
Pada masa itu, di Jawa Barat telah sejak lama berdiri sebuah perkumpulan yang bernama Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Anggotanya terdiri dari pengemis-pengemis yang tersebar di seluruh pelosok dan di setiap kota. Setiap anggota perkumpulan mempunyai sebuah pecut hitam dan rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi.
Tentu saja karena hampir setiap tempat dan daerah, anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam ada, maka segala sesuatu peristiwa besar dan rahasia dengan sendirinya diketahui oleh mereka. Demikian juga dengan peristiwa jatuhnya Banten ke tangan pemberontak, dan lenyapnya Sultan serta keris Tumbal Wilayuda. Yang terakhir sekali, mereka juga mengetahui hubungan Sultan dengan Anjarsari. Maka pucuk Pimpinan Perkumpulan segera menyebar anak-anak buahnya untuk mendapatkan keris Tumbal Wilayuda mencari Sultan serta menculik Anjarsari.
Demikian besarnya hasrat mereka untuk berhasil dalam rencana tersebut, maka sampai-sampai salah seorang dari pucuk pimpinan yang terdiri dari tiga pengemis berkepandaian tinggi, memutuskan untuk turun tangan. Pucuk pimpinan yang seorang ini ialah Pengemis Bibir Sumbing. Sebagaimana yang telah dituturkan sebelumnya, ketika Sultan bermalam di satu penginapan, maka Pengemis Bibir Sumbing telah mendatanginya dan hampir berhasil membawa kabur keris Tumbal Wilayuda, jika saja saat itu Pendekar Trisula Maut tidak muncul memberikan bantuan. Bukan saja Pengemis Bibir Sumbing tiada berhasil dengan niatnya untuk mencuri keris pusaka tumbal kerajaan, tapi dia juga terpaksa serahkan jiwa.
Dibanding dengan dua pucuk pimpinan lainnya, yaitu Pengemis Mata Buta dan Pengemis Kaki Pincang, maka memang kepandaian Pengemis Bibir Sumbing jauh lebih rendah, sehingga setelah bertempur beberapa gebrakan secara hebat, maka akhirnya Pengemis Bibir Sumbing menemui ajalnya di tangan Pendekar Trisula Maut. Namun bahaya yang mengancam Sultan serta keris pusaka itu tidak sampai di sana saja. Ketika Sultan bermalam di rumah Wirya Pranata, seorang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam telah berhasil melarikan keris tersebut, selagi Sultan berada di taman dengan calon istrinya Anjarsari. Dan Anjarsari sendiri kemudian juga telah diculik pula oleh salah seorang anggota lain Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Adapun markas atau sarang Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu, terletak di dalam hutan belantara Riungselaksa. Maka ke sanalah anggota-anggota perkumpulan yang telah berhasil membawa orang yang mereka culik dan keris yang berhasil dicuri.
Selama beberapa hari itu, kedua pucuk pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam menanti-nanti juga akan hasil pekerjaan anggota-anggota mereka.
"Ah, lama betul sekali ini anggota-anggota kita menjalankan tugasnya”, berkata Pengemis Mata Buta. Tubuhnya tinggi kurus macam tonggak. Pipinya cekung, rambutnya panjang tergerai macam perempuan, sedang kedua matanya hanya merupakan dua buah rongga dalam yang hitam sehingga dapat dibayangkan betapa mengerikannya wajah manusia ini.
"Ya… lama sekali”, jawab Pengemis Kaki Pincang seraya menghela nafas dalam. Di sela bibirnya terselip sebuah pipa yang bau tembakaunya busuk sekali. Manusia ini bermuka licin dan berkulit sangat pucat laksana mayat. Kaki kanannya pincang.
"Bahkan Pengemis Bibir Sumbing Pun tidak kelihatan mata hidungnya sampai saat ini". "Pengemis Bibir Sumbing macam orang yang tidak percaya saja dengan anggota-anggota kita sampai-sampai mau turun tangan sendiri"
"Ah.., dia memang dari dulu begitu sifatnya", kata Pengemis Kaki Pincang pula. "Saudara Pengemis Mata Buta, apakah menurutmu…”
__ADS_1
Belum habis bicara Pengemis Kaki Pincang maka di luar terdengar seruan. "Para Ketua, lihat apa yang aku bawa".
Dan sesaat kemudian muncullah seorang anggota Perkumpulan yang berbadan tegap kekar. Di bahunya terpanggul sesosok tubuh perempuan muda. Sosok tubuh perempuan ini bukan lain Anjarsari, dibaringkannya di atas lantai di hadapan kaki kedua pucuk pimpinan Perkumpulan. Saat itu Andjarsari tak dapat bergerak dan juga tidak sadarkan diri karena telah ditotok. Tentu saja sangat gembira hati kedua Ketua Perkumpulan itu.
"Jasamu kepada Perkumpulan cukup besar Lah Simpong", kata Pengemis Kaki Pincang seraya gosok-gosok kedua telapak tangannya.
Cuping hidung anggota Perkumpulan yang bernama Lah Simpong kelihatan membesar dan bergerak-gerak tanda suka cita hatinya.
"Percayalah para Ketua", kata Lah Simpong pula. "Dengan berhasilnya gadis ini kita tawan, Sultan pasti akan datang ke sini dan kita dengan mudah bisa meringkusnya".
"Betul sekali!", kata Pengemis Mata Buta dan Pengemis Kaki Pincang hampir berbarengan.
"Tentu…!", jawab pengemis Kaki Pincang. Dari balik pinggang dikeluarkannya sebuah kantong kulit dan dilemparkannya ke hadapan Lah Simpong. Benda itu jatuh dengan mengeluarkan suara berdering di muka kaki Lah Simpong.
Dengan. menyeringai gembira, maka Lah Simpong segera membungkuk dan mengambil kantong uang itu. Dan pada saat itu pulalah di luar terdengar seruan seseorang. "Apa artinya hasil yang dibawa Lah Simpong dibandingkan dengan apa yang kami bawa ini wahai Para Ketua Perkumpulan ?!"
Dua sosok tubuh mencelat masuk lewat jendela. Ketika mendarat di lantai, sedikitpun kaki mereka tiada mengeluarkan suara. Baik Pengemis Kaki Pincang maupun Pengemis Mata Buta yang meskipun buta tapi mempunyai perasaan dan pendengaran yang tajam luar biasa sama-sama bergembira.
__ADS_1
"Siapa yang kalian bawa itu?", tanya Pengemis Mata Buta.
"Sultan! Sultan!", kata Pengemis Kaki Pincang sambil melompat dari kursinya.
Pengemis Mata Buta tertawa girang. Dari balik sabuknya dia keluarkan dua buah kantong kulit yang besar. "Ini terima!", katanya.
Dua orang anggota Pengemis Darah Hitam tadi segera menyambutinya. Mereka menjura girang lalu mau putar diri dari situ, namun seseorang yang melompat masuk lewat pintu muka mengejutkan mereka.
"Aha... bawaanku memang bukan manusia bernyawa. Bawaanku juga tidak besar cuma kecil sekali Tapi justru apa yang kubawa ini merupakan satu tanda bahwa siapa pemiliknya adalah mempunyai hak untuk menjadi raja di Banten."
Pengemis Mata Buta dan Pengemis Kaki Pincang meloncat dari kursi masing-masing.
"Mata Picak! Apakah kau berhasil mencuri keris Tumbal Wilayuda?!", seru Pengemis Mata Buta dengan nada gembira.
Anggota Perkumpulan yang bermata buta sebelah dan bertampang angker itu tertawa mengekeh. Nama sebenarnya tak satu pun anggota atau pemimpin perkumpulan yang tahu. Karena itu dia dipanggil dengan gelaran Mata Picak. Dibandingkan dengan Pengemis Bibir Sumbing, maka kepandaian Mata Picak tiga tingkat lebih tinggi, ditambah lagi bahwa dia mempunyai keistimewaan tersendiri, yaitu mempunyai senjata rahasia paku beracun. Kepandaiannya ini juga diturunkannya kepada anggota perkumpulan termasuk para pucuk pimpinan sehingga lambat laun senjata rahasia itupun disebut "paku darah hitam”, sesuai dengan nama perkumpulan mereka. Dengan ketinggian ilmu silat ditambah dengan kelihaiannya memainkan senjata rahasia "paku darah hitam", maka sebenarnya Mata Picak adalah lebih tepat untuk menjadi pimpinan perkumpulan daripada Pengemis Bibir Sumbing. Namun Pengemis Bibir Sumbing sudah belasan tahun memasuki Perkumpulan bahkan dialah yang mula-mula mempunyai prakarsa untuk mendirikan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu.
"Kita pesta tuak malam ini", seru Pengemis Mata Buta.
__ADS_1
BERSAMBUNG...