
Si orang tua menggeru. Dia maju dua langkah. Sabuk itu dipegangnya di tangan kiri. Nyatalah dia seorang kidal. Dia menggeru lagi untuk kedua kalinya. Dan pada kali yang ketiga sambil melompat ke muka si orang tua sapukan sabuk mutiaranya. Kedahsyatan sabuk mutiara itu sangat mengejutkan Pendekar Kumbang Malam. Tubuhnya laksana dilanda bertubi-tubi oleh ombak sebesar gunung. Dengan kerahkan tenaga dalam dan andalkan ilmu mengentengi tubuhnya yang tinggi dia berhasil mengelak sebat. Namun tak urung akhirnya dia kena di desak.
“Setan alas!” maki pemuda itu.
Untung saja lawannya sudah terluka di dalam yang teramat parah sehingga gerakan-gerakannya agak lamban. Melihat bahwa lawannya agak jerih dan terdesak, si orang tua mempercepat gerakannya. Tiba-tiba Pendekar Kumbang Malam membungkuk dan kemudian berdiri lagi dengan memegang tepi jubah hitamnya. Sekali dia mengebutkan tepi jubah hitam itu, hawa yang sangat pengap menyambar dahsyat memapaki angin pukulan yang keluar dari sabuk mutiara si orang tua. Si orang tua merasa kepengapan menyambar hidungnya. Nafasnya yang memang sudah tidak normal kini menjadi tambah tak teratur. Ternyata sabuk mutiara yang sangat diandalkannya tiada sanggup menghadapi kehebatan jubah hitam lawan. Semakin lama tubuhnya semakin lemah, dadanya sesak dan pemandangannya mengabur.
“Pemuda keparat, lihat ini!” seru si orang tua.
Tangan kanan nya lenyap ke dalam saku baju dan ketika ke luar lagi maka selusin senjata rahasia yang menyilaukan menyambar ke arah si pemuda. Pendekar Kumbang Malam tarik jubahnya ke atas tinggi-tinggi lalu mengebutkannya ke bawah dengan cepat. Angin pengap yang dahsyat menyambar. Lima senjata rahasia lawan berpelantingan. Tujuh lainnya di sapu dan membalik menyerang pemiliknya sendiri. Malangnya si orang tua tak menyangka dan tak sempat mengelak, Tubuhnya tak ampun lagi di tembus ke tujuh senjata rahasia miliknya sendiri.
Orang tua itu mengeluarkan pekikan yang menyayat hati. Tubuhnya tergelimpang di tanah. Dia mati dengan mata membeliak. Mati dengan sabuk mutiara masih di tangannya. Pendekar Kumbang Malam tertawa mengekeh. Betapa menjijikkan dan mengerikan. Dia melangkah ke hadapan mayat si orang tua dan membungkuk, Sabuk mutiara direnggut nya dari tangan kiri mayat lalu dipakainya di pinggang. Dibalikkannya badannya. Matanya memandang sekilas pada Ning Leswani yang berdiri dengan tubuh gemeter dan muka pucat pasi.
Kemudian dia memandang berkeliling. Dan serunya, “Siapa lagi yang inginkan mampus silahkan maju dengan cepat.”
Tak satu orangpun yang bergerak dari tempatnya. Sambil tertawa panjang Pendekar Kumbang Malam melangkah mendekat Ning Leswani. Si gadis cepat menyurut mundur.
“Gadis manis, kau tak perlu takut padaku. Kau harus tahu, kunyuk yang bernama Rana Wulung itu tidak pantas jadi suamimu. Lebih pantas jika kau ikut aku...”
“Manusia biadab! Pergi...!” teriak Ning Leswani.
Pendekar Kumbang Malam menyeringai. Dia maju melangkah. Ibu Ning Leswani yang coba menghalanginya sambil berteriak-teriak dengan sekali tepis saja tersungkur ke tanah.
“Pergi!” teriak Ning Leswani lagi.
“Ya, kita pergi sama-sama manisku!” sahut Pendekar Kumbang Malam dengan mata yang memancarkan nafsu menggelora.
__ADS_1
Diulurkannya tangannya untuk meraih pinggang gadis itu. Justru pada saat itulah terdengar bentakan yang sangat nyaring. “Pendekar terkutuk! Tarik tanganmu...!”
Pendekar Terkutuk Kumbang Malam hentikan gerakan tangannya yang hendak menjamah tubuh Ning Leswani. Kepalanya di putar. Sepasang matanya membentur sosok tubuh seorang laki-laki tua berbadan bungkuk, berambut dan berjanggut putih. Orang tua yang berselempang kain putih ini berdiri dengan sebatang tongkat bambu kuning di tangan kanan.
“Siapa kau?” bentak Pendekar Kumbang Malam.
Yang ditanya menyeringai dan ketuk-ketukkan tongkat bambu kuningnya ke tanah. Ketukan ini membuat semua orang merasa bagaimana tanah yang mereka pijak menjadi bergetar. Bambu kuning di tangan si orang tua pastilah satu senjata yang sangat hebat. Dan orang-orang yang masih ada di situ, yang membenci terhadap Pendekar Kumbang Malam merasa punya harapan kembali atas kemunculan si orang tua berselempangan kain putih ini.
“Lekas jawab!” bentak Pendekar Kumbang Malam. “Kalau tidak kau akan mati percuma!”
Si janggut putih ketuk-ketukkan lagi tongkat bambu kuningnya ke arah tanah. Matanya yang kecil memandang tajam pada si pemuda jubah hitam.
“Ratusan hari turun gunung, puluhan minggu mengarungi lembah dan bukit, berbulan-bulan menyeberangi sungai memasuki hutan belantara akhirnya kau kutemui juga. Heh... he... he... he... he ...!”
“Kau masih belum mau beri tahu siapa namamu, orang tua? Jangan menyesal!”
Pendekar Terkutuk Kumbang Malam kerutkan kening. Sepasang alis matanya menaik.
“Sembilan laki-laki tak berdosa kau bunuh. Dua diantaranya adalah muridku. Empat orang perempuan di desa itu kau bawa kabur, kau perkosa lalu kau bunuh! Kau lupa itu semua...?!”
“Hem....” Pendekar Kumbang Malam manggut-manggut beberapa kali. “Tidak, aku tidak lupa,” katanya dengan terus terang.
“Bagus sekali kalau kau tidak lupa!” ujar si orang tua. Dan bambu di tangan kanannya di ketuk-ketukkannya lagi. Tanah kembali bergetar. “Orang-orang desa telah datang kepadaku mengadukan kebiadabanmu itu....”
“Berapa uang suap yang diberikan orang-orang desa padamu untuk mencariku orang tua?!” ejek Pendekar Kumbang Malam.
__ADS_1
Wajah si orang tua kelihatan menjadi merah. Dia tertawa dingin. “Sekalipun mereka tidak datang ke puncak gunung Bromo, memang sudah sejak lama aku berniat turun tangan membekuk batang lehermu…!”
Pendekar Kumbang Malam tertawa gelak-gelak, “Oh jadi kau adalah Datuk Bambu Kuning dari gunung Bromo?!”
Si orang tua kini balas tertawa panjang-panjang sambil tangan kirinya mengusap-usap janggut putihnya yang panjang menjela sampai ke dada. “Kalau sudah tahu siapa aku, mengapa tidak lekas-lekas bertobat dan bunuh diri? Atau masih perlu aku memecahkan kepalamu dengan bambu kuning ini?!”
“Kentut!” maki Pendekar Kumbang Malam dengan muka membesi penuh marah.
“Kalau aku kentut, kau tahinya!” kata Datuk Bambu Kuning pula dan tertawa lagi panjang-panjang seperti tadi.
Naiklah darah Pendekar Kumbang Malam. “Manusia tolol yang tidak tahu gunung Semeru berdiri di muka hidung, terima kematianmu dalam tiga jurus!” teriak Pendekar Kumbang Malam sambil menyerbu dengan sabuk mutiara milik korbannya tadi.
Datuk Bambu Kuning terkejut melihat sabuk itu. “Eh, itu adalah senjata Kidal Boga, murid Rah Kuntarbelong. Dari mana kau dapat, manusia bejat?!”
“Tanya pada setan di neraka nanti!” sahut Pendekar Kumbang Malam seraya sabetkan sabuk mutiara ke arah lawan.
Angin laksana gunung gelombang menerpa Datuk Bambu Kuning. Datuk Bambu Kuning cepat menghindar.
“Rupanya kau bukan saja manusia bejat tukang bunuh dan tukang perkosa tapi juga pencuri kesiangan huh!”
Datuk Bambu Kuning kiblatkan tongkat bambu kuningnya. Serangkum angin yang bukan main dahsyatnya menyambar dan menahan serangan angin sabuk. Debu dan pasir beterbangan akibat angin kedua senjata sakti itu. Pendekar Terkutuk Kumbang Malam tak kurang kejutnya ketika merasakan serangan sabuknya menjadi tak berarti sewaktu tongkat bambu kuning di tangan lawan menyambuti gempurannya itu. Dengan serta merta pemuda ini percepat gerakannya. Dalam sekejap Datuk Bambu Kuning terbungkus oleh serangan sabuk mutiara. Namun sekali si orang tua memekik keras dan sekali dia putar tongkat bambunya dalam jurus yang aneh, maka keluarlah dia dari kurungan serangan senjata lawan. Kini gempuran tongkat bambu itulah yang membungkus tubuh Pendekar Kumbang Malam.
Si pemuda tiada habisnya menggerutu dan memaki dalam hati sewaktu mendapatkan dirinya terdesak hebat oleh gempuran lawan. Apalagi sewaktu jurus kedua berakhir dan sewaktu Datuk Bambu Kuning tertawa mengejek dan berkata. “Jurus ketiga ini adalah jurus kematianmu, manusia bejat! Bukan jurus kematianku!”
Dan permainan tongkat bambu kuningnya semakin dipercepat dan semakin dahsyat. Sinar kuning bergulung-gulung menyelimuti tubuh si pemuda.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
( saya mungkin akan menulis beberapa episode lagi, habis itu pindah buku atau pindah penerbit. soalnya udah 100 episode lebih, belum ada pendapatan. saya juga butuh uang 😔 )