ADS_1


Pancaran aura tenaga dalam Naga Gumoang keluar dari tubuh Hasea. Seluruh ruangan itu dipenuhi oleh cahaya biru.


Hasea membuka matanya perlahan. Setelah bersemedi beberapa jam dan dengan bantuan sumber daya langka dari bukit menangis, akhirnya tenaga dalamnya pulih seutuhnya. Begitu juga kesehatannya.


Hasea mengeluarkan kipas merak putih dari balik baju nya. Pemuda itu memandanginya untuk waktu yang cukup lama. " kalau dipikir-pikir sepertinya aku belum bisa sepenuhnya menggunakan kekuatan kipas ini."


Hasea memang memikirkan pertarungannya yang terakhir. Terisab yang memiliki kemampuan pendekar Legenda dengan mudah mampu mengalahkan Hasea padahal Hasea sudah menguasai 2 jurus utama dari kitab Naga Biru . Bahkan Hasea harusnya lebih kuat karena memiliki Tulang Naga Tua. Tetapi pada kenyataanya kalau bukan karena Naga Api, mungkin saja pemuda itu hanya tinggal nama.


" Mungkin selama ini aku terlalu bergantung pada kekuatan tenaga dalam Naga Gumoang. Sementara aku kurang mengasah ilmu bela diri yang selama ini telah aku kuasai."


***


"Ada apa kau kemari?" Seorang pria sepuh berjenggot panjang menegur Terisab. Pria tua yang kepalanya telah dipenuhi uban itu adalah salah satu anggota keluarga Naga Api yang selama ini telah mengundurkan diri dari dunia persilatan. Bahkan mungkin dari hiruk pikuknya Dunia.


Pria sepuh berkemampuan pendekar Legenda itu tinggal di sebuah gubuk di dalam hutan yang terdapat di gunung Sinabunan. Tempat itu adalah desa yang di bangun oleh keluarga Naga Api keturunan Isumbaon kubu yang menyalahkan leluhurnya itu


Dahulu, desa di dalam hutan itu dibangun oleh leluhur Terisab setelah generasi Isumbaon. Desa yang mereka bangun selama proses pelarian mereka atas buruan pihak kerajaan dan sekte aliran putih.


Kini, tinggal sepuh tua itu sendiri yang tinggal di sana. Sementara kerabatnya terdahulu termasuk ayah dari Terisab memilih untuk kembali ke desa atau kota untuk menyambung hidup.


'Tidak ada gunanya terus bersembunyi, lagi pula keadaan sekarang sudah lebih aman' itu kata mereka dahulu.


" Senior Gilok, aku memang bukan orang yang baik dan bijaksana, tapi apa pantas menyambut keluarga seperti itu?" Ucap Terisab sedikit menyindir sepuh tua itu.


" Kau tidak usah berbasa-basi. Dengan datangnya kau ke tempat ini tentu ada alasan penting yang mendasari mu."


" Ah, anda benar senior. Tetapi setidaknya suguhkan lah saya segelas minuman. Perjalanan panjang menuju tempat ini membuat ku sedikit haus."

__ADS_1


__ADS_2