PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
NILAMSURI


__ADS_3

Pembalasan dendam kesumat memang dahsyat.


Apalagi kini disertai dengan dorongan nafsu hewan yang meluap-luap. Keadaan Nilamsuri benar-benar sudah kepepet. Tenaganya sudah hampir habis. Empat pasang tangan


manusia menggerayang di seluruh tubuh yang tertelentang di atas sebuah makam tua.


”Ha….ha...ha! Tulang belulang kau punya ibu akan menyaksikan pelaksanaan hukum karma ini!” kata Bergola Wungu.


Nilamsuri hantamkan lututnya ke perut laki-laki itu ketika Bergola Wungu hendak mendatanginya dari atas. Tapi hantaman lutut yang tiada bertenaga sama sekali itu tiada terasa oleh manusia berewok itu!


”Keparat! Bunuh saja aku! Bunuh!”, teriak Nilamsuri.


”Kehormatanmu dulu, baru nyawamu!.” Bergola Wungu mengekeh.


Disaksikan oleh tiga anak buahnya yang juga menggerayangi tubuh gadis enam belas tahun itu, Bergola Wungu mulai melaksanakan niat terkutuknya. Runtuhlah harapan Nilamsuri untuk bisa selamatkan diri. Air mata meleleh di pipinya.


Namun nasib Nilamsuri tidak seburuk yang dibayangkannya saat itu. Satu bayangan putih berkelebat dari sebelah timur pekuburan yang tanahnya agak membukit. Dan tahutahu keempat orang yang mengerumuni Nilamsuri menjadi kaku tegang laksana patung batu!


Nilamsuri yang hanya merasakan sambaran angin serta gerayangan-gerayangan tangan pada tubuhnya berhenti dengan mendadak, membuka kedua matanya yang berkaca-kaca itu.


Terkejut sekali dan hampir tak percaya dia melihat bagaimana keempat manusia berewok itu masih berjongkok di sekelilingnya tapi mata mereka semua melotot dan tubuh mereka tegang kaku!


Gadis ini bangkit dengan cepat.


Apakah yang telah terjadi dengan keempat manusia itu?


Dia ingat pada desiran angin tadi. Mungkin ada manusia yang telah menolongnya?


Manusia yang mempunyai kesaktian luar biasa?


Diperhatikannya keempat laki-laki itu. Ternyata mereka tertotok urat besar di pangkal leher masing-masing. Atau mungkin

__ADS_1


keempatnya telah dicekik oleh setan kuburan?!


Peristiwa yang sangat aneh itu membuat Nilamsuri lupa akan keadaan dirinya sendiri saat itu. Dia memandang berkeliling. Matanya membentur segulung benda putih yang tergeletak di atas batu nisan sebuah kuburan. Benda ini adalah sehelai baju dan celana putih. Dan memandang pakaian itu sekaligus mengingatkan Nilamsuri pada keadaan dirinya. Tanpa perduli lagi siapa pemilik pakaian itu, tanpa ambil pusing lagi bagaimana pakaian itu bisa berada di atas kuburan tersebut si gadis langsung saja melompat, menyambar pakaian itu dan lari ke balik serumpun semak-semak. Dikenakannya pakaian itu cepat-cepat. Meski agak kebesaran sedikit, tapi pakaian itu memberi banyak pertolongan bagi Nilamsuri dan si gadis merasa sangat bersyukur.


Dia keluar dari balik semak-semak itu. Dan ketika terpandang olehnya keempat manusia yang masih berjongkok kaku di seberang sana maka meluaplah amarahnya. Mendidih darahnya. Disambarnya pedangnya yang tergeletak di tanah. Sinar pedang


berkiblat sekaligus menyambar ke arah kepala Bergola Wungu dan anak-anak buahnya.


”Tring!”


Sebutir kerikil sebesar ujung jari telunjuk membentur pertengahan pedang yang hendak merenggut nyawa keempat manusia berewok itu. Dan benturan batu kerikil ini membuat pedang di tangan Nilamsuri terdorong setengah tombak ke atas, lewat satu jengkal di atas kepala Bergola Wungu dan tiga orang lainnya itu!


Terkejut anak gadis Kalingundil ini bukan kepalang. Serentak dengan itu dia membentak dan memandang berkeliling.


”Manusia atau setan yang jadi biang kerok jangan sembunyi! Unjukkan diri!”


Tak ada yang menyahut. Tapi rerumpunan semak belukar di dekat pohon kamboja kelihatan bergerak. Dan Nilamsuri hantamkan pukulan tangan kosong ke arah semak belukar itu.


”Kurang ajar betul!”, maki Nilamsuri. ”Jika berani cari urusan, berani unjukkan diri!!”


Terdengar suara tawa bergelak. Suara tertawa itu datangnya dari balik pohon-pohon bambu di tepi pekuburan. Untuk kedua kalinya Nilamsuri lepaskan pukulan tangan kosong. Angin deras melanda pohonpohon bambu. Batang-batang bambu pecah, yang tercerabut dari akarnya segera tumbang sedang


daun-daunnya luruh ke tanah. Tapi seperti tadi kali ini juga tidak kelihatan seorang manusia pun dibalik pohon-pohon bambu itu!


Gemas Nilamsuri bukan main.


Terdengar lagi suara tertawa bergelak. Kali ini diiringi dengan ucapan, ”Hanya manusia pengecut yang membunuh musuh dalam keadaan tak berdaya!”


Nilamsuri memandang ke atas pohon kamboja merah. Detik itu juga sesosok tubuh kelihatan lenyap berkelebat ke utara laksana gaib!


Nilamsuri kertakkan rahang. Tanpa menunggu lebih lama gadis ini hentakkan kedua kaki dan segera mengejar ke jurusan utara!

__ADS_1


Sampai beberapa ratus tombak jauhnya ke utara Nilamsuri masih juga belum berhasil mengejar orang tadi. Jangankan mengejar, melihat bayangannyapun tidak bahkan jejak kakinya sama sekali tidak kelihatan di tanah.


Gadis itu menghentikan pengejarannya di tepi sebuah lembah.


Di samping rasa geram hatinya juga heran dan bertanya-tanya. Siapakah manusia itu tadi dan kemanakah lenyapnya? Apakah manusia itu yang telah menolongnya dari perbuatan terkutuk Bergola Wungu dan kawan-kawannya? Sekiranya betul mengapa lantas kemudiannya orang itu menghalangi ketika dia hendak menebas batang leher keempat manusia berewok itu?


Nilamsuri memandang lagi ke dalam lembah. Segala sesuatunya diselimuti kesunyian. Kemudian gadis ini memandang kepada pakaian yang dikenakannya. Pakaian ini ditemuinya di atas sebuah makam. Apakah pakaian ini sengaja pula ditinggalkan untuk dipakainya oleh manusia aneh yang melarikan diri itu?


Nilamsuri memutar tubuhnya hendak kembali ke pekuburan. Tapi dengan serta merta tertahan ketika di belakangnya dari balik sebatang pohon waru terdengar suara orang berkata.


”Hendak kembali membuat kepengecutan? Membunuh musuh yang tak berdaya? Percuma tahu ilmu silat tapi tidak tahu tata peradatan silat!”


Bukan main geramnya Nilamsuri mendengar ejekan itu. Dia melompat ke arah pohon waru. Tapi lebih cepat lagi gerakannya itu orang yang tadi berkata telah berkelebat laksana bayang-bayang dan lari ke dalam lembah.


”Manusia atau setan! Jangan lari!” teriak Nilamsuri.


Dan segera pula dia mengejar ke dalam lembah. Tapi seperti tadi, begitu dia sampai di dasar lembah maka orang yang


dikejarnya lenyap lagi!


Dengan hati penasaran gadis ini loncat ke atas sebatang pohon


tinggi dan dari sini memandang ke seantero lembah untuk menyelidik kemana larinya orang tadi. Namun ini juga tidak memberikan hasil.


Nilamsuri turun kembali. Dijelajahinya sebagian dari lembah. Hatinya belum puas kalau belum berhasil menemui orang yang dikejarnya itu. Di tepi sebuah anak sungai akhirnya gadis ini hentikan langkah.


Sejurus kemudian dia termangu di tepi sungai ini. Kemudian hidungnya dilanda oleh bau harum dari sesuatu yang dipanggang. Bau ini datang dari arah hulu sungai, membuat tenggorokannya menerbitkan air liur.


Gadis ini langkahkan kaki ke hulu sungai. Belum sampai lima puluh langkah dia berjalan, maka di satu tikungan sungai yang arus airnya lebih cepat mengalir, dilihatnya duduk ditengah sungai, di atas sebuah batu besar yang licin kehitaman, seorang laki-laki.


Laki-laki ini duduk membelakanginya dan rambutnya gondrong, berpakain putih-ptuih. Tak tahu Nilamsuri apa yang dibuat orang ini ditengah sungai ini di atas batu itu. Berat kecurigannya bahwa manusia ini adalah orang yang tadi dikejarnya. Tapi anehnya santarnya bau benda yang terpanggang itu datang dari arah lakilaki di tengah sungai ini!

__ADS_1


__ADS_2