
Meskipun He Shu Huan yang membawa Alina dan di kawal oleh Shi Lin untuk melarikan diri ke arah hutan pegunungan Qi ,mereka tetap saja di buru oleh ratusan ribu pasukan musuh yang memiliki kemampuan bak ninja.
Wushhh..!!
Wer,wer,wer!!
Sejumlah senjata tajam berbentuk bintang kecil di sebar oleh pihak musuh untuk membunuh He Shu Huan,Alina dan Shi Lin dari berbagai penjuru arah di hutan pegunungan Qi.
Wutt,trang,trang..!!
Wutt,bress...Crakk!!
Shi Lin memutar pedang tipisnya bagaikan payung yang melindungi dirinya dari hujan serangan maut senjata rahasia pihak musuh yang terus memburu dirinya,He Shu Huan dan Alina.
He Shu Huan mengibaskan lengan pakaiannya ke segala penjuru hutan pegunungan Qi untuk He Shu Huan dapat melindungi Alina yang di incar oleh pihak musuh daripada dirinya.
Serangan balik He Shu Huan menghabisi sebagian musuh yang meluncurkan senjata bentuk bintang yang akhirnya menebas habis sebagian musuh itu yang kini kehilangan jejak He Shu Huan ,Alina dan Shi Lin.
Di saat yang genting inilah mereka tidak sengaja masuk ke daerah penyamun gunung Qi yang di pimpin oleh Raja Penyamun dan Ratu Ular Sanca gunung Qi.
"Siapakah kalian bertiga yang sudah berani sekali memasuki daerah kami ?"Tanya seorang pria tua tunanetra membawa tongkat dengan nada bengis sekali kepada He Shu Huan yang melihat Alina di gendongannya itu telah pingsan.
"Kakek..Biarkan mereka masuk ke wilayah kita."
Kata seorang pria usia 35 tahun yang di kenal baik oleh He Shu Huan.
__ADS_1
"Ru Rao Yung ternyata dirimu masih tinggal di daerah kepala ular sanca Qi?"Tanya He Shu Huan dengan nada lega.
"Ya,Adik Huan.Mari kau masuklah ke wilayah ku dan mari juga bawa istri mu ke rumah ku agar Qi Mei Lan istriku yang akan merawat istrimu yang pingsan itu."Jawab Ru Rao Yung Si Maling Utara dengan nada bersahabat baik dengan He Shu Huan.
"Iya,ya,baiklah..Masuklah ke dalam wilayah kami dan janganlah khawatir para pemburu mu itu akan kami musnahkan tanpa tersisa lagi."Kata Ratu Ular Sanca Qi yang ternyata salah satu sahabat baik He Shu Huan di luar pulau abadi.
"Terimakasih Kakak Qi Chiu."Jawab He Shu Huan nada bersyukur memiliki sahabat -sahabat yang meskipun di luar tampak kejam namun di dalam selalu baik hati dan hangat.
"Sama -sama Adik Huan.Ayolah kita tak boleh membuang waktu lagi untuk menyelamatkan istri kamu ,Adik Huan."Kata Ru Rao Yung dengan nada mendesak kepada He Shu Huan.
He Shu Huan segera mengikuti Ru Rao Yung ke sebuah perkampungan yang asri dan segar yang berada di daerah terpencil di pegunungan Qi.Di sana ada rumah yang cukup besar yang menjadi rumah Ru Rao Yung.
"Qi Mei Lan tolong kau selamatkan Istri Adik Huan kita."Kata Ru Rao Yung setibanya mereka di rumah Ru Rao Yung.
"Ya,Kakak Yung..Masuklah ke rumah kami."Kata Qi Mei Lan membukakan kamar untuk He Shu Huan dapat membaringkan Alina di tempat tidur.
"Jangan cemas karena Bibi Gui adalah tabib kaum wanita yang terbaik di desa pegunungan Qi.Dia pasti bisa menyelamatkan istri dan anak mu ,Adik Huan."Kata Ru Rao Yung menawarkan minum arak kepada He Shu Huan.
"Ya,terimakasih Kakak Yung."Jawab He Shu Huan menerima cawan keramik isi arak pegunungan Qi yang di tawarkan Ru Rao Yung kepadanya.
Shi Lin tak berani untuk masuk ke ruangan dalam rumah Ru Rao Yung.Gadis ini berdiri di halaman depan rumah Si Maling Utara dengan perasaan cemas dan bersalah yang berkecamuk di dalam benak gadis cantik jelita itu.
Menjelang siang hari yang amat sejuk di desa itu terdengarlah suara tangisan bayi laki -laki dan bayi perempuan yang terlahir dengan jarak waktu yang hampir bersamaan.Tangisan bayi kembar beda jenis kelamin ini mendatangkan perasaan haru biru di dalam diri He Shu Huan yang memeluk erat kedua bayi kembarnya di dekat tempat tidur Alina.
"Huan Gege ,kita akhirnya bisa juga memperoleh anak perempuan yang sesuai harapan mu.Aku sangat bahagia melihatmu bahagia."Kata Alina yang tampak pucat dan lelah namun tersenyum manis untuk He Shu Huan yang mengusap lembut wajah pucat Alina.
__ADS_1
"Alina..Aku sangat berterimakasih atas kebaikan mu dan pengorbanan untuk memperoleh anak perempuan kita.Aku sudah menetapkan mulai hari ini kau tak boleh mengandung dan melahirkan lagi karena sudah cukup bagi ku melihat mu begitu menderita."Kata He Shu Huan dengan nada sendu dan tatapan matanya begitu lembut kepada Alina.
"Aku tak apa -apa ,Kakak Huan.Aku masih ingin memberi mu banyak anak asalkan kau jangan pernah berpaling dari ku.Itu saja keinginan hatiku saat aku mengucapkan janji dan sumpahku di hadapan altar Sang Buddha di hari pernikahan kita berdua beberapa tahun lalu di desa kecil bunga champa merah muda."Kata Alina membelai halus bayi perempuan yang berbaring lembut di sisi kanan nya di dekat bayi laki -laki yang berbaring lembut pula di dekat He Shu Huan yang duduk di tepi tempat tidur Alina.
"Alina..Aku bersumpah di hadapan putri kecil kita ini untuk selamanya aku tidak kan pernah ada hati lain selain untuk mu seorang..Aku He Shu Huan hanya ada satu hati dan satu cinta ku hanyalah untuk mu seorang istriku.Alina,aku tidak pernah mengharapkan yang lain menjadi istriku dan ibu dari anak -anakku..Semua itu untuk putri ku di masa depan tidak kan pernah mendapatkan jodoh yang memiliki wanita lain selain putriku.Aku ingin putri ku satu -satunya Permaisuri dan istri bagi pria yang akan menjadi jodohnya dan menantuku."
Kata He Shu Huan dengan suara tegas dan tulus hati kepada Alina seraya menatap lembut putrinya yang mengerjapkan sepasang mata setajam mata miliknya sendiri.
"Kakak Huan terimakasih dan aku percaya kau akan memegang teguh sumpah mu karena kamu adalah pria ku yang sejati ,ayah sejati bagi He Xin Lian putri kita juga Kaisar sejati bagi Negeri Ming kita."Kata Alina meneteskan air mata cinta yang besar untuk He Shu Huan.
"Ming Xin Lian dan Ming Xin Huan."Kata He Shu Huan mengelus lembut kedua bayi kembar beda jenis kelamin itu dengan kasih sayang yang tiada tara.
Kebahagian mereka berdua hanya dalam waktu siang hari itu saja karena di tengah malam hari desa pegunungan Qi di serang pihak musuh yang membantai habis setiap orang di desa tersebut.
Crak,crak,crak...!!
He Shu Huan menggendong bayi perempuan dan bayi laki -lakinya di depan dan di belakangnya seraya berdiri di dekat Alina yang bertekad kuat untuk bertarung hidup dan mati menghadapi para musuh yang mendobrak rumah Ru Rao Yung usai si Maling Utara itu tewas terpenggal sambitan pedang bintang milik seorang pria berwajah bulat dengan mimik sadis di sudut bibir pria itu.
"Bi Jin Xiao bukankah kau sudah meninggal dunia menurut Bi Guan ?" Tanya Shi Lin kaget sekali.
"Ugh ,aku tak mungkin mati semudah itu sebelum aku bisa menghabisi bajingan He Shu Huan yang sudah membuat ku kehilangan istri dan anakku!
Dan ,sekarang aku akan membuatnya tahu betapa sakitnya kehilangan istri dan anak -anaknya."Kata Bi Jin Xiao yang terlihat penuh amarah dendam mendekati He Shu Huan dan Alina yang di jaga ketat oleh Shi Lin.
"Bi Jin Xiao kau sudah gila ,kau sudah tak waras lagi..!"Kata Alina menangkis serangan pedang bintang Bi Jin Xiao yang mengarah ke belakang He Shu Huan.
__ADS_1
Crang..!!!
Bersambung...!!