PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
NILAMSURI (2)


__ADS_3

Nilamsuri terus melangkah beberapa jauhnya ke hulu sungai, melewati laki-laki itu, untuk dapat melihat apa yang tengah dilakukannya.


Nilamsuri masih belum dapat melihat paras laki-laki berambut gondrong itu. Tapi dari tempatnya berdiri saat itu dapat


disaksikannya bahwa bau harum yang membuat titik seleranya itu disebabkan oleh seekor ikan besar yang dipanggang oleh laki-laki itu dan kini tengah digerogotinya dengan lahap!


Ikan panggang itu masih mengepulkan hawa hangat. Yang tidak dimengerti sama sekali oleh Nilamsuri ialah bahwa di atas batu itu di mana laki-laki itu duduk atau ditepi sungai sama


sekali tidak dilihatnya bekas-bekas perapian untuk membakar ikan yang kini tengah dimakan dengan lahap oleh si rambut gondrong!


Nilamsuri berpikir sejurus. Kemudian berserulah dia ke tengah sungai.


”Saudara! Apa kau melihat seseorang lewat sekitar sini?!”


Laki-laki di tengah sungai tidak menjawab. Malah menolehpun tidak dan dengan lahapnya terus saja dia makan ikan panggang itu.


”Saudara!”, seru Nilamsuri sekali lagi.


Kali ini orang itu palingkan kepala. Dan Nilamsuri terkesiap sejenak karena tak menyangka kalau si rambut gondrong ini nyatanya adalah seorang pemuda bertampang keren!


Meski keren tapi paras itu membayangkan pula paras anak-anak dan lucu!


”Eh…. kau bicara sama aku?” tanya pemuda yang asyik menggerogoti ikan panggang itu.


”Ya! Aku tanya apa kau lihat seseorang lewat di sini?!” kata Nilamsuri pula.


”Laki-laki atau perempuan?” tanya si rambut gondrong.


”Laki-laki….”


”Orangnya sudah tua apa masih muda….?”


”Kurang jelas. Cuma dia berpakaian putih-putih....”


Si rambut gondrong melemparkan kerangka ikan yang habis dimakannya ke dalam sungai. Kemudian dipandanginya pakaiannya sendiri.


”Eh, aku juga berpakaian putihputih….,” katanya. ”Kalau begitu pastilah aku yang kau cari!”. Pemuda ini garuk rambutnya dan tertawa.


Sikap dan ucapan pemuda ini agak mengesalkan Nilamsuri. Hatinya bimbang untuk memastikan bahwa orang yang dikejarnya adalah pemuda itu. Karena tampangnya meski keren tapi seperti kanak-kanak.


”Eh, kenapa diam?!” tanya pemuda itu. ”Aku tahu…. aku tahu….,” katanya.


”Tahu apa?”


”Aku tahu kau sampai ke sini karena mencium harumnya bau ikan panggangku! Lalu kau berpura-pura tanya seseorang!


Kenapa musti pura-pura dan malu-malu? Kalau doyan ikan


panggang silahkan datang kemari. Aku masih ada seekor lagi!”


”Saudara! Jangan bicara seenaknya!”


”Seenaknya bagaimana?!”


”Aku betul-betul mencari seseorang! Dan aku tidak butuh sama ikan panggangmu!”


”Oh…. begitu….?”. Pemuda itu manggut-manggut. Lalu katanya,


”Kalau aku tahu tentang orang yang kau cari itu, kau mau persen aku apa?”


”Apa saja yang kau maui….”, jawab Nilamsuri tanpa pikir panjang karena dia betulbetul ingin lekas-lekas dapat mengejar orang yang dicarinya tadi.


Si pemuda tertawa mengekeh dan tercekik serta batuk-batuk ketika ikan panggang yang dimakannya menyekat tenggorokannya.


”Kalau begitu….,” kata pemuda rambut gondrong itu dengan masih tertawa serta batuk-batuk, ”aku mau dirimu saja saudari.”

__ADS_1


”Pemuda ceriwis! Kutampar kau punya mulut baru rasa!”


”Lho…,” pemuda itu melongo macam orang bodoh. ”Kenapa kau jadi marah?!” tanyanya.


Benar-benar kesal jadinya Nilamsuri. Dikatupkannya mulutnya rapat-rapat menahan rasa kesal itu.


”Eh, sekarang kau tutup mulut. Lucu! Kau toh belum jawab pertanyaanku, saudari. Aku minta dirimu. Boleh….?”


Rasa kesal di diri Nilamsuri kini berubah menjadi amarah yang meluap. Parasnya kelihatan merah. Sekali lompat dia sudah berada di hadapan pemuda itu, di atas batu besar.


”Pemuda edan, kau mau mampus?!”


Si gondrong garuk-garuk kepala. “Aku tidak mengerti saudari, aku benar-benar tidak mengerti. Menapa kau jadi marah-marah begini samaku?!”


”Bicaramu terlalu kurang ajar, tahu?!”


Pemuda itu goleng kepala dan angkat bahu. Lalu tertawa sambil memandangi paras Nilamsuri. ”Kau tahu saudari…,” katanya, ”kalau kau marah-marah dan membentak macam tadi hem…. parasmu tambah cantik!”


”Plak!”


Tamparan tangan kiri Nilamsuri mendarat di pipi si pemuda. Pemuda itu meringis kesakitan. Penyesalan timbul di hati Nilamsuri melihat bagaimana pipi yang ditamparnya itu


kelihatan menjadi sangat merah.


“Kau jahat sekali!,” kata si pemuda pula. ”Aku tanya sama kau, kau mau persen aku apa kalau aku tahu orang yang kau cari itu. Dan kau jawab apa saja mauku! Lantas aku bilang mau dirimu! Apa aku salah….?!”


Nilamsuri menggigit bibirnya. Dia tahu ucapan pemuda itu betul. Dia tahu kalau tadi dia telah ketelepasan bicara.


“Saudara…,” kata Nilamsuri.


Tapi si pemuda memotong. “Sudahlah. Aku tak sudi bicara sama kau. Orang mau menolong dikasih tamparan. Baru mau menolong. Kalau sudah ditolong aku akan dapat tendangan!”


Dan Nilamsuri menggigit bibir lagi. Tanpa berkata apa-apa dia melompat ke tepi sungai kembali.


Nilamsuri balikkan badan.


”Sebenarnya ada apa kau mencari laki-laki itu?!”


”Itu urusanku sendiri!”, jawab Nilamsuri.


”Laki-laki itu kekasihmu agaknya?”


”Kau mau tamparan sekali lagi?!”


Si pemuda tertawa. ”Dunia serba aneh,” katanya seakan-akan pada diri sendiri.


“Mustinya laki-laki yang cari perempuan. Ini perempuan yang cari laki-laki….!”


Dan digaruknya kepalanya.


Dalam pikiran Nilamsuri terbit prasangka bahwa tentunya pemuda itu seorang yang berotak miring. Karenanya tanpa ambil perduli lagi dia segera tinggalkan tempat itu.


”Hai saudari! Kau tidak mau ikan panggang ini?!”


Nilamsuri terus saja menyusuri sungai menuju ke hulu. Dia hampir keluar dari kelokan sungai ketika didengarnya lagi suara pemuda itu berseru. Jarak antara mereka saat itu sudah puluhan tombak.


Kalau saja Nilamsuri mau berpikir sejenak dia akan segera tahu kalau pemuda itu bukan berteriak biasa tapi dengan menggunakan tenaga dalam. Karena dalam jarak sejauh itu bagaimanapun kerasnya seseorang berteriak namun apa yang


diucapkannya tak akan terdengar dengan jelas.


”Saudari! Jangan pergi ke sana! Saudari, kembalilah!”


Nilamsuri melangkah terus.


”Saudari! Hai! Disebelah sana banyak buayanya! Kembalilah!”

__ADS_1


Tapi Nilamsuri jalan terus. Si pemuda goleng-goleng kepala lalu turun ke air. Nyatanya sungai itu dalamnya hanya sebatas lutut. Begitu sampai di seberang si pemuda cepat lari menyusul Nilamsuri..


“Saudari kau mau kemana?!”, tanya pemuda itu seraya pegang bahu Nilamsuri.


“Kau jangan kurang ajar, saudara!” bentak Nilamsuri karena marah sekali bahunya dipegang seenaknya.


“Kau mau kemana?”


“Perduli apa kau?!”


”Jangan kesana saudari. Banyak buaya lagi berjemur….”. dan belum habis pemuda ini bicara tahu-tahu dua ekor buaya besar menyeruak dari belakang semak belukar di tepi sungai.


”Aku bilang apa! Celaka….! Saudari larilah!” Pemuda itu melompat ke belakang.


Sementar itu kedua ekor buaya dengan cepat meluncur menyerang Nilamsuri. Gadis itu cabut pedangnya. Sekali menebas puntunglah sebagian dari mulut buaya yang hendak


menerkamnya. Binatang ini menggelepar-gelepar di pasir. Buaya kedua mengalami nasib yang sama. Bau anyirnya darah yang masuk ke dalam air sungai mengundang munculnya


beberapa ekor buaya lagi. Binatang-binatang itu menyelusur ke tepi sungai dan berlomba menyergap Nilamsuri.


Tapi si gadis dengan permainan pedangnya yang mengagumkan


berhasil menewaskan semua buaya itu!


Si pemuda geleng-geleng kepala dan leletkan lidah. ”Hebat! Hebat sekali kau saudari!”, katanya memuji. ”Kau tentu seorang jago silat! Sejak lama aku ingin belajar silat!


Bersediakah kau mengambil aku jadi murid?!”


”Jangan ngaco!”, bentak Nilamsuri.


”Aku tidak ngaco. Aku bicara sungguhan….”.


”Buka lagi mulutmu!”, bentak Nilamsuri. Pedangnya masih merah oleh darah buayabuaya tadi siap ditetakkannya ke kepala pemuda itu. Tentu saja pemuda ini cepat-cepat melompat ke samping.


”Saudari, aku betul-betul ingin belajar silat padamu….”


Nilamsuri pencongkan hidung. ”Tidak malu merengek macam anak kecil!”, ejeknya.


Si pemuda agaknya jadi kesal, lalu menyahuti. ”Kau sendiri tidak malu pakai pakaian laki-laki!”


Memang saat itu Nilamsuri mengenakan baju dan celana laki-laki berwarna putih yakni pakaian yang tadi ditemuinya di atas sebuah kuburan. Dan parasnya menjadi kemerahan. Cepat-cepat dia berlalu dari situ.


”Saudari…. Tunggu….!”


”Apalagi?!”


”Kalau kau tak mau ambil aku jadi muridmu, tak apa. Tapi ada satu permintaanku yang lain…. Boleh aku tahu namamu?”


”Manusia macammu tak perlu tahu namaku!”


”Ah saudari, kau sombong betul. Beri tahu namamu, nanti kuberi tahu namaku….”


”Siapa sudi tahu namamu segala?!”


”Namaku Rangga Geblek saudari…. Harap kau mau kasih tahu kau punya nama….”


”Rangga Geblek?” ujar Nilamsuri.


Pemuda itu mengangguk.


”Pantas,” kata Nilamsuri pula.


”Pantas kenapa?” tanya Rangga.


”Pantas lagakmu seperti orang edan!” dan habis berkata begitu Nilamsuri segera berlalu.

__ADS_1


__ADS_2