PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 65. Keterlibatan Hasea III


__ADS_3

" Apa? Apa anda sudah gila? Bagaimana mungkin aku bisa pergi? Bagaimana nasib seluruh warga di kota ini? Kalau aku benar pangeran, apakah aku akan meninggalkan mereka begitu saja?" Hasea sadar, kalau benar bom itu diledakkan itu artinya hampir seluruh warga kota Raniatte akan tewas, begitu juga dengan nenek Lamsia dan Rimbu.


Hasea melesat keluar. Dia kini berhadap-hadapan dengan Alimar.


" Hahaha...sangat menarik apabila aku bisa bertarung dengan mu, tapi waktu ku sudah habis. Aku tidak akan membuang-buang waktu lagi. " Alimar tertawa lantang. Walau dia dan Hasea sama-sama berada di tingkatan pendekar Langka, tapi kondisi Alimar setelah menerima hantamam 'teratai menghempas karang' milik regu Teratai sangatlah buruk. Dia memperhitungkan tidak akan memiliki peluang untuk mengalahkan Hasea. Alimar mengambil sesuatu dari balik jubahnya.


Hasea tampak berfikir. "Tidak ada pulihan lain, lebih baik mengorbankan beberapa orang daripada seluruh kota hancur." Batin Hasea.


Hasea menoleh ke arah Panglima Suhad.


" Panglima..sebaiknya kalian lari sejauh mungkin. Jauhi bangunan apa pun. Hanya lari sejauh mungkin." Teriak Hasea


" Apa? Apa yang akan dilakukan pemuda itu?" Benak Panglima. Dia bersama ke 5 anak buahnya masih mematung di tempatnya.


Hasea mengambil kipas merak putih dari balik pakaiannya. Tiba-tiba seluruh tubuhnya diselimuti aura tenaga dalam yang memancarkan cahaya biru.


" Apa yang kalian tunggu? Ini perintah seorang pangeran. Apa kalian tidak akan menuruti perintahku?" Teriak Hasea kepada panglima Suhad.


Panglima Suhad tidak mengerti apa yang akan terjadi. Tapi dia memilih untuk menuruti perintah pangerannya tersebut. Mereka akhirnya melesat lari menjauh dari restoran itu.

__ADS_1


" Sekarang tinggal kau dan aku. Kita lihat sebesar apa sebenarnya kekuatan bom yang akan kau ledakkan itu." Ucap Hasea pelan tapi mampu menekan Alimar.


Alimar tidak tau apa yang terjadi dengan Hasea. Hal itu baru sekali itu dia lihat, tetapi dia yakin itu bukan pertanda baik untuknya. Dia harus meledakkan bom itu sebelum dia terbunuh terlebih dahulu. Alimar melafal jurus. Telapak tangan kirinya nya dipenuhi tenaga dalam. Lengan itu diselimuti aura hitam. Di tangan kanannya Alimar menggenggam 1 buah benda bulat berukuran satu kepal tangan orang dewasa. Itu bom Neraka. Dia siap meledakkannya.


" Jurus Halilintar membelah langit, jurus Naga hitam." Hasea melafalkan 2 jurus sekaligus.Dia harus segera mengakhiri ini sebelum Alimar meledakkan bom di tangannya . Tubuh Hasea melayang ke udara. Angin tornado terbentuk dengan Hasea sebagai pusatnya. Angin tornado itu diselimuti cahaya biru akibat aura tenaga dalam yang besar. Percikan-percikan halilintar menyelimuti tornado itu.


Mata Alimar terbelalak. Alimar Panik. Dia belum sempat berfikir sampai tubuhnya tersedot ke pusaran Tornado.


Rumah dan bangunan di sekitar Hasea turut tersedot ke pusaran tornado . Puing-puing kayu dan batu berserakan di dinding angin tornado. Anak buah dan beberapa warga yang berada di sekitar tornado itu ikut tersedot ke dalam pusaran. Resiko yang diambil Hasea.


Hasea menatap Alimar yang melayang di dalam tornado. Bom neraka meledak di dalam pusat tornado itu. Ledakan Bom setan tidak menembus keluar dinding angin tornado seusai dengan pemikiran Hasea. Tapi ledakan itu menghanguskan dan menewaskan semua orang yang ada di dalam pusaran tornado termasuk Alimar dan anak buahnya tapi juga termasuk warga yang ikut tersedot. Hanya Hasea yang tidak terpengaruh ledakan itu


Dari kejauhan Panglima Suhad bersama anak buahnya menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Tornado yang sebesar bangunan itu masih dapat mereka lihat dari kejauhan Padahal mereka sudah berada 1 kilometer jauhnya dari Hasea. . Hal yang untuk pertama kali ini mereka saksikan. Mereka bahkan harus bertahan dibalik batu- batu besar agar tidak tersedot ke pusaran tornado.


" Sebenarnya apa yang sedang terjadi Panglima?" tanya salah satu anak buah Panglima Suhad.


" Apapun itu, semoga pangeran tidak terbunuh oleh tornado itu. " Ucap Panglima Suhad.


" Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Panglima?" Ucap anak buahnya yang lain.

__ADS_1


" Sebaiknya kita kembali ke sana. Bagaimana pun, kita harus memeriksa kondisi Pangeran. "


***


Hasea mendaratkan kakinya. Tenaga dalamnya benar-benar terkuras. Tapi dia sudah mengambil keputusan yang tepat.


Hasea menyisir seluruh tempat itu dengan matanya. Hal yang ditakutkan Hasea benar-benar terjadi. Dalam radius sekitar 1 kilo meter, Dia hanya bisa melihat puing-puing bangunan. Bau gosong yang menyengat menusuk hidungnya.Wajah Hasea tampak menampakkan raut penyesalan. " Maafkan aku, tapi aku harus melakukan ini kalau tidak ingin jatuh korban lebih banyak lagi." Benaknya.


" Hasapi..aku sampai melupakan pria tua itu. Apakah dia ikut tewas tersedot Torado?"


Hasea berkeliling diantara puing-puing sisa bangunan yang hancur. Dia tidak dapat melihat keberadaan Hasapi. Hasea mulai khawatir. " Bagaimana mungkin aku sampai melupakan orang tua itu." Penyesalan menyelimuti Hasea.


"Pangeran.. syukurlah anda baik-baik saja." Ucap Panglima Suhad saat dia bersama ke 5 anak buahnya akhirnya tiba di dekat Hasea.


Masih ada perasaan ngeri pada diri mereka melihat Hasea. Mereka meyakini kemunculan tornado yang tiba-tiba itu berkaitan dengan Hasea.


"Pangeran, sepertinya anda sedang mencari sesuatu."


Panglima Suhad kembali menegur Hasea yang tampak tidak memperdulikan kedatangan mereka. Hasea masih sibuk membolak-balik puing-puing bangunan dan beberapa mayat gosong yang tertelungkup. Dia berharap menemukan Hasapi walau sudah berupa mayat. Setidaknya orang tua itu butuh penghormatan terakhir dengan pemakaman yang layak.

__ADS_1


" Panglima, tolong bantu saya menemukan pria tua buncit yang bersama saya di restoran tadi." Hasea memberi perintah.


Panglima Suhad dan anak buahnya segera bergerak membolak balik puingan bangunan yang hancur. Mereka juga mengamati mayat-mayat yang bergelimpangan walau sama sekali sebenarnya tidak ada lagi mayat-mayat itu yang bisa dikenali.


__ADS_2