PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
PETUAH SANG GURU


__ADS_3

Tetapi Eyang Ratih bukan menyerangnya. Nenek-nenek sakti ini ternyata hanya melompat ke atas pohon jambu klutuk dan duduk di cabang tempat dia duduk sebelumnya.


”Bagus Rangga.... bagus sekali,” katanya. Mukanya dihadapkan lurus-lurus ke arah timur.


”Sekian lama kau kudidik di puncak Gunung Ciremai ini, ternyata tidakmengecewakan....!” Ratih Parwati tertawa melengking-lengking.


Dan sehabis tertawa tadi maka diulanginya nyanyian tadi. Nyanyian yang membuat hati Rangga Saksana menjadi tergetar.


Pitulas taun wus katilar,


Pucuking Gunung Cereme isih panggah kaya biyen mulo,


Langit isih tetep biru,


Wulan lan suryo isih tetep mandeng lan kangen,


Pitulas taun agawe kang tua tambah tua.


Pitulas taun ndadekake bayi abang dadi pemuda kang gagah,


Pitulas taun wektu perjanjian,


Pitulas taun wiwitane perpisahan,


Pitulas taun wekdaling pamales.


Rangga duduk menghamparkan diri di bawah sebatang pohon di seberang pohon jambu klutuk. Dilihatnya gurunya menghela nafas dalam beberapa kali.


”Dadamu sesak Eyang? Aku bisa tolong urut....”


”Diam!” bentak Ratih Parwati.


Rangga menggaruk kepalanya dan diam.


”Aku mau bicara sama kau!” kata Ratih Parwati pula.


”Bicara apa Eyang....?” Pemuda ini mulai bicara sungguh-sungguh karena dilihatnya gurunya juga bicara sungguh-sungguh.


”Berapa lama kau tinggal di sini bersamaku, Rangga?!”


”Murid tidak ingat....”


”Gelo betul! Buat apa aku ajar tulis baca dan berhitung sama kau?!”


”Mungkin sepuluh tahun, Eyang....”


”Goblok! Tujuh belas tahun, tahu?!”


Rangga tertawa, ”Iyyaa.... tujuh belas tahun Eyang,” katanya pula.

__ADS_1


”Kuharap hari ini kau jangan bicara sinting sama aku, Rangga!” bentak Ratih Parwati dan matanya masih terus menatap ke timur.


”Kau lihat matahari itu?”


”Lihat Eyang....” jawab Rangga seraya memandang ke timur.


”Matahari itu masih tetap matahari yang dulu juga, masih sama dengan matahari tujuh belas tahun yang silam. Puncak Gunung Ciremai ini juga masih seperti dulu juga. Cuma yang tua tambah tua, yang orok jadi pemuda! Cuma dunia luar yang banyak berobahnya!”


Rangga Saksana mendengarkan dengan sungguh-sungguh karena tak pernah dilihatnya gurunya bicara seperti itu sebelumnya. Kemudian terdengar kembali suara sang nenek.


”Tujuhbelas tahun. Sekian lama kau tinggal bersamaku. Belajar tulis baca, belajar ilmu silat, belajar segala kesaktian. Tapi kau


jangan lupa! Kudu inget! Ilmu dan segala kesaktian apa yang telah aku berikan sama kau semuanya adalah masih sangat terlalu kecil, terlalu sedikit, sama sekali tidak ada artinya


jika dibandingkan dengan ilmu kekuasaan Gusti Allah. Kau mengerti, Rangga?”


”Ya, Eyang....”


”Karena itu kau musti sadar, kudu ingat. Kalau ini hari kau sudah menjadi sakti mandraguna yang tak sembarang orang bisa menandingi kau, tapi hal utama yang musti kau lakukan ialah menjauhkan diri dari segala sifat yang tidak baik! Kau jangan sekali-kali bersifat sombong, congkak dan tekebur! Pakai semua ilmu yang kuberikan untuk menolong sesama manusia, untuk kebaikan. Kalau kau nyeleweng, kau akan dapat balasan sendiri di kemudian hari! Kau musti ingat bahwa bukan kau saja yang sakti di dunia ini. Kau musti sadar bahwa diluar langit ada langit lagi. Kau sadar, Rangga?”


”Sadar, Eyang....”


”Ingat?”


”Ingat,Eyang....”


ke dalam sanubarimu, ke dalam aliran kau punya darah, ke dalam detakan jantung, ke dalam hembusan nafas! Sesuatu itu, jika ditanamkan dalam-dalam laksana sebatang pohon jadinya,


tak satu tanganpun yang sanggup mencabutnya dari bumi karena dari hari ke hari akar yang membuat pohon itu tegak semakin kokoh dan jauh masuk ke dalam tanah!”


Kesunyian menyeling beberapa lamanya.


Kesunyian ini dipecahkan oleh suara Eyang Ratih kembali.


”Hari ini adalah hari yang penghabisan kau berada di sini, Rangga!”


”Eyang....,” terkejut Rangga Saksana mendengar kata-kata gurunya yang tiada disangkanya itu.


”Kau terkejut....? Tak perlu terkejut. Di dunia ini selalu ada waktu bertemu selalu ada waktu perpisahan. Waktu datang dan waktu pergi! Aku telah selesai dengan kewajibanku memberikan segala macam ilmu kepada kau dan kau sudah selesai dengan kewajiban kau yaitu menuntut dan mempelajari ilmu itu dari-ku....”


Dalam duduknya itu Rangga Saksana jadi tertegun. Jadi rupa-rupanya apa yang dinyanyikan oleh Eyang Ratih tadi ada hubungannya dengan peri kehidupannya.


Cuma yang belum dimengerti Rangga ialah barisan kalimat,


Tujuh belas tahun masa perjanjian.... tujuh belas tahun saat pembalasan....


Eyang Ratih tiba-tiba melayang turun ke tanah kembali. Dia berdiri di hadapan muridnya. Dan mulai lagi bicara.


”Segala apa yang ada di dunia ini selalu terdiri atas dua bagian, Rangga! Dua bagian yang berlainan satu sama lain tapi yang menjadi pasangan-pasangannya....”

__ADS_1


Rangga Saksana kerenyitkan kening tak mengerti. ”Misalnya Eyang?” tanyanya.


”Misalnya...., ada laki-laki ada perempuan. Bukankah itu dua bagian yang berlainan?


Tapi merupakan pasangan?!”


”Betul Eyang....”


”Misal lain.... ada langit.... ada bumi. Ada lautan ada daratan. Ada api ada air.... ada panas ada dingin. Ada hidup ada mati, ada miskin ada kaya. Ada buta ada melek. Ada lurus ada bengkok, ada panjang ada pendek, ada tinggi ada rendah, ada dalam ada cetek! Semuanya selalu begitu Rangga, Kemudian.... ada susah ada senang, ada tertawa ada menangis. Di atas semua itu ada satu yang tertinggi. Yang satu ini ialah penciptanya. Siapa yang ciptakan kau, Rangga....?”


”Tidak tahu Eyang....”


”Bogrol!”


”Aku tahu Eyang....”


”Siapa?”


”Ibu sama bapakku.”


”Siapa yang mencipatakan ibu sama bapak kau?”


”Nenek sama kakek....”


”Yang menciptakan nenek sama kakek....?”


”Nenek dari nenek dan kakek dari kakek....”


”Dan yang menciptakan nenek dari nenek serta kakek dari kakek....?”


”Ya nenek dari nenek dari nenek dan kakek....”


”Geblek!” bentak Ratih Parwati. ”Manusia tidak pernah bisa menciptakan manusia! Bapak kau kawin sama ibu kau dan ibu kau cuma melahirkan kau, lain tidak!! Ibu kau dilahirkan sama nenek, kau begitu seterusnya goblok! Semua manusia ini, semua apa saja di dunia ini diciptakan oleh Yang Satu. Oleh Gusti Allah! Hal-hal yang dua itupun juga diciptakan dengan kodrat iradatnya Gusti Allah. Gusti Allah ciptakan laki-laki juga Dia ciptakan perempuan. Gusti Allah bikin langit, juga bikin bumi. Bikin orang-orang susah juga bikin orang-orang senang. Bikin manusia-manusia kaya juga bikin manusia-manusia miskin.


Manusia pasti akan merasakan senang susah, gembira sedih, kaya miskin, lapar kenyang, hidup mati,


dan manusia juga musti percaya pada yang satu yakni Gusti Allah....”


”Sekarang berdirilah kau!,” perintah Eyang Ratih Parwati.


Rangga Saksana berdiri.


Eyang Ratih Parwati menyeringai dan tertawa cekikikan.


Tiba-tiba dari balik pakaian hitamnya dikeluarkannya kembali Trisula saktinya.


Terkejut Rangga Saksana dan pemuda ini mundur beberapa langkah ke belakang.


Ratih Parwati menyeringai lagi, tertawa lagi hingga kedua matanya berair.

__ADS_1


__ADS_2