
Diserang dengan dua jurus ini berikut pecahan-pecahannya yang tak kalah dahsyat, maka Pendekar Trisula Maut menjadi repot juga. Namun bila dia sudah mempercepat gerakannya, bila suara siulan sudah menggema melesat dari sela bibirnya, maka kelihatanlah kini bagaimana Resi Singo Ireng menjadi terdesak. Meski terdesak, Resi ini dengan segala kelihaiannya sanggup pertahankan diri sampai sepuluh jurus dimuka.
"Manusia bermuka jelek. Permainan silatmu boleh juga. Tapi apa kau sanggup menerima pukulanku ini ?!", tanya Pendekar Trisula Maut. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas, kedua mata dipejam. Kemudian kedua tangan itu mulai berputar-putar dengan sebat. Maka menggemuruhlah suara angin. Debu dan pasir beterbangan, membuat gelap pemandangan.
"Pukulan angin puyuh!!", seru Resi Singo Ireng sambil bersurut mundur. Mulutnya komat kamit membaca aji penangkis. Kedua kakinya melesak kedalam tanah sampai dua dim. Tubuhnya tergetar hebat. Pakaian putih serta rambutnya yang awut-awutan berkibar-kibar.
Tiba-tiba Pendekar Trisula Maut Rangga Geblek hantamkan kedua tangannya kemuka. Tubuh Singo Ireng mencelat ke belakang sampai lima tombak. Ketika dia berdiri maka tubuhnya terbungkuk tertatih-tatih, hidungnya kembang kempis tanda nafasnya memburu tak teratur. Nyatalah bahwa Resi kosen ini telah menderita luka parah di dalam akibat pukulan Rangga Geblek tadi. Senjatanya mental entah kemana.
Rangga tertawa mengekeh. Sebaliknya lawannya menggeram laksana harimau terluka. Mulut terkatup rapat-rapat, rahang bertonjolan, pelipis bergerak-gerak sedang mata menyorot merah.
"Pemuda, hari ini aku Resi Singo Ireng biarlah mengadu jiwa pada kau.".
Sang Resi angkat tangan kirinya tinggi-tinggi. Detik demi detik tangannya itu menjadi hitam legam. Tangan ini bergetar karena seluruh tenaga dalamnya dipusatkan kesitu.
Rangga Geblek tertawa mengejek. "Rupanya kau sengaja mau bunuh diri manusia kate bertampang jelek. Dalam keadaan terluka di dalam, melancarkan pukulan demikian rupa kau akan konyol sendiri".
Singo Ireng memang memaklumi hal itu. Tapi dia sudah kepalang tanggung, sudah teramat malu dan sudah meluap amarahnya. "Aku mati tapi kau juga mampus di tanganku, keparat", bentaknya.
__ADS_1
Maka tangan kirinya pun turun kebawah dengan cepat. Selarik sinar hitam yang menggidikkan menyambar ke arah Pendekar Trisula Maut. Itulah ilmu pukulan "wesi item" yang telah membinasakan Braja Paksi, kepala balatentara Banten.
Pendekar Trisula Maut melompat ke atas sampai enam tombak. Angin pukulan "wesi item" terasa panas seperti mau melumerkan kedua kakinya. Pendekar ini gigit bibir menahan perih lalu lancarkan serangan balasan yaitu pukulan yang tak asing lagi. "maling melempar batu".
Di seberang sana tubuh Resi Singo Ireng kelihatan jungkir balik kemudian jatuh duduk di tanah dan muntah darah, lalu rebah tiada sadarkan diri. Sebenarnya pukulan "maling melempar batu" itu belum tentu akan mencelakai sang Resi. Namun karena dalam keadaan terluka di dalam dia telah rnelancarkan pukulan yang keras dengan mengandalkan seluruh tenaga dalam, maka dia rasa sendiri akibatnya. Masih untung nyawanya tidak terbang.
Rangga Geblek tertawa mengekeh. Dia melangkah mendekati tubuh Resi itu. Prajurit-prajurit yang masih hidup, yang delikkan mata melihat bagaimana jago mereka dibikin babak belur demikian rupa segera bersurut menjauh.
"Resi muka arang”, kata Pendekar Trisula Maut. "Kau tanya siapa aku. Inilah kutuliskan aku punya nama".
"Kerak-kerak pemberontak”, katanya pada perajurit-perajurit yang masih hidup. "Kalian boleh menggotong manusia bermuka pantat kuali ini ke Kotaraja. Jika hari ini aku tiada cabut nyawanya dan nyawa kalian, maka di lain hari bila bertemu kembali jangan harap aku akan lepaskan nyawa kalian. Sampaikan ini padanya bila dia sudah siuman".
Dan sesudah bicara demikian Rangga Geblek segera tinggalkan tempat itu dengan membawa mayat Mangkubumi Mintra.
***********
Dengan hati penuh duka sedih mengenang kematian Mangkubumi Mintra yang sengaja korbankan nyawa untuk selamatkan dirinya, Sultan Hasanuddin berlari sepanjang tepi rimba belantara di kaki bukit. Perjuangan memang membutuhkan pengorbanan. Dan ini bukan saja menambah besarnya dendam kesumat di hati Sultan terhadap Parit Wulung dan benggolan-benggolan pemberontak lainnya, tapi juga mempertebal tekadnya bahwa di suatu ketika, dia pasti akan kembali ke Banten dan membangun Kerajaan Banten yang syah.
__ADS_1
Menjelang senja dia mencapai sebuah kota kecil yang terletak di timur Banten. Kota ini bernama Asoka. Dulunya hanya merupakan pangkalan-pangkalan pemberhentian para pedagang dari pelbagai penjuru sekitar situ. Kemudian pedagang-pedagang itu banyak yang mendirikan gudang-gudang untuk barang-barang dagangannya, kemudiannya lagi mereka juga mendirikan rumah-rumah sehingga lambat laun, dari pangkalan dagang maka berubahlah Asoka menjadi sebuah kota. Sebagai kota dagang tentu saja sepanjang hari Asoka selalu sibuk. Kesibukan dan keramaian ini terus berlangsung sampai jauh malam.
Sehabis mendapatkan sebuah penginapan, Sultan mengelilingi kota melihat-lihat keramaian dan mengisi perut disatu kedai. Ketika bulan sabit di atas langit tertutup oleh awan tebal berwarna gelap, maka Sultan Pun kembali ke penginapannya. Matanya yang tajam segera melihat adanya ketidakberesan dalam kamar dimana dia menginap. Sprei agak kusut, bantal-bantal tidak terletak di tempatnya semula, sedang bungkusan kecil yang berisi beberapa potong pakaian serta sejumlah uang, yang diletakkannya di kolong tempat tidur nyata sekali bekas dibuka dan digeledah orang. Namun tidak sepotong barang-barangnya pun yang hilang.
Sultan merasa masygul. Dia memandang berkeliling. Di dinding sebelah sana terdapat sebuah jendela. Jendela itu masih tetap sebagaimana tadi ditinggalkannya. Tak ada tanda-tanda bekas pengrusakan. Siapa gerangan yang telah masuk ke dalam kamar dan melakukan penggeledahan? Mungkin seseorang, mungkin beberapa orang ? Kalau dia atau mereka itu dari golongan si tangan panjang atau pencuri, mengapa tidak sepotong barang dan tak sepeser uangnya pun yang hilang ? Kekhawatiran Sultan Hasanuddin semakin besar karena dia berkesimpulan bahwa, siapapun manusianya yang telah memasuki kamarnya, pastilah untuk mencari dan mencuri keris pusaka Tumbal Wilayuda.
Sultan Hasanuddin merasa bersyukur karena sewaktu pergi tadi dia telah membawa keris tumbal kerajaan itu. Kalau tidak pastilah senjata itu sudah lenyap dilarikan orang. Malam itu Sultan sengaja tidur dengan mematikan lampu minyak di dalam kamarnya.Matanya hampir terpicing ketika lapat-lapat sepasang telinganya mendengar suara gemerisik di atas loteng bangunan. Suara itu pasti sekali bukan suara kucing. Sultan pasang telinganya lebih tajam. Suara gemerisik tadi lenyap dan kini dia hanya mendengar suara rintik-rintik hujan gerimis di luar sana. Perlahan-lahan Sultan pejamkan matanya kembali.
Tapi ketika hampir pulas matanya itu terpicing, suara gemerisik tadi didengarnya kembali. Kali ini Sultan bangun dari pembaringan dan melangkah ke sudut kamar. Dia menunggu dengan tangan kanan menempel erat-erat di hulu pedang.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sultan terkejut. Dia ingat betul bahwa pintu kamar itu telah dikuncinya tadi, bagaimana kini bisa terbuka semudah itu tanpa suara dan siapakah yang membukanya ?
Sultan tak menunggu lebih lama. Sesosok tubuh manusia yang sangat pendek masuk mengendap-endap ke dalam. Manusia ini memakai jubah panjang. Karena tubuhnya yang kate maka jubahnya menjela-jela sampai ke lantai. Tiba-tiba orang itu putar tubuh ke kiri dan melompat. Sebuah benda besar di tangannya, yaitu sebilah golok empat persegi panjang menderu ke arah dimana Sultan berdiri. Sultan sendiri yang saat itu memang sudah siap siaga cabut pedangnya dengan cepat dan menangkis.
"Trang"!
BERSAMBUNG.....
__ADS_1