PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
TAPAK GADJAH


__ADS_3

Siapa penduduk desa bukit tunggul yang tidak tahu dengan Asih Permani. Tanyakan pada yang tua-tua, mereka akan tahu. Tanyakan pada yang muda-muda mereka akan lebih dari tahu. Tanyakan pada anak-anak kecil yang mengangon bebek atau menggembala kerbau, mereka juga akan tahu. 


Jika.ditanyakan bagaimana paras Asih Permani maka semua mulut akan memuji. Semua mulut akan mengatakan: Asih Permani gadis yang tercantik se-Bukit Tunggul. Mukanya bujur telur. Hidungnya kecil mancung bak daun tunggal. Bibirnya seperti delima merekah, merah dan segar. Matanya bening bercahaya laksana bintang di angkasa raya. Dagunya seperti lebah bergantung, leher jenjang dan suaranya halus merdu, serasa digelitik liang telinga jika kita mendengar suara Asih Permani. Dan keseluruhan tubuhnya yang montok padat itu dibungkus oleh kulit yang halus mulus. 


Asih Permani memang cantik seperti perbandingan di atas. Kawannya sesama gadis di desa Bukit Tunggul banyak yang merasa iri dengan kecantikan yang dimiliki gadis itu. Pemuda-pemuda banyak yang tergila. Tapi semua mereka bertepuk sebelah tangan. Karena pada bulan di muka, tepat di waktu bulan rembulan empat belas hari. Asih Permani akan dinikahkan dengan Ranggasastra, anak lurah Bukit Tunggul. 


Memang di samping kaya raya, banyak harta dan sawah berlimpah kerbau berkandang, maka Ranggasastra cocok dan pantas menjadi suami Asih Permani. Pemuda ini gagah. Badannya tegap, hatinya polos dan ramah kepada setiap orang. Sehingga kalau bersanding dengan Asih Permani di pelaminan nanti tentulah tak ubahnya seperti pinang dibelah dua. 


Semakin lama, semakin dekat juga hari pernikahan itu. Tentu sama dapat dibayangkan bagaimana perasaan kedua calon pengantin itu menjelang hari perkawinan mereka. Hari yang bersejarah dan tak dilupakan seumur hidup mereka. Hari di mana mereka akan sama-sama membuka suatu “rahasia kebahagiaan hidup”. 


Saat itu Ranggasastra tengah duduk-duduk di depan rumahnya memandangi bintang-bintang yang bertaburan. Entah mengapa malam itu hatinya gelisah saja. Dan dia tak tahu apa sebenarnya yang digelisahkannya itu. Larut malam baru dia dapat tertidur. Tapi menjelang fajar dia tersentak. 


Ranggasastra adalah seorang yang pernah menuntut ilmu silat dan kesaktian pada seorang guru di pantai utara. Nalurinya menyatakan bahwa ada seseorang lain di dalam kamarnya saat itu. Dibukanya kedua kelopak matanya. Dia terkejut melihat sesosok tubuh manusia sangat kate berdiri dekat tempat tidur. Manusia ini berkepala botak sudah licin berkilat ditimpa kelap-kelip sinar lampu pelita dalam kamar. Manusia kate ini memiliki hidung yang sangat besar. Hidungnya yang besar itu seperti mau menutupi mukanya yang kecil. Ketika dia menyeringai dan mengeluarkan suara mendesau, maka kelihatanlah giginya yang cuma satu di sebelah atas. Ranggasastra segera melompat dari tempat tidur. 


“Manusia kate! Siapa kau?!”, bentak si pemuda. 


Matanya meneliti manusia di hadapannya dengan tajam. Dan meskipun cahaya lampu minyak di dalam kamar tidak begitu terang, namun Ranggasastra dapat melihat bahwa manusia kate itu mempunyai telapak kaki yang lebar dan besar sekali. Tapak kaki itu sampai sebatas mata kaki sama sekali tidak merupakan tapak kaki manusia, tapi seperti kaki seekor gajah. 


“He... he... he…”. Manusia kate berkaki besar tertawa berkemik. “Kau manusianya yang bernama Ranggasastra, yang bakal jadi penganten minggu depan...?!”. 


Tentu saja apa yang ditanyakan manusia itu, mengejutkan Ranggasastra. 


“Itu bukan urusanmu! Jawab dulu siapa kau!” 


“He... he... he…”. Tamu tak diundang itu mengekeh lagi. “Maksudmu untuk menjadi penganten, untuk menjadi suami Asih Permani tidak akan kesampaian Ranggasastra”. 


“Manusia kate, jangan ngaco pagi-pagi buta!”, bentak Ranggasastra dengan marah. “Keluar dari kamarku!”. Pemuda itu kepalkan tinjunya. 


“Kau tak akan pernah menjamah tubuh Asih Permani, anak muda. Karena mulai detik ini ke atas, dia adalah milikku dan akan kubawa ke mana aku suka, akan kuperbuat apa aku senang”. Manusia kate ini mengekeh lagi. 


“Kalau kau mau mengigau, pergilah mengigau di liang kubur”. 


Habis berkata demikian Ranggasastra menerjang ke muka. Tinju kanannya menderu. Tapi dia hanya memukul tempat kosong. Hampir tak terlihat oleh matanya, manusia kate itu telah berkelebat dan lenyap dari pemandangannya. 


Tinggal seorang diri di dalam kamar Ranggasastra merasa seperti orang yang tertidur dan tersentak oleh mimpi. Digosok-gosoknya kedua matanya dengan telapak tangan berulang kali. Tidak, dia tidak mimpi. Dia yakin betul bahwa dia tidak mimpi. Dan ketika dia memandang ke lantai kamar yang terbuat dari papan, maka pada lantai itu jelas dilihatnya bekas-bekas telapak kaki manusia kate tadi. Ketika ingat akan ucapan-ucapan orang kate berkepala sulah tadi maka khawatirlah Ranggasastra. 


Segera dijangkaunya tongkat besi berujung runcing yang tersisip di dinding. Senjata ini adalah pemberian gurunya. Tanpa menunggu lebih lama, pemuda ini segera tinggalkan rumahnya menuju ke desa sebelah timur di mana terletak rumah orang tua Asih Permani. Sepuluh tombak akan sampai ke halaman muka rumah gadis calon isterinya, mendadak Ranggasastra melihat sesosok tubuh melompat keluar dari jendela samping rumah. Sosok tubuh ini tak lain dari manusia kate yang telah mendatanginya tadi. Dan pada bahu manusia itu kelihatan sosok tubuh seorang perempuan. Meskipun halaman samping gelap tapi Ranggasastra tahu betul, perempuan yang dipanggul itu adalah calon isterinya, Asih Permani. 


“Bangsat rendah! Pencuri busuk! Lepaskan perempuan itu!”, bentak Ranggasastra. 


Si kate kepala sulah tertawa dingin. “Sekali aku bilang bahwa gadis ini jadi milikku, tak satu manusia lain pun yang bisa menghalanginya”. 


“Kalau begitu terpaksa kukermus kepalamu”. 


Maka tongkat besi di tangan Ranggasastra menderu ke kepala si kate. Gesit sekali yang diserang melompat ke samping. Ranggasastra susul dengan satu tusukan ke dada kiri. Namun dengan kecepatan yang luar biasa orang kate itu gerakkan kaki kanannya. Tendangan yang keras menghajar tangan kanan si pemuda. Besi panjangnya lepas. Tangannya hancur dan jeritan kesakitan keluar dari mulut Ranggasastra. Pemuda ini terhuyung sebentar lalu mental sampai beberapa tombak ketika tendangan lawan terus menyerempet perutnya. Perut si pemuda robek besar. Tubuhnya menggeletak tanpa nyawa. Si kate tertawa buruk. 


“Maling hina dina!! Nyawamu di ujung golokku!”, teriak seseorang yang melompat dari dalam rumah lewat jendela. 


Si kate berkepala botak cepat putar badan pada saat sebuah golok berkiblat memapasi batok kepalanya. “He... he... Kau juga inginkan mampus Ki Lurah!”, ujar si kate. 


Manusia yang menyerangnya itu adalah Tanuwira, ayah Asih Permani. “Kau yang akan mampus lebih dahulu manusia laknat!”. 


Golok Tanuwira berkelebat lagi. Tapi si kate sungguh luar biasa. Serangan itu dihadapinya dengan tertawa tawar. Sekali dia gerakkan kaki kanannya maka hancurlah dada Ki Lurah Tanuwira. 


Si kate tertawa mengekeh. “Calon mantu dan calon mertua sama-sama bernasib sial. Kasihan”. 

__ADS_1


Dihirupnya udara segar menjelang pagi itu, sejurus lenyaplah dia dari tempat itu. 


* * * 


Ketika dia sampai ke pertapaannya di puncak Gunung Lawu, maka terkejutlah manusia kate berkepala botak itu sewaktu melihat ada seorang bertangan buntung yang tak dikenalnya berdiri dekat pintu. Orang yang bertangan buntung agaknya juga terkejut melihat kedatangan si kepala botak yang membawa seorang gadis cantik di pundak kirinya. 


Tapi dia cepat-cepat menjura. “Pastilah saat ini aku berhadapan dengan tokoh silat terkemuka yang bernama Tapak Gajah…” 


Laki-laki kate yang memang bernama Tapak Gajah turunkan tubuh Asih Permani dari pundaknya. Matanya meneliti tajam orang di hadapannya lalu bertanya: “Kau sendiri siapa? Apakah datang kesini membawa maksud baik atau buruk?”. Sambil bertanya demikian Tapak Gajah memperhatikan telinga kanan tamunya yang juga buntung tiada berdaun. 


“Namaku Kaligundil. Aku datang dengan maksud baik, tapi membawa berita buruk”. 


“Aku tidak kenal padamu sebelumnya. Berita buruk apakah yang kau bawa...?”, tanya Tapak Gajah. 


Maka Kaligundil segera mulai pasang jarum penghasutnya. “Pembunuhan atas diri seorang murid adalah satu hal yang pahit bagi gurunya. Begitu pahit sehingga menanamkan dendam kesumat…”. 


“Jangan bicara berbelit!”, potong Tapak Gajah. “Katakan langsung berita buruk itu!” 


“Muridmu dibunuh orang, Tapak Gajah…” 


Berubahlah paras si tubuh kate kepala sulah. Sedang Kaligundil saat itu melirik memperhatikan Asih Permani yang berdiri tak bergerak, “Pastilah tubuhnya ditotok'', pikir Kaligundil dan dalam hatinya dia bertanya-tanya: “Siapa gerangan gadis cantik ini…”. Sesak nafas Kaligundil melihat kejelitaan Asih Permani. 


“Aku mempunyai beberapa orang murid yang telah turun ke dalam rimba persilatan. Murid yang mana yang kau maksudkan ?!”, tanya Tapak Gajah. 


Kaligundil memalingkan mukanya kepada laki-laki itu kembali. “Mahesa Jenar...” 


“Aku tak punya murid bernama Mahesa Jenar”, berkata Tapak Gajah. 


Kaligundil kaget. Dia berpikir-pikir seketika. Kemudian dia ingat. “Maksudku muridmu Suranyawa…” 


 “Demi setan dan iblis aku tidak bicara dusta, Tapak Gajah!”. 


“Suranyawa bukan manusia sembarangan. Ilmu kesaktiannya tinggi”. 


“Tapi manusia yang membunuhnya lebih sakti lagi”. 


“Siapa ?!” 


“Pendekar Trisula Maut....”. 


Tapak Gajah merenung. Kedua tangannya terkepal. “Kau dusta. Pendekar Trisula Maut Ratih Parwati sudah sejak puluhan tahun lenyapkan diri dari dunia persilatan”. 


“Tapi....” 


“Tutup mulut. Terima hukuman dariku bangsat bermulut bohong”. Tapak Gadjah hantamkan kaki kanannya ke muka. 


“Wutt !” 


Angin sedahsyat badai yang ke luar dari tendangan itu lebih dahulu menyerang ke arah Kalingudil sebelum tendangannya sendiri sampai. Kaligundil tak mau ambil risiko. Dia berteriak nyaring dan lompat delapan tombak ke udara. 


“Byur!” 


Kaligundil palingkan kepala ke belakang. Tersekat rasanya tenggorokannya sewaktu melihat bagaimana angin tendangan Tapak Gadjah menghancurkan batu besar di belakangnya. 


Sewaktu manusia kate itu hendak lancarkan serangan kedua Kalingundi cepat berseru: “Tahan. Kita berada di pihak yang sama”. 

__ADS_1


Tapak Gadjah tarik serangannya. “Apa maksudmu kita di pihak yang sama huh?” 


“Aku adalah bekas anak buah Suranyawa sewaktu kami masih sama-sama di Jatiwalu” 


“Jangan coba kelabui aku!!”, membentak Tapak Gadjah. 


“Perlu dan untung apa aku mengelabui mu”, bailas membentak Kaligundil dengan beringas. 


“Berikan bukti bahwa muridku yang satu itu benar-benar dibunuh orang!” 


Kaligundil tertawa dingin. “Tidak mau percaya pada orang sepihak akan merugikan diri sendiri Tapak Gadjah…” 


Lalu Kaligundil memberikan keterangan selengkapnya. Kini mulai kelihatan bayangan rasa percaya di paras Tapak Gadjah. Namun apa yang meragukannya ialah keterangan Kaligundil mengenai Pendekar Trisula Maut Rangga Geblek. Satu satunya kesimpulan bagi Tapak Gadjah ialah bahwa pemuda bernama Rangga Geblek itu adalah murid Ratih Parwati. 


“Golongan hitam memang sejak dulu menaruh dendam pada itu nenek-nenek sialan…,” ujar Tapak Gadjah pula. “Tapi sebelum kami bersepakat untuk menghabiskan jiwanya, dia sudah lenyapkan diri. Kini muridnya muncul dan membunuh muridku. Benar benar laknat!” 


“Aku sendiri telah tantang dia di Rawasumpang demi untuk menuntut balas kematian Suranyawa atau Mahesa Jenar. Tapi, itu pemuda keparat memang luar biasa tinggi ilmunya. Kalau aku kalah dalam pertempuran di Rawasumpang itu bukan suatu apa, tapi ada satu hal yang benar-benar menyakiti hatiku Tapak Gadjah…”, Kaligundil menunjukkan paras yang mengandung dendam. Sepasang matanya memandang lurus-lurus jauh ke muka. 


“Katakan apa yang menyakiti hatimu itu”, kepingin tahu Tapak Gadjah. 


“Sebelum mengundurkan diri dari Rawasumpang aku bilang pada itu pemuda keparat bahwa kelak pembalasan dari guru Suranyawa akan tiba. Pemuda itu ketawa bekakakan dan berkata bahwa sekalipun ada seribu guru Suranyawa, akan diterabasnya sama rata dengan tanah”. 


Rahang-rahang Tapak Gadjah mengembung. “Begitu keparat itu bilang…?”. 


Kaligundil manggut. 


“Meski dia murid si Ratih Parwati, tapi jangan merasa sudah setinggi langit kepandaiannya. Katakan di mana bangsat itu berada. Aku Tapak Gadjah akan pecahkan kepalanya!” 


“Kau tak perlu susah-susah mencarinya Tapak Gadjah”, menjawab Kaligundil. “Bukankah tadi aku sudah katakan bahwa dia sudah umbar mulut menentangmu ?. Katanya dia tunggu kau pada hari tiga belas bulan dua belas di puncak Gunung Tangkuban Perahu”. 


“Anjing kurap betul itu manusia!”. Tapak Gadjah meludah ke tanah. 


Dan Kaligundil berkata lagi: “Beberapa tokoh silat utama yang ditantang Pendekar Trisula Maut itu juga telah kuberi tahu. Mereka sudah memastikan untuk datang ke Tangkuban Perahu guna mengkeremus si pemuda”.


“Seribu tokoh utama boleh datang ke sana. Namun kematian anjing kurap itu aku yang tentukan”. 


Kaligundil manggut-manggut. Hatinya gembira. Memang itulah yang diharapkannya. Sudah terbayang bagaimana akan berhasilnya dia punya rencana nanti. Seorang diri dia memang tak sanggup untuk menghadapi Rangga Geblek. Tapi kalau Tapak Gadjah, Begawan Sitaraga, Wirasokananta. dan Tapak Luwing yang berkumpul jadi satu untuk membuat perhitungan, tiga Pendekar Trisula Maut-pun tak bakal sanggup. 


“Aku gembira mendengar keputusanmu itu. Tapak Gadjah. Akupun pasti pula akan datang ke puncak Tangkuban Perahu…” 


Tapak Gadjah tertawa dingin. “Kalau kau punya nyali tapi punya sedikit ilmu untuk diandalkan sebaiknya tak usah datang ke sana”. 


Merah padam paras Kaligundil. 


“Sekarang aku tak ada urusan lagi dengan kau. Silakan angkat kaki dari sini!”, bentak Tapak Gadjah. 


Kaligundil melirik pada Asih Permani. Kemudian katanya pada Tapak Gadjah: “Jangan terlalu memandang rendah terhadap sesama kawan Tapak Gadjah. Aku memang tidak dikenal dalam dunia persilatan tapi untuk menghancurkan batu besar sepertimu tadi, aku masih sanggup”. 


Kaligundil gerakkan tangan kanannya ke pinggang. Kemudian selarik sinar biru melesat ke arah batu besar yang terletak sekira sembilan tombak dari hadapannya. 


“Byur!” 


Batu itu hancur berkeping-keping dan bayangan Kaligundil sendiri sesudah itu lenyap dari pemandangan. Terkejutlah Tapak Gadjah. Tiada disangkanya kalau manusia bertangan buntung bertelinga sumpung itu memiliki kehebatan demikian rupa. Tapi manusia kate ini tidak berpikir lebih lama. Begitu matanya membentur paras dan tubuh Asih Permani maka lupalah dia pada Kaligundil. Segera diboyongnya gadis itu ke dalam pertapaan. Apa yang kemudian dilakukannya terhadap gadis suci itu tak seorang manusiapun yang tahu. Namun pada hari itu, satu kesucian telah lenyap dirampas oleh kebejatan.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2