
“Ho ho.... Mau merat ke mana?!” tanya Bladra Wikuyana. “Aku sudah bilang, sekali masuk ke sini musti lepas nyawa di sini!”
Rangga Geblek tak berikan sahutan. Kalau saja ada sepuluh manusia jahat sesakti Bladra Wikuyana ini di atas jagat pastilah dunia akan tenggelam dalam kekalutan pikirnya.
Ketika lawan menyerang kembali, Pendekar Trisula Maut sambut dengan pukulan Perisai Badai Melanda Samudera. Untuk beberapa ketika lamanya serangan tongkat Bladra Wikuyana terbendung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Rangga Geblek untuk melompat ke udara, menukik kembali dan lancarkan pukulan Maling Melempar Batu.
Dentuman yang dahsyat terdengar. Rangga terpaksa turun ke pelataran batu karang kembali karena pukulannya kena disapu aliran angin hitam tongkat lawan. Pemuda ini kepepet ke dinding jurang sebelah Timur!
Pemuda ini merutuk sendiri dalam hatinya. Dalam merutuk itu tongkat lawan menyapu di atas kepalanya. Rangga lompat ke samping. Tongkat menghantam dinding karang sampai hancur berantakan!
Ketika Bladra Wikuyana balikkan tubuh siap untuk menyerang
kembali, langkahnya tertahan. Kedua matanya yang merah memandang tak berkedip pada senjata berbentuk Trisula yang ada di tangan lawannya.
Bergidik juga Angin Topan Dari Barat melihat senjata tersebut. Dua puluh tahun yang silam dia pernah saksikan sendiri kehebatan Trisula Maut Naga Langit. Kini apakah sanggup dia menghadapinya?!
“Angin Topan Dari Barat,” Pendekar Trisula Maut buka mulut. “Baiknya kau lekas-lekas minta tobat atas kejahatanmu selama ini. Sebentar lagi tentu sudah tak keburu.... !”
Angin Topan Dari Barat atau Bladra Wikuyana tindih rasa jerihnya dengan tertawa bergelak. Tahu akan kehebatan senjata di tangan lawan maka dia segera menyerang lebih dahulu!
Sinar hitam bergulung-gulung ke arah Pendekar Trisula Maut.
Pemuda ini sambut serangan lawan dengan pergunakan jurus: Orang Gila Mengebut Lebah. Trisula Naga Langit di tangannya berkelebat cepat ke kiri dan ke kanan, mengeluarkan suara berdengung macam suara ribuan tawon!
Terkejutnya Bladra Wikuyana bukan kepalang ketika merasa bagaimana kini tongkat saktinya tak dapat lagi bergerak leluasa, tertindih, terbendung dan terpukul angin Trisula di tangan lawan!
Bladra Wikuyana percepat permainan tongkatnya dan menyerang dengan jurus-jurus lihay mematikan. Namun tetap saja tak dapat ke luar dari tindihan senjata lawan. Dan kini sesudah bertempur di jurus yang kesembilan puluh delapan maka mulailah jago tua ini terdesak hebat!
Diam-diam Bladra Wlikuyana cucurkan keringat dingin. Ditahannya sedapatdapatnya serangan senjata lawan. Satu kali tongkatnya beradu dan tak ampun ujung tongkat terbabat puntung!
Bladra Wikuyana tak berani lagi bentrokan senjata!
Matanya kini liar mencari kesempatan untuk kabur. Dia menggeram karena telah menyuruh murid-muridnya
menurunkan tangga gantung karena tangga dari tali itulah satu-satunya jalan untuk kabur ke luar jurang batu karang!
Karena pikirannya bercabang dua, satu memikir jalan untuk lari, kedua memusatkan pada serangan lawan maka pertahanan Bladra Wikuyana sering-sering melompong. Hal ini
bukan tak dilihat oleh Pendekar Trisula Maut, kalau saja dia mau maka sudah sejak tadi dia melabrak manusia berewok bertangan dan kaki buntung itu.
Dari mulut Pendekar Trisula Maut mulai terdengar siulan membawakan lagu tak menentu!
Sambil kirimkan bacokan ke pinggang, Rangga putar gagang Trisula. Ketiga ujung Trisula membuat setengah lingkaran, salah satu dari padanya memapas pergelangan tangan kanan Bladra Wikuyana yang terbuat dari kayu!
__ADS_1
Tangan palsu yang ujungnya berbentuk arit itu kutung dan lepas! Mental ke udara!
Bladra Wikuyana melompat ke belakang. Mukanya pucat pasi. Dia mengerang karena aliran aneh yang berhawa panas dari senjata lawan merembes melalui kutungan tangan kayu ke
dalam tubuhnya!
“Cuma lengan kayumu saja. Angin Topan Dari Barat! Kenapa musti pucat macam mayat?” Rangga tertawa gelak-gelak. “Sekarang aku minta kaki kayumu!”
Habis berkata begitu. Rangga Geblek bersiul dan melompat ke muka. Trisulanya membabat ke kepala Bladra Wikuyana. Jago tua ini yang tak berani lakukan bentrokan senjata cepat-cepat melompat berkelit dan lancarkan serangan balasan dengan pukulan tangan kosong yang menimbulkan angin hebat.
Namun dengan Trisula Naga Langit di tangan, segala pukulan tangan kosong bagaimanapun hebatnya dari manusia berewok yang bergelar Angin Topan Dari Barat itu tiada artinya lagi!
Trisula Naga Langit membacok ke bahu, berbalik merambas pinggang, menderu lagi ke kepala membuat tokoh silat tua dan berpengalaman luas itu menjadi sangat sibuk. Dan ketika
tiba-tiba sekali senjata lawan membabat ke bawah, dia tak punya kesempatan lagi untuk mengelak!
Untuk kedua kalinya trisula membabat anggota badannya yaitu kaki kayu Bladra Wikuyana sebelah kanan!
Meski huyung-huyung tapi laki-laki ini masih sempat lompatkan
diri ke luar dari kalangan pertempuran. Mukanya pucat sekali dan keningnya penuh keringat!
Di dalam dadanya menggelegak rasa benci, dendam dan nafsu untuk membunuh!
Dengan tahan tubuhnya pada ujung tongkat, Bladra Wikuyana pejamkan mata. Mulutnya komat kamit.
bertobat dan hidup di jalan yang benar, tidak lagi berbuat kejahatan tapi mempergunakan ilmumu buat menolong sesama manusia. Bagaimana...?!”
Bladra Wikuyana buka sepasang matanya sedikit. Mulutnya berkemik mengejek.
“Jangan kira kau sudah menang bocah hijau! Aku masih jauh dari kalah! Lihat mukaku bocah hijau... lihat mukaku.... “
Mata Rangga Geblek menyipit. Ketika diperhatikannya tampang
Bladra Wikuyana terkejutlah dia. Kepala tokoh silat itu kini menjadi enam dan berwarna hitam, gigi-giginya merupakan caling-caling yang mengerikan, bola-bola matanya besar sedang lidahnya panjang menjulai sampai ke dada. Dari dua belas mata yang ada di enam kepala itu memancar sinar hijau.
“Ah... ilmu siluman macam begini hanya pantas untuk menakut-nakuti anak kecil!” ejek Rangga Geblek. Disapukannya Trisula Naga Langit ke muka.
Angin deras membuat Bladra Wikuyana terpelanting tapi muka silumannya masih juga seperti tadi malah semakin menyeramkan.
Tiba-tiba dengan menggereng keras laksana harimau terluka menerjanglah tokoh silat itu didahului oleh dua belas sinar hijau yang ke luar dari mata silumannya!
“Tua bangka geblek! Dikasih ampun malah keluarkan Ilmu yang bukan-bukan!” rutuk Rangga.
__ADS_1
Ditunggunya beberapa detik. Sesaat kemudian berkiblatlah trisula mautnya dari atas ke bawah!
Angin Topan Dari Barat terkapar di pelataran batu karang tanpa berkutik, juga tanpa menjerit. Kepalanya sampai ke dada terbelah dua. Darah membanjir!
Tamatlah riwayat tokoh silat dari golongan hitam itu yang selama hidupnya telah menebar benih kejahatan dan mendidik manusia-manusia untuk disesatkan!
Rangga Geblek garuk rambut gondrongnya dan meludah. Jijik juga dia melihat darah yang membanjir dari tubuh Bladra Wikuyana. Dipandangnya Trisula Maut Naga Langit di tangan kanannya. Trisula itu berlumuran darah. Pemuda ini goleng-goleng kepala.
“Trisula hebat... trisula hebat....” katanya. Kemudian sekali hembus saja maka noda darah pada Trisula pun lenyaplah! Senjata sakti pemberian Eyang Ratih Parwati itu segera
dimasukkannya ke balik pinggang kembali.
Selama setengah jam Rangga Geblek memasuki dan menggeledah isi Nagreg. Di sini ditemuinya banyak sekali persediaan makanan dan uang serta barang-barang perhiasan.
Menurut pikiran Rangga uang serta perhiasan itu mungkin sekali hasil rampokan yang ditimbun menjadi milik Perguruan Gua Nagreg. Wiro mengambil sejumlah uang dan perhiasan
sekedar bekal di perjalanan. Kemudian pemuda ini duduk di sebuah kursi besar dan menikmati makanan yang ada di dalam gua itu. Waktu dia ke luar dari gua dilihatnya langit sudah
sangat merah kekuningan tanda matahari hampir tenggelam. Pemuda ini segera mencari tangga tali.
Tangga tali itu kemudian dilemparkannya pada patok runcing batu karang di tepi jurang sebelah atas dan mulailah pendekar ini menaiki anak tangga demi anak tangga menuju ke atas.
Dari atas sebelum berlalu dilayangkannya pandangannya untuk terakhir kali ke dalam jurang batu. Duapuluh enam mayat bergelimpangan di mana-mana. Pemuda ini garuk dan golenggoleng kepala. Dan mulailah dia melangkah sepembawa kakinya. Malam tiba nanti entah di mana dia akan berada. Suara siulannya mengumandang di belantara batu-batu karang. Sambil terus berjalan. bernyanyilah pendekar ini:
Langit merah angin silir....
Surya tenggelam di ufuk Barat....
Malam yang datang tentu dingin dan gelap....
Berjalan seorang diri memang tidak enak....
Tapi selalu diikuti orang lain juga tidak enak....
Nyanyian ini tiada menentu nadanya dan diulang-ulang sampai beberapa kali. Akhirnya disatu penurunan curam Pendekar Trisula Maut hentikan nyanyiannya dan duduk di sebuah
unggukan batu.
Sambil tertawa-tawa berkatalah dia: “Manusia yang ikuti aku kenapa sembunyi di belakang batu? Coba ke luar unjukkan jidat, apa betul manusia atau hantu...?”
Rangga memandang pada celah batu karang yang tadi dilewatinya. Suasana hening saja.
“Ah, manusia di belakang batu tentu seorang pemalu,” katanya. “Biarlah aku sendiri yang lihat tampangnya!”
__ADS_1
Habis berkata begitu Rangga Geblek hantamkan tangan kanannya ke arah celah batu. Sebagian batu terguling ke bawah. Dan dari balik batu terdengar seruan tertahan!
Apa yang tidak diduga oleh Pendekar Trisula Maut ternyata bahwa penguntitnya sejak dari jurang Gua Nagreg tadi adalah seorang gadis!