PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
KEMATIAN BERGOLA WUNGU


__ADS_3

Dia hanya merasakan datangnya sambaran angin dari arah belakang. Lalu cepat-cepat menggeser kaki ke muka, bergerak ke samping dan sambil bungkukkan diri balikkan badan!


Golok panjang Bergola Wungu lewat satu setengah jengkal di atas kepalanya, mengibarkan rambutnya yang gondrong!


“Dasar pengecut! Sudah main keroyok menyerang dari


belakang!,” bentak Rangga Geblek.


Kedua tangannya bergerak ke muka untuk merampas golok lawan. Namun hampir hal itu terlaksana, tahu-tahu dua belas ujung tongkat menderu menyerang kedua lengannya.


“Sialan!” maki Pendekar Trisula Maut dan terpaksa tarik pulang tangannya sambil hantamkan kaki membabat ke arah beberapa orang pengeroyok dari barisan sebelah muka.


Mereka yang diserang tendangan kaki anehnya tidak melakukan sesuatu apa, tapi tiba-tiba dari belakang menyeruak kawan-kawan mereka dari barisan kedua, dan menangkis tendangan Rangga Geblek.


Sejurus kemudian barisan muka kembali menyerang dengan dua belas tongkat biru mengarah pada dua belas bagian tubuh Rangga Geblek!


Sementara itu dari atas laksana alap-alap golok Bergola Wungu kembati membabat!


Ini lah kehebatannya lingkaran pasang surut!


Ciptaan Bladra Wikuyana!


Dua tahun dia melatih murid-muridnya untuk betul-betul memahami jurus tersebut.


Meski belum begitu sempurna tapi hasilnya tidak mengecewakan!


Sambil senyumsenyum dia berdiri menunggu saat di mana matanya akan menyaksikan tubuh Rangga Geblek


terpancung belasan senjata muridnya, telinganya bakal mendengar pekik kematian pemuda itu!


Tapi tiada kelihatan, Pendekar Trisula Maut terpancung meregang nyawa di tengah pelataran itu!


Tiada terdengar pekik kematian Rangga Geblek!


Dengan kecepatan luar biasa yang tiada terlihat oleh mata Bladra Wikuyana maka tahu-tahu Rangga Geblek sudah berada di luar serangan anakanak muridnya, berdiri dengan tenang dan kembali bersiul-siul!


Sebenamya pemuda bermata tajam ini sudah dapat melihat di mana letak kelemahan barisan lingkaran pasang surut yang mengeroyoknya saat itu. Dengan merobohkan dua atau tiga


orang pengeroyok dari salah satu barisan maka pastilah lingkaran pasang surut itu akan menjadi kacau balau!


Bisa juga sebagian atau seluruh pengeroyoknya ditumpasnya dengan hantaman pukulan angin puyuh atau dinding angin berhembus tindih menindih!


Tapi ini pemuda inginkan cara lain yang lebih disukainya sendiri. Maka berserulah Pendekar Trisula Maut.


“Angin Topan Dari Barat! Apakah kau pernah iihat manusia dipakai jadi senjata untuk menyerang manusia...?!”


“Bocah gila! Jangan banyak bacot! Nyawamu sudah di depan hidung! Anak-anak ciutkan lingkaran dalam sepertiga jurus!,” teriak Bladra Wikuyana dengan penasaran sekali.


Siulan Pendekar Trisula Maut tiba-tiba lenyap berganti dengan suara tertawa aneh yang menegakkan bulu tengkuk. Tubuhnya berkelebat tak kelihatan. Dan tiba-tiba pula Bergola Wungu merasakan kedua pergelangan kakinya dicengkeram erat sekali.


Dicobanya untuk meronta dan menendang tapi cengkeraman itu laksana japitan besi tak mungkin untuk dilepaskan. Sementara itu tubuhnya menjadi limbung dan terasa terangkat ke atas!


Dicobanya membabatkan goloknya!


Terdengar satu pekikan!


Pekikan kawannya sendiri yang, kemudian roboh mandi darah! Sesudah itu Bergola Wungu tak tahu apa-apa lagi!


Rangga Geblek dengan tertawanya yang aneh memegang erat-erat kedua pergelangan kaki Bergola Wungu lalu memutar tubuh manusia itu laksana kitiran!


Pekik jerit serta seruan-seruan tertahan terdengar di mana-mana!

__ADS_1


Barisan lingkaran pasang surut hancur berantakan. Beberapa orang yang masih tak mau menyingkir dan terpukau oleh kedahsyatan itu terpaksa dihantam kitiran dari tubuh Bergola Wungu!


Belasan anak murid Perguruan Gua Nagreg bergeletakan di pelataran batu karang dalam keadaan tubuh luka-luka parah tanpa nyawa. Suara erangan terdengar tiada hentinya. Yang masih hidup yaitu sekira sembilan orang menyingkir jauh-jauh


ke dinding batu karang.


Suara tertawa Pendekar Trisula Maut berhenti.


“Angin Topan Dari Barat! Ini terima bangkai muridmu!”.


Tubuh Bergola Wungu


yang tadi dibuat menjadi kitiran untuk melabrak kawan-kawannya sendiri melesat ke arah Bladra Wikuyana. Orang tua ini lambaikan tangan kirinya dan tubuh Bergola Wungu terpelanting ke dinding samping. Tentu saja sudah tanpa nyawa lagi karena sudah sejak tadi kepalanya nyenyar macam pepaya busuk!


Bau anyirnya darah yang mengantarkan regangan-regangan nyawa manusia menyesak lobang hidung. Rangga Geblek meludah ke tanah. Dan memandang pada Angin Topan Dari Barat.


“Angin Topan Dari Barat! Murid-muridmu menemui kematian dengan cara yang tentu kau tidak senangi!


Dan mereka mati tanpa ada sangkut-paut kesalahan apa-apa


terhadapku!


Kau yang tanggung-jawab semuanya kalau malaekat maut tertanya di liang kubur!”


“Pemuda iblis!” bentak Bladra Wikuyana. “Tak usah banyak bacot! Terimalah kematianmu dalam tiga jurus!”.


Tampang manusia ini kelihatan membesi dan tambah angker. Dia melangkah ringan ke hadapan Rangga Geblek dan cabut tongkat birunya!


Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan selarik sinar biru melanda Pendekar Trisula Maut. Pemuda ini egoskan diri ke samping dengan cepat. Tapi dari samping menderu tangan kanan Bladra


Wikuyana yang disambung dengan kayu dan ujungnya mempunyai senjata berbentuk Arit!


“Heyyaaa!”.


Tapi tongkat biru Bladra Wikuyana sungguh hebat!


Pukulan Maling Melempar Batu yang dilancarkan Pendekar Trisula Maut mempergunakan sebahagian tenaga dalamnya,


namun sambaran angin tongkat biru membuat angin pukulan Pendekar Trisula Maut tersibak ke samping dan menghantam dinding karang!


Dinding karang itu retak-retak pecah!


Kepingan-kepingan karang menghambur ke udara berpelantingan!


Rangga Geblek penasaran sekali. Tenaga dalamnya dilipat-gandakan sampai tangannya tergetar hebat namun tetap pukulan Maling Melempar Batu yang dilancarkannya masih sanggup disapu oleh angin tongkat biru lawan!


“Edan!” maki pemuda ini dalam hati.


Dia menjerit setinggi langit dan berkelebat lagi. Kini Pendekar Trisula Maut keluarkan jurus Orang Gila Mengebut Lebah!


Kedua tangannya kiri kanan memukul kian kemari dan mengeluarkan angin keras laksana badai!


Untuk dua jurus lamanya Bladra Wikuyana terdesak hebat bahkan kepepet ke dinding jurang sebelah Timur. Anak-anak murid Perguruan Gua Nagreg yang ada di jurusan ini terpaksa menyingkir kecuali kalau mau mampus terkena sambaran-sambaran angin dahsyat kedua manusia sakti yang bertempur itu!


Angin Topan Dari Barat mengeluh dalam hati!


Puluhan tahun hidup di dunia persilatan baru hari ini menghadapi lawan yang tangguhnya bukan olah-olah!


Dan gilanya lawan itu adalah anak muda hijau yang baru berumur tujuh belas tahun!


Orang tua ini kertakkan gerahamnya. Dari tenggorokkannya keluar suitan kencang. Dengan serta merta permainan tongkat dan jurus-jurus silatnya berubah. Tongkat biru di tangan kirinya menderu dan mencurah taksana hujan badai, laksana menjadi ratusan banyaknya!

__ADS_1


Rangga Geblek terkejut sekali melihat keganasan serangan lawan ini!


Cepat dia lompat tiga tombak ke udara.


“Ho-ho! Mau kabur hah?!” bentak Bladra Wikuyana. Dan segera manusia ini susul melompat.


“Angin Topan Dari Barat!,” seru Pendekar Trisula Maut “Antara kita sebenarnya tak ada permusuhan yang berarti...”.


Bladra Wikuyana tertawa buruk. “Ketika nyawa sudah di tenggorokan kau baru ribut-ribut segala permusuhan yang tak berarti!


Sudah kepepet-mulai bicara rendah diri!


Sebaiknya sebut nama Tuhanmu sebentar lagi roh busuk manusia yang mengaku bergelar Pendekar Trisula Maut Naga Langit akan minggat ke neraka!”


Bladra Wikuyana menyerang lagi dengan ganas membuat Rangga Geblek kembali terpaksa lompatkan diri tiga tombak ke belakang.


“Kalau kau yang tua tetap berkeras kepala maka sambutlah pukulanku ini!”


Bladra Wikuyana terbeliak kaget ketika melihat tangan kanan Rangga Geblek berwarna sangat putih sedang kuku-kuku jarinya memerah menyilaukan!


“Pukulan Bintang Perak!” teriaknya dengan keras.


Sekaligus dia menyerukan pada murid-muridnya untuk mencari perlindungan sedang seluruh tenaga dalamnya dialirkannya ke tongkat biru!


Selarik sinar putih yang menyilaukan mata melesat ke depan. Bladra Wikuyana lompat ke udara sampai tujuh tombak dan sapukan tongkatnya ke bawah!


Dua angin keras beradu hebat. Bladra Wikuyana berseru keras. Tongkatnya hampir terlepas mental sedang tangan kirinya tergetar hebat!


Tiada nyana tenaga dalam lawan yang muda belia itu lebih tinggi beberapa tingkat dari padanya. Dengan jungkir balik di udara jago tua ini jauhkan diri untuk atur jatan nafas serta darahnya dengan cepat!


Ketika bola matanya berputar memandang berkeliling terkejutlah ia!


Seluruh sisa anak muridnya yang tadi masih hidup menggeletak bergelimpangan dipelataran batu karang itu. Tubuh mereka semuanya termasuk yang sudah menemui ajal lebih dahulu di tangan Rangga Geblek mengepulkan asap dan udara dalam jurang itu kini pengap bau daging manusia yang hangus!


Ketika Pendekar Trisula Maut lepaskan pukulan Bintang Perak tadi, Bladra Wikuyana berhasil mengelakkannya. Angin pukulan menghantam dinding karang di sebelah tenggara. Bukan saja dinding karang itu menjadi pecah tapi juga hancur berantakan.


Bagian atasnya longsor ke bawah sedang pukulan Bintang Perak memantul dua kali berturut-turut di dinding karang. Hawa panas angin pukulan ini telah melabrak sisa-sisa anak murid Bladra Wikuyana sehingga tubuh mereka tersambar hangus dan menggeletak mati di situ juga!


Dan sementara itu di tepi jurang sebelah atas, sesosok tubuh berpakaian ungu menyaksikan apa yang terjadi di dalam jurang batu karang itu dengan mulut menganga dan mata terbeliak sedang bulu kuduk merinding....


Kembali ke dalam jurang. Air muka Bladra Wikuyana kelihatan kelam membeku. Tubuhnya laksana patung berdiri di tengah pelataran. Cambang bawuk atau berewoknya kelihatan meranggas kaku sedang sepasang matanya menjadi merah angker.


“Pendekar Trisula Maut!” desis Bladra Wikuyana. “Detik ini jangan harap nyawamu akan selamat...!”


Tongkat birunya diacungkan ke muka lurus-lurus dan kini tongkat itu berubah menjadi hitam legam. Sinar hitam yang memancar dari senjata ampuh Itu menggidikkan sekali...


“Bersiaplah untuk minggat ke neraka!” teriak Bladra Wikuyana. Serentak dengan itu menyerbulah dia ke muka. Seluruh bagian tenaga dalamnya telah mengalir ke dalam tongkat dan


serangannya kini luar biasa ganasnya!


Sambil menyerang itu Bladra Wikuyana tiada hentinya


bersuit-suit aneh, menggetarkan telinga dan raga!


Rangga Geblek begitu merasakan tekanan serangan yang hebat luar biasa segera percepat gerakannya. Namun ilmu mengentengi tubuhnya yang sudah sangat tinggi itu masih


sangat terasa lamban ditindih oleh sinar pukulan Angin Hitam yang ke luar dari tongkat lawan.


“Breet”!


Tersirap darah Pendekar Trisula Maut. Nyawanya serasa lepas! Ujung tongkat lawan telah merobek pakaiannya di bagian dada. Angin tongkat membuat tulang-tulang dadanya seperti melesak!

__ADS_1


Pendekar ini berteriak nyaring dan jungkir balik ke belakang ke luar dari kalangan pertempuran!


__ADS_2