
Sesudah menyelidiki tempat penyimpanan rahasia persenjataan Kaisar Ming Luo.Mereka berdua kini mulai menyelidiki sebuah istana yang dulu adalah tempat penyimpanan bahan baku dari senjata -senjata perang itu.
"Bagaimana cara kita bisa masuk ke Istana Bunga Seroja?"Tanya He Shu Huan menatap pintu yang sangat tebal sekali dari besi dan baja pilihan yang menutup bangunan bentuk bunga seroja itu.
"Pinjam pedang naga perak mu."Jawab Alina yang mengulurkan telapak tangan kanan meminta He Shu Huan meminjam pedang naga perak kepada Alina.
"Ini."
He Shu Huan mengulurkan pedang naga perak ke telapak tangan kanan Alina.
"Kau mau melakukan apa pada pedang ku?"Tanya He Shu Huan memerhatikan Alina mengadukan ujung pedang ke gembok besi dan baja di pintu gerbang Istana Bunga Seroja.
Lalu..
Klang..!!
"Terbuka."Kata Alina mengembalikan pedang naga perak kepada He Shu Huan.
He Shu Huan mendampingi Alina masuk ke dalam Istana Bunga Seroja.Mereka menemukan banyak sekali bubuk mesiu ,air raksa ,obat kimia dan hal lainnya.
"Serbuk apakah ini yang mirip bedak tabur?"Tanya Alina menggunakan kipasnya yang ringan untuk sentuh serbuk itu.
"Awas hati -hati Alina."Kata He Shu Huan dengan cekatan menarik Alina dari percikan bunga api dari serbuk itu.
"Ya,Kakak Huan."Jawab Alina patuh karena Alina kaget juga dan nyaris celaka jika He Shu Huan tak begitu posesif dan protektif melindungi dirinya.
"Alat peledak yang persis senjata rahasia pasir putih milik Teng Wi Hiang dahulu."Kata He Shu Huan termenung sesaat teringat masa lalunya.
"Teng Wi Hiang siapakah dia?"Tanya Alina dengan alis bertaut.
"Bukan siapa -siapa ku.Ah lupakan sajalah."Jawab He Shu Huan cepat menariknya untuk jalan ke ruangan lain dari Istana Bunga Seroja.
Di ruangan lain ada bahan -bahan obat narkotika yang siap di edarkan ke pasar gelap dan juga ada bahan -bahan serta peralatan medis tradisional yang mengandung bahan merkuri berbahaya.
__ADS_1
"Hmm barang -barang hina."Kata He Shu Huan.
Kres,brush,blarr!!
He Shu Huan membakar semua barang itu dan ia juga melemparkan satu kotak besi uang palsu yang di temukan Alina di brankas kamar di Istana Bunga Seroja.
"Hebat sekali cara mereka menyembunyikan dan membuat barang -barang hina ini di Istana lama di lingkungan Istana Kekaisaran Ming."Kata He Shu Huan berdecak lidah dengan geram.
"Musuh tua kita sudah lama meninggal dunia tapi musuh yang sangat licik dan licin masih belum dapat kita temukan."Kata Alina menempel erat di pelukan He Shu Huan.
"Musuh yang ingin ku bunuh adalah Liu Ze Bun dari Sekte Elang Hitam,Nenek Han Ji Won dari Sekte Beruang Hitam dan Sepasang Iblis Kembar dari pulau matahari darah yang sudah ku dengar membunuh Ketua Gobi."Kata He Shu Huan yang menceritakan surat dari Ketua Shaolinpai kepada dirinya melalui Bi Guan beberapa hari yang lalu kepada Alina.
"Selain mereka bertiga..,Kita juga harus mencari tahu keberadaan Shi Lin yang menghilang secara misterius sejak beberapa tahun yang lalu..!"Ujar Alina.
Mereka berdua meninggalkan Istana Bunga Seroja yang sudah di bakar hangus oleh He Shu Huan memakai ilmu tapak naga api suci milik Sekte Api Suci.
"Shi Lin?"
"Ya,Shi Lin.Apakah kamu sudah melupakan Shi Lin teman kita itu?"
"Uh mulai deh kau mengeluarkan rayuan maut mu untuk menggodaku."Kata Alina mencubit pinggul He Shu Huan.
"Aku suami mu ,Alina.Wajarlah kalau aku selalu menggodamu kecuali kalau kamu lebih suka pria lain yang merayu mu."Kata He Shu Huan manyun di pintu Istana Kasih Abadi.
"Ei..Kak Huan,lagipula sejak kapan aku suka pria lain yang merayuku?"Tanya Alina mengerutkan alisnya dengan bertolak pinggang dan tatapannya tegas.
"Mmm,surat dan gelang giok di meja rias mu ini dari siapakah?"Tanya He Shu Huan menunjukkan surat amplop biru dan gelang giok bentuk bulan sabit di kedua tangan kepada Alina.
"Aku tidak tahu darimana surat dan gelang giok itu bisa ada di meja rias ku."Jawab Alina yang heran melihat He Shu Huan merajuk dan meninggalkan Istana Kasih Abadi dengan langkah cepat.
"Bilang saja kau sudah bosan kepadaku,Alina."
Kata He Shu Huan sebelum pergi menuju ke arah Istana pribadi He Shu Huan.
__ADS_1
"Ihhh..Kenapa dengannya?"Tanya Alina kesal di tinggal begitu saja oleh He Shu Huan tanpa di cium sebagai ungkapan pamit He Shu Huan bila He Shu Huan tak ada waktu untuk tinggal di Istana Kasih Abadi.
He Shu Huan memikirkan surat yang menuliskan puisi cinta untuk Alina dan gelang giok bulan sabit yang bertuliskan insial Alina dengan pria bernama Li Wei Shiang dari Kota Li An Barat.
"Kurang ajar siapa pria bernama Li Wei Shiang itu dan ada hubungan apakah antara dirinya dengan Alina di masa lalu?" Pikir He Shu Huan di ruang kerja pribadinya.
"Li Wei Shiang?"Tanya Yu Lan yang mendatangi dirinya di dini hari.
"Ei ,anak nakal jam berapa sekarang ,kenapa kau datang ke Istana Ayahanda jam 4 dini hari?"Tegur He Shu Huan menutup map nya.
"Ayahanda jangan marah kepada Lan Lan karena Lan Lan cuma mau mengantarkan teh yang baru saja Lan Lan dapatkan dari Paman Dao dari Kota Dao An Timur untuk Ayahanda."Kata Yu Lan yang memang membawakan nampan yang ada seteko keramik air teh dan menaruh teko itu di meja lain di ruang kerja pribadi He Shu Huan.
"Mmm,kau bisa mengantarkan teh kamu itu pada jam 7 pagi sebelum aku pergi bekerja ke Balairung Istana Kekaisaran Ming dengan begitu kau akan menjadi anak yang memiliki etika dan moral serta sopan santun yang sangat baik."Kata He Shu Huan dengan nada yang mengejutkan Yu Lan.
Yu Lan gemetaran ketakutan dan merasa sedih karena ia di sindir tak sopan oleh pria pujaan hati gadis itu.
"Iya,ya,Ayahanda maafkan kelancangan Lan Lan."
Kata Yu Lan membasuh air mata yang nyaris jatuh dari kedua kelopak matanya.
He Shu Huan menyadari dirinya sudah agak keras terhadap Yu Lan yang masih remaja baginya.Ia menarik napas perlahan -lahan lalu menghampiri Yu Lan.
"Lan Lan ,maafkan Ayahanda yang sudah buatmu takut karena ayah membentak mu."Kata He Shu Huan memegang kedua bahu Yu Lan.
Gadis remaja ini mengangkat wajahnya menatap He Shu Huan yang menyiratkan tatapan mata anak kecil yang meminta belaskasihan seorang ayah kepada anak itu.He Shu Huan memeluk Yu Lan dengan kasih sayang seorang ayah yang di butuhkan Yu Lan dari Almarhum Yu Man Ji.
Yu Lan tersenyum manis sekali di balik pelukan He Shu Huan yang tak melihat gadis itu melayangkan senyuman menantang kepada Alina yang berdiri di pintu ruang kerja pribadi He Shu Huan.
Alina menjatuhkan mantel yang ingin ia berikan kepada He Shu Huan.Ia menatap tajam sekali Yu Lan yang membalas tatapannya dengan berani sekali.
"Anak sialan yang sudah berani menantangku..!!"
Batin Alina marah.
__ADS_1
Bersambung..!!