PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
SI CAWAT GILA


__ADS_3

Ketika Dewa Pedang dan semua anggota partai serta para hadirin memandang ke benda yang menggelinding itu, maka terkejut dan gemparlah semuanya, karena benda itu bukan lain daripada kepala manusia.


Kepala manusia itu berambut gondrong awut-awutan. Mukanya berkerinyut, kening sangat lebar, kedua mata membeliak besar, mulut menganga. Pada lehernya yang bekas terbabat putus kelihatan darah yang telah membeku coklat kehitaman. Sungguh satu pemandangan yang mengerikan untuk disaksikan. Melihat kepada keadaan muka dan kepala itu serta baunya yang busuk sekali, nyatalah bahwa manusia pemilik kepala itu telah menemui ajalnya beberapa hari yang lewat. Mungkin satu minggu bahkan mungkin pula lebih dari itu.


Dewa Pedang sendiri yang menyaksikan kepala manusia itu jadi mengerenyitkan kening. Dia rasa-rasa kenal atau pernah melihat manusia tersebut. Pada detik dia coba mengingat-ingat maka pada saat itu pula sesosok tubuh manusia berkelebat dan berdiri di atas panggung sambil tertawa tiada hentinya. Manusia yang datang ini adalah seorang kakek- kakek tua renta berbadan kurus kering. Tulang-tulang tangan serta kakinya kecil sekali, sedang tulang dada dan keseluruhan tulang-tulang iganya kelihatan dengan jelas. Mukanya sangat cekung, mata sipit. Keanehan manusia ini selain hanya mengenakan cawat saja untuk menutupi tubuhnya maka rambutnya yang panjang putih dijalin satu ke belakang macam perempuan. 


Melihat kedatangan manusia ini, untuk kesekian kalinya keadaan di tempat itu menjadi gempar. Karena siapakah yang tak kenal dengan seorang tokoh silat yang bergelar "Si Cawat Gila"?! 


Tokoh ini bukan saja termasyhur karena ketinggian ilmunya tapi juga karena otaknya yang miring. Buktinya begitu datang dia telah menggemparkan suasana dengan sebutir kepala manusia. Sampai selama satu kali sepeminuman teh, Si Cawat Gila masih juga berdiri di panggung itu dengan tertawa panjang gelak-gelak. 


Dewa Pedang selaku tuan rumah dan sebagai seorang tokoh silat yang telah memaklumi manusia bagaimana adanya tamu yang ada di atas panggung itu, tetap duduk di tempatnya dan menunggu sampai Si Cawat Gila menghentikan tertawanya. 


Ketika Si Cawat Gila mulai reda tertawanya maka bertanyalah Dewa Pedang: "Kakek Cawat Gila, gerangan apakah yang telah membawamu datang ke sini dengan cara begini rupa ..?" 


Si Cawat Gila sekaligus menghentikan tertawanya. Dikucak-kucaknya kedua matanya, lalu memandang lekat-lekat pada Dewa Pedang, setelah itu memandang berkeliling pada para hadirin yang ada. Pandangannya begitu angker menggetarkan. 


Kemudian tokoh silat berotak miring ini memanggut-manggutkan kepalanya beberapa kali, mendongak sebentar ke langit lalu berkata: "Ah ... jadi betul rupanya aku telah sampai di kaki Gunung Merapi. Betul rupanya aku telah sampai di tepi telaga tempat peresmian berdirinya Partai Telaga Wangi ...." 


Orang tua ini memandang lurus-lurus pada Dewa Pedang, lalu dengan seenaknya tudingkan jari telunjuknya tepat-tepat ke hidung Ketua Partai Telaga Wangi itu dan berkata setengah membentak: "Kau ya manusianya yang bernama Brajaguna bergelar Dewa Pedang?!" 


“Ya" menjawab Dewa Pedang. 


Dan Si Cawat Gila tertawa lagi gelak gelak. "Tampangmu macam manusia biasa, bahkan mirip kunyuk! Kenapa pakai gelar Dewa segala? Apa kau keturunan atau titisan Dewa, huh?!" 


Mendengar ejek penghinaan ini maka melompatlah ke muka dua orang Pengurus Partai yaitu Klabangsongo dan Rah Gundala. 


”Kerempeng tua bangka! Kuharap cepat minta maaf atas mulutmu yang bicara seenaknya itu!" membentak Rah Gundala. Suaranya parau garang. Manusia ini berbadan gemuk pendek dan berkepala sulah. 


"Monyet gundul yang tak tahu tingginya gunung dalamnya laut, kau minggirlah! Aku tak cari urusan denganmu!". Habis berkata begini Si Cawat Gila lambaikan tangan kanannya. 

__ADS_1


"Wuut!" 


Gelombang angin laksana badai melanda tubuh Rah Gundala. Demikian hebatnya sehingga Rah Gundala mental dari panggung, jatuh di antara para hadirin dan muntah darah lalu pingsan. 


"lblis tua keparat!" maki Klabangsongo. 


Pengurus Partai dari Selatan itu segera cabut pedangnya dan melancarkan serangan dahsyat. Namun dengan mudah Si Cawat Gila mengelak ke samping. Sekali tangan kanannya dihantamkan ke muka, maka seperti Rah Gundala tadi, Klabangsongo pun mencelat ke luar panggung, tenggelam ke dalam telaga. Untuk kedua kalinya air telaga itu kelihatan merah oleh darah yang keluar dari mulut Klabangsongo. Dua orang anggota Partai segera pula terjun untuk menolong Klabangsongo. 


"Orang tua, lihat pedang!" 


Tiba-tiba terdengar seruan dan selarik sinar putih menderu di muka hidung Si Cawat Gila. Si Cawat Gila terkejut dan buru-buru melompat ke belakang. Yang menyerangnya ternyata adalah Jayengrana. Tentu saja Si Cawat Gila terkejut diserang demikian rupa. Namun ketika melihat siapa penyerangnya maka dia terlebih dahulu tertawa gelak-gelak. 


"Bagus ... bagus… Anaknya juga ingin mencari mampus! Bagus. Datang mencari biangnya, anak-anaknya unjukkan diri! Ha ... ha ... ha .... Jika masih ada anak-anaknya Dewa Pedang yang lain segeralah maju, biar kubikin kojor sekaligus!” 


Geram sekali, Jayengrana kembali menyerbu dengan pedangnya, sementara semua orang yang hadir menyaksikan dengan menahan nafas penuh tegang. Jika dua tokoh Partai Telaga Wangi dapat dirobohkan oleh Si Cawat Gila, sungguh sukar diduga sampai di mana ketinggian ilmu manusia aneh itu. Semua mata memandang tak berkedip ke atas panggung, sedang hati masing-masing bertanya-tanya gerangan apakah yang membuat Si Cawat Gila munculkan diri di situ, dan turun tangan sedemikian ganasnya. 


Sinar putih dari pedang Jayengrana bergulung-gulung mengurung Si Cawat Gila dari delapan penjuru. Suaranya menderu, sedang tubuh Jayengrana hanya tinggal bayangannya saja yang kelihatan. 


"Tak usah jual bacot di sini, Cawat Gila! Terima ini!", membentak Jayengrana. 


Pedang peraknya berkiblat membuat tiga rantaian ilmu pedang Partai Telaga Wangi yang sangat ampuh, yaitu "Tujuh Naga Menyambar Rembulan" disusul dengan "Naga Sakti Sabatkan Ekor" lalu "Ular Sanca Keluar Sarang Mematuk Gunung". 


"Jurus-jurus tak berguna? Buat apa dikeluarkan!" ejek Si Cawat Gila, lalu digesernya kaki-kakinya yang kurus kering itu, tubuh miring ke kiri, miring lagi ke kanan kemudian laksana harimau mendekam dan menyambarkan kuku-kuku kakinya, maka seperti itulah kedua tangan Si Cawat Gila menyambar ke depan dan tahu-tahu pedang Jayengrana sudah kena dirampas. 


Belum lagi habis terkejutnya pemuda ini, tangan yang lain dari si orang tua sudah menghantam kepala Jayengrana. Pemuda ini terpelanting delapan tombak di luar panggung, kepalanya hancur nyawanya lepas. Maka gemparlah keadaan di atas dan di bawah panggung. 


"Orang tua dajal!" terdengar bentakan perempuan. "Kau harus bayar kematian anakku dengan nyawa anjingmu!" 


Sinar putih bertabur ke arah kepala, pinggang dan kaki Si Cawat Gila. Dikejapan lainnya, dari kiri kanan berkelebat pula dua sosok tubuh manusia. Salah seorang dari padanya membentak: "Nyawamu harus lepas di sini juga bangsat kerempeng! Tubuhmu musti ***** oleh pedangku" 

__ADS_1


Perempuan yang membentak tadi bukan lain dari pada Suwita, isteri Dewa Pedang yang menjadi kalap melihat kematian anaknya. Sedang dua orang berikutnya ialah Indrajaya dan Bradjasastra, putera sulung dan putera bungsu Dewa Pedang. 


Kurang dari sekejapan mata maka tubuh Si Cawat Gila sudah terbungkus rapat oleh larikan-larikan dahsyat sinar ketiga pedang lawannya. Serangan-serangan ini hebatnya bukan olah-olah. Indrajaya dan Bradjasastra meski belum sempurna betul tapi sudah menguasai setiap ilmu silat yang diwariskan bapaknya, sedang Suwita sendiri di samping ilmu silat yang didapatnya dari Dewa Pedang, dia adalah seorang murid dari tokoh sakti di Pulau Klabat, yang nama tokoh itu mengandung rahasia besar dan sukar dipecahkan oleh kalangan persilatan. 


Menurut dugaan para hadirin yang bermata tajam dan luas pengalaman, paling lambat dalam dua jurus akan tamatlah riwayatnya Si Cawat Gila itu. Tapi keliru, Di luar dugaan malah terdengarlah kekehan Si Cawat Gila tiada hentinya sedang tubuh nya sendiri lenyap. “Ha ... ha ... ha .... Apakah ini peraturan Partai Telaga Wangi dalam dunia persilatan?! Mengeroyok tiga lawan satu?! Sungguh keji dan memalukan”, terdengar suara lantang Si Cawat Gila. 


"Untuk manusia anjing sedeng macammu tak usah pakai aturan persilatan segala!", balas membentak Indrajaya. Pedangnya diputar makin cepat dalam jurus-jurus yang benar-benar mematikan. 


Dewa Pedang adalah seorang tokoh silat berjiwa kesatria dan memegang teguh adat serta aturan persilatan. Meski hatinya sendiri panas serta geram bukan main melihat kematian puteranya, namun perasaannya itu bisa ditekannya sehingga dia tidak menjadi kalap seperti tiga orang lainnya itu. 


Dewa Pedang berdiri dari kursinya. Tangan kiri menekan ujung gagang pedang yang tergantung di sisi kirinya. "Suwita, Indra, Braja! Kalian bertiga mundurlah!" perintah Dewa Pedang. Suaranya keras dan penuh wibawa. 


Namun kali ini, agaknya kewibawaan itu tidak mempengaruhi diri ketiga orang yang tengah menyerang ganas Si Cawat Gila. Bahkan lndrajaya menyahuti: "Ayah, jangan banyak bicara tak karuan! Bangsat tua ini membunuh adikku! Apa aku sebagai kakaknya akan lepas tangan begitu saja?!" 


"Kataku kalian mundur!" teriak Dewa Pedang lebih keras dari tadi. 


"Kanda.. .." kata Suwita. 


Tapi ucapannya itu dipotong oleh Dewa Pedang: "Walau bagaimanapun kita harus pegang teguh aturan persilatan! Mundurlah!" 


Dengan hati gemas penuh dendam membara, namun dibentak dan diperintah sampai tiga kali begitu rupa, Suwita dan anak-anaknya akhirnya keluar juga dari kalangan pertempuran. 


Si Cawat Gila kelihatan berdiri di tengah-tengah panggung sambil tertawa-tawa. "Bagus kau perintahkan demikian Dewa Pedang. Seperempat jurus saja terlambat, ketiganya sudah jadi bangkai!" 


"Cawat Gila, antara kita tiada permusuhan! Karenanya aku tak melihat adanya alasan mengapa sampai kau membunuh puteraku!" 


Si Cawat Gila hentikan tertawanya. Matanya yang sipit dibesarkan sedikit, dikedip kedipkannya lalu tertawa lagi mengakak. 


"Kau katakan tak ada permusuhan? Huh ... apa otakmu sudah sinting?! Kau bilang tak ada alasan ? huh! Apa kau sudah lupa apa yang kau lakukan sekitar satu minggu yang lalu di Kertoragen?! Sialan betul! Kau telah membunuh, menebas batang leher Si Kuku lblis! Itu kepalanya kubawa sebagai bukti!" 

__ADS_1


Terkejutlah Dewa Pedang. Matanya melirik pada kepala manusia yang terhampar di lantai panggung dekat kakinya. Selewat satu minggu yang lalu Dewa Pedang memang pernah membunuh seorang kepala rampok yang berjuluk Si Kuku Iblis. Hal ini terjadi di satu rimba belantara, yaitu ketika Si Kuku lblis dan lima anak buahnya hendak merampok sebuah kereta barang yang lewat dalam hutan. Sewaktu kepala itu tadi dilemparkan oleh Si Cawat Gila di hadapannya, memang dia rasa-rasa kenal dengan paras itu, namun karena keadaannya yang sangat rusak serta berselimutan darah maka sukar lagi Dewa Pedang untuk mengenali siapa adanya kepala manusia itu.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2