
Hari itu adalah hari kedua sesudah jatuhnya takhta kerajaan Banten ke dalam tangan kaum pemberontak pimpinan Parit Wulung. Suasana di Kotaraja yang sehari sebeIumnya senantiasa diliputi kepanikan kini mulai mereda. Namun di mana-mana kelihatan berkeliaran tentara-tentara pemberontak, sedang di setiap tempat yang dianggap penting terutama di sepanjang perbatasan senantiasa dijaga ketat oleh tentara.
Pagi itu, pagi ketiga dari berkuasanya kaum pemberontak, kelihatanlah dua orang berjalan kaki. Yang satu sudah tua dan terbungkuk-bungkuk. Yang satu lagi masih muda. Keduanya mengenakan pakaian bertambal-tambal serta kotor. Kulit badan dan muka merekapun coreng moreng dan rambut awut-awutan. Dari keadaan kedua orang ini, sepintas lalu saja orang segera berkesimpulan bahwa mereka adalah pengemis-pengemis. Dan setiap orang yang memapasi mereka tentu saja tak akan mau ambil peduli.
Namun siapa nyana kalau kedua orang ini adalah dua orang penting yang tengah dicari oleh Parit Wulung dan pentolan-pentolan pemberontak lainnya. Yang tua adalah penasehat istana, yaitu Mangkubumi Mintra, sedang yang masih sangat muda tiada lain daripada Sultan Banten sendiri, yakni Hasanuddin.
Sewaktu meletusnya pemberontakan, sewaktu istana sudah dikepung, dengan melalui jalan rahasia, kedua orang ini telah berhasil menyelamatkan diri. Dan bukan keselamatan mereka saja yang penting, tapi keduanya juga berhasil menyelamatkan keris pusaka tumbal kerajaan yaitu keris Tumbal Wilayuda, keris yang menjadi lambang dan ketentuan bahwa siapa pemiliknya, maka dialah pewaris syah dari takhta kerajaan Banten. Dan juga keris inilah pula yang dicari-cari oleh Parit Wulung bersama pemberontak-pemberontak lainnya. Masing-masing mereka sama membawa buntalan kecil.
Sebenarnya baik Mangkubumi Mintra maupun Sultan Hasanuddin, adalah orang-orang yang berkepandaian silat dan kelas tinggi. Namun menghadapi sekian banyak pemberontakan dan demi untuk menyelamatkan keris tumbal kerajaan, keduanya memutuskan dengan terpaksa dan berat hati untuk mengundurkan diri.
Demikianlah, dengan menyamar kedua orang itu meninggalkan Kotaraja. Matahari pagi masih belum sanggup memupuskan butiran-butiran embun di daun-daun, namun panasnya terasa sudah memerihkan kulit kedua orang itu. Mereka berhasil melewati pintu gerbang Kotaraja tanpa halangan sesuatu apa meski pintu gerbang itu dijaga ketat oleh dua puluh orang prajurit.
Si orang tua Mangkubumi Mintra menarik nafas lega demikian juga Sultan. Namun penasehat tua ini kemudian berkata dengan perlahan. "Kita masih jauh dari selamat Sultan. Cuma satu pesanku, bila terjadi apa-apa yang tak diingini kau lekaslah menghindar dan lari ke tempat keluarganya Wirya Pranata di Ujung Kulon”.
Si pemuda anggukkan kepala. Namun pada parasnya kelihatan sekelumit rasa jengah yang memerahkan kedua pipinya yang kotor itu. lni suatu pertanda bahwa ada sesuatu hubungan antara dia dengan keluarga Wirya Pranata di Ujung Kulon itu.
Pemuda atau Sultan menghela nafas lagi. "Mudah-mudahan saja kita bisa terus selamat bapak Mangkubumi”, katanya.
"Memang itulah yang kita harapkan. Semoga Tuhan melindungi kita".
__ADS_1
Mereka mendekati perbatasan kini. Di sepanjang perbatasan dijumpai prajurit yang mengawal semakin banyak. Keduanya diperiksa oleh beberapa orang prajurit. Bungkusan masing-masing digeledah. Untunglah Sultan Hasanuddin telah menyembunyikan keris Tumbal Wilayuda di dalam lipatan pakaiannya yang dikenakannya saat itu. Dan kedua orang inipun selamat pula dari pemeriksaan. Mereka bergegas menjauhi perbatasan.
"Aman sekarang", kata Sultan Hasanuddin.
Tapi baru saja dia habis berkata begitu maka muncullah serombongan pasukan berkuda. Pimpinan rombongan, seorang perwira pemberontak lambaikan tangan memberi isyarat berhenti pada anak-anak buahnya. Perwira ini membawa kudanya ke hadapan kedua orang tersebut.
" Pengemis-pengemis hina dina!! ”, bentak perwira itu. "Apa kalian lihat dua orang pelarian melintas di sini ? Keduanya adalah Mangkubumi Mintra penasihat istana dan Sultan Hasanuddin". Sambil bertanya begitu mata sang perwira menyorot meneliti kedua orang di hadapannya.
Si orang tua menjawab . "Tak satu orangpun yang kami lihat, Yang mulia”.
Jawaban yang hormat dan mempergunakan tutur kata yang halus tinggi dari si orang tua mencurigakan sang perwira. Biasanya pengemis-pengemis macam mereka bicara dalam bahasa rendahan. Maka, terbitlah sekelumit kecurigaan di hati perwira itu. "Kami akan geledah kalian", katanya.
" Ah…, kami hanya pengemis-pengemis yang hina dan terlantar. Apa untungnya menggeledah kami ? ".
Si perwira memang menganggap betul kata-kata bawahannya itu. Tapi bila sepasang matanya yang tajam melihat bagaimana telapak dan jari-jari tangan kedua orang yang dihadapannya sangat halus, bukan seperti tapak dan jari-jari tangan yang biasa dilihatnya pada diri pengemis-pengemis, maka memerintahlah dia. "Tangkap manusia-manusia hina dina ini".
Mangkubumi Mintra yang tahu bahwa penyamaran mereka pasti akan terbuka, tanpa membuang waktu segera maju ke muka dan berkata "Kalian keterlaluan, manusia-manusia macam kamipun masih hendak kalian ganggu".
Bentakan ini adalah juga terdorong rasa dendam kesumat terhadap kaum pemberontak.
__ADS_1
"Kurang ajar kau berani bicara kasar terhadapku huh", dengus perwira itu dan segera hunus pedangnya sementara setengah lusin bawahannya segera mengurung mereka. Mangkubumi Mintra tidak tinggal diam. Dari balik pakaian pengemisnya dikeluarkannya sebilah pedang.
"Hemm… bagus. Sekarang lebih jelas siapa kau adanya kunyuk tua hina-dina".
Perwira itu tetakkan pedangnya ke kepala Mangkubumi Mintra. Si orang tua membentak nyaring dan mundur beberapa langkah, sementara enam prajurit lainnya begitu cabut pedang masing-masing segera pula menyerbu. Mangkubumi Mintra putar pedang dengan deras. Sinar pedang bergulung-gulung.
Trang… trang… trang... trang…
Terdengar suara beradunya pedang susul menyusul. Waktu pedangnya beradu dengan pedang prajurit-prajurit, Mangkubumi Mintra tak terasa suatu apa, tapi ketika membentur senjata sang perwira maka terkejutlah orang tua itu. Tangannya tergetar keras dan panas. Mangkubumi Mintra mengeluh. Nyatanya sang perwira mempunyai kepandaian tingkat atas.
Maka berserulah Mangkubumi Mintra pada Sultan Hasanuddin. "Sultan, larilah selamatkan diri. Biar aku yang hadapi begundal-begundal pemberontak ini".
" Tidak!! ", jawab Sultan Hasanuddin. "Mati hidup kita berdua, bapak".
" Jangan bodoh Sultan!! Lari kataku!! ".
Si orang tua putar pedangnya lebih sebat. Seorang lawan yang mengurung menjerit keras dan melompat nanar dengan dada robek dimakan ujung pedang.
" Keparat!! ”, maki perwira pemberontak.
__ADS_1
Dia melompat dari kudanya. Sambil melompat, laksana seekor alap-alap dia mengirimkan serangan ganas. Pedangnya menderu memapas ke arah batang leher Mangkubumi Mintra, di saat itu si orang tua sedang menangkis serangan seorang prajurit. Tangkisan ini terpaksa dibatalkannya dengan melompat dan sebagai gantinya pedangnya diputar untuk menangkis pedang si perwira. Tapi si perwira rupanya memiliki ilmu pedang dari Cabang Pantai Selatan yang terkenal tangguh, karena dengan tak terduga dan sangat cepat sekali, serangan yang tadi merupakan satu tebasan dengan tiba-tiba sekali berubah menjadi satu tusukan tajam dan cepat. Si perwira tertawa mengekeh. Itulah jurus mematikan dari ilmu pedang yang dianutnya, yang dinamakan jurus "menabas gunung menusuk bukit".
BERSAMBUNG..