PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
KALASRENGGI DI GANTUNG TERBALIK


__ADS_3

Bila Rara Murni memandang ke muka, maka di balik kerudung yang telah dibuka itu, ternyata laki-laki yang berdiri di pintu adalah seorang pemuda gagah berambut gondrong.


Meski tertawanya tadi mengekeh dan bergelak namun parasnya yang gagah itu condong kepada paras anak-anak.


Sebaliknya begitu menyaksikan tampang manusia di depannya, kedua mata Kalasrenggi menyipit, kulit mukanya mengerenyit. Otaknya berputar dengan cepat, mengingat-ingat di mana


dia pernah melihat pemuda ini sebelumnya. Dan secepat dia ingat maka menggeramlah Kalasrenggi. Pemuda yang ada di hadapannya saat itu tak lain daripada pemuda yang


malam tadi telah berteduh di teratak di luar Kotaraja sewaktu hari hujan lebat dan sewaktu dia tengah bicara dengan Werku Alit. Juga pemuda inilah yang kemudian ditotok Werku Alit. Dan dia sendiri menghadiahkan satu tendangan.


“Ingat siapa aku...?”


“Saudara, apa urusanmu dalam hal ini?!” bentak Kalasrenggi garang. Tangan kirinya menyelinap ke balik pinggang di mana tersisip sebilah keris.


“Ah... tentu saja ada Saudara. Pertama, kau telah menghadiahkan tendangan padaku malam tadi. Enak juga tendangan itu. He,.. he... he.... Lalu aku tidak begitu suka pada manusia-manusia yang bersifat ular kepala dua, pengkhianat besar serta tukang rusak kehormatan perempuan. Apa itu kurang cukup untuk bikin urusan denganmu?”


“Hem....” Kalasrenggi menggumam. “Jadi hari ini aku berhadapan dengan seorang pendekar budiman huh?! Satu hal yang menyenangkan sekali ”. Habis berkata begini Kalasrenggi


keluarkan suara berdengus dari hidungnya. “Terangkan dulu siapa kau punya nama”. katanya kemudian.


“Ah, kau keliwat ramah tanya-tanya segala nama. Namaku sudah kutuliskan pada kening ketiga anak buahmu”, jawab si pemuda pula.


Kalasrenggi tertawa mengejek. “Baru kali ini aku bertemu manusia yang namanya adalah gambar trisula. gambar gila”


Si pemuda tertawa. “gambar itu mungkin gila. Tapi tidak segila pengkhianat macam kau Kalasrenggi”.


“Kau sudah tahu namaku. Kenapa tidak lekas kabur tinggalkan tempat ini?”


“Apa kabur dari sini? Lalu kau teruskan maksud busukmu terhadap Tuan Puteri Rara Murni? Aku tidak sebodoh dan sepengecut yang kau sangka, Kalasrenggi”


“Kalau betul kau punya nyali, tahan ini”, bentak Kalasrenggi garang.


Dengan satu lompatan cepat Kalasrenggi lancarkan serangan tangan kosong. Tapi serangan yang hebat ini dapat dielakkan lawan dengan mudah bahkan sambil bersiul dan tertawa-tawa.


“Kalasrenggi, kalau mau baku jotos jangan di dalam sini, mari keluar”, kata si pemuda rambut gondrong atau pendekar Trisula Maut Rangga Geblek. Sengaja dia berkata begitu karena khawatir


dalam pertempuran nanti Rara Murni yang juga berada di ruangan itu akan mendapat celaka.


“Tak usah banyak mulut. Kau harus mampus disaksikan ketiga mayat anak buahku”. bentak Kalasrenggi pula.


Untuk kedua kalinya kepala pasukan Pajajaran yang berkhianat


ini menyerang, lebih hebat dari tadi. Tiba-tiba orang yang diserangnya lenyap dari hadapannya.


Kemudian di belakangnya terdengar suara siulan. “Aku di sini Kalasrenggi, mengapa menyerang tempat kosong?”.


Kalasrenggi kertakkan rahang. Dia berbalik dengan cepat dan menyerang lebih ganas. Tangannya bergerak cepat, tendangan kaki bertubi-tubi. Keseluruhannya mengeluarkan angin yang keras dan bersiuran. Agaknya permainan silat tangan kosong Kalasrenggi tidak dari tingkat rendahan. Dari angin pukulan dan tendangannya Rangga sudah dapat menjajaki kehebatan lawan. Karena tak mau ambil resiko pemuda ini segera bergerak cepat.


Dalam waktu yang singkat tiga jurus berlalu sebat. Pada saat memasuki jurus keempat Rangga Geblek melihat Rara Murni melarikan diri keluar kuil.


Sambil rundukkan kepala mengelakkan hantaman tinju Kalasrenggi, Rangga Geblek berseru: “Rara, tunggu. Jangan pergi dulu!”

__ADS_1


Tapi mana si gadis mau dengar. Sambil menyingsingkan kainnya ke atas Rara Murni mempercepat larinya. Terpaksa pendekar Trisula Maut lepaskan pukulan tangan kanan ke arah kedua kaki


gadis itu. Serangkum angin melesat deras dan dingin. Rara Murni merasa kedua kakinya seperti disiram air es, kemudian kedua kakinya itu kaku tak bisa lagi digerakkan. Larinya dengan serta


merta terhenti.


Melihat lawan melakukan dua gerakan sekaligus maka kesempatan ini dipergunakan oleh Kalasrenggi untuk membobolkan pertahanan lawan. Tendangan kaki kanan dan tinju kiri kanan menyerang susul menyusul ke tempat-tempat terlemah dari Rangga Geblek.


Namun dengan membentak keras dan berkelebat cepat, ketiga serangan lawan dapat dikelit oleh pendekar Trisula Maut. Penasaran sekali Kalasrenggi memburu lagi dengan satu


serangan berantai. Kali ini, pada saat tangan kanan Kalasrenggi memukul ke muka, pendekar Trisula Maut sengaja menyongsong datangnya lengan lawan. Maka beradulah lengan dengan lengan.


Kalasrenggi terpekik. Tubuhnya terpelanting ke belakang sampai punggungnya menghantam dinding kuil. Lengan kanannya yang beradu dengan lengan lawan kelihatan biru dan bengkak besar. Sakitnya bukan alang kepalang. Karena tadi Rangga Geblek


melayaninya seperti acuh tak acuh, Kalasrenggi tidak menduga kalau kehebatan lawan demikian lihainya.


Sesudah mengurut lengannya yang bengkak biru serta mengalirkan tenaga dalam ke bagian yang terpukul itu maka kemudian Kalasrenggi dengan tangan kirinya mencabut sebilah keris dari balik pinggang. Senjata ini sebuah senjata pusaka juga rupanya, karena memancarkan sinar membiru.


Tanpa banyak bicara kepala pasukan Pajajaran itu segera lancarkan serangan dahsyat. Kalasrenggi memang seorang kidal dan permainan kerisnya juga sudah mencapai tingkat yang


matang. Apalagi dengan mempergunakan tangan kiri itu maka serangan-serangannya sukar diduga.


Namun demikian pendekar Trisula Maut sudah punya rencana sendiri terhadap manusia kepala dua ini. Dibiarkan dan dielakkannya saja untuk beberapa lamanya serangan-serangan keris Kalasrenggi. Kepala pasukan pengkhianat ini semakin gemas dan geram. Dipercepatnya gerakannya namun tetap saja tiada mencapai hasil yang dikehendakinya.


“Pegang senjatamu erat-erat, Kalasrenggi.” kata pendekar Trisula Maut memberi ingat.


Kalasrenggi masih belum mengerti apa maksud ucapan lawannya itu. Bahkan dia sama sekali tidak dapat melihat dengan jelas gerakan kedua tangan Rangga. Tahu-tahu saja dirasakannya keris pusakanya terlepas dari tangan. Laki-laki ini mengeluarkan seruan tertahan. Memandang dengan tak percaya pada tangan kirinya yang kosong.


menyodokkan lipatan sikunya ke perut lawan. Tapi kali ini Kalasrenggi tertipu. Tangan yang menyerang dan hendak mencengkeram itu hanya gerakan palsu belaka. Tanpa dapat


dikelit lagi oleh Kalasrenggi maka dua ujung jari tangan kanan Rangga Geblek meluncur ke rusuk kirinya.


Mendadak sontak detik itu juga tubuh Kalasrenggi menjadi kaku tegang. Tangan dan kakinya tak bisa digerakkan lagi, tapi mulutnya masih sanggup bicara, telinganya masih bisa


mendengar, demikian juga indera-inderanya yang lain masih tetap seperti biasa. Pendekar Trisula Maut sengaja menotok laki-laki itu demikian rupa, sesuai dengan rencananya.


Sambil tertawa-tawa dan garuk-garuk kepalanya yang berambut gondrong Rangga Geblek memandangi Kalasrenggi beberapa lamanya. Kemudian pendekar muda ini melangkah mendapatkan Rara Murni. Dilepaskannya totokan yang telah memakukan kedua kaki gadis itu.


Rara Murni begitu merasa kakinya bebas segera hendak lari namun tangannya cepat dipegang oleh Rangga Geblek.


“Lepaskan tanganku!” teriak Rara Murni.


“Terhadapku tak usah takut, Rara Murni.” kata pendekar Trisula Maut pula.


“Kau siapa?” tanya Rara Murni dan berusaha melepaskan tangannya yang dipegang.


“Siapa aku itu soal nanti. Tapi apakah kau akan tinggalkan begitu saja Kalasrenggi tanpa memberikan satu hukuman yang setimpal terhadapnya”


“Aku akan laporkan kejahatannya terhadap Sang Prabu. Pasukan Kerajaan akan menyeretnya ke Pakuan. Dia pasti akan dibuang ke pulau Neraka.“


Pendekar Trisula Maut tersenyum. “Kuil ini juga bisa menjadi tempat neraka baginya, Rara Murni. Mari, aku akan tunjukkan cara yang bagus untuk menghukum pengkhianat dan manusia

__ADS_1


bejat macam dia.”


Dengan seutas tali pendekar 212 mengikat kedua pergelangan kaki Kalasrenggi. Kalasrenggi yang saat itu meski tubuhnya kaku tapi masih bisa merasa, melihat dan bicara:


“Keparat.Kau mau buat apa terhadapku?!”


“Ah, kau masih bilang keparat, Saudara...” jawab pendekar Trisula Maut dengan tertawa.


“Pernahkah kau melihat dunia terbalik? Melihat dengan kaki ke atas kepala ke bawah?”


“Apa maksudmu?!” bentak Kalasrenggi. Tapi dalam hatinya dia sudah dapat menduga apa yang bakal dilakukan oleh Rangga dan tubuhnya mengucurkan keringat dingin.


“Apa maksudku kita akan saksikan sama-sama, Kalasrenggi,” kata Rangga Geblek pula.


Sekali saja tali yang mengikat kedua pergelangan kaki Kalasrenggi ditariknya maka terbantinglah laki-laki itu ke lantai kuil. Kutuk serapah dan keluh kesakitan bersemburan dari mulut Kalasrenggi.


“Sudahlah, jangan memaki-maki juga, tak ada gunanya,” kata pendekar Trisula Maut. Dia memandang ke atas atap kuil dan dilihatnya sebuah tiang yang membentang memalang di bawah


atap. Ujung tali yang dipegangnya dilemparkannya ke atas. Bila ujung tali itu menjuntai ke bawah kembali setelah terlebih dahulu menyangkut di tiang palang maka pendekar Trisula Maut mulai


mengerek badan Kalasrenggi.


Gelap dunia ini bagi Kalasrenggi. Dalam tempo yang singkat mukanya menjadi sangat merah karena darah yang mengalir turun memberati mukanya. Laki-laki ini coba meronta, tapi


tubuhnya kaku tak bergerak, hanya terbuai-buai saja macam karung diisi pasir dan digantung. Yang bisa dilakukan Kalasrenggi hanya memaki dan memaki tiada habisnya. dia menjadi letih sendiri.


Pendekar Trisula Maut tertawa mengekeh macam kakek-kakek. Dia berpaling pada Rara Murni sebentar lalu bertanya pada Kalasrenggi: “Bagaimana, indahkah dunia ini bila dilihat terbalik ?”


“Demi setan bila bebas aku bersumpah untuk mencincang tubuhmu keparat!” hardik Kalasrenggi.


“Sumpahmu terlalu hebat Kalasrenggi. Tapi bisakah kau membebaskan dirimu dari jari-jari tanganku ini...?”


Dengan senyum-senyum Rangga Geblek melangkah mendekati


Kalasrenggi. Kemudian sepuluh jari-jari tangannya menggerayang menggelitiki tulang rusuk Kalasrenggi.


Laki-laki ini menjerit, melolong setinggi langit sampai suaranya menjadi serak. Rangga Geblek tertawa senang. Rara Murni sendiri hampir-hampir tak dapat menahan gelinya. Dan Kalasrenggi terus juga berteriak, menjerit, melolong dan memekik dengan suaranya yang serak parau itu.


“Rara Murni, ayo mengapa diam saja? Kalau kau ingin membalaskan sakit hatimu terhadapnya, inilah saatnya,” kata Rangga Geblek pula.


Meski amarahnya memang masih meluap terhadap Kalasrenggi namun berada lebih lama di situ menimbulkan kekhawatiran bagi Rara Murni. Gadis ini walau bagaimanapun tak dapat


memastikan manusia yang bagaimana adanya pemuda rambut gondrong itu, meskipun dianya telah menolong dan menyelamatkan diri serta kehormatannya. Karenanya tanpa banyak bicara menyahuti ucapan Rangga Geblek tadi, juga tanpa membuang waktu, Rara Murni segera lari meninggalkan kuil itu.


Kali ini Rangga Geblek tidak berbuat apa-apa lagi untuk menahan


Rara Murni, diikutinya saja gadis itu dengan pandangan mata.


“Gadis tolol,” gerendeng pendekar Trisula Maut dalam hati. “Dikiranya Kotaraja dekat dari sini”.


Kemudian ketika Rara Murni lenyap di balik kelebatan pohon-pohon di lembah Limanaluk itu maka pendekar Trisula Maut segera angkat kaki pula, menyusul dengan diam-diam dari

__ADS_1


belakang.


__ADS_2