
Dari jauh telah terdengar suara beradunya senjata serta bentakan-bentakan hebat. Rangga percepat jalannya. Dan bila dia sampai di halaman rumah yang agak kegelapan itu maka dilihatnyalah bagaimana halaman rumah itu kini berubah menjadi sebuah medan pertempuran.
Enam manusia, sepasang demi sepasang tengah bertempur hebat dan cepat. Di tangga rumah besar dilihatnya berdiri Nilamsuri.
Di bawah tangga, dengan bersedekap tangan berdiri seorang laki-laki berbadan tinggi langsing. Rangga tak pernah melihat orang ini sebelumnya. Tapi dia yakin betul bahwa manusia
ini pastilah Kalingundil.
Di ujung halaman sebelah kiri berdiri pula Bergola Wungu. Sebagaimana dua orang yang terdahulu sepasang matanya memandang ke tengah halaman, memperhatikan jalannya
pertempuran.
Tiga orang anak buah Kalingundil yaitu Saksoko, Majineng dan Krocoweti sebenarnya bukan orang-orang yang berilmu rendah. Permainan golok mereka cukup lihay.
Tapi menghadapi anak-anak buah Bergola Wungu yaitu Ketut Ireng, Seta Inging, dan Pitala Kuning mereka kalah gesit. Dalam sembilan jurus Krocoweti terpaksa pasrahkan nyawa dilanda ruyung berduri Pitala Kuning!
Krocoweti menggeletak di tanah dengan dada melesak!
Tiga jurus kemudian menyusul Majineng. Lehernya hampir kutung terbabat kelewang Seta Inging. Pertempuran yang agak lama berlangsung ialah antara Ketut Ireng dan Saksoko.
Kedua orang ini mempunyai tingkat kepandaian yang sama dan sama-sama bersenjatakan golok. Namun oleh kemenangan kedua kawannya Ketut Ireng mendapat semangat dan
nyali besar. Lima jurus di muka sambaran goloknya tiada tertahankan. Akhirnya Saksoko yang berbadan gemuk pendek itu menjerit mengerikan ketika perutnya yang buncit terbabat
ujung golok!
Ususnya membusai dan menjela-jela di tanah!
Rahang-rahang Kalingundil kelihatan mengatup rapat dan bertonjolan. Kedua kakinya terpentang. Saat itu karena gelap tak seorangpun yang melihat bagaimana kedua lengan
Kalingundil menjadi hitam sampai ke jari-jari tangannya.
Didahului dengan suara bentakan yang bukan saja dahsyatnya menggetarkan dada tapi juga menggetarkan tanah maka
melompatlah Kalingundil ke tengah halaman di mana tiga anak buah Bergola Wungu berada.
Tujuh belas tahun yang lampau kehebatan pukulan lengan baja itu sudah mengagumkan. Dan kini dapat dibayangkan bagaimana keampuhannya!
Tiga pekik kematian merobek kegelapan malam!
Ketut Ireng, Seta Inging dan Pitala Kuning terlempar sampai lima-enam tombak dan menggeletak di tanah tanpa nyawa!
Bergola Wungu saksikan kematian yang mengenaskan ketiga muridnya itu dengan tubuh bergetar.
”Bergola Wungu! Kau tunggu apa lagi! Majulah jika kau benar-benar ingin membalaskan dendam kesumat seribu karat!”
Meski bagaimana kobaran amarahnya namun Bergola Wungu menyahuti, ”Jangan bicara terlalu keren, keparat! Aku masih berbaik hati untuk membiarkan kau bernafas beberapa jam lagi! Aku Bergola Wungu menunggu kau besok pagi waktu matahari terbit di pekuburan Jatiwalu! Aku ingin nyawamu terbang ke neraka disaksikan makam ayahbundaku!”
Habis berkata demikian, Bergola Wungu putar tubuh. Tapi saat itu Kalingundil sudah menyerbunya dengan kedua tangan terpentang!
Bergola Wungu yang tahu kehebatan lengan baja itu tak berani menyambuti. Dia berkelit ke samping dan lambaikan tangan kanannya. Serangkum angin menyambar ke dada Kalingundil. Kalingundil melompat ke samping dan hantamkan lengannya kembali. Tapi ini juga dapat dielakkan Bergola Wungu. Dalam sebentar saja kedua orang ini sudah terlibat dalam tiga jurus. Memasuki jurus keempat tiba-tiba dari bagian yang gelap di bawah pohon mempelam terdengar suara memaki.
”Kalingundil edan! Orang sudah kasih kesempatan untuk bertempur besok pagi masih saja beringasan! Gelo betul!”
Kalingundil keluar dari kalangan pertempuran. Segera dia hantamkan lengannya ke jurusan datangnya suara.
”Jangan memaki saja kunyuk! Keluarlah unjukkan diri!”
Angin dahsyat melanda ke tempat gelap, menghantam pohon mempelam sampai pohon itu tumbang. Tapi orang yang memaki sudah kabur. Dan ketika menoleh ke samping, Bergola Wungu pun sudah lenyap!
Akan Nilamsuri begitu mengenali suara yang memaki tadi tanpa tunggu lebih lama dia segera mengejar ke tempat gelap.
Beberapa puluh meter kemudian, di pinggiran kampung
dekat pematang sawah, orang yang dikejar tahu kalau dirinya dikuntit. Dengan pergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah sampai ke puncak yang sangat tinggi dia melompat
ke satu cabang pohon dan menunggu.Nyatanya yang mengejar adalah si gadis baju biru itu. Segera dia lompat turun kembali.
”Kita berjumpa lagi, Nilamsuri….”
”Eh, dari mana kau tahu namaku?” gadis itu tanya dengan heran.
Rangga Geblek tertawa dan menjawab, ”Terlalu banyak manusia tempat bertanya. Terlalu banyak mulut yang bisa kasih keterangan! Ada apa kau mengejar aku?!”
”Ada apa kau ikut campur urusan ayahku?!” balik menanya Nilamsuri.
Rangga Geblek melangkah mendekati gadis itu. Matanya yang memandang tajam membuat hati si gadis menjadi berdebar. Rangga semakin mendekat juga. Nilamsuri menyurut mundur namun badannya tertahan oleh batang pohon.
”Ayahmu Kalingundil, bukan….?” desisnya.
Gadis itu mengangguk.
Rangga menyeringai. Dipegangnya bahu gadis itu. Nilamsuri hendak menyibakkan tangan itu tapi tak jadi karena saat itu Wiro membungkukkan kepalanya. Rasa panas menjalari darah ditubuhnya ketika bibir pemuda itu berani mengecup bibirnya.
Kemudian tangan yang lain dari si pemuda mengusap mukanya. Dia diam saja. Juga masih diam ketika tangan itu meluncur turun ke bawah lehernya.
”Rangga…. kau ini ceriwis sekali…. ceriwis sekali,” bisik gadis itu setengah merintih.
__ADS_1
Pemuda itu menyeringai.
”Kenapa kau ikuti aku….?”
”A…. aku suka padamu Rangga….”
Rangga tak banyak tanya lagi. Dipanggulnya tubuh yang montok itu lembut itu dan dilarikannya ke tengah sawah dimana terdapat sebuah dangau. Angin malam terasa sangat dingin di udara yang terbuka itu. Tapi tubuh mereka dilanda keringat panas dalam
melakukan apa yang belum pernah mereka alami sebelumnya, dalam merasakan apa yang mereka tak pernah rasakan sebelumnya!
*****
Sinar matahari pagi memerah kekuningan. Udara segar sekali. Namun kesegaran itu tiada dirasakan oleh tiga manusia yang berada di pekuburan Jatiwalu. Yang dua adalah Bergola Wungu dan musuh besarnya Kalingundil. Yang ketiga Nilamsuri. Paras gadis ini agak pucat.
Bergola Wungu hentikan langkahnya beberapa tombak di hadapan Kalingundil.
”Keluarkan senjatamu Kalingundil!”
Kalingundil tertawa bergelak dan meludah ke tanah. ”Untuk menghadapi manusia macam kau tak perlu pakai senjata segala! Mulailah!.” Mulut Kalingundil komat-kamit dan sebentar kemudian kelihatanlah kedua lengannya menjadi hitam!
Tergetar juga hati Bergola Wungu melihat dua lengan lawan itu. Tapi tentu saja tak diperlihatkannya.
Malahan dia berkata, ”Bagus kalau tak mau pakai senjata. Itu
mempercepat aku mengirimkan kau ke neraka!”
Bergola Wungu mencabut golok panjangnya. Dengan ujung senjata itu dia menunjuk ke arah dua buah makam di bukit pekuburan.
”Kau lihat dua makam di lereng sana, Kalingundil?!”
Kalingundil tak berani mengalihkan pandangannya karena khawatir ini hanya tipuan belaka.
”Itu adalah makam ayah bundaku. Roh-roh penghuni makam itu akan bersorak gembira bila menyaksikan sesaat lagi kepalamu kubabat menggelinding!”
”Tak perlu jual bacot manusia hina! Terima lenganku!”
Disertai angin yang dahsyat maka kedua lengan Kaligundil memukul susul menyusul. Bergola Wungu kiblatkan golok memapas salah satu lengan lawan!
Betapa terkejutnya dia ketika goloknya tidak mempan membabat lengan lawan malahan mata goloknya menjadi sumplung!
Dengan segera Bergola Wungu keluarkan jurus terhebat dari ilmu goloknya yaitu jurus ”merobek langit.” Sesaat saja terbungkuslah tubuh Kalingundil oleh sinar golok!
Dan satu jurus dimuka Kalingundil terdesak hebat. Berkali-kali dia hantamkan lengannya ke arah lawan namun Bergola Wungu berkelit sangat cepat. Dengan penasaran Kalingundil coba
menyampoki senjata lawan dengan kedua lengannya.
”Ha... ha... lekaslah minta tobat pada Tuhan atas kesalahan-kesalahanmu, Kalingundil! Sebentar lagi kepalamu akan menggelinding!” ejek Bergola Wungu.
Geram Kalingundil bukan alang kepalang. ”Kita akan lihat siapa yang bakal meregang nyawa lebih dahulu kunyuk berewok!”, balasnya mengejek.
Kalingundil berseru keras, ”Terima senjata rahasiaku ini, kunyuk!”
Ratusan jarum hitam kemudian menggebubu menyerang Bergola Wungu tapi dengan satu kali putaran golok saja senjata rahasia itu gugur semua ke tanah!
”Hebat! Hebat…. hebat!” terdengar suara dari jurusan barat. Orang yang bicara itu jauhnya masih sekitar seratus tombak. Namun begitu suaranya berakhir serentak itu pula dia sudah berada di tempat pertempuran itu!
Dapat dibayangkan hebatnya ilmu lari orang itu.
”Hebat memang hebat, Bergola Wungu! Tapi mungkin kau tidak tahu bahwa manusia itu adalah bagianku!”
Baik Bergola Wungu maupun Kalingundil sama lompatkan diri dari kalangan pertempuran. Bagi Kalingundil ini adalah satu keuntungan karena saat itu dirinya terdesak. Keduanya memandang pada orang yang berdiri di bawah pohon. Kalingundil kerutkan kening sedang Bergola Wungu katupkan rahang rapat-rapat begitu kenal pendatang baru itu!
”Kalingundil! Kau tak perlu pandang aku dengan kerut jidat segala! Dimana manusia bernama Mahesa Jenar?!”
”Orang muda bermulut besar, kau siapa?!” bentak Kalingundil.
”Ditanya malah menanya! Sialan betul!”, gerendeng Rangga Geblek.
”Tujuh belas tahun yang silam kau bersama Mahesa Jenar telah membunuh Ranamaya, bapakku!
Juga membunuh ibuku dan Jarot Karsa!
Apa kau punya otak masih sanggup mengingatnya?!”
Kalingundil merutuk dalam hati. Apakah manusia ini juga hendak membalaskan dendam kesumatnya seperti Bergola Wungu? Melihat kepada tenaga dalam yang menyertai suaranya tadi Kalingundil sudah dapat mengukur kehebatan manusia ini. Hatinya mengeluh!
Melayani Bergola Wungu saja dia sudah kepepet, apalagi menghadapi dua lawan sekaligus!
”Apa maumu orang muda?!”
”Apa mauku….?!” Rangga tertawa bergelak.
Nilamsuri yang merasa cemas segera mengetengahi dengan berkata, ”Rangga…. dia adalah ayahku!”
”Aku tahu adik manis…,” dan si pemuda tertawa lagi. Dalam tertawanya itu masih bisa dia mengingat kemesraan dan kebahagiaan hidup yang dirasakannya bersama gadis itu di
dangau di tengah sawah tadi malam.
__ADS_1
”Karena itulah aku berbaik hati datang ke sini hanya untuk meminta tangan kanannya saja!”
”Rangga!” muka Nilamsuri menjadi pucat.
Bergola Wungu sendiri tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Rangga Geblem bukan omong kosong belaka. Dia telah melihat kehebatan pemuda rambut gondrong ini!
Sebaliknya Kalingundil keluarkan tertawa membahak. ”Kurasa kau masih pantas untuk ******* sama kau punya ibu!”, ejeknya.
”Kata-kata itu cukup lucu, Kalingundil! Aku senang pada manusia-manusia yang suka bicara lucu!” Rangga Geblek melangkah mendekati Kalingundil.
Nilamsuri melompat ke muka hendak menahan si pemuda tapi pada saat itu pula dari samping Bergola Wungu yang sejak lama menahan kegeramannya terhadap Kalingundil, maka ketika melihat anak musuh bebuyutannya itu melompat ke muka, tanpa tunggu lebih lama segera ditebaskan golok panjangnya!
Nilamsuri melengking!
Tubuhnya tercampak ke tanah. Dadanya robek besar. Darah
menyembur!
Bergola Wungu yang melihat tidak adanya kesempatan baginya untuk turun tangan terhadap Kalingundil segera lari ke lereng bukit pekuburan dan berseru:
”Manusia bernama Rangga Geblek!
Antara kita masih ada sedikit urusan!
Kalau kau merasa punya nyali untuk meneruskan, aku tunggu di Gua Nagreg!”
”Setan alas betul!” maki Rangga Geblek. Dipukulkannya tangan kanannya ke arah lereng bukit pekuburan. Angin laksana badai menderu dahsyat. Batu-batu nisan dan tanah pekuburan beterbangan. Pohon-pohon bertumbangan. Semak belukar diterabas gundul!
Tapi Bergola Wungu sudah lenyap dibalik bukit!
Rangga Geblek putar kepala dan dia memaki lagi ketika melihat Kalingundil melarikan diri.
”Boleh saja lari Kalingundil! Tapi tinggalkan lenganmu dahulu!”
Sekali pemuda itu melompat ke muka maka dia berhasil menyusul Kalingundil. Tibatiba Kalingundil berbalik, cabut keris di pinggang dan tusukkan ke perut Rangga Geblek!
Serangan yang dilancarkan dengan kalap serta karena ketakutan itu tidak mengenai sasarannya. Sebaliknya yang diserang cepat gerakkan tangan kanannya.
”Kraak”!
Kalingundil melolong. Tangan kanannya sebatas bahu tanggal. Tulangnya copot!
Daging dan otot serta urat-urat berserabutan mengerikan sekali!
Laki-laki itu macam babi celeng seradak seruduk kian kemari. Dia hendak lari lagi.
”Eee…. tunggu dulu Kalingundil! Kenapa terburu-buru kabur?! Terima dulu gambar kenang-kenangan ini!”
Habis berkata begitu Rangga Geblek benturkan tapak tangan kanannya ke jidat Kalingundil!
Pada kulit jidat laki-laki ini maka terpampanglah lukisan telapak
tangan berikut lima jari dengan gambar naga trisula pada bagian tengahnya!
Kalingundil seradak seruduk lagi macam babi celeng!
Darah berceceran dari luka di tangannya. Rangga Geblek tertawa mengekeh. Diperhatikannya laki-laki itu berlari macam dikejar setan! Tangan kirinya memutar-mutar lengan Kalingundil yang masih dipegangnya.
Tiba-tiba dilemparkannya potongan lengan itu. Laksana anak panah potongan lengen itu melesat dan menghantam punggung Kalingundil, membuat laki-laki itu tergelimpang
menelungkup di tanah, tapi segera bangkit lagi dan lari lagi!
Rangga Geblek hentikan gelaknya ketika telinganya mendengar suara erangan Nilamsuri. Cepat didekatinya tubuh gadis itu. Dia berlutut di tanah. Matanya menyipit melihat luka besar di dada si gadis. Nyawa Nilamsuri tak mungkin di tolong lagi. Dibopongnya gadis itu, dibawanya ke tempat teduh dan dibaringkannya.
”Rangga….” Nilamsuri membuka kedua matanya yang telah menjadi sayu itu. ”Rangga…. peluk aku….,” pintanya.
Rangga Geblek merangkul gadis itu.
”Cium aku…. Rangga….”
Si pemuda mencium pipi Nilamsuri. Lalu mengecup bibirnya. Bibir itu kesat dan dingin kini, tidak basah dan hangat seperti malam tadi. Nafas Nilamsuri lambat dan satusatu. Sinar matanya semakin pudar.
”Umurku untuk mengenalmu hanya sampai di sini, Rangga….” bisik Nilamsuri.
”Aku akan obati lukamu, Nilam. Kau akan sembuh….” kata Rangga pula menghibur.
Nilamsuri tersenyum. Bersamaan dengan memberkasnya senyum itu di bibirnya maka saat itu pula rohnya lepas meninggalkan tubuh.
Pendekar muda dari Gunung Ciremai hela nafas panjang. Hatinya beku menyaksikan kematian gadis itu. Semalam Nilamsuri masih dirangkulnya, masih dirabanya…. tapi kini tubuh itu tiada akan memberikan apa-apa lagi kepadanya. Bahkan kehangatanpun tidak karena saat itu tubuh Nilamsuri berangsur menjadi dingin.
Rangga menghela nafas panjang sekali lagi. Disibakkannya bagian pakaian yang robek di dada gadis itu. Pada bagian kulit dada yang masih utuh, tepat di atas buah dada sebelah
kiri si gadis, dengan pergunakan ujung telunjuk jari tangan kanannya, Rangga menggurat gambar trisula naga langit.
Disandarkannya tubuh tanpa nyawa itu ke batang pohon dengan hati-hati. Lalu melangkahlah pendekar ini meninggalkan tempat itu. Dan seperti tak pernah terjadi apaapa, seperti tak satupun yang barusan dialaminya, dari sela bibir pemuda ini terdengarlah suara siulan.
Siulan melagukan nyanyi tak menentu….
__ADS_1