PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
MAHESA JENAR MURKA


__ADS_3

“Ini!” kata laki-laki berkumis melintang itu dengan suara kasar. ”Berikan sama dia! Aku harus terima jawaban hari ini juga, Kalingundil!! Kau dengar!?”


Orang yang bernama Kalingundil mengangguk. Diambil surat yang disodorkan.


”Kalau dia banyak bacot.....,” kata laki-laki berkumis melintang itu pula, ”bikin beres saja. Berangkat sekarang, jika perlu bawa Saksoko!”


Kalingundil berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Dan bila Kalingundil baru saja lenyap di balik pintu maka menggerendenglah Suranyawa, laki-laki yang berkumis tebal itu.


”Betul-betul perempuan lak*at! Perempuan ha*am jadah!” Dibulatkannya tinjukanannya dan dipukulkannya meja kayu jati di hadapannya.


”Brakk!!”


Papan meja pecah. Keempat kaki meja amblas sampai tiga senti ke dalam lanci ubin dan ubin sendiri retak-retak! Kemudian dia berdiri. Tubuhnya menggeletar oleh amarah yang hampir tak bisa dikendalikannya lagi. Dan mulutnya terbuka kembali. Dia memaki-maki seorang diri.


”Perempuan keblinger! Ditinggal satu tahun tahu-tahu kawin! Bunting malah dan punya anak malah! Kepa*at!”


Suranyawa berdiri dengan nafas menghempas-hempas di muka


jendela lalu dia melangkah ke meja lain yang juga terdapat di ruangan itu. Dari dalam sebuah kendi diteguknya air putih dingin. Tapi baru dua teguk air melewati tenggorokannya, isi kendi itu sudah habis.


”Kepa*at!” maki Suranyawa lagi. Dibantingkannya kendi itu ke tanah hingga pecah berantakan. Seorang perempuan paruh baya memunculkan kepalanya di pintu sebelah sana namun melihat Suranyawa yang lagi beringasan ia cepat-cepat diam menghilang kembali.


Akhirnya, Suranyawa letih sendiri memaki-maki dan marah-marah seperti itu.


Dibantingkannya badannya ke sebuah kursi. Dan kini terasa olehnya betapa letih badannya.


”Ludjeng!” teriak Suranyawa.


Perempuan separuh baya yang tadi memunculkan diri di pintu masuk bergegas.


”Ya, Denmas Sura....”.


”Kau juga kepa*at!” damprat Suranyawa pada perempuan itu.


Ludahnya menyemprot dan Wilujeng tak berani menyeka ludah yang membasahi mukanya.


”Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku dengan nama itu! Apa kau sudah gila hingga lupa terus-terusan?!? Kau gila ya, hah?!!.” Wilujeng terdiam dengan tubuh


menggigil ketakutan. Lagi-lagi dia lupa. Lagi-lagi dia memanggil dengan Sura padahal sudah sering Suranyawa memerintahkan agar dia memanggil dengan nama Mahesa Jenar.


”Perempuan monyong! Aku tanya kau sudah gila? Jawab!”


”Tidak, Denmas Su....., eh Mahesa Jenar.....”


”Kalau tidak gila kau musti sinting! Ambilkan aku air, lekas!”


Wilujeng putar tubuh. Sebentar kemudian dia sudah kembali membawa segelas air putih. Air yang dingin itu menyejukkan hati Suranyawa sedikit. Kemudian dia duduk tenangtenang di kursi itu dan bila matanya dipicingkannya, maka kembali terbayang saat setahun yang lewat.


Waktu itu dia sudah lama berkenalan dengan Surti. Dia tahu bahwa gadis itu tidak suka terhadapnya, tapi dengan menemui Surti terus-terusan di tepi kali tempat mencuci, dia


berharap lama-lama akan dapat juga melunakkan hati gadis itu. Memang akhirnya Surti mau juga bicara-bicara melayani Suranyawa, tapi ini bukanlah karena dia suka terhadap Sura

__ADS_1


melainkan karena kasihan belaka. Tapi celakanya Suranyawa salah tafsir. Dia menduga


bahwa kini Surti sudah terpikat kepadanya.


Satu ketika Sura dipanggil oleh seorang sakti di gunung Lawu. Sebelum pergi, Sura menemui Surti dan berkata,


”Surti, aku akan pergi ke Gunung Lawu. Mungkin satu tahun


lagi aku baru kembali. Kuharap kau mau menunggu dengan sabar. Jika aku kembali aku akan mengawini kau.....”


”Tapi Kangmas Sura.....”


Surti menghentikan kata-katanya karena saat itu dilihanya Suranyawa melangkah ke hadapannya dan mengulurkan tangan untuk memeluknya. Surti mundur.


”Jangan, Kangmas. Nanti kelihatan orang.....”


Kemudian Suranyawa pergi tanpa ada lagi kesempatan bagi Surti untuk menerangkan bahwa dia tidak suka laki-laki itu, bahwa dia menolak lamaran tadi! Dan dalam kepergian Suranyawa itu maka Surti kemudian kawin dengan Ranamaya seorang pemuda yang


dicintainya dan juga mencintainya. Bagi Surti perkawinannya dengan Ranamaya itu sama sekali bukan pengkhianatan atas diri Suranyawa karena memang dia tidak mencintai Suranyawa


dan juga tak pernah menyatakan cintanya.


Demikianlah, bila hari itu Suranyawa kembali dari perjalanannya maka kabar yang pertama yang didengarnya, yang begitu menyentakkan darah amarahnya ialah bahwa Surti


telah kawin dengan Ranamaya. Kedua suami istri itu bahkan sudah mempunyai seorang anak laki-laki. Kehidupan mereka meski sederhana tapi bahagia dan kini Ranamaya


sudah


menjadi Kepala Kampung Djatiwalu.


bila dia terus-terusan menginginkan Surti sedang Surti tidak mencintainya apalagi kini sudah bersuami dan beranak pula. Tapi dasar Suranyawa bukan manusia berpikiran jernih, lekas kalap


dan naik darah membabi buta, maka hari itu juga dikirimkannya anak buahnya ke Djatiwalu untuk membawa sepucuk surat ancaman kepada Ranamaya.


Suranyawa yang kini memakai nama Mahesa Jenar bangkit dari kursinya ketika didengar suara gemuruh kaki-kaki kuda di halaman. Dia melangkah ke jendela dan memperhatikan kepergian kedua orang anak buahnya. Jari-jari tangannya mencengkeram sanding jendela.


”Surti musti dapat..... musti dapat!” katanya dalam hati yang dikecamuk amarah itu.


”Kalau tidak.....,” Mahesa Jenar tak meneruskan kata-katanya. Sebagai gantinya tangan kirinya bergerak memukul dinding jendela. Dan kayu sanding itu pecah berantakan!!


****************


Keduanya menghentikan kuda di hadapan seorang laki-laki tua yang tengah mencabuti rumput halaman. Tanpa turun dari kudanya, Kalingundil bertanya dengan membentak kasar,


”Ini rumahnya Ranamaya?!”


Orang tua berdiri perlahan-lahan dari jongkoknya. Ketika berdiri nyatalah bahwa tubuhnya pendek dan bongkok. Ditengadahkannya kepalanya dan dikeataskannya topi bambu


yang menutupi keningnya untuk dapat melihat orang yang telah bicara kepadanya. Orang tua ini tak segera berikan jawaban melainkan melirik kepada Saksoko yang duduk di atas pungung kuda di sisi kanan Kalingundil.


”Orang tua be*o!” maki Kalingundil. Laki-laki bertubuh langsing ini memang bersifat tidak sabaran.

__ADS_1


”Aku tanya ini rumahnya Ranamaya?!”


”Ya!” jawab Kalingundil.


”Ada keperluan apa Saudara?”


Si gemuk pendek Saksoko kini yang buka suara. Suaranya parau dan tidak enak didengar.


”Tak perlu tanya keperluan kami. Kamu orang tua pikun minggirlah!”


Saksoko menyentakkan tali kekang kudanya. Sekali kuda itu menghambur ke depan maka terpelantinglah si orang tua kena terajakan kaki binatang yang ditunggangi Saksoko itu!


Orang tua itu bangun dengan perlahan-lahan. Matanya yang mengabur dimakan umur kelihatannya menyorot. Dengan kaki kirinya ditendangnya secara acuh tak acuh topi bambunya yang tergeletak di tanah.


Topi itu melesat ke muka laksana anak panah cepatnya dan menghantam ******** kuda yang ditunggangi oleh Saksoko. Kuda jantan itu meringkik dahsyat. Kedua kaki


depannya melonjak ke atas tinggi-tinggi dan Saksoko terpelanting ke tanah!


Si orang tua diam-diam merasa puas. Dengan sikap seperti tidak terjadi apa-apa dia memutar tubuh jongkok kembali dan mulai lagi mencabuti rerumputan di halaman!


Bola mata laki-laki gemuk pendek itu berpijar-pijar. Untuk beberapa lamanya segala sesuatunya menjadi guram dalam pemandangannya.


”Saksoko, ada apa dengan kau?!” tanya Kalingundil terkejut dan heran.


”Aku sendiri tidak tahu,” sahut Saksoko seraya bangun dengan menepuk-nepuk pantat celananya. Dia memandang berkeliling. Tidak ada siapa-siapa kecuali orang tua yang tadi


tengah mencabuti rumput. Kemudian mata laki-laki itu membetnur topi bambu yang tergeletak tak berapa jauh dari tanah. Hatinya curiga. Tapi bila dilihatnya lagi orang tua


kurus dan bongkok itu kecurigaannya menjadi sirna. Tak mungkin, pikirnya.


Tak mungkin kalau kakek-kakek pikun itulah yang telah melemparkan topi bambu itu ke kuda tunggangannya.


Kalingundil juga memandang berkeliling dengan hati bertanya-tanya. Dilihatnya orang tua itu. Dilihatnya topi itu. Kemudian dia berkata,


”Kurasa orang tua kerempeng itu.....”


Kalingundil memang lebih tajam penglihatannya dan perasaannya. Dalam ilmu silatpun dia lebih tinggi dua tingkat di atas Saksoko.


”Mana mungkin,” kata Saksoko pula tidak percaya.


”Coba kita lihat.” Kalingundil turun dari kudanya. Diambilnya topi yang tergeletak di tanah. Diperhatikannya topi bambu ini seketika. Matanya melirik pada orang tua yang masih


jongkok dan mencabuti rumput dekat pagar halaman.


Kalingundil menggerakkan tangan kanannya. Topi terlepas dari tangan itu dan melesat deras ke arah kepala si orang tua.


Begitu acuh tak acuh sekali, orang tua yang jongkok membelakangi itu gerakkan tangan kanannya untuk menggaruk bagian belakang kepalanya. Dan adalah mengejutkan


kedua orang anak buah Mahesa Jenar atau Suranyawa ketika melihat bagaimana topi bambu itu melesat ke samping dan menggelinding di tanah!


Kalingundil dan Saksoko saling pandang.

__ADS_1


”Apa kataku, kau lihat?” desis Kalingundil.


Melihat kenyataan ini maka geramlah si gemuk pendek Saksoko.


__ADS_2