
Hampir seharian pertarungan kedua belah pihak berlangsung. Mayat berserakan dimana-mana. Kejadian ini menggemparkan seluruh penduduk kota. Tak satupun diantara mereka berani keluar rumah. Walau anggota sekte Bulan Purnama berjaga di sekitar kota tapi tetap saja teriakan kesakitan dan suara kengerian yang terdengar dari kejauhan membuat mereka ngeri. Warga Pintu Suona memang belum pernah melihat serangan yang begitu besar beberapa dekade ini.
***
Marrupa masih beradu jurus dengan beberapa pendekar yang menyerangnya. Dari 10 pendekar telah dia bunuh 5 diantaranya.
Marrupa berhenti sejenak untuk menarik nafas tapi tak satupun diantara ke 5 pendekar itu yang berani mengambil inisiatif pertama untuk menyerang. Mereka telah melihat kehebatan pendekar tua itu. Salah bertindak maka nyawa mereka taruhannya.
Marrupa melihat sekelilingnya. Hanya tersisa puluhan pendekar yang saling beradu kekuatan. Raut wajah Marrupa menggambarkan kesedihan. Ratusan pendekar sekte matahari biru meregang nyawa namun demikian juga anak buah nya telah banyak yang tewas.
" Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi." Benak Marrupa. Seketika matanya memerah. Kesedihannya berubah menjadi amarah. Tubuhnya kembali memancarkan aura tenaga dalam berwarna abu-abu. Suaranya berubah menjadi serak getir.
" Kalian harus menerima akibat dari semua ini."
Marrupa melesat cepat. Gerakannya hampir tidak dapat terlihat. Ke 5 pendekar dihadapannya adalah sasarannya.
Marrupa melayangkan pukulan dan tendangan dengan cepat. Gerakannya semakin lincah. Ke 5 pendekar Matahari biru itu kewalahan. Setiap pukulan yang disarangkan Marrupa kepada mereka berujung luka serius.
"Sialan, haruskah kami menjadi tumbal dari semua ambisi ketua Sengku?" Batin Wakijan. Sebenarnya pendekar sekte Matahari biru itu sedari awal sadar bahwa serangan gelombang pertama ini hanyalah umpan. Mereka ditumbalkan untuk menguras tenaga dan kekuatan sekte Bulan Purnama sebelum serangan gelombang 2 dan 3 menyusul. Tapi dia sama sekali tidak menyangka nyawanya akan hilang saat ini. Keberadaan Gilok dan Terisab sungguh mengubah peta kekuatan pertarungan.
" Rasakan ini." Marrupa melayangkan pukulan terakhir kepada Wakijan. Pendekar sekte Matahari biru itu hanya pasrah menerima pukulan itu. Tenaganya telah terkuras habis.
Wakijan terlempar jauh saat pukulan Marrupa mendarat di dada nya. Terdengar retakan tulang di sana. Pendekar itu telah tewas bahkan sebelum tubuhnya mendarat di tanah.
Marrupa tersujut. Berat badannya bertumpu kepada kedua lututnya. Kepalanya tertunduk. Ada penyesalan besar disana, bukan hanya karena kematian ratusan anak buahnya tetapi karena dia sadar pertarungan ini belum berakhir.
" Mungkin kami tidak akan bisa mempertahankan kota ini." Benak Marrupa.
***
Gilok menyerang orang di hadapannya dengan membabi buta. 6 pendekar langka dari sekte Banteng merah itu telah meregang nyawa di tangannya. Kini hanya tersisa Emtebe yang terdiam ketakutan.
" Ternyata cerita tentang orang ini benar adanya. Dia bahkan seperti menikmati setiap detik dari pertarungan ini." Batin Emtebe.
Gilok melangkah perlahan mendekati Emtebe. Dia seperti menikmati ketakutan yang dirasakan pendekar sekte Banteng merah itu.
" Sebenarnya kau belum lah pantas menjadi lawan tanding ku, tapi apa boleh buat sekte mu hanya mengirimkan orang seperti mu. Biasanya aku hanya memakan makanan berkelas. Tetapi saat kondisi seperti ini, disaat perut ku lapar maka ubi di rebus pun akan ku lahap. Hahaha."
__ADS_1
Gilok berucap pelan tetapi bagi Emtebe itu adalah seruan kematian.
" Setidaknya aku bisa mati di tangan pendekar hebat seperti mu. Aku akan mati dengan bangga."
Emtebe hanya bisa tersenyum tipis sebelum pukulan Naga Api yang dilesatkan Gilok merenggut nyawanya.
***
" Senior...!!! Penghubung telah tiba, dia mohon menghadap."
Salah satu anak buah Katullik pendekar Sekte matahari biru yang menjadi ketua regu serangan gelombang kedua itu menghadap dengan tergopoh-gopoh. Wajah pendekar rendahan itu tampak pucat.
" Apa yang membuat mu sangat risau? Cepat bawa dia kemari." Perintah Katullik.
" Hormat senior." Salam pendekar muda sekte matahari biru yang menjadi penghubung antara regu gelombang 1 dengan gelombang 2.
" Laporkan situasinya."
" Senior, serangan gelombang pertama gagal. Hampir semua dari kami tewas terbunuh."
Pendekar muda itu menceritakan perihal yang terjadi pada serangan gelombang pertama. Walau dia tidak mengikuti seluruh jalan kejadian pertarungan gelombang pertama itu tapi dia sudah bisa menyimpulkan kekalahan ada di pihak mereka.
Penghubung itu menceritakan keterlibatan sekte walet hitam. Tapi yang membuat Katillik begitu terkejut adalah penuturan penghubung itu akan kehadiran Gilok dan Terisab.
" Harusnya serangan ini tidak sesulit itu." Gumam Katullik.
" Persiapkan semua, kita segera berangkat. Jangan sampai sekte Bulan Purnama memiliki waktu untuk istirahat dan mengatur kembali kekuatan."
Perintah Katullik segera dilaksanakan oleh anak buahnya.
" Segera kirim penghubung ke gelombang ke 3. Ceritakan semuanya. Jangan sampai kita menunggu terlalu lama. Kita membutuhkan kekuatan penuh untuk serangan kali ini. Kita manfaatkan kondisi."
2 orang Penghubung berkuda dikirimkan oleh Katullik untuk melaporkan situasi kepada ketua sekte Matahari Biru. Kedua orang itu segera melesatkan kuda nya. Mereka sama sekali tidak ingin membuang waktu.
***
" Sebaiknya kau bunuh aku sekarang dasar orang tua." Pikalio memaksakan mulutnya untuk bersuara. Tangan Terisab memang sedang mencekik leher pendekar sekte banteng merah itu. Kobaran api di tangan Terisab membuat Pikalio semakin tersiksa.
__ADS_1
Rekan Pikalio yang lain memang telah tewas terbunuh oleh serangan Terisab. Kini hanya tersisa dia seorang.
" Oh..tidak semudah itu, banyak hal yang ini ku tanyakan kepadamu."
Terisab memukul kepala Pikalio hingga pendekar itu kehilangan kesadaran.
***
Honasasom mendekati ketua sektenya. Marrupa masih bersujud dengan kepala tertunduk.
" Ketua..."
Honasasom menyentuh pundak ketuanya itu dengan hati-hati.
Saat Marrupa menengadahkan wajah, Honasasom dapat melihat mata orang tua itu berkaca-kaca. Honasasom dapat merasakan kesedihan yang dirasakan ketuanya. Kesedihan yang sama seperti yang juga dia rasakan.
" Aku gagal Honasasom, aku gagal menjaga kota ini. "
" Ketua, orang yang gagal adalah orang yang berhenti berusaha. Bukankah anda yang pernah berkata demikian kepada ku?"
" Kau benar Honasasom, tapi aku takut. Aku takut keputusanku ini salah. Kalau saja aku biarkan saja Sekte Banteng merah mengambil alih kota ini mungkin saja hal itu..."
" Ketua.. anda tau sendiri bagai mana kelakuan sekte itu. Mereka bahkan lebih buruk dari pada sekte aliran hitam. Apa ketua mau warga kota Pintu Suona bernasib sama dengan kota-kota yang diambil alih oleh sekte Banteng merah?"
***
Pertarungan telah berhenti. Warga kota bersama anggota sekte Bulan Purnama dan Walet Hitam mengangkati mayat para pendekar yang tewas dan memberi penghormatan terakhir kepada mereka.
Pendekar yang terluka dibawa ke dalam kota untuk diobati sementara pendekar yang tadinya berjaga di kota kini telah berjajar rapi di luar kota. Mereka sadar serangan berikutnya akan segera tiba dan mereka telah siap menghadapi hal itu.
Apodi mendekati Marrupa, Golok dan Terisab yang telah berkumpul.
" Bagai mana selanjutnya ketua? Kekuatan kita banyak terkuras, apa yang akan kita lakukan? Dua gelombang serangan lagi akan segera tiba."
Wajar bila Apodi khawatir. Banyak anggota mereka yang telah tewas.
" Kini kita menggantungkan harapan pada Hasea. Semoga pendekar muda itu bisa tiba tepat waktu membawa bala bantuan."
__ADS_1