PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
MURID DEWI KENCANA WUNGU


__ADS_3

"Betina galak! Sekarang terimalah kematianmu!", bentak Iblis Pencabut Sukma.


Dia memberi isyarat pada anak-anak buahnya. Berbarengan mereka sama angkat tangan kanan ke atas siap untuk lancarkan pukulan "pencabut sukma". 


Satu pukulan "pencabut sukma” saja dahsyatnya bukan main, apalagi sekaligus dua belas pukulan, dapat dibayangkan bagaimana luar biasa kehebatannya. Dewi Kerudung Biru pentang kedua lengannya dan putar tubuh laksana baling-baling. Mulutnya tiada henti menghembus-hembus mengeluarkan asap biru. Satu detik lagi maka duabelas tangan lawan pun ditarik ke belakang. 


Dalam suasana yang diliputi seribu ketegangan itu, tiba-tiba mengaunglah suara seperti suara seribu tawon mendengung. Di antara dengungan itu melengking pula suara siulan yang disusul oleh berkiblatnya seputaran sinar putih menyilaukan mata. 


Tiga anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma, termasuk Tangan Perenggut Jiwa terpekik dan rebah ke lantai mandi darah. Selarik sinar putih yang disertai raungan dahsyat kembali berkiblat dan Wakil Ketua Perkumpulan Pencabut Sukma dan anak-anak buahnya terpaksa batalkan serangan dan melompat ke satu pojok. 


"Pendekar Trisula Maut!", terdengar seruan Sultan begitu dia kenali siapa adanya pendatang baru itu. Dewi Kerudung Biru sendiri memandang pada Rangga Geblek dengan sinar mata yang berkilat-kilat. Di balik pandangan mata itu seperti ada sesuatu yang disembunyikannya. 


Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma dan anggota-anggota lainnya memandang menyorot penuh amarah. Pendekar Trisula Maut Rangga Geblek sunggingkan senyum di wajahnya yang keren sedang tangan kanannya mempermainkan Trisula maut naga langit. 


Melihat pada senjata trisula di tangan si pemuda maka berkatalah Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma, sambil melintangkan pedang di muka dada. "Jadi kaukah yang selama ini dijuluki Pendekar Trisula Maut itu...?!". 


Jawaban Rangga Geblek hanya tertawa mengekeh. 


"Orang gendeng, apa kau sudah bosan hidup mau campur urusan orang lain?!”, tanya Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma. 


"Atau mungkin masih belum tahu tengah berhadapan dengan siapa saat ini?!", ujar Si Pisau Terbang. 


"Siapapun kalian adanya tak lebih dari babi-babi cacingan yang diberi berjubah dan berkerudung merah”, ejek Pendekar Trisula Maut pula.


Marahlah Si Pisau Terbang. Tanpa banyak cerita dia lepaskan sekaligus selusin pisau terbang beracun ke arah Pendekar Trisula Maut. Rangga Geblek gerakkan Trisula maut naga langit membuat setengah lingkaran. "Tring... tring.... tring...". 


Kedua belas pisau terbang itu musnah patah-patah. Melototlah mata Si Pisau Terbang. Dia menyurut mundur dua langkah. 


"Pisau Terbang, kau minggirlah. Biar aku yang antarkan manusia bosan hidup ini ke pintu gerbang akhirat!”. Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma maju dua langkah. 

__ADS_1


Sultan Hasanuddin dengan ilmu menyusupkan suara beri peringatan pada Pendekar Trisula Maut. "Sobat, hati-hatilah terhadapnya. Dia sakti sekali".' 


Begitu peringatan Sultan berakhir, maka Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma telah lancarkan serangan pedang merah dalam jurus yang luar biasa. Jurus ini sekaligus merupakan empat tebasan dan empat tusukan. 


"Ah cuma ilmu pedang picisan saja mau diandalkan", Ejek Rangga. Trisula Naga Langit di tangannya menderu. 


Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma tiada berani mengadu senjata. Hatinya tergetar ketika merasakan bagaimana sinar putih senjata lawan membuat pedangnya tak bisa bergerak leluasa. Manusia ini membatin. "Celaka, paling lama aku hanya bisa layani si keparat ini dalam dua puluh lima jurus". Dan dia segera putar otak untuk cari kesempatan larikan diri.


Pendekar Trisula Maut yang tahu gelagat lawan segera lancarkan serangan ganas. Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma angsurkan pedang merah kemuka untuk menangkis karena bertindak berkelit tiada punya kesempatan lagi. 


"Trang".


Maka patahlah pedang merah Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma itu. Keringat dingin memercik di kening manusia iblis ini. Nyalinya lumer. 


Sambil angkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas untuk lepaskan pukulan yang sangat diandalkannya yaitu pukulan pencabut sukma, maka dia berseru pada sisa-sisa anak buahnya. "Kalian jangan mematung saja. Mari sama kita bereskan anjing kurap ini!". 


Maka delapan anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma dengan membentak dahsyat segera menerjang ke muka, dan langsung lancarkan pukulan pencabut sukma. 


Bahwasanya sang Dewi mengetahui namanya inilah satu hal yang mengejutkan Pendekar Trisula Maut Rangga Geblek. Keterkejutan ini membuat dia menjadi lengah seperempatan detik. Dan itu sudah cukup bagi Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma serta anak-anak buahnya. 


"Mampuslah!". 


Dewi Kerudung Biru menjerit. Sultan sendiri pucat pasi parasnya. 


Tiba-tiba Pendekar Trisula Maut meraung laksana halilintar. Dia melompat ke muka. Trisula naga langit menderu. Empat suara pekikan seperti mau memecahkan anak telinga. Empat anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma terkapar dengan tubuh hampir kuntung. Pendekar Trisula Maut ayunkan Trisula naga langit sekali lagi, namun disaat itu Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma dan sisa-sisa anak buahnya sudah lenyap larikan diri keluar goa. 


Pendekar Trisula Maut berdiri nanar. Sultan melompat ke muka dan merangkul tubuh Rangga. Di balik kerudungnya Dewi Kerudung Biru menggigit bibir. Sepasang matanya yang jeli dipejamkan. 


Rangga ambil sebutir pil dari saku pakaiannya lalu ditelan dengan cepat. Dewi Kerudung Biru kemudian berdiri dan kedua tangannya ditekankan ke bahu Pendekar Trisula Maut untuk alirkan tenaga dalam guna bantu menyembuhkan luka yang diderita Pendekar itu. Namun sesaat kemudian Pendekar Trisula Maut mengerang halus lalu pingsan tiada sadarkan diri.

__ADS_1


Sultan cemas sekali melihat keadaan Pendekar Trisula Maut demikian rupa. Bersama Dewi Kerudung Biru, Rangga dibaringkan di lantai, kepalanya diganjal dengan sehelai kain yang dilipat-lipat. 


"Dewi, apakah… apakah dia…?". Sultan tak bisa meneruskan pertanyaannya. 


Dewi Kerudung Biru hela nafas. "Sebenarnya aku yang salah karena aku telah berseru memanggil namanya tadi", berkata perempuan itu. Dihelanya lagi satu kali nafas dalam. "Tapi lukanya tak begitu parah. Besok pagi dia sudah sembuh kembali. Untung saja berilmu tinggi, kalau tidak keseluruhan isi perutnya pasti akan berbusai ke luar dari mulut". 


"Dewi, kau tahu nama pemuda ini. Apakah kalian pernah kenal sebelumnya?".


Dewi Kerudung Biru elakkan pertanyaan itu dengan balik menanya. "Kau sendiri punya hubungan apa dengan dia?".


Maka Sultan Hasanuddin menuturkan mulai pertama kali dia kenal dan ditolong oleh Pendekar Trisula Maut. Mendengar itu, kembali sepasang mata Dewi Kerudung Biru berkilat-kilat. Dan hal ini diam-diam diperhatikan oleh Sultan sehingga dia merasa yakin pastilah ada hubungan apa-apa antara Dewi Kerudung Biru dengan Pendekar Trisula Maut sebelumnya. Tapi untuk bertanya lebih jauh Sultan merasa segan. 


"Dia memang sakti sekali, Sultan”, berkata sang Dewi. "Sikapnya kadang-kadang lucu tapi juga menyakitkan hati. Bahkan banyak orang yang menyangka dia kurang sehat pikiran. Tapi hatinya sepolos permata, seputih kertas, jujur. Beberapa tokoh persilatan telah meramalkan bahwa kelak di kemudian hari dia bakal merajai dunia persilatan". 


Sultan Hasanuddin manggut-manggut. 


"Sultan, dalam hal ini kita tak punya waktu lama. Aku akan ajarkan padamu beberapa jurus ilmu silat dan ilmu asap kencana biru" 


"Aku haturkan ribuan terima kasih Dewi", kata Sultan dengan gembira. 


"Silakan duduk bersila dan pejamkan mata", Dewi Kerudung Biru berkata. 


Sultan menurut. Dia duduk bersila dan pejamkan mata. Dewi Kerudung Biru kemudian salurkan tenaga dalamnya ke tubuh Sultan melalui pundak. Selesai menerima saluran tenaga dalam itu Sultan merasakan tubuhnya sangat enteng dan segar bugar. 


"Sekarang aku akan ajarkan padamu dua jurus ilmu silat. Dua jurus ilmu silat ini hanya empat orang yang pernah memilikinya. Yaitu Pendekar Sabrang Lor, Resi Warajana, Dewi Kencana Wungu. Ketiganya sudah meninggal. Aku adalah pewarisnya yang keempat dan bila aku ajarkan dua jurus itu kepadamu maka kau adalah pewaris yang kelima. Jurus yang pertama ialah jurus naga kepala seribu mengamuk. Yang kedua, jurus Cakar garuda emas. Keduanya merupakan jurus-jurus yang sukar dicari tandingannya dalam dunia persilatan. Jika kau benar-benar meyakininya, percayalah tidak sembarang musuh bisa melayanimu". 


"Terima kasih Dewi… ribuan terima kasih. Jadi kalau begitu Dewi adalah murid dari Dewi Kencana Wungu?" 


Sang Dewi mengangguk. "Mari kita mulai”, katanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2