PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
KEMATIAN DEWI KALA HIJAU


__ADS_3

Mereka yang masih hidup dengan tercekat hati serta meleleh nyalinya tiada berani melakukan serangan dalam jarak dekat. Di lain bagian, Anggini serta tokoh-tokoh silat lainnya mengamuk pula tiada terkirakan hebatnya. Setelah tiga puluh jurus berlalu, sesudah mayat bertebaran hampir di seluruh tempat sehingga kemanapun kaki dilangkahkan pastilah menginjak sosok mayat. Jumlah anggota Partai Lembah Tengkorak yang masih bertempur dibawah pimpinan Dewi Kala Hijau dan Kala Hitam serta Kala Biru setiap saat semakin berkurang. Akhirnya ketika jumlah mereka hanya bersisa tiga puluh orang saja lagi, mereka segera maklum bahwa mereka tak akan sanggup bertahan lebih lama meskipun ketua mereka dan dua orang muridnya yang berilmu tinggi saat itu masih hidup. Maka mereka pun saling memberi isyarat. Tepat pada jurus yang ketiga puluh dua, lebih dari dua puluh anggota Partai Lembah Tengkorak segera ambil langkah seribu, lari ke jurusan parit sebelah Timur di mana terletak jembatan gantung. Beramai-ramai mereka mengangkat dan memasang jembatan itu. 


Melihat ini Dewi Kala Hijau kemarahannya tiada terkirakan. "Setan-setan alas! Kembali!" teriaknya memerintah. 


Tapi mana orang-orang itu mau kembali. Malah mereka lebih mempercepat pemasangan jembatan gantung tulang belulang. 


"Anggota-anggota Partai macam kalian lebih bagus dikirim ke naraka!" ujar Dewi Kala Hijau. 


Tangan kanannya menghantam ke muka. Puluhan kalajengking maut melesat dan di muka sana, sembilan anggota partai yang tengah mengangkat jembatan gantung menjerit roboh tanpa nyawa. 


Dewi Kala Hijau angkat lagi tangannya kanannya. Namun sebelum tangan itu dipukulkan ke muka, satu angin deras dan satu sabetan sinar putih menyilaukan yang disertai suara mengaung menderu di depan hidungnya. Dewi Kala Hijau tersurut lima tombak. Ketika dia memandang ke depan, maka Pendekar Trisula Maut berdiri di hadapannya dengan melintangkan Trisula Naga Langit di muka dada. 


Perempuan itu telah menyaksikan sendiri kehebatan dan ketinggian ilmu si pemuda. Berdiri berhadap-hadapan demikian rupa tergetarlah hatinya. Apalagi ketika dia memandang berkeliling, semakin menciut nyalinya karena barulah disadarinya bahwa saat itu dipihaknya hanya tinggal dia dan kedua muridnya saja. Yang lain-lain ketika Pendekar Trisula Maut melompat menghalangi serangannya tadi telah melarikan diri pula, bergabung dengan anggota-anggota partai di sekitar jembatan gantung. 


Yang membuat Ketua Partai Lembah Tengkorak itu semakin menciut nyalinya ialah karena sekitar panggung telah dikurung oleh kira-kira tiga puluh tokoh-tokoh silat yang sebelumnya menjadi tamunya dalam peresmian berdirinya Partainya. 


"Dewi Kala Hijau! Padamu kuberikan sedikit waktu untuk bertobat sebelum nyawamu masuk ke pintu neraka!" kata Pendekar Trisula Maut. 


Meski tahu kalau dirinya sudah kepepet namun Dewi Kala Hijau tetap menunjukkan kegarangan dan keberingasannya. "Pemuda sinting! Sekalipun kau punya sepuluh kepala, duapuluh tangan, jangan kira kau bakal bisa mengalahkanku! Aku juga memberikan kesempatan padamu untuk berlutut minta ampun!" 


Pendekar Trisula Maut tertawa bergelak. Tiba-tiba Ketua Partai Lembah Tengkorak membentak memerintah pada kedua muridnya. "Hitam, Biru! Ambil nyawa anjing keparat ini!" 


Dua suitan nyaring merobek langit. Kala Biru dan Kala Hitam melompat. Namun di tengah jalan, serangan keduanya dipapasi oleh satu gelombang angin biru yang dahsyat. 


"Akulah lawan kalian!" seru si penimbul angin yang bukan lain adalah Dewi Kerudung Biru. 


Kedua murid Ketua Partai Lembah Tengkorak memutar tubuh dan mengirimkan serangan kalajengking hijau dengan serentak. Dewi Kerudung Biru melompat empat tombak ke udara kemudian lancarkan serangan balasan. Kala Hitam dan Kala Biru cepat berpencar ke samping lalu menyerang lagi lebih ganas dari tadi. Sekejap saja ketiganya kemudian terlibat dalam jurus demi jurus yang berlalu sangat cepat. 

__ADS_1


Sementara itu dibawah penyaksian puluhan pasang mata Dewi Kala Hijau telah pula mendahului menyerang Pendekar Trisula Maut. Pertempuran hebat berkecamuk. Mula-mula di atas panggung kemudian diteruskan ke bawah panggung. Meski memiliki tenaga dalam yang tinggi, ilmu mengentengi tubuh yang lihai serta ilmu kala hijau dahsyat, namun berhadapan dengan Pendekar Trisula Maut yang memegang Trisula Maut Naga Langit, Ketua Partai Lembah Tengkorak tiada sanggup bertahan lama. Berkali-kali hampir tiada putus-putusnya perempuan itu melancarkan serangan kala hijau serta hembusan empat jalur asap kematian kepada lawannya. Tapi jangankan berhasil, bahkan serangan-serangan itu semuanya buyar musnah dilanda angin Trisula Naga Langit. Nyali Dewi Kala Hijau benar-benar lumer ketika telinganya mendengar suara jerit kematian muridnya si Kala Hitam di tangan Dewi Kerudung Biru. 


"Kala Biru," kata Ketua Partai Lembah Tengkorak itu dengan ilmu menyusupkan suara. “Agaknya kali ini kita terpaksa mengaku kalah dan melarikan diri! Cepat tarik jembatan gantung, lemparkan ke tengah parit" 


Kala Biru, satu-satunya murid Dewi Kala Hijau yang masih hidup yang mengerti maksud gurunya itu segera berkelebat dan kirimkan serangan dahsyat kepada Dewi Kerudung Biru. Begitu lawannya mengelak maka Kala Biru melompat ke arah jembatan gantung. Di sekitar jembatan gantung ini dia merobohkan beberapa tokoh silat yang memburunya dan berhasil melemparkan jembatan gantung ke tengah parit. Namun sebelum dia sempat melompat ke atas jembatan gantung yang mengapung di tengah parit berair racun itu, Dewi Kerudung Biru sudah berkelebat dari samping. Karena dia hanya memusatkan diri untuk melarikan diri, Kala Biru tidak sempat lagi melihat datangnya satu rangkum asap biru dari samping. Dia memalingkan kepala sedikit sewaktu merasakan tubuhnya sebelah samping kiri mendadak panas. 


Kemudian "Wusss!" 


Kala Biru terpekik. Tubuhnya tersapu pukulan asap kencana biru yang dilancarkan Dewi Kerudung Biru. Tak ampun lagi tubuhnya mencelat dan masuk ke dalam parit yang airnya mengandung racun yang sangat jahat. Kala Biru megap-megap sebentar kemudian bila nyawa nya putus maka tubuhnya perlahan-lahan tenggelam ke dasar parit. 


Sementara itu meski sudah terdesak hebat namun Dewi Kala Hijau coba bertahan mati-matian, terutama pada detik-detik dimana dia mencari kesempatan untuk melarikan diri itu. Tiba-tiba perempuan ini melompat sampai setinggi tujuh tombak. Sambil hantamkan kedua telapak tangannya ke muka, dia berjungkir balik dengan cepat. Tepat di atas kepala Pendekar Trisula Maut dia menghembus dan empat jalur asap kematian menderu ke arah si pemuda. Sekali lagi Dewi Kala Hijau berjungkir balik di udara kemudian tubuhnya laksana terbang melayang ke atas jembatan gantung. 


Tapi perempuan iblis ini berteriak kaget karena sedetik lagi kakinya akan menjejak jembatan dari tulang belulang manusia itu, tiba-tiba satu larik sinar putih yang menyilaukan menderu di bawah kakinya. Dan hancur leburlah jembatan gantung itu. Air parit yang beracun muncrat menyirami kedua kakinya. Racun yang jahat dalam air itu segera merambas kaki celana panjangnya, terus menembus kulit kedua kaki, dan masuk ke dalam daging, kemudian menyusup dalam aliran darah. 


Perempuan ini coba mencapai salah satu pecahan jembatan. Tapi kedua kakinya saat itu sudah lumpuh karena racun air parit telah menghancurkan urat-urat darah di kedua kaki itu. Dewi Kala Hijau menjerit ngeri. Tubuhnya amblas sebatas pinggang. Kedua tangannya menggelepar gelepar. Tapi gerakannya ini hanya menambah cepat tenggelam badannya saja. 


Pendekar Trisula Maut yang tangan kanannya masih memutih dan kuku-kuku jarinya masih berkilau oleh ajian ilmu pukulan "Bintang Perak" yang tadi dilepaskannya menyerang dan menghancurkan jembatan gantung, melangkah ke tepi parit. Dia tertawa gelak-gelak. 


"Perempuan iblis ! coba perlihatkan kehebatanmu saat ini ... " ejeknya. 


"Jahanam!" maki Dewi Kala Hijau. Masih juga dia bisa memaki. "Kalau aku mati biarlah aku menjadi hantu dan mencekik batang lehermu!" 


"Ha ... ha ...." Rangga tertawa membahak. "Kau memang sudah punya tampang untuk jadi hantu! Biarlah kupercepat kematianmu agar bisa lekas-lekas terlaksana harapanmu itu!" 


Habis berkata demikian Rangga Geblek sapukan Trisula Naga Langit nya 


"Wut!" 

__ADS_1


Air parit muncrat sampai lima tombak, sebaliknya keseluruhan tubuh Dewi Kala Hijau laksana ditindih batu besar tenggelam ke dasar parit menyusul muridnya si Kala Biru. Tamatlah riwayat Dewi Kala Hijau atau Ketua Partai Lembah Tengkorak yang ganas itu. Partai Lembah Tengkorak sendiri turut terkubur bersama kematian Dewi Kala Hijau. 


Tokoh-tokoh silat segera berkumpul dan menjura hormat kepada Pendekar Trisula Maut dan Dewi Kerudung Biru, sedang bekas anggota-anggota Partai Lembah Tengkorak yang masih hidup, yang hanya beberapa orang saja lagi membuang senjata mereka dan berlutut minta ampun. 


"Kami akan ampunkan jiwa kalian." kata Rangga Geblek sambil garuk-garuk kepala. "Tapi dengan syarat agar kalian kembali ke jalan yang benar. Jika kelak kami menemui kalian berbuat kejahatan lagi, jangan harap dapat pengampunan!" 


Bekas anggota-anggota partai itu menjura dan mengucapkan terima kasih. Salah seorang dari tokoh silat maju ke hadapan Dewi Kerudung Biru dan Pendekar Trisula Maut lalu berkata: "Nama besar Pendekar Trisula Maut dan Dewi Kerudung Biru ternyata benar-benar membuat kami kagum dan terbuka mata! Kalau tidak ada kalian pastilah dunia persilatan akan mengalami bencana dan.." 


"Ah ... kau terlalu memuji. Jika tidak kalian yang membantu beramai-ramai mana kami berdua sanggup menghancurkan manusia iblis itu ..." kata Rangga Geblek memotong dan merendah. 


"Untuk selanjutnya kami mohon petunjuk kalian berdua." berkata lagi si tokoh silat itu. 


Rangga Geblek mengangkat bahu, lalu berpaling pada Anggini atau Dewi Kerudung Biru. Maka berkatalah perempuan ini. "Tak ada petunjuk yang lebih bagus daripada kenyataan yang sama kita saksikan saat ini. Yaitu bahwa betapapun hebat serta tingginya ilmu kejahatan itu namun pada waktu yang sudah ditentukan Tuhan, kelak akan dihancurkan oleh kebenaran! Kemudian peristiwa ini juga memberi petunjuk pada kita bahwa jika kita yang satu aliran ini bersatu dan saling bantu maka bagaimanapun kuatnya kejahatan dan kedurjanaan itu, pasti akan sanggup kita hancurkan!" 


Si tokoh silat mengangguk-anggukkan kepalanya. 


"Sekarang ..." ujar Rangga Geblek pula, "Mari kita tinggalkan tempat terkutuk ini ...." 


Semua orang menyetujui. 


"Tapi bagaimana kita bisa menyeberangi parit yang dalam dan sangat lebar itu?!" menyeletuk seseorang. 


"Kenapa jadi orang tolol?!" tukas Pendekar Trisula Maut. "Kalian lihat panggung besar itu?! Ayo kita gotong ramai-ramai, kita jadikan rakit penyeberang!" 


Maka beramai-ramai orang-orang itu pun menggotong panggung besar yang terbuat dari tulang-tulang manusia dan membawanya ke tepi parit. Mayat-mayat di atasnya dibersihkan lebih dahulu. Kemudian dengan mempergunakan panggung itu sebagai rakit, mereka segera meninggalkan tempat terkutuk Neraka Lembah Tengkorak.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2