PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
ADIPATI SETA BOGA


__ADS_3

Linggarjati sudah agak sepi ketika dia sampai ke sana karena hari sudah menjelang larut malam dan udara dingin mencucuk kulit tubuh sampai ke tulang-tulang. Di sebuah kedai dia berhenti untuk membasahi tenggorokan dan menghangatkan tubuhnya dengan segelas bandrek. Di kedai ini juga dia telah menanyakan di mana letak tempat kediaman Adipati Seta Boga. Tak sukar mencari tempat kediaman Adipati Seta Boga. Rumahnya adalah sebuah gedung yang paling bagus dan paling besar di Linggarjati. Saat itu gedung tersebut berada dalam suasana tenang tenteram. Dua orang pengawal berdiri di pintu masuk dan di ruang tamu kelihatan beberapa orang laki-laki. Rupanya Adipati Seta Boga tengah menerima beberapa orang tamu. Laki-laki itu melangkah seenaknya di depan kedua pengawal Kadipaten. 


“Di sini rumahnya Adipati Seta Boga ?”, tanyanya pada salah seorang pengawal. 


“Betul. Ada apa ?”, balik menanya si pengawal. 


“Ah tidak apa-apa. Aku cuma tanya”, jawab si pemuda. Digaruknya rambutnya yang gondrong. “Adipatinya ada ?” 


“Ada sedang menerima tamu. Kau siapa ? Perlu apa tanya-tanya ?” 


“Cuma tanya”, jawab si pemuda. Digaruknya lagi rambutnya lalu tanpa bilang apa apa dia melanjutkan langkahnya. 


“Sialan”, maki pengawal itu. Yang dimaki jalan terus. 


Pengawal yang satu berkata, “orang gendeng” 


Keduanya memandang sampai pemuda tadi lenyap di tikungan jalan yang gelap. Setengah jam kemudian, ketika pemuda itu kembali, maka tamu-tamu di Kadipaten sudah tak kelihatan lagi. Lampu besar di ruang depan sudah diganti dengan lampu kecil. Melihat kedatangan si pemuda dan yang seperti tadi berhenti di depan mereka, maka membentak lah salah seorang dari pengawal. 


“Orang sinting!! Ada apa kau datang lagi ke sini ?!” 


“Pergi sebelum kepalamu kupentung dengan gagang tombak ini”, menghardik yang seorang lagi. 


Si pemuda menyeringai. “Dengar sobat-sobatku”, katanya. 


Kedua tangannya diacungkan ke muka. Jari-jari telunjuk dan jari-jari tengah diluruskan. 


“Kalian lihat jari-jari tanganku ini ?”, tanyanya. 


“Kunyuk gendeng. Berlalulah atau kuremukkan kepalamu”, bentak pengawal sambil acungkan tombaknya. 


“Ah… jangan buru-buru marah tak karuan. Bicaraku masih belum habis”, menyahuti si pemuda tanpa acuhkan ancaman pengawal. Jari jari tangannya masih diluruskan. “Coba kalian hitung jari-jari tangan yang kuacungkan ini”, katanya. 


Tentu saja kedua pengawal jadi tambah mengkal melihat tingkah dan mendengar ucapan si pemuda. Maka dua gagang tombak pun meluncur deras ke kepala pemuda itu. Namun lebih cepat lagi dari luncuran kedua tombak itu, maka kedua tangan si pemuda tahu-tahu sudah menotok urat di pangkal leher pengawal-pengawal. Kontan keduanya menjadi gagu dan kaku menegang. Si pemuda tertawa. Kedua pengawal itu sekaligus dipanggulnya di bahu kiri kanan kemudian dimasukinya halaman Kadipaten. 


Pengawal-pengawal yang dipanggul kemudian dilemparkannya ke kandang kuda di belakang rumah. Lewat pintu belakang dia masuk ke dalam gedung Kadipaten yang saat itu belum dikunci. Seorang perempuan separuh umur, yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan yang saat itu tengah mencuci piring terkejut melihat munculnya seorang pemuda berambut gondrong yang tak dikenalnya. Dan pemuda itu tersenyum kepadanya. 


“Kau... kau siapa...?”, tanyanya. 


Si pemuda masih senyum. Tangan kirinya dilambaikan. Selarik angin tajam menyambar ke leher si perempuan. Perempuan ini hendak berteriak. Namun saat itu mulutnya sudah gagu, lidahnya sudah kelu sedang tubuhnya tak bisa lagi digerakkan akibat totokan jarak jauh yang lihay sekali. 


Si pemuda kemudian memasukkan perempuan itu ke dalam sebuah bilik kosong di bagian belakang gedung. Saat itu Adipati Seta Boga tengah membuang hajat kecil di kamar mandi. Ketika dia masuk kembali ke dalam gedung, maka terkejutlah Adipati Linggarjati ini. Betapa tidak. Di atas kursi goyang, di mana dia sering duduk bila melepaskan lelah, kini dilihatnya duduk enak-enakan sambil memejam-mejamkan mata seorang pemuda berbadan kekar dan berambut gondrong yang sama sekali tidak dikenalnya. 


“Setan atau manusia dari mana yang kesasar ke gedungku ini ?”, ujar Adipati Seta Boga di dalam hati.

__ADS_1


 Dan pemuda di atas kursi terus juga menggoyang-goyangkan badannya dan kedua matanya masih dipejamkan. 


“Siapa kau?!”, bentak Adipati itu dengan suara menggeledek dan menggema di empat dinding ruangan. 


Kursi goyang itu bergoyang-goyang juga. Pemuda yang duduk di atasnya masih terus duduk enak-enakan dan memejamkan mata. Geram sekali Adipati Seta Boga jadinya. Dengan langkah besar-besar dia maju mendekati kursi goyang dan orang yang mendudukinya. Telapak tangan kanan terkembang dan detik itu juga maka melayanglah tamparannya. 


Beberapa saat lagi tangan kanan itu akan mendarat di pipi si pemuda, tiba-tiba si pemuda bukakan kedua matanya. Dan seperti alas kursi itu mempunyai per yang melesatkan si pemuda ke atas, demikianlah tubuh pemuda itu melayang enteng sampai dua tombak dari kursi yang didudukinya. Dan sebagai akibatnya maka tangan kanan Adipati Seta Boga kini menghantam sandaran kursi goyang. Sandaran kursi itu pecah. Kayunya berkeping-keping berantakan. Dapat dibayangkan bagaimana jika seandainya tamparan itu mendarat di pipi si pemuda, karena tamparan itu tidak boleh tidak, tentu mengandung tenaga dalam yang luar biasa. 


“Ah.... kau rupanya Seta Boga”, kata si pemuda sambil mengusap matanya. “Aku sedang enak-enakan tidur, kau mengganggu saja” 


“Anjing kurap, kenapa kau bisa kesasar ke mari ? Apa minta ditebas batang lehermu?!”, radang Adipati Seta Boga. Geram sekali dia. Selama menjadi Adipati baru hari ini ada seseorang yang memanggilnya dengan “Seta Boga,” saja. 


Si Pemuda tertawa dan seperti tak ada hal apa-apa, dia duduk kembali seenaknya di atas kursi goyang, kembali bergoyang-goyang dan memejamkan matanya. 


“Setan alas betul”, damprat Seta Boga. 


Sekali kaki kanannya bergerak maka mental dan hancurlah kursi goyang itu. Tapi si pemuda sekejapan sebelum itu sudah melompat dan berdiri di sudut ruangan dekat sebuah meja kecil. 


“Kursi bagus ditendang sampai hancur. Kau sudah sinting rupanya Seta Boga?”, tanya si pemuda sambil menyengir. 


Sementara itu karena suara ribut-ribut di ruang tengah maka istri Seta Boga ke luar dan di samping heran dia juga terkejut melihat apa yang terjadi. 


“Kakang ada apakah? Siapa manusia ini?!”, tanya perempuan itu. 


Perempuan itu berteriak memanggil pengawal. Namun tiada pengawal yang datang. Dua pengawal Kadipaten sebelumnya sudah dibikin “mendengkur” oleh si pemuda di kandang kuda. 


Kegeraman Seta Boga tak terkirakan lagi ketika dilihatnya pemuda berambut gondrong itu mengambil sebatang cerutu miliknya dalam kotak cerutu yang terletak di atas meja kecil di sudut ruangan, lalu menyalakannya sekaligus. 


Rahang-rahang Seta Boga bertonjolan. Jari-jari tangan kanannya diremas-remaskannya satu sama lain. Sesaat kemudian kelihatanlah jari-jari tangan itu menjadi merah. Warna merah terus menjalar sampai sebatas siku. 


“Anjing kurap yang kesasar, hari ini terima nasibmu harus mampus oleh pukulan wesi geni ku” 


Tangan kanan yang merah itu dipukulkan ke muka. Selarik angin yang tidak terkirakan panasnya menggebubu ke arah si pemuda. Tubuh si pemuda berkelebat. 


“Wuss!” “Brak!” 


Istri Seta Boga menjerit. Dinding di muka mana pemuda itu tadi berdiri hancur berlubang dan menjadi hitam hangus. Orang yang diserang kelihatan di sudut ruangan sebelah kanan, asyik-asyikan menyedot cerutu. Dada Seta Boga menjadi sesak oleh amarah yang meluap. 


“Siapa kau sebenarnya ?!”, bentak Adipati Linggarjati ini. 


Si pemuda batuk-batuk lalu cabut cerutunya dari sela bibir. 


“Namaku ?”, ujarnya. “Masakan kau tidak tahu ?!” 

__ADS_1


“Setan alas” 


Si pemuda tertawa menanggapi makian itu. 


“Namaku Tapak Luwing”, katanya. “Aku datang untuk menyerahkan sebagian dari uang pungutan pajak di desa Bojongnipah. Ini terimalah”. 


Si pemuda mengeruk saku bajunya. Sesuatu dalam genggamannya kemudian dilemparkannya ke arah Adipati Seta Boga. Laki-laki ini cepat menghindar dan lambaikan tangan kanannya. Benda yang dilemparkan ternyata adalah kira-kira selusin kalajengking yang saat itu sudah mati dan bertebaran di lantai. 


Istri Seta Boga memekik lalu lari ke dalam kamar. Si pemuda tertawa bekakakan. Adipati Seta Boga tak menunggu lebih lama, menyambar sebuah tombak yang dipajang di dinding. Dengan senjata ini dia kemudian menyerang si pemuda. 


Si pemuda tenang-tenang selipkan cerutunya ke bibir, menghisapnya dengan cepat lalu menghembuskan asapnya ke arah Seta Boga. Adipati ini terpaksa melompat ke samping sekali lagi karena asap cerutu itu mengandung tenaga dalam dan menyambar ke arah kedua matanya. 


Dari samping kini Seta Boga melancarkan serangan. Tombak di tangannya membabat kian kemari. Tangan kiri melakukan pukulan-pukulan tangan kosong jarak jauh beberapa kali berturut-turut. Inilah jurus “kitiran dan alu sabung menyabung”. Jurus ini biasanya dilaksanakan dengan memakai pedang. Tapi dengan tombak pun kehebatannya tidak olah-olah. 


Tapi betapa terkejutnya Seta Boga ketika si pemuda dengan tertawa-tawa berkata : “Ah, cuma jurus kitiran dan alu sabung menyabung, siapa takut ? Sambuti serangan balasan ini, Seta Boga”.


Demikianlah, meskipun diserang tapi si pemuda bukannya mengelak malahan menyambut dengan serangan pula. 


“Ini jurus ‘membuka pintu memanah bintang’ Seta Boga”, kata si pemuda. 


Lengan kirinya dipukulkan melintang dari atas ke bawah, sedang tangan kanan meluncur ke atas dalam gerakan yang cepat sekali dan sukar dilihat oleh mata. 


“Ngek” “Buk ” 


Tombak di tangan Seta Boga terlepas mental karena lengannya kena dibabat oleh lengan lawan. Suara ngek yang ke luar dari tenggorokannya adalah akibat urat besar di bawah dagunya telah kena ditotok oleh si pemuda. Di saat itu pula tubuhnya tak bergerak lagi alias kaku tegang. Karena sebelum di totok, Seta Boga telah menyeringai kesakitan akibat benturan lengan lawan, maka di saat tubuhnya menjadi kaku itu, mimik parasnya sungguh tak sedap untuk dipandang. Si pemuda cabut cerutu dari sela bibirnya dan meniupkan asap cerutu itu ke muka Seta Boga. 


“Sayang sekali”, katanya. “Jurus kitiran dan alu sabung menyabung mu terpaksa bertekuk lutut di bawah jurus membuka pintu memanah bintang-ku”. 


Ditiupkannya lagi asap cerutu ke muka Seta Boga. Totokan pada urat besar di bawah dagu Seta Boga tetah melumpuhkan tubuhnya, membuat mulutnya menjadi gagu dan perasaannya menjadi tumpul. Cuma telinganya saja saat itu yang masih sanggup mendengar. 


Maka berkatalah si pemuda. “Dengar Seta Boga, besok Ki Lurah Kundrawana dan penduduk Bojongnipah akan datang ke sini. Kalau nasibmu baik kau akan mereka seret ke hadapan Raja di Kotaraja. Tapi kalau nasibmu buruk, mereka akan mengeremusmu beramai ramai. Dan sebelum aku pergi, terima hadiah kenang-kenangan ini dariku”. 


Si pemuda acungkan jari telunjuk tangan kanannya. Dengan mempergunakan ujung jari itu, dibuatnya sebuah gambar di kening Seta Boga, Trisula. 


Ketika pada keesokan harinya, Ki Lurah Kundrawana dan dua lusin penduduk Bojongnipah bersenjata lengkap datang ke gedung Kadipaten di Linggarjati, mereka heran menemui gedung itu dalam keadaan kosong. Tak satu manusiapun ada di dalamnya. 


“Pasti Adipati keparat itu sudah melarikan diri”, Kata Kundrawana geram. 


Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dari belakang gedung. Ketika Kundrawana dan yang lain-lainnya pergi ke belakang gedung mereka hampir tak percaya dengan penglihatan mereka. Lima orang kelihatan berdiri tak bergerak-gerak di kandang kuda. Di sebelah muka adalah Adipati Seta Boga dan istrinya. Di kiri kanan mereka pengawal-pengawal Kadipaten, dan di sebelah belakang, perempuan yang menjadi pembantu rumah tangga. Ketika diperiksa, kelimanya masih dalam keadaan bernafas dan di totok urat darah mereka. Ki l:urah Kundrawana memandang pada gambar trisula yang tertera di kening Adipati Seta Boga. 


“trisula”, desisnya. 


Dia hanya goleng-goleng kepala lalu memerintah: “Perempuan-perempuan dan pelayan lepaskan totokannya. Seta Boga kita seret ke Kotaraja”.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2