
" Dugaanku benar, ternyata kau seorang pendekar sakti. Berarti kau yang menyelamatkanku waktu itu." Ucap Rimbu sambil tetap berlari. " Apa hal itu penting saat ini? Nyali besar dan mulut mu itu selalu saja menyeret ku dalam masalah. Kalau sampai para prajurit itu mengejar kita, habislah nyawa kita." Hasea kesal, 2 kali dia mendapatkan masalah karena Rimbu.
" Aku harus meninggalkan kota ini, tempat ini sudah tidak aman bagiku."
" Apa? Apa kau akan pergi begitu saja? Padahal dengan kemampuanmu kau bisa menyelamatkan kota ini dari kekejian para pendekar Rajawali Merah dan Prajurit kerajaan itu." Sebenarnya Rimbu berharap Hasea untuk tinggal. Dia kembali mendapat sedikit harapan atas keberadaan Hasea saat ini.
"Kenapa itu menjadi urusanku? Dari awal bahkan aku tidak mengenal orang-orang di kota ini."
" Kau ternyata sama saja. Sepertinya penderitaan warga kota Raniatte akan terus berlanjut." Ucap Rimbu kesal.
" Aku memiliki tujuanku sendiri. Kalian warga kota Raniatte urus lah urusan kalian masing-masing. Setelah berpamitan dengan nenek, aku akan pergi."
Kedua orang itu terus berlari sampai yakin para prajurit tidak mengikuti mereka.
***
Hasea mendatangi nenek Lamsia setelah mereka tiba di rumah. Hasea ingin segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya. Dia sebenarnya yakin para prajurit itu tidak akan mencarinya. Rombongan prajurit itu pasti hanya melintas kota Raniatte untuk kembali ke Istana kerajaan. Hanya saja dia merasa sudah cukup lama menunda perjalanan.
" Nek, sudah saatnya aku harus melanjutkan perjalananku, aku bermaksud untuk pamit." Hasea mendekati nenek Lamsia dan menatap wanita tua itu sedih. Pertemuan yang singkat itu sebenarnya membuat Hasea seoalah merasakan kasih sayang neneknya terdahulu. Tetapi semakin lama di tempat ini justru akan membahayakan nyawa nenek Lamsia dan Rimbu. Setidaknya itu yang ada di benak Hasea.
" Jadi seperti itu? Ku harap kau segera sampai ke tempat yang kau tuju dengan selamat. Tapi Kemana tujuanmu sebenarnya?"
__ADS_1
" Dia mencari tempat bernama Bukit menangis nek, tempat yang hanya ada dalam khayalannya." Ketus Rimbu masih kesal.
" Bukit menagis? Tempat itu ya?"
" Nenek tau tempat itu?" Tanya Hasea berharap. " Oh tidak..tidak.. hanya saja dulu sewaktu restoran ku masih buka, ada seorang pria pemabuk yang selalu berceloteh tentang tempat itu. Nama pria itu Hasapi, dia tinggal di desa Pintu Jati. Desa sebelah barat kota ini. Dengan berjalan kaki, kau bisa sampai disana dalam 4 hari. Kau cari lah dia. Mudah-mudahan ucapannya dulu bukan sekedar bualan."
" Baik nek, terima kasih atas petunjuknya. Aku harus segera pergi nek."
" Terima lah ini." Nenek Hasea memberikan bungkusan yang berisi beberapa keping perak kepada Hasea.
" Nek.. itu perak hasil jerih payahku, aku tidak rela nenek menyerahkannya begitu saja pada orang yang egois ini." Protes Rimbu. " Rimbu, kau tidak perlu seperti itu. Keping perak yang kita miliki masih cukup. Lagi pula kau masih bisa mencari nya bukan? "
" Tidak perlu nek, aku baik-baik saja." Hasea menolak. " Sudah terima saja." Nenek Rimbu menyerahkan bungkusan keping perak itu ke tangan Hasea. " Kau akan membutuhkannya. Oh ia..setelah semua urusanmu selesai, berkunjung lah lagi kesini. Rimbu akan menunggumu, dari sorot matanya aku bisa melihat bahwa dia mulai menyukaimu."
" Baiklah nek.. aku berangkat dulu. Aku berjanji akan berkunjung ke tempat ini lagi."
" Sebaiknya kau tidak usah berkunjung ke sini lagi. Mulai hari ini kau akan ku panggil sebagai manusia Egois." Rimbu membuang muka nya dan membelakangi Hasea. Dia tidak ingin melihat kepergian Hasea.
***
Hasea melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak. Desa Pintu Jati adalah tujuannya. Beberapa kali Hasea berpapasan dengan pendekar sekte Rajawali merah, dia berusaha bertingkah sewajarnya, Hasea tidak mau mencolok. Dia memilih untuk menghindari masalah dengan para pendekar aliran hitam itu .
__ADS_1
Di sepanjang jalan Hasea banyak berfikir. Banyak hal yang menumpuk di otaknya. " Aku memiliki saudara perempuan sedarah, perempuan itu bahkan adalah seorang panglima kerajaan. Apakah suatu saat aku benar-benar harus membunuhnya juga?"
Kini tujuan Hasea memang ingin menghancurkan kerajaan Partungko Naginjang. Rasa dendam dan ditambah lagi melihat kenyataan penderitaan Warga Pertungko Naginjang dibawah kepemimpinan Kaisar Tossao membuat tekadnya semakin bulat. Untuk sekarang ini, itulah alasan Hasea ingin memperdalam ilmu bela diri dan tenaga dalamnya. Untuk menghancurkan kerajaan itu.
***
" Apa...? Apa maksud mu kalian di serang seorang pendekar muda?" Permaisuri sedikit murka atas laporan panglima Ageng Janti yang juga putri pertamanya yang baru tiba di istana. Dia tidak bisa terima kenyataan bahwa salah satu regu prajurit andalannya itu diserang hanya oleh satu orang saja . " Benar yang mulia. Lengannya memancarkan aura berwarna biru. Dia bahkan seolah bisa memberi perintah kepada air. " Putri Ageng menjelaskan. " Tidak mungkin, hal itu sangat tidak masuk akal."
Panglima Suhad yang juga berada di tempat itu sejenak berfikir. " Pangeran.. itu pasti pangeran. Putri Ageng tidak menyadari kalau orang yang dihadapinya adalah saudaranya sendiri". Gumam Panglima Suhad di dalam hati.
" Yang mulia, sepertinya pangeran ada di kota Raniatte." Panglima Suhad memberi informasi kepada kaisar Tossao saat mereka bertemu secara diam-diam. "Benarkah? Besok pagi, kau bersama beberapa anak buahmu segeralah ke sana. Seperti rencana awal, aku akan mengeluarkan perintah kepadamu seoalah-olah kalian sedang memburu perampok Harinuan agar permaisuri tidak curiga."
Panglima Angkar memanggil salah satu Prajurit kepala nya. Dia membentuk tim kecil untuk mencari informasi tentang pendekar yang menyerang Panglima Ageng Jenti.
" Kalian harus segera menemukannya. Apabila terus dibiarkan, hal seperti ini akan memancing dan membangkitkan semangat pemberontak, dan hal itu tidak boleh terjadi." Panglima Angkar meminta bantuan dari Aliansi Putih. 3 pendekar utusan dari sekte Jingga. Mereka adalah Wakinul. Pria ini memiliki kemampuan pendekar Ahli level 3, kemudian Tapponok pendekar Ahli level 2 dan Sekirana pendekar wanita berkemampuan Ahli level 2. Sementara dari pihak kerajaan panglima Angkar mengutus Holsoan dan Toema . Kedua prajurit itu berkemampuan setara pendekar Ahli level 1.
Panglima Suhad yang sudah mendapat perintah resmi dari Kaisar Tossao segera berangkat setelah matahari menunjukkan diri. Dia membawa 5 orang prajurit rendahan. Karena tujuan misi berdasarkan perintah resmi dari Kaisar untuk panglima Suhad dan anggotanya adalah pengintaian, maka mereka berangkat dengan jumlah yang kecil dan dengan penampilan menyamar.
" Hamba bersumpah Kaisar, Hamba akan menemukan Pangeran dan membuatnya mengerti." Janji Panglima Suhad sebelum meninggalkan kaisar Tossao. Selang satu hari dari keberangkatan Panglima Suhad, tim yang dibentuk Panglima Angkar juga berangkat. Kedua tim itu mencari orang yang sama yakni Hasea. Hanya saja tujuan mereka terhadap Hasea jelas berbeda.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Mohon maaf Updatenya terlambat, seperti teman2 semua, Author juga butuh liburan 😁😁🙏🙏🙏