
Sebagai pendekar yang baru turun gunung dan cemplungkan diri dalam dunia persilatan tentu saja Rangga Geblek buta pengalaman dalam pertempuran. Tapi selama tujuh belas tahun digembleng oleh Eyang Ratih Parwati maka serangan-serangan yang dahsyat itu sama sekali tidak membuat pendekar muda ini menjadi gugup.
Eyang Ratih Parwati telah menggemblengnya bukan hanya sekedar memberi pelajaran ilmu silat luar dalam dan melatihnya belaka, tapi latihan-latihan perempuan sakti itu tak ada bedanya dengan pertempuran dahsyat yang benar-benar bisa mencelakakan Rangga sendiri.
Ketika tiga serangan itu datang ke arahnya, Rangga Geblek segera sambar pinggang Nilamsuri. Secepat kilat kemudian dia jatuhkan diri dan sambil berteriak hebat pemuda ini hantamkan tinju kanannya ke kaki seekor kuda lawan yang hampir menendang batok kepala Nilamsuri. Kuda itu meringkik keras dan rubuh karena kakinya itu hancur. Penunggangnya
yaitu si mata jereng Pitala Kuning terlempar ke tanah tapi dengan andalkan ilmu mengentengi tubuh berhasil jatuh dengan kedua kaki menginjak tanah.
Sementara golok panjang Bergola Wungu dan kelewang Seta Inging beradu keras di udara memercikkan bunga api maka sambil bergulingan di tanah, Rangga Geblek tak lupa
hantamkan kaki kiri kanannya pada kaki-kaki kuda kedua manusia berewok itu.
Seperti dengan kuda Pitala Kuning tadi maka kedua binatang inipun melemparkan Bergola Wungu dan Seta Inging. Rangga Geblek menyandarkan Nilamsuri pada sebatang pohon dan cepat bersiap-siap ketika dilihatnya tiga manusia berewok itu mendatanginya.
Akan Ketut Ireng tak masuk hitungan karena saat itu dia duduk menjelepok di tanah merintih karena kaki kanannya yang hitam gembung dan sakitnya bukan main!
”Aku peringatkan pada kalian untuk penghabisan kali!” kata Rangga Geblek, ”Tinggalkan tempat ini!”
”Jangan omong besar bangsat ingusan!” bentak Bergola Wungu dengan sangat geram. ”Sebut kau punya nama agar golokku ini tidak penasaran menebas batang lehermu!”
Rangga Geblek mengeluarkan suara bersiul lalu garuk-garuk kepala dan tertawa gelakgelak. Kemudian menyanyilah murid Eyang Ratih Parwati ini.
Anak kecil bodoh namanya biang bodoh,
Tua bangka bodoh namanya biang bodoh,
Monyet ingin jadi manusia,
Kenapa manusia piara berewok,
Apa mau jadi monyet….
Tolol, bodoh, bego, geblek!
Marahlah Bergola Wungu mendengar tembang yang kata-katanya ditujukan kepadanya sebagai ejekan itu.
”Bocah gila!” bentaknya, ” terima ujung golokku ini!”
Dengan pergunakan jurus ”burung bangau mematuk kodok,” Bergola Wungu tusukkan golok panjangnya ke arah tenggorokan Rangga Geblek. Pendekar Gunung Ciremai ini segera meringankan badan. Ujung golok hanya lewat setengah jengkal disamping lehernya.
Rangga tertawa mengejek.
Panas pemimpin Empat Berewok dari Gua Nagreg ini tidak terkirakan. Baru hari ini ilmu golok yang sangat dibanggakannya itu dikelit dengan demikian mudah bahkan sambil tertawa mengejek dan menantang!
__ADS_1
Dengan kertakkan rahang Bergola Wungu balikkan mata pedang dan babatkan senjata itu. Kali ini maksudnya untuk menebas batang leher si pemuda. Kedua kaki Rangga Geblek bergerak sedikit, tangan kirinya menepis lengan yang memegang golok sedang telapak tangan kanan dihantamkan ke dada Bergola Wungu!
Kepala rampok itu mengeluarkan jerit tertahan.
Tubuhnya terhuyung ke belakang hampir jatuh duduk di tanah. Ketika dia memandang ke dadanya yang dihantam telapak tangan lawan, parasnya dengan serta merta menjadi pucat!
Baju hitamnya robek hangus. Pada kulit dada yang tadi kena dihantam terlukis memutih telapak tangan dan jari-jari tangan Rangga Geblek!
Pada tengah-tengah lukisan itu tercetak gambar naga melingkari trisula. Dan sakitnya dada yang bertanda telapak tangan kanan berikut gambar naga itu bukan olah-olah. Meski Bergola Wungu sudah alirkan seluruh tenaga dalamnya, rasa sakit itu hanya sedikit saja berhasil dikuranginya!
Pitala Kuning dan Seta Inging tidak kurang pula pucat tampang-tampang mereka melihat apa yang terjadi dengan pemimpin mereka. Tidak dinyana pemuda belia berparas
macam anak-anak itu lihay sekali.
Pukulan ”telapak naga langit” yang dilancarkan oleh Rangga Geblek tadi itu hanya mempergunakan seperlima bagian saja dari tenaga dalamnya!
Kalau saja pendekar muda ini pergunakan setengah saja bagian dari seluruh tenaga dalamnya maka pastilah Bergola Wungu
akan meregang nyawa dengan dada remuk!
Luapan amarah Bergola Wungu membuat pemimpin rampok yang malang melintang di sungai Cimandilu ini lupakan kenyataan bahwa pemuda yang dicapnya sebagai ”pemuda
gila”, ”bocah ingusan” itu sesungguhnya bukanlah tandingannya!
”Bocah sedeng! Kau telah bikin cacad dadaku! Aku Bergola Wungu akan berbaik hati untuk membalasnya! Kau tahu jurus apa yang bakal aku lancarakan ini?!”
Pendekar trisula naga langit menjawab dengan tertawa bergelak sambil garukgaruk kepalanya yang berambut gondrong.
”Lucu!” kata Rangga Geblek pula. ”Bertempur ya bertempur. Kenapa musti pakai pidato segala!”
Bergola Wungu merasa tubuhnya seperti terbakar oleh kobaran amarahnya yang menggelegak.
”Kau boleh tertawa dan mengejek sepuas hatimu bocah gila! Bila golokku berkiblat dalam jurus: merobek langit, kau akan tahu rasa nanti!”
Adapun jurus ilmu golok yang disebut ”merobek langit” itu adalah jurus yang telah dipergunakan oleh Bergola Wungu untuk ”menelanjangi” tubuh Nilamsuri yaitu dengan
merobek-robek pakaian gadis itu dengan ujung goloknya.
”Jurus merobek langit memang hebat kedengarannya!” kata Rangga Geblek. ”Tapi coba buktikan. Jangan-jangan cuma jurus kosong belaka!”
Tanpa banyak bicara Bergola Wungu segera putar goloknya dengan sebat. Angin menderu dahsyat keluar dari sambaran golok. Demikian hebatnya seakan-akan golok itu berubah menjadi ratusan banyaknya!
Dalam sekejapan mata saja tubuh Rangga Geblek sudah
__ADS_1
terbungkus gulungan golok!
Yang anehnya, diserang hebat demikian rupa tidak serambutpun Rangga Geblek bergerak. Dan lebih aneh lagi adalah karena golok Bergola Wungu sama sekali tidak dapat mendekati bagian tubuh manapun dari Rangga Geblek!
Manusia berewok ini mencak-mencak sendirian macam monyet terbakar ekor!
Seta Inging dan Pitala Kuning yang saksikan kejadian
itu mau tak mau jadi leletkan lidah!
Demikianlah hebatnya ilmu ”perisai badai melanda samudra” yang dikeluarkan Rangga Geblek sehingga setiap sambaran tusukan dan sabetan golok sama sekali tidak dapat mengenai tubuh Rangga Geblek. Tubuh golok dilanda terus-terusan oleh gulungan angin dahsyat yang membungkus tubuh murid Ratih Parwati itu!
Bergola Wungu membentak keras dan percepat permainan goloknya. Tapi sampai dua puluh jurus dimuka tetap saja goloknya tak dapat membentur sasarannya di tubuh Rangga!
Pakaian dan tubuhnya sudah mandi keringat. Pegangan pada hulu golok sudah licin. Keletihan membuat gerakannya mulai menjadi lamban!
”Seta Inging! Pitala Kuning! Jangan jadi patung! Bantu aku!” teriak Bergola Wungu dengan sangat beringas.
Mendengar perintah ini Pitala Kuning dan Seta Inging segera menyerbu dengan senjata di tangan. Sebatang golok panjang, sebuah ruyung berduri dan sebuah kelewang dengan dahsyatnya menyambar-nyambar ke tubuh Rangga Geblek. Tapi ilmu ”perisai badai melanda samudera” membuat ketiga senjata itu tak ada arti sama sekali.
Rangga Geblek tertawa bergelak. Tawa gelak yang disertai tenaga dalam ini menambah hebat perbawa ilmu ”perisai badai melanda samudera!”
Sepuluh jurus berlalu.
”Ciaatt!!” tiba tiba pendekar trisula naga langit membentak keras.
Tiga manusia berewok keluarkan seruan tertahan dan lompat dari kalangan pertempuran. Mata mereka melotot besar memandang ke tangan Wiro Sableng yang saat itu telah merampas dan menggenggam senjata mereka!!
Ketut Ireng yang duduk menjelepok merintih kesakitan, juga tak ketinggalan terbeliak dan terlongong-longong!
Nama bukan nama baru dalam dunia persilatan pada masa itu mereka terkenal sebagai komplotan rampok yang berilmu tinggi dan ditakuti di sepanjang sungai Cimandilu. Terutama pemimpin mereka Bergola Wungu diakui kehebatan permainan goloknya oleh kalangan persilatan!
Mereka tahu, kalau pemuda itu inginkan nyawa mau mencelakakan mereka maka sudah sejak tadi hal itu bisa dilakukannya!
”Kalau hari ini kami diberi sedikit pelajaran,” kata Bergola Wungu dengan suara bergetar, ”maka ketahuilah bahwa kami tak akan melupakan kejadian ini. Suatu hari kami akan datang untuk meneruskna apa yang terjadi hari ini!”
Rangga Geblek tertawa bergelak, ”Bagus, bagus! Kau masih bisa pidato huh!! Ini terima kembali senjata kalian!”
Sekali tangan kanan Rangga Geblek bergerak maka ketiga senjata lawan yang tadi dirampasnya kini melesat ke arah ketiga orang itu masing-masing pada pemiliknya, Bergola Wungu menangkap hulu golok, Seta Inging menangkap gagang kelewang sedang Pitala Kuning menyambuti tangkai ruyung berdurinya.
Tanpa banyak bicara ketiga orang itu dengan membawa kawan mereka yang menderita sakit pada kakinya, segera hendak angkat kaki.
Tapi sebelum mereka berlalu Rangga Geblek berkata:
__ADS_1
”Satu hal kalian harus ingat baik-baik manusia-manusia berewok. Jika kalian berani lagi ganggu ini gadis, berarti kalian ingin cepat-cepat masuk liang kubur!”