
Matahari bercokol di langit dengan hebatnya seolah tak ada awan yang berani menutupi saat sinarnya menerpa bumi. Suara burung sahut menyahut seolah menyambut datang nya pagi. Gemericik Suara aliran air sungai yang sesekali menyipratkan air nye ke wajah Hasea berhasil membangunkan pemuda tampan itu dari tidurnya.
Perlahan Hasea membuka matanya. Teriknya matahari di pagi hari itu bahkan sampai menyilaukan matanya. Hasea Bangun dan duduk sejenak di tepian sungai. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi.
" Sungguh ironi saat aku akhirnya mengetahui siapa ayahku bahkan siapa sebenarnya ibuku, saat itu juga aku mengetahui bahwa mereka sedari awal tidak menginginkan ku ada di dunia ini."
Hasea melihat sekelilingnya. Sepertinya dia berada di hutan yang belum pernah terjamah. Lebih tepatnya dia berada disebuah lembah. Jelas sekali dari penampakannya bahwa lembah ini belum pernah di jamah oleh seorang manusia pun sebelumnya.
Sejenak Hasea terbangun. Dia bermaksud untuk mengisi perutnya yang sudah mulai terasa lapar . Hasea mendekati sungai. Menggunakan tombak dari kayu, Hasea berhasil mendapatkan beberapa ikan dari sana. " Ah.. ini tidak terlalu buruk." Hasea kembali menyisir tempat itu dengan matanya. " Sepertinya gua di sana bisa ku jadikan tempat beristirahat sejenak."
Setelah mengisi perutnya, Hasea hanya duduk sambil memandangi nyala api kecil yang dibuatnya. Api itu menyambar-nyambar seolah- olah ingin keluar dari langit-langit gua. " Kalau saja Gea ada disini, roh naga aneh itu.. saat aku membutuhkannya malah dia tidak ada."
Hasea merogoh pakaiannya. Dia mengeluarkan Kitab Naga Biru dari sana. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk membuang kitab itu karena dengan keberadaan kitab itu akan mengingatkan kembali dari mana dia berasal. Namun alih-alih membuangnya, ada dorongan dalam hatinya untuk membuka kitab itu. Akhirnya dia membuka perlahan lembaran kitab . Dari dalamnya terpancar sinar biru . Sinar itu sangat lembut , berbeda saat pertama kali dia menemukan kitab itu.
" Bagimu yang telah terpilih oleh Roh naga Terkuat.. sebelum lebih lanjut mempelajari apa yang tertulis di dalam kitab ini sebaiknya fokuskan dirimu pada apa yang ada dan buang hal-hal yang tidak berguna, karena segala yang tak berguna hanya akan menjadi beban yang memberatkan mu." Kalimat pertama yang tertulis di kitab itu. Hasea sempat berfikir sebelum membalik halaman selanjutnya.
"Kita adalah generasi naga biru, naga yang menjaga samudra, daratan dan seluruh isinya."
"Kita adalah generasi naga biru, naga yang dalam diamnya memancarkan kekuatan besar dan berbahaya . "
" Saat kau memutuskan untuk menerima kekuatan ini, itu artinya ini semua bukan lagi tentang mu, ini tentang dunia dan segala isinya. Kau mungkin ada, tetapi kau hanyalah wadah.. kau adalah perantara."
"Bersatu dengan alam adalah kunci dari semua kekuatan."
Hasea merenungkan kata-kata yang tertulis dalam kitab itu. Kemudian dia mengambil sikap bertapa. Kedua kakinya bersila. Tangannya dia letakkan diatas lutut. Hasea menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sensasi hangat menjalar di sekujur tubuhnya. Hasea dapat merasakan udara di sekitar gua seperti memanas. Terjadi pusaran angin di seputar tempat itu dengan dia sebagai pusatnya. Tubuh Hasea sedikit terangkat.Kini tubuhnya tidak lagi bertumpu pada lantai gua. Sekilas dia dapat merasakan gua itu dipenuhi aura tenaga dalam yang besar yang tak lain berasal dari tubuhnya.
__ADS_1
" Namamu Hasea. Generasi ke 25 dari penjaga naga biru. Penjaga roh ku.." suara berat namun menggelegar itu membangunkan Hasea. Dia membuka matanya perlahan. Betapa terkejutnya dia, di hadapannya ada seekor naga yang sangat besar meliuk-liuk di langit. Mata naga itu menatap Hasea.Dua tanduk di kepala naga membuatnya semakin menakutkan. Sisik naga memancarkan cahaya biru. Keempat kaki naga itu memiliki cakar yang sangat tajam. Hasea hanya bisa terperangah. Dia tidak dapat mempercayai apa yang sedang dilihatnya. Hasea serasa melayang di langit dan di hadapannya ada naga besar yang sedang berbicara kepadanya.
" Dengan begini, artinya kau telah menerima diriku seutuhnya, menerima takdimu . Mulai kini pelajarilah seluruh isi dari kitab naga biru. Kau akan menerima kekuatan yang sangat besar , tetapi juga beban dan tanggung jawab yang besar sedang menunggumu."
Tiba-tiba semua menjadi gelap. Naga biru seolah menghilang begitu saja. Hasea seolah terjatuh dari langit itu. Rohnya tercampak dan kembali ke tubuhnya di gua .
***
" Jurus Naga terbang menggulung lautan"
Ombak biru level 1.
Hasea bangkit dari duduknya. Dia mulai memperagakan gerakan yang ada dalam kitab. Kedua tangannya dia ayunkan kedepan. Gerakan itu sangat lembut, lebih terlihat seperti tarian daripada sebuah jurus sebenarnya. Hasea mengayunkan tangan dan kakinya, semakin lama gerakannya semakin cepat. Hasea dapat merasakan kekuatan dan tenaga dalam yang besar dalam setiap gerakan itu. Hasea memutarkan kedua tangannya seperti membentuk sebuah lingkaran. Seisi gua bergemuruh. Tiba-tiba Air dari pori-pori gua keluar mendekati Hasea. Air bergerak mengikuti gerakan tangan Hasea. Air itu seolah menyatu dan membentuk bulatan seperti bola saat Hasea membuat gerakan menggulung. Hasea dibuat takjub oleh jurus barunya itu.
" Apa jadinya jurus ini apabila menggunakan air dalam jumlah besar."
" Jurus Naga terbang menggulung lautan. Ombak biru level 1." Gulungan air sungai itu membentuk gambaran seekor naga saat Hasea melafalkan Jurusnya. Air naga itu melesat cepat kearah dinding perbukitan yang disasar Hasea.
Terjadi dentuman besar disertai ledakan saat naga air bertabrakan langsung dengan tembok tanah pada dinding Bukit. Ada lubang besar pada dinding perbukitan itu akibat ledakan.Burung-burung di sekitar lembah beterbangan terkejut akan suara ledakan itu.
" Jurus ini sangat luar biasa." Gumam Hasea. Hasea semakin giat berlatih. Semakin fasih pula ia dengan jurus itu. Hasea berhenti sejenak dari latihannya. Latihan itu membuat perutnya terasa lapar.
Hasea memperhatikan sekelilingnya. Dia sangat terkejut mendapati tempat yang indah itu telah diluluh lantahkannya selama latihan . " Aku sampai tak sadar hampir menghancurkan tempat ini."
Hasea memandangi sekeliling Gua . Dia sadar tak ada seorangpun disana kecuali dirinya. Sesekali dia menyantap ikan yang tadi telah ditangkapnya. " Tak ku sangka sudah sejauh ini." Gumamnya. "Nona Mentari, putri Senni, nenek, ketua Altong.. sepertinya ini tidak sesederhana yang ku pikirkan dahulu." Entah kenapa , Hasea jadi merindukan orang - orang itu. " Gea Ketahuilah, sepertinya tubuhku memiliki tenaga dalam yang cukup banyak sekarang untuk menampung mu. Seandainya kau disini, kita akan mengarungi jalan hidup ini bersama."
__ADS_1
***
Tidak terasa, Hasea sudah berada di tempat itu selama 2 purnama. Tak satu hari pun dia lewatkan tanpa latihan. Entah sudah berapa besar tenaga dalam yang dia kuasai. Jurus naga terbang menggulung lautan, Ombak biru level 1 sampai 10 , jurus pada bab pertama kitab itu telah dia kuasai secara keseluruhan. Kini kemampuan Hasea bisa jadi sudah setara dengan pendekar Ahli level 3 . Pintu toddinya memang baru terbuka 1, tapi tenaga dalam yang dia dapatkan dari Naga Gumoang sungguh sangat besar.
" Untuk melangkah pada tahap selanjutnya , sepertinya aku harus meninggalkan tempat ini. " Hasea berfikir sejenak.
***
"Jurus naga terbang menggulung lautan."
" Angin badai kutub selatan."
" Hanya seseorang dengan tubuh pusaka yang dapat menguasai jurus ini. Untuk yang tidak memiliki tubuh istimewa, gunakan benda pusaka tingkat dewa sebagai perantara." Isi dari tulisan yang mengawali pembelajaran jurus itu.
Dari tulisan yang ada pada kitab itu ,yang dapat Hasea pahami adalah bahwa jurus ini harus ditampung oleh benda pusaka dikarenakan besarnya tenaga yang terpancar dari jurus itu.
Hasea tidak mengerti tentang tubuh pusaka. Tetapi dia sedikit mengerti dengan benda pusaka tingkat dewa yang dimaksudkan. Beberapa kali dia mendengar tentang benda pusaka tersebut. Hanya saja , hanya beberapa orang berkemampuan pendekar Legenda yang memiliki benda tersebut. Dan sangat tidak mungkin Hasea merebut benda itu dari tangan mereka.
" Kalau tidak salah, ketua Borong pernah bercerita tentang legenda Bukit menangis . Disana terdapat sebuah benda pusaka, Kipas merak Putih. Sepertinya itu satu-satunya peluangku agar dapat mempelajari jurus ini ." Gumam Hasea.
Hasea memutuskan untuk mencari kipas merak putih itu.
Hasea melangkahkan kaki keluar dari gua. Petualangan baru dihadapkan kepadanya. Bukit menangis adalah tujuannya . Dia menatap sekilas ke gua yang ada dibelakangnya. 2 purnama di tempat itu membuatnya sedikit haru, bagaimana pun meninggalkan gua itu membuatnya seolah meninggalkan rumah.
***
__ADS_1
Teman-teman, yok tekan like nya ya...
Semoga Kalian selalu bahagia...