
Hanya sebentar suasana sepi menyeling. Bila bayangan sosok tubuh pendekar Trisula Maut sudah lenyap ditelan kegelapan malam, maka lupalah penduduk Bojongnipah akan pesan pendekar itu. Beramai-ramai mereka menyerbu kedua anak buah Tapak Luwing yang berada dalam keadaan tak berdaya, terikat di tiang langkan dan tertotok.
Puluhan senjata laksana hujan bertubi-tubi mampir ke kepala dan tubuh kedua orang itu. Tiada terdengar suara jeritan kedua orang ini, rintihan pun tidak. Mereka telah menemui nasib pembalasan atas kejahatan mereka. Keduanya menghembuskan nafas dengan tubuh mandi darah dan muka hancur tak bisa dikenali lagi.
Ki Lurah Kundrawana tidak menyaksikan lagi apa yang diperbuat penduduk Bojongnipah itu. Bersama Kratomlinggo dan tiga orang lainnya, dengan menunggangi kuda, dia meninggalkan Bojongnipah menuju Parit Kulon, sebuah pesawangan yang jarang didatangi manusia, terletak kira-kira ernpat kilometer dari desa. Satu-satunya bangunan di Parit Kulon adalah kuil tua yang diterangkan anak buah Tapak Luwing.
Karenanya, meskipun malam tak sukar untuk mencarinya. Ki Lurah Kundrawana menyalakan obor yang dibawa. Diiringi oleh keempat orang lainnya dia masuk ke dalam kuil tua itu. Meski dia menemui anaknya dalam keadaan menyedihkan namun Kundrawana merasa lega dan gembira karena anak satu-satunya itu ternyata masih bernafas.
Anaknya tidur di ubin kotor dengan pakaian yang juga kotor. Tubuhnya kurus dan parasnya pucat karena tak terurus. Tangan dan kakinya diikat. Kundrawana bertutut lalu memeluk anaknya itu. Kratomlinggo membuka tali yang mengikat tangan serta kaki si anak yang saat itu sudah bangun. Tetesan air mata mengalir di pipi Ki Lurah Kundrawana. Tapi air mata kali ini adalah air mata gembira.
Sementara itu di tempat lain ....
Tapak Luwing merasa tubuhnya yang kaku karena ditotok itu dibawa lari dalam kegelapan malam oleh seseorang. Bila sinar bulan yang tidak begitu terang menyeruaki pohon-pohon sepanjang jalan yang mereka lalui dan menyinari paras laki-laki itu samar-samar.
Tapak Luwing terheran dan berpikir-pikir. Laki-laki yang membawanya berlari itu tidak dikenalnya sama sekali. Siapa dia dan ke mana manusia ini mau membawanya. Kemudian apakah dia seorang yang akan menolongnya atau bukan?
Tapi melihat gelagat dan ucapannya terhadap pemuda berambut gondrong tadi, Tapak Luwing bisa sedikit memastikan bahwa laki-laki ini tidak bermaksud jahat terhadapnya. Diam-diam hatinya merasa lega. Maka bertarryalah dia:
“Sobat, kau siapakah?”.
“Jangan banyak tanya dulu”, menjawab orang yang memanggulnya. Suaranya besar dan parau, larinya laksana angin.
“Kita ini kemanakah?”, tanya Tapak Luwing lagi.
“Aku bilang jangan bertanya apa-apa dulu. Apa tidak mengerti?”.
Tapak Luwing penasaran sekali. Namun dia menurut dan menutup mulutnya. Sepanjang perjalanan itu, satu hal saja yang diketahui oleh Tapak Luwing tentang orang yang memanggul dan membawa larinya. Yaitu, laki-laki itu puntung tangan kanannya sampai sebatas bahu.
Ketika sampai di sebuah telaga kecil akhirnya laki-laki bertangan buntung itu menghentikan larinya. Tapak Luwing diturunkan dan disandarkan ke sebatang pohon di tepi telaga. Kemudian dilepaskannya totokan di tubuh Tapak Luwing.
“Atur nafas dan jalan darahmu. Kerahkan tenaga dalam”, berkata si tangan buntung.
__ADS_1
Tapak Luwing segera melakukan hal itu. Tidak disuruh pun memang semestinya dia sudah bermaksud demikian, sesuai dangan setiap ajaran ilmu silat dari aliran dan golongan manapun.
Kemudian dengan tangannya yang cuma satu laki-laki itu dangan cekatan mengobati lengan Tapak Luwing yang patah dan membalutnya dengan secarik kain.
“Aku berhutang budi dan nyawa padamu sobat”, kata Tapak Luwing.
Laki-laki yang menolongnya tertawa. “Ada hutang ada piutang”, katanya di antara tertawanya, “ada budi ada balas”.
“Maksudmu sobat?”, tanya Tapak Luwing.
“Di satu hari kelak pertolongan yang kuberikan padamu ini akan kutagih”.
Tapak Luwing kernyitkan kening. “Tidak kau tagih pun, jika ada kesempatan aku pasti akan membalasnya. Bahkan jika aku sudah sembuh dan kau bersedia ikut ke Kali Comel, aku akan hadiahkan kepadamu harta benda, perhiasan dan uang seberapa saja kau suka”
Si tangan buntung menyeringai. Gigi-giginya hitam kecoklatan.
“Aku tidak butuh semua itu,” desisnya.
Dipegangnya balutan di lengan Tapak Luwing. Sesaat kemudian Tapak Luwing merasakan aliran tenaga dalam yang ampuh merembes ke dalam tubuhnya. Tubuhnya menjadi segar kini dan rasa sakit pada lengannya yang patah itu berkurang.
“Aku tahu siapa kau. Aku sudah lama dengar tentang komplotanmu yang malang melintang di sepanjang Kali Comel. Dan ketika tahu bahwa kau berada di sekitar sini, timbul satu maksud untuk menemuimu”.
“Apakah maksud itu?”, bertanya Tapak Luwing.
“Tadi aku sudah bilang, ada hutang ada piutang, ada budi ada balas. Satu hari kelak aku membutuhkan tenagamu”.
“Jangan khawatir, aku pasti bersedia. Tapi untuk keperluan apakah?”.
“Kau tak usah tahu untuk keperluan apa. Kau nanti akan tahu juga. Dengar, nanti pada hari tiga belas bulan dua belas kau harus datang ke Gunung Tangkuban Perahu”
“Gunung Tangkuban Perahu?”.
__ADS_1
“Ya. Masih kira-kira delapan bulan dari sekarang. Dan satu hal harus kau ingat. Jangan sekali-kali coba kembali ke desa Bojongnipah untuk buat perhitungan dengan Ki Lurah Kundrawana, salah-salah kau bisa ketemu dengan bangsat yang telah mencelakai mu tadi. Walau bagaimanapun untuk saat ini kau tak akan mampu menghadapinya. Ada saat untuk menyelesaikan urusan dengan dia. Karena itu kau musti datang ke Tangkuban Perahu pada hari tiga belas bulan dua belas nanti. Dengar?”.
Tapak Luwing mengangguk. “Kau tahu siapa bangsat itu agaknya?,” dia bertanya.
“Tanda pengenalnya telah dituliskannya di keningmu”.
Terkejutlah Tapak Luwing. Dirabanya keningnya. Tak ada rasa sakit tapi memang kulit kening itu agak kesat dari sebelumnya.
“Berkacalah ke telaga itu”.
Tapak Luwing merangkak ke tepi telaga. Dia membungkuk dekat-dekat ke air telaga yang jernih itu dan di bawah penerangan sinar bintang-bintang serta bulan sabit samar-samar dilihatnya terlukis sebuah gambar. Gambar Trisula. Tapak Luwing memandang keheran-heranan pada si tangan buntung lalu memperhatikan lagi mukanya di air telaga. Diusapnya keningnya. Diusapnya lagi sampai beberapa kali tapi gambar trisula itu tidak mau hilang. Dibasahinya keningnya dengan air telaga lalu diusapnya lagi berulang kali. Tetap saja gambar trisula itu tidak mau hilang.
“Dengan apapun dan cara bagaimanapun gambar itu tak akan bisa pupus dari keningmu Tapak Luwing. Gambar itu dilukis dengan telapak tangan yang mengandung tenaga dalam dan kesaktian yang luar biasa. Sekalipun kulit keningmu dikelupas sampai ke batok kepalamu maka pada tulang batok kepala mu pun gambar itu sudah meresap”
“Siapa sesungguhnya manusia muda berambut gondrong dengan gambar pengenal trisula itu?”, tanya Tapak Luwing pula.
“Namanya Rangga Geblek. Dia sakti sekali”, jawab si tangan buntung. “Tapi,” katanya kemudian menambahkan, “dihari tiga belas bulan dua belas nanti, kelak ajalnya akan sampai”.
Diam-diam, meskipun si tangan buntung tidak menerangkan tapi Tapak Luwing tahu kini, bahwa antara si tangan buntung dan pemuda rambut gondrong yang telah mencelakainya itu terdapat sangkut paut dendam kesumat.
“Selama waktu delapan bulan mendatang”, berkata lagi si tangan buntung, “kuanjurkan kepadamu untuk berlatih ilmu silat yang telah kau miliki agar lebih hebat”.
Tapak Luwing mengangguk.
Si tangan buntung berkata: “Sekarang kita berpisah. Jangan lupa hari tiga belas bulan dua belas itu. Dan jangan coba-coba untuk tidak memenuhi perintahku ini”.
“Kau mau kemana sobat?”.
“Urusanku masih banyak”.
“Tapi kau masih belum menerangkan namamu”.
__ADS_1
“Namaku Kalingundil”
BERSAMBUNG.