PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
TRISULA NAGA LANGIT


__ADS_3

“Kenapa kau terkejut....?” tanya Eyang Ratih. “Kau takut?!”


“Eyang mau bikin cilaka murid lagi?!” tanya Rangga Saksana bersiap-siap.


Dan nenek itu tertawa lagi melengking-lengking. Dia mundur sampai tujuh tombak kebelakang.


”Pejamkan matamu, Rangga!” perintah Eyang Ratih pula.


”Tapi.... Eyang mau bikin apa?!”


”Eeee.... kunyuk betul kau! Aku suruh pejamkan mata malah banyak tanya!! pejamkan matamu!”


Rangga memejamkan matanya dengan ragu-ragu. Karena itu kedua mata itu dipejamkannya tidak rapat betul.


”Biar rapat!” hardik Ratih Parwati.


Dan Rangga terpaksa menutup matanya rapat-rapat.


“Buka bajumu!”


Rangga membuka bajunya dan meletakkannya di tanah. Kedua matanya tetap memejam.


“Buka tangan kananmu, naikkan ke atas dan hadapkan telapaknya kepadaku!”, perintah Ratih Parwati lagi.


Rangga mengikuti perintah itu.


Eyang Ratih memegang mata Trisula dengan tangan kanannya erat-erat. Salah satu jarinya kemudian menempelkan disatu bagian rahasia pada gading dekat kepala trisula yang terbuat dari besi putih itu.


”Apapun yang terjadi sekali-kali jangan buka kedua matamu dan sekali-kali jangan bergeser. Kecuali kalau kau mau mampus!”


”Eyang....”


”Diam! Gila betul!,” bentak Ratih Parwati.


Rangga terpaksa membungkam.


Perempuan tua itu menekan alat rahasia dekat kepala Trisula. Maka dari mulut naganagaan di hulu trisula melesat dengan suara menderu tiga puluh enam batang jarum putih.


Ketiga puluh enam jarum itu mendarat dan menancap di dada kanan Rangga Saksana. Jarum-jarum ini menancap dengan teratur membentuk gambar Naga melingkari trisula. Pemuda itu


menjerit keras. Tubuhnya rebah ke tanah!


Sekali lagi Ratih Parwati menekan alat rahasia


dekat kepala trisula. Kini dua puluh empat batang jarum hitam meluncur dan menancap di telapak tangan sebelah kanan Rangga Saksana!


Pemuda ini menjerit lagi karena tancapan jarum yang 36 tadi telah membuat dia tak sadarkan diri!


Sebelum Rangga Saksana siuman, Eyang Ratih sudah mencabuti jarum-jarum putih di dada pemuda itu, juga jarum-jarum hitam di telapak tangan kanan Rangga. Dan ketika Rangga sadarkan diri maka dilihatnya di kulit dadanya terukir gambar naga melingkari trisula berwarna hitam kebiruan. Gambar yang sama juga juga terdapat di telapak tangannya.


Bedanya gambar yang di telapak tangan ini agak kecil dan berwarna putih sehingga agak samar-samar kelihatannya.


”Berdiri Rangga!” perintah sang guru.


Rangga Saksana berdiri. Dia tak tahu apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh gurunya. Yang dia tahu tadi ialah suara yang menderu-deru, lalu dia menjerit, lalu roboh dan.... tak ingat apa-apa lagi.


“Kau telah lihat gambar pada kulit dada dan telapak tangan kananmu?”


Rangga mengangguk.


“Berarti dalam dirimu sudah kulekatkan unsur-unsur keduniaan dan unsur ingat Tuhan. Agar kau tidak lupa bahwa kau hidup di dunia adalah untuk menolong sesama manusia. Juga agar kau tidak lupa bahwa kau mempunyai Tuhan yang harus dituruti


segala perintah dan dijauhkan segala laranganNya. Kau mengerti?”


“Mengerti Eyang. Tapi... mengapa badanku kini tiga kali lebih enteng dari sebelumnya? Bahkan tenaga juga terasa bertambah hebat!”


Eyang Ratih tertawa mengikik.


“Itu adalah berkat jarum Trisula Naga Langit” kata Ratih Parwati pula.


Lalu neneknenek ini menerangkan apa yang telah dilakukannya terhadap muridnya.


Rangga merasa mendapat anugerah ilmu tambahan segera berlutut dihadapan gurunya.

__ADS_1


”Tak usah pakai peradatan segala macam. Berdirilah! Masih banyak yang aku mau bicarakan sama kau,” kata Ratih Parwati pula.


Rangga berdiri.


Ratih mengeluarkan trisula dan batu hitam kembali. Diulurkannya bendabenda itu.


”Rangga.... Trisula ini kuberi nama Trisula Naga Langit. Sepuluh tahun lamanya kubutuhkan waktu untuk membuatnya dan telah dua puluh tahun lebih senjata ini berada di tanganku. Rupanya kau ada jodoh dengan senjata ini. Terimalah....”


Tertegun dan hampir tak percaya Rangga Saksana mendengar ucapan gurunya. Tak disangkanya bahwa dia bakal mendapat anugerah senjata yang sangat sakti itu. Dia terdiam mematung seketika.


”Ayo Rangga! Kenapa kau jadi bimbang? Terimalah Trisula Naga Langit ini untuk kau!”


Rangga Saksana mengulurkan kedua tangannya. Ketika senjata sakti itu menyentuh tangannya mendadak sontak mengalirlah arus aneh yang dingin ke dalam tubuh Rangga. Dan disaat itu pula dirasakannya tubuhnya naik sampai dua tingkat, padahal dia merasa tingkat tenaga dalam yang sudah dimilikinya sebelumnya sudah mencapai tingkat yang paling sempurna!


”Sisipkan di pinggangmu Rangga dan pakai kau punya baju kembali!”


Rangga melakukan apa yang dikatakan Eyang Ratih. Trisula dan batu yang ada gambar naganya itu disisipkan ke pinggangnya.


”Trisula Naga Langit bukan senjata sembarangan, Rangga. Karenanya juga tak boleh kau pakai sembarangan. Pergunakanlah hanya pada saat-saat kau terdesak hebat atau


dalam keadaan nyawamu terancam. Kau telah lihat juga macam kehebatan kapak itu tadi, tapi masih ada satu lagi kehebatannya yaitu bila kau tekan salah satu bagian di bawah mata kapak itu


maka akan berhamburanlah jarum-jarum putih dari mulut naga-nagaan.... Untuk membuat gambar naga pada dada dan telapak tanganmu aku telah pergunakan jarum-jarum semacam


itu tadi. Cuma jarum-jarum tadi telah kuisi dengan sejenis racun yang hebat sehingga tubuhmu akan kebal terhadap segala racun apapun juga! Tangan kananmu juga mempunyai racun yang


tersembunyi, Rangga. Jangan sembarangan mempergunakannya karena bisa mematikan lawan!”


Rangga Saksana hendak berlutut lagi, tapi segera dibentak oleh gurunya.


”Terima kasih Eyang.... terima kasih,” kata pemuda itu.


Eyang Ratih hanya keluarkan suara tertawa. Digaruk-garuknya kepalanya yang berambut jarang dan yang kini hanya ditancapi 4 buah tusuk kundai. Kemudian mulailah dia untuk ketiga kalinya menyanyikan lagu tadi:


Pitulas taun wus katilar....


Ketika Eyang Ratih selesai menyanyikan lagu itu maka bertanyalah Rangga.


”Eyang, apakah maksud Eyang dengan nyanyian itu....?”


”Aku sudah bilang bahwa hari ini adalah hari yang penghabisan kau berada di Gunung Ciremai ini bersamaku....”


”Mengapa demikian, Eyang....?” Rangga garuk-garuk kepalanya.


”Karena segala ilmuku telah kupasrahkan kepadamu. Karena hari inilah saatnya bagimu untuk turun gunung, memasuki alam dunia luar, membawa garis-garis kehidupanmu sendiri yang telah ditentukan Gusti Allah....”


Ratih Parwati diam seketika. Kemudian diteruskannya,


”Sebelum kau meninggalkan puncak Gunung Ciremai ini ada satu tugas yang musti kau lakukan....”


”Tugas apakah itu, Eyang?” tanya Rangga Saksana. Lagi-lagi digaruknya kepalanya yang berambut gondrong itu.


”Dengar baik-baik Rangga.... Lebih dari empat puluh tahun yang silam aku telah mengambil seorang murid bernama Suranyawa. Waktu itu dia baru saja berumur dua tahun. Dari umur dua tahun itulah aku mulai mendidiknya pelbagai ilmu dasar silat dan kesaktian. Tapi kemudian aku ketahui bahwa aku telah ketelanjuran mengambil itu manusia menjadi muridku. Suranyawa kulepas turun gunung, kubekali pelbagai nasihat tapi dasar Suranyawa bukan manusia baik-baik, begitu turun gunung segala ilmu yang kuberikan padanya dipakainya untuk perbuatan jahat, maksiat.


Dia membuat keonaran dimana-mana!


Menjadi kepala perampok!


Tukang peras bahkan menculik perempuan-perempuan cantik dan merusak kehormatannya!


Menurutku kini umurnya sudah hampir setengah abad, sudah dekat ke liang kubur!


Tapi ini sama sekali tidak memberikan keinsyafan pada dirinya. Kejahatannya akhirakhir ini semakin menjadi-jadi, sudah lewat dari takaran!


Kini dia tengah menyusun rencana busuk terhadap Pajajaran. Pajajaran hendak dibikinnya banjir darah!


Karena itu kau harus lekas-lekas dapat mencari itu manusia laknat dan perintahkan kepadanya untuk datang ke sini


menghadapku guna mempertanggungjawabkan segala apa yang telah dibuatnya selama malang melintang di dunia sana!


Dan perlu kau ketahui, Suranyawa kini telah memakai nama baru yakni Mahesa Jenar!”


Rangga Saksana merasa betapa sedihnya akan berpisah dengan gurunya yang selama 17 tahun telah mendidiknya itu. Tapi mengingat perpisahan itu adalah demi untuk menjalankan tugas dari sang guru, terhibur juga sedikit hatinya. Dan berkatalah pemuda itu:

__ADS_1


”Tugas Eyang akan aku laksanakan. Cuma bagaimana jika itu manusia Mahesa Jenar tidak mau mematuhi perintah untuk datang ke sini....?”


”Jawabnya hanya satu Rangga. Pateni manusia itu!


Bunuh manusia durhaka itu!”


Rangga Saksana terdiam. Dalam diamnya ini dia berpikir-pikir sampai dimanakah ketinggian ilmu Suranyawa atau Mahesa Jenar itu?


Sanggupkah dia menghadapi manusia yang sesungguhnya adalah kakak seperguruannya sendiri?!


”Aku tahu apa yang kau pikirkan Wiro,” kata Eyang Ratih pula tiba-tiba. Ini mengejutkan Rangga Saksana.


”Suranyawa memang sakti bahkan kudengar dia telah berguru


pula pada seorang sakti di Gunung Lawu!


Tapi kau tak usah takut!


Kau memiliki Trisula Naga Langit. Dan kau berada dalam kebenaran pula!


Sesungguhnya kau punya hak untuk membunuh itu manusia, Rangga.


Pertama karena tugas yang aku pikulkan dibatok kepalamu! Kedua karena Suranyawa atau Mahesa Jenar itulah yang telah membunuh kau punya ibu-bapak!”


Mendadak sontak bergetarlah sekujur tubuh Rangga Saksana. Parasnya berubah kelam membesi!


Sejak kecil, sejak diam di puncak Gunung Ciremai itu belum pernah dia mengetahui apa yang dinamakan kebencian dan dendam kesumat!


Tapi saat itu dadanya serasa mau pecah oleh kobaran kebencian dan amarah serta dendam yang tiada terkirakan!.


”Bapakmu bernama Ranamaya! Dibunuh oleh Suranyawa. Ibumu dilarikannya. Sesudah itu bunuh diri sesudah dirusak kehormatannya. Kau sendiri hampir menemui ajal dimakan api sewaktu rumah bapakmu dibakar oleh Suranyawa dan anak buahnya. Kebetulan sekali aku lewat disitu....”


Rangga menjatuhkan diri di hadapan gurunya.


”Terima kasih Eyang.... kalau Eyang tidak ada....”


”Berdiri!” bentak Ratih Parwati. Perempuan aneh itu memang paling tidak suka dilututi seperti itu.


”Bukan aku yang menolong kau, tapi Gusti Allah!” katanya. ”Ayo


berdiri!”


Rangga berdiri kembali. Dan Ratih Parwati menuturkan peristiwa tujuh belas tahun yang lalu sejelas-jelasnya. Kini maklumlah Rangga apa arti kata-kata dalam nyanyian gurunya tadi. Dikuatkan hatinya untuk mengendalikan perasaannya yang campur aduk.


Dikuatkannya dirinya untuk membendung air mata yang hendak tumpah dari kelompok matanya!


”Eyang....,” desis Rangga Saksana, ”Sewaktu Eyang turun ke kampung Jatiwalu itu, mengapa Eyang tidak langsung turun tangan....?”


Ratih Parwati tertawa rawan.


”Semustinya.... semustinya memang aku harus turun tangan saat itu. Tapi ketika kutahu bahwa Ranamaya – bapakmu – mempunyai seorang orok maka aku mempunyai pikiran lain! Kalau kupelihara anak itu dan kudidik ilmu silat seta kesaktian maka jika sudah besar dia lebih mempunyai hak dariku untuk menamatkan riwayat Suranyawa alias Mahesa Jenar.


Bukankah setiap budi ada balas?


Setiap kejahatan ada pembalasannya?


Jangan sekali-kali kau lupakan!”


”Menurut Eyang, apakah manusia keparat itu masih ada di kampung Jatiwalu bersama anak-anak buahnya....?”


”Tak dapat kupastikan, Rangga. Itu tugasmu untuk menyelidik. Yang aku tahu ialah bahwa manusia itu hendak membuat Pajajran banjir darah. Karenanya, seret dia ke sini


sebelum hal itu terjadi. Dan kalau dia tidak mau, pateni saja!!” (pateni\=bunuh).


Sunyi selang beberapa lamanya. Kedua orang itu tenggelam dalam alam pikiran masing-masing.


”Kau akan segera berangkat, Rangga?”


Pemuda itu tak segera menjawab. Kemudian dia mengangguk perlahan.


”Ucapanku yang terakhir Rangga, mulai saat kau turun gunung ini, pakailah nama RANGGA GEBLEK. Itu lebih baik bagi kau. Gurunya GILA, muridnya GEBLEK.”


Dan habis berkata demikian si nenek tua ini tertawa mengikik lama dan panjang. Namun tertawa itu hanyalah untuk menyembunyikan hati yang rawan, sedih itu untuk membendung air mata yang hendak tumpah keluar!

__ADS_1


”Eyang.... kapan kita bisa bertemu lagi?” tanya Rangga.


Sang guru hentikan tertawanya. ”Selama langit masih biru, selama hutan masih hijau, selama air sungai masih mengalir ke laut, kita pasti bertemu lagi Rangga Geblek....!”


__ADS_2