
Puncak gunung tangkuban perahu. Hari tiga belas bulan dua belas…
Angin dari utara bertiup kencang, mengalahkan tiupan angin barat yang menghembus sepoi-sepoi basah. Puncak Gunung Tangkuban Perahu diselimuti kesunyian abadi. Tapi hari itu agaknya kesunyian abadi itu akan sirna oleh kedatangan manusia-manusia pembuat perhitungan. Akan pupus di landa dendam kesumat orang sakti.
Kawah gunung yang lebar mengepulkan tiada henti asap tipis berbau belerang. Beberapa puluh kaki dari tepi kawah berderet pohon-pohon cemara berdaun lebat subur, menjulang tinggi dan lurus. Saat itu matahari pagi sudah naik tepat antara titik tertinggi dan titik permulaan terbitnya. Angin utara bertiup lagi dengan kencang, Daun-daun pohon cemara melambai-lambai.
Dan diantara kerisikan-kerisikan geseran daun pohon-pohon cemara itu maka terdengarlah suara siulan yang mengumandangi seluruh puncak Gunung Tangkuban Perahu. Suara siulan itu juga seperti mau menggelegaki kawah belerang dan menampar-nampar kabut belerang yang meliuk-liuk kepermukaan kawah. Suara siulan itu tidak teratur, tidak membawakan sebuah lagu atau tembang, nadanya tak menentu. Namun ketidakteraturan dan ketidakmenentuan itu anehnya bila didengar dengan seksama akan merupakan suatu lagu aneh bernada ajaib. Suara siulan itu membuat pendengarnya akan terkatung-katung ke dalam satu dunia khayal.
Tapi di pagi yang menjelang siang itu di puncak Gunung Tangkuban Perahu itu, tak satu orang pun yang ada selain manusia yang mengeluarkan suara siulan tadi. Dan siapakah manusia ini adanya?
Suara siulan itu datang dari pohon cemara yang paling tinggi tanda bahwa manusianyapun berada di sana. Dan manusia ini tiada lain dari pada Rangga Geblek, si Pendekar Trisula Maut Naga Langit.
Mengapa dia sampai berada di puncak gunung itu adalah sehubungan dengan tantangan musuh lamanya Kaligundil. Namun pendekar muda itu sampai saat itu tak pernah menyangka bahwa yang bakal ditemuinya di puncak gunung itu kelak bukan hanya Kaligundil seorang, tapi juga beberapa tokoh dunia persilatan yang terkenal serta sakti.
Rangga terus juga bersiul-siul sambil sekali-sekali layangkan pandangannya ke seantero puncak gunung. Sepi dan suasana tenang-tenang saja. Dilayangkannya pandangan ke kaki dan lereng gunung. Juga segala sesuatunya masih diselimuti kesunyian dan ketenangan.
Dua kali sepeminuman teh lewat. Telinga Pendekar Trisula Maut yang tajam dan terlatih baik itu sayup-sayup mendengar suara sesuatu. Segera pemuda ini hentikan siulannya. Kepalanya diputar ke arah timur puncak gunung dari mana datangnya suara itu. Masih belum kelihatan apa-apa tapi suara yang didengarnya tambah nyaring.
Beberapa ketika kemudian dari balik gundukan tanah keras tepi kawah sebelah timur kelihatan muncul kepala seseorang, menyusul dada dan badannya. Sosok tubuh manusia ini ternyata bukanlah Kaligundil karena tangannya tidak buntung.
“Lain yang ditunggu, lain yang datang”, desis Rangga Geblek dalam hati.
Kedua matanya terus memandang tak berkesip pada manusia yang baru datang ini. Orang ini dilihatnya memandang berkeliling agaknya mencari-cari sesuatu, mungkin mencari seseorang. Umurnya sudah lanjut. Menurut taksiran Rangga paling rendah lima puluh tahun. Meskipun tua tapi tubuhnya kekar. Pada pinggangnya kelihatan tersisip sebilah keris emas. Dari gerak geriknya yang enteng dan tenang, Rangga tahu bahwa orang tua ini pastilah seorang yang menguasai ilmu silat dari tingkat tinggi.
“Mungkin sekali dia diam di sekitar puncak gunung Tangkuban Perahu atau mungkin pula kedatangannya ke situ hanya satu kebetulan saja dengan hari di mana aku akan membuat perhitungan dengan Kaligundil”, demikianlah Pendekar Trisula Maut berpikir-pikir di dalam hatinya.
Sementara itu si orang tua tak dikenal dilihatnya berdiri di tepi kawah memandang ke bawah lalu memutar tubuh dan menjelajahi seluruh permukaan gunung dengan sepasang matanya yang kecil tetapi tajam. Kemudian orang tua ini pada akhirnya melangkah ke arah deretan pohon-pohon cemara dan di sini duduk melepaskan lelah.
Rangga maklum kini bahwa orang tua ini datang ke situ adalah mencari seseorang dan ketika orang itu tak ditemuinya dia memutuskan untuk menunggu. Karena merasa tak punya urusan dengan si orang tua. Rangga tetap saja berada di tempatnya, di atas pohon cemara tinggi.
Matahari bergerak juga menuju ke puncak tertingginya. Rangga masih terus memperhatikan si orang tua. Mendadak diputarnya kepalanya ke arah selatan. Sesosok tubuh kelihatan berkelebat. Kedatangan manusia ini boleh dikatakan tidak terdengar atau tak tertangkap oleh telinga Rangga Geblek. Nyatalah kehebatan ilmu lari dan ilmu mengentengkan tubuhnya.
Apa yang menarik Pendekar Trisula Maut ialah bahwa manusia ini bukanlah Kaligundil yang tengah ditunggunya. Orang ini berbadan kate. Kepalanya sulah licin dan berkilat-kilat ditimpa sinar matahari. Kedua telapak kakinya bukan saja lebar tapi juga tebal seperti kaki gajah.
Tiba-tiba Pendekar Trisula Maut ingat akan keterangan gurunya Eyang Ratih Parwati. Menurut gurunya itu, di puncak Gunung Lawu berdiam seorang tokoh silat utama bernama Tapak Gadjah. Kehebatan Tapak Gadjah ialah telapak pada sepasang kakinya yang berbentuk kaki gajah. Jangankan manusia, batu pun kalau ditendang akan hancur lebur. Dan memang pada saat itu Rangga menyaksikan sendiri bagaimana tanah gunung yang diinjak kedua kaki laki-laki itu meninggalkan bekas amblas sampai setengah dim.
“Mungkin sekali manusia ini adalah Tapak Gadjah”, membatin Rangga Geblek. “Tapi kenapa pula dia jauh-jauh bisa muncul di sini...?”.
Selagi dia membatin begitu rupa Rangga Geblek terkejut pula melihat bagaimana si orang tua yang duduk di bawah pohon cemara tiba-tiba berdiri tegak menyambuti kedatangan si manusia kate. kedua orang itu saling pandang seketika. Sekali melompat maka si kate sudah berada dua tombak di hadapan si orang tua berkeris emas. Kembali keduanya saling pandang dan meneliti.
Kemudian terdengar suara si kate membentak. “Jadi kau sudah datang duluan pendekar gila Rangga Geblek ?! Rupanya memang kau betul betul ingin mati lekas-lekas”.
Kemarahan yang meluap membuat Tapak Gadjah lupa akan keterangan Kaligundil bahwa Rangga Geblek adalah seorang muda. Bukan saja si orang tua nampak terkejut dan heran, tapi Pendekar Trisula Maut di atas puncak pohon cemara jadi kernyitkan kulit kening waktu mendengar bentakan si manusia kate itu.
__ADS_1
Sebelum si orang tua sempat bicara maka si kate sudah bertanya dengan membentak: “Mampus cara mana yang kau kehendaki Pendekar Trisula Maut ?! Aku Tapak Gadjah segera melaksanakannya!!”.
“Kalau betul aku berhadapan dengan Tapak Gadjah, tokoh silat terkenal dari Gunung Lawu saat ini”, menyahuti si orang tua, “maka dugaanmu meleset sekali”.
Tapak Gadjah pelototkan mata. “Meleset bagaimana maksudmu ?”
Dan Tapak Gadjah ingat akan keterangan Kaligundil. Lalu diajukan pertanyaan: “Apakah kau bukannya Rangga Geblek si manusia geblek bergelar Pendekar Trisula Maut itu ?!”.
Si orang tua gelengkan kepala. “Aku adalah Wirasokananta, Ketua Perguruan Teratai Putih di bukit Siharuharu”
“Ah... tak disangka datang dari jauh kiranya akan berjumpa dengan tokoh silat ternama”, Tapak Gadjah pula menyahut ramah.
Mengingat Wirasokananta adalah tokoh silat dari golongan putih datang, dia sendiri dari golongan hitam maka bertanyalah Tapak Gadjah: “Gerangan apakah yang membuat Ketua Perguruan Teratai Putih sampai datang ke sini ?”
“Panjang ceritanya Tapak Gadjah”, menyahuti si orang tua berkeris emas. “Ringkasnya adalah untuk mencari dan memenuhi undangan seorang manusia bejat bernama Rangga Geblek bergelar Pendekar Trisula Maut”.
“Ah... ah... ah... Kalau begitu kita sama-sama datang untuk maksud yang serupa. Dan pastilah mempunyai tujuan terakhir yang serupa pula yaitu menamatkan riwayat manusia terkutuk itu. Bukankah demikian ?”
Meskipun heran bagaimana Tapak Gadjah bisa tahu hal itu namun Wirasokananta mengangguk juga.
“Maksud sama, tujuan terakhir sama tapi latar belakang tentu lain. Kalau aku boleh tanya, apakah sebabnya Ketua Perguruan Teratai Putih sampai turun tangan dan bukan menyuruh anak-anak murid Perguruan ?”
“Semua murid-muridku musnah di tangan manusia laknat itu. Dua diantaranya diperkosa”, jawab Wirasokananta. Suaranya bergetar.
“Nasibmu dan nasibku rupanya tidak banyak beda Ketua Teratai Putih”, terdengar suara Tapak Gadjah. “Muridku Suranyawa, juga kunyuk sedeng itu yang membunuh”.
Kini tahulah Rangga Geblek. Tapak Gadjah rupanya adalah guru Suranyawa alias Mahesa Jenar.
“Tapi muridmu cuma seorang yang mati di tangannya sedang aku keseluruhannya”, menyahuti Wirasokananta.
“Yang penting bukan soal jumlah Ketua Teratai Putih. Yang penting ialah bahwa kunyuk sedeng itu seorang manusia bejat yang musti kita lenyapkan dari muka bumi ini”.
Wirasokananta mengangguk. Tapak Gadjah hendak buka mulutnya kembali. Tapi batal karena saat itu sudut matanya melihat sesosok tubuh berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di hadapan mereka.
“Siapa lagi yang datang ini ?”, membatin Rangga Geblek.
Sedang sesaat kemudian didengarnya suara Tapak Gadjah berkata sambil menjura: “Sungguh pertemuan yang tak terduga. Tokoh silat dari Gunung Halimun kenapa bisa muncul di sini ?”.
Orang yang baru datang tertawa lebar. Dia berpakaian kain putih. Rambutnya panjang diriap seperti perempuan, janggutnya menjela sampai ke perut. Rambut dan janggut itu berwarna putih dan melambai-lambai tertiup angin.
“Kau sendiri mengapa bisa nongkrong di sini ?”, balik menanya si janggut putih, dia melirik pada Wirasokananta.
Tapak Gadjah mula-mula perkenalkan si janggut putih pada Wirasokananta. Ternyata si janggut putih itu adalah Begawan Sitaraga, seorang sakti dari Gunung Halimun.
__ADS_1
Setelah mendengar penuturan Tapak Gadjah yang juga sekalian menuturkan tentang Wirasokananta, maka Sitaraga tarik nafas dalam dan berkata, “Betul-betul tak bisa diduga kalau kedatangan kita ke sini tiga-tiganya adalah membawa maksud yang sama. Aku kenal baik dengan Mahesa Jenar. Aku telah berjanji untuk membantu perjuangannya menghancurkan Pajajaran karena memang aku sejak lama punya permusuhan dengan itu Kerajaan. Tapi nyatanya Mahesa mendahului aku. Ini aku ketahui dari seorang anak buahnya yang datang ke tempatku. Rupanya sebelum pecah perang, Mahesa ada mengirim kurir. Kurir itu tertangkap peronda Pajajaran”.
Kesunyian menyeling seketika. Di atas pohon cemara, Rangga Geblek masih tak bergerak di tempatnya. Dengan munculnya ketiga orang itu dan dengan penuturan masing masing mereka, Rangga kini bisa menjajaki bahwa ada sesuatu yang tak beres. Dan ketidak beresan ini ditimpakan kepadanya. Siapa yang menjadi dalang ketidakberesan ini tak susah untuk diterka yaitu Kaligundil. Tapi Kaligundil sendiri ke mana?
Yakin bahwa bukan hanya tiga orang itu saja yang bakal muncul, maka Rangga memutuskan untuk menunggu. Dugaannya memang betul. Lewat sepeminum teh maka dari jurusan barat kelihatanlah dua sosok tubuh berlari cepat laksana angin.
Yang satu bertangan buntung dan segera dikenali oleh Rangga Geblek sebagai Kaligundil adanya. Yang seorang lagi Pendekar Trisula Maut lupa-lupa ingat. Tapi melihat gambar trisula pada keningnya, Rangga baru ingat bahwa manusia ini adalah Tapak Luwing, kepala komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel yang tempo hari bertempur melawannya, tapi kemudian dilarikan oleh Kaligundil. Begitu sampai di hadapan Tapak Gadjah, Wirasokananta dan Begawan Sitaraga, keduanya segera menjura.
Kaligundil memandang berkeliling. “Harap maafkan kalau kami datang agak terlambat”. Dia memandang lagi berkeliling. Orang-orang yang diundangnya sudah lengkap. “Pendekar gila itu masih belum muncul”.
Tapak Luwing berdehem. “Aku mempunyai firasat bahwa itu manusia tak bernyali untuk datang antarkan nyawa kemari”.
“Kalau dia berani menantang, dia berani datang”, menyahuti Kaligundil.
“Kita tunggu saja”, buka suara Begawan Sitaraga. “Dan kalaupun nanti ternyata si laknat itu tidak muncul, ke pintu neraka pun aku akan cari dia”, berkata Ketua Perguruan Teratai Putih.
Gembira sekali Kaligundil mendengar kata kata Wirasokananta itu. Nyatalah bagaimana dendam kesumat si orang tua terhadap Rangga Geblek.
Sementara itu dari atas pohon cemara Pendekar Trisula Maut Rangga Geblek memperhatikan ke bawah dengan seksama. Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa segala sesuatunya sampai tiga tokoh silat utama itu berada di sana adalah Kaligundil yang punya rencana.
Lima orang yang akan dihadapinya. Kaligundil dan Tapak Luwing sudah bisa dijajakinya ketinggian ilmu kedua orang itu, tapi bagaimana dengan tiga orang lainnya ? Sanggupkah dia menghadapi mereka berlima sekaligus ?
Pendekar Trisula Maut diam-diam tarik nafas dalam. Dia memandang ke langit. Matahari sudah sampai ke puncak tertingginya. Apakah dia segera unjukkan diri atau menunggu sampai saat yang dirasakannya tepat ?
Di saat itu, di bawah didengarnya suara Tapak Gadjah berkata: “Aku masih belum yakin kalau kunyuk ingusan itu benar-benar murid Ratih Parwati. Itu nenek-nenek keriput sudah sejak lama minggat dari dunia persilatan”.
Panaslah hati Rangga Geblek mendengar gurunya disebut demikian rupa. Tiada terasakan lagi, didorong oleh naluri yang telah membuat dia menjadi bisa, maka keluarlah suara siulan dari sela bibirnya. Lima manusia di bawah pohon terkejut dan.menengadah ke atas.
“Kurang ajar, rupanya kunyuk sedeng itu sudah lama mendekam di atas”, maki Kaligundil.
“Pendekar gila, turunlah untuk terima mampus!!”, teriak Wirasokananta.
Pendekar Trisula Maut tertawa bergelak. “Ketua Perguruan Teratai Putih, aku kasihan pada kau. Tidak tahu bahwa kau telah kena dikelabui oleh manusia tangan buntung itu”.
Kaligundil cepat membentak. “Agaknya kau memilih kematian di atas pohon itu Rangga Geblek ?! Memang pohon itu cukup tinggi untuk mempercepat roh busukmu terbang ke neraka!!”.
Rangga tertawa lagi seperti tadi.
“Biar aku paksakan dia turun!!!”, buka mulut Tapak Luwing.
Tangan kanannya bergerak. Maka tiga pisau terbang beracun melesat ke puncak pohon cemara di mana Pendekar Trisula Maut berada.
BERSAMBUNG....
__ADS_1