PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
GURU DAN MURID ANEH


__ADS_3

Adalah hampir tak dapat dipercaya bila di puncak Gunung Ciremai yang semustinya sepi tiada bermanusia, pada siang hari yang panas terik itu terdengar suara lengkingan tawa


manusia! Sekali-sekali lengkingan itu hilang, berganti dengan suara yang membentak yang kadang-kadang dibarengi oleh suara gelak membahak lain! Jelas bahwa ada dua manusia


di puncak Gunung Ciremai saat itu! Dan keduanya kelihatan tengah bertempur dengan segala kehebatan yang ada. Bertempur sambil tertawa-tawa! Siapakah mereka ini?!


Yang berbadan tinggi langsing dan mengenakan pakaian serta kain hitam adalah seorang nenek-nenek berkulit sangat hitam berkeringat-kerinyut. Kulit yang hitam berkerinyut


ini tak lebih hanya merupakan kulit tipis pembalut tulang saja!


Mukanya cekung dan kecekungan ini merambas ke matanya sehingga matanya ini kelihatan demikian menyeramkan. Berlainan dengan kulit serta pakaiannya yang seba hitam itu maka rambut di kepalanya serta alis matanya berwarna sangat putih.


Dan rambut yang putih itu tumbuh sangat jarang di atas batok kepalanya yang hampir membotak licin berkilat. Namun lucunya pada kepala yang berambut jarang ini, nenek-nenek itu memakai tujuh tusuk kundai. Dan anehnya ketujuh tusuk itu tidaklah tersisip disela-sela rambut yang putih karena memang tidak mungkin untuk menyisip di rambut yang jarang itu. Ketujuh tusuk kundai itu menancap langsung ke kulit kepala nenek-nenek itu!


Siapakah nenek-nenek ini? Dialah yang bernama Eyang Ratih Parwati, seorang perempuan sakti yang telah mengundurkan diri sejak dua puluh tahun yang lalu dari dunia persilatan.


Selama malang melintang dalam dunia persilatan itu, sepuluh tahun terakhir Ratih Parwati telah merajai dunia persilatan di daerah Barat Jawa bahkan sampai-sampai ke Jawa Tengah.


Selama itu pula dia telah menyapu dan membasmi habis segala manusia jahat. Terhadap manusia-manusia jahat, hanya ada satu kesimpulan bagi Ratih Parwati untuk dilakukan yaitu membunuhnya!


Tidak heran kalau namanya menjadi harum.


Siapa pula orang kedua yang berada di puncak Gunung Ciremai itu dan yang saat itu bertempur menghadapi Ratih Parwati?


Dia seorang pemuda belia remaja yang baru memasuki usia tujuh belas tahun. Tubuhnya tegap, tampangnya gagah dan kulitnya bersih kuning, hampir seperti kulit perempuan. Rambutnya gondrong sebahu dan agak acakacakan sehingga tampangnya yang keren itu seperti paras kanak-kanak.


Sebenarnya kedua orang itu sama sekali bukan tengah bertempur karena pemuda tujuh belas tahun tersebut adalah murid Eyang Ratih Parwati sendiri!


Bagaimana sikap tingkah laku gurunya, demikian pula sikap sang murid. Tertawa-tawa dan menjerit-jerit serta cengarcengir!


Meski keduanya tengah melatih ilmu kepandaian, namun setiap jurus-jurus serta serangan-serangan yang mereka lancarkan adalah benar-benar serangan yang berbahaya sehingga bila tidak hati-hati dapat mencelakai diri!


Debu dan pasir beterbangan. Daundaun pohon berguguran, semak belukar tersapu kian kemari oleh angin pukulan dan gerakan tubuh kedua orang itu yang laksana bayang-bayang!


Di tangan kanan Ratih Parwati ada sebatnag ranting kering sedang muridnya memegang sebilah keris bereluk tujuh.


”Ayo Rangga! Serang aku dengan jurus – orang gila mengebut lebah – ! Serang cepat,


kalau tidak aku kentuti kau punya muka!”


Rangga Saksana sang murid tertawa membahak dan menggaruk-garuk kepalanya sehingga rambutnya yang gondrong semakin awut-awutan. Tiba-tiba suara tawa membahak


itu menjadi keras dan menggetarkan tanah, menggugurkan daun-daun pepohonan!


”Ciaaat....!!” Bentakan setinggi jagat keluar dari mulut Rangga Saksana. Tubuhnya lenyap. Keris yang di tangan kanannya menyapu kian kemari dalam kecepatan yang sukar ditangkap oleh mata. Inilah yang disebut jurus: orang gila mengebut lebah.


Dan memang gerakan menyapu-nyapu dengan keris itu meskipun luar biasa cepatnya namun kelihatan seperti tak teratur tak menentu. Tubuh Rangga Saksana hoyong sana hoyong sini.


Namun serangan itu telah mengurung si nenek sakti Eyang Ratih Parwati!


Tapi si perempuan tua masih juga mengikik-ngikik. Masih juga petatang petiting sambil memainkan ranting kering yang di tangannya. Jika saja yang dihadapi oleh Rangga Saksana saat itu bukannya gurunya sendiri, bukan seorang sakti macam Ratih Parwati, tapi seorang lain pastilah tubuhnya akan terkutung-kutung atau sekurang-kurangnya terbabat,


tercincang oleh mata keris yang menyapu-nyapu laksana badai itu!


Ratih Parwati mengikik.


”Geblek kau Rangga! Masih kurang cepat, masih kurang cepat!” kata Ratih Parwati.


Sang murid memaki dalam hati.


”Eeeee.... kau memaki ya?!” hardik Ratih Parwati.


”Lihat ranting!” teriak perempuan tua itu.


Tubuh Ratih Parwati berkelebat. Tangan kanannya yang memegang ranting bergerak. ”Awas ketek kananmu, Rangga!” (ketek\=ketiak).


Meskipun sudah diperingatkan, meskipun sudah mengelak dengan kecepatan yang luar biasa namun tetap saja ujung ranting itu lebih cepat datangnya ke ketiak kanan Rangga Saksana.

__ADS_1


”Breeett!!”


Baju putih Rangga Saksana robek besar di bagian ketiak sebelah kanan!


”Buset....! Untung cuma ketekku!” seru pemuda itu. Dengan kertakkan geraham dia menerjang ke muka.


”Eyang,” katanya,


”terima jurus – Maling Melempar Batu – ini!”


”Ah hanya jurus geblek begitu siapa yang takut?!” menyahuti sang guru.


Rangga Saksana meninjukan tangan kanannya ke muka. Pada saat tangannya perpentang lurus maka jari-jari tangannya membuka dan setiup gumpalan angin keras laksana batu


besar melesat ke arah tenggorokan Eyang Ratih Parwati!


Nenek-nenek itu tertawa cekikikan. Dia meludah. Meski Cuma ludah dan disemburkan secara acuh tak acuh tapi karena diisi dengan tenaga dalam, ludah itu berbahaya sekali bagi pembuluh-pembuluh kulit dan mata.


Rangga Saksana berkelit ke samping. Sambil


berkelit dilambaikannya tangan kirinya untuk menambah perbawa dorongan pukulan tangan kosongnya tadi yaitu – maling melempar batu – yang agak menyendat sedikit akibat


dipapaki oleh semburan ludah Ratih Parwati.


Melihat serangan lawan masih terus mengganas ke batang tenggorokannya, kembali Ratih Parwati tertawa. Memang manusia satu ini aneh sekali sifatnya. Bahkan setiap


jurusjurus ilmu yang diciptakannya diberinya dengan nama-nama aneh dan lucu.


Suara tertawa nenek-nenek itu lenyap, berganti dengan satu lengkingan nyaring yang menusuk gendang-gendang telinga. Tubuhnya kelihatan jungkir balik dan melesat seperti


terbang ke sebuah cabang pohon jambu klutuk!


Sekaligus Ratih Parwati telah mengelakkan gumpalan angin keras ”maling melempar batu.”


Angin keras ini menghajar batang pohon di seberang sana dan batang pohon itu patah lalu tumbang ke tanah!


Gemas sekali Rangga Saksana memandang ke atas. Dilihatnya gurunya duduk enakenakan di cabang pohon jambu klutuk sambil menggerogoti buah jambu itu!


”Geblek betul....!” gerutu Rangga kesal karena serangannya hanya mengenai pohon.


”Kau mau jambu, Rangga?!”


Dan sebelum Rangga Saksana sempat menyahuti maka gurunya telah menyemburkan biji-biji jambu klutuk itu ke arahnya. Dua puluh satu butir biji jambu klutuk menyerang hampir ke seluruh jalan darah di tubuh Rangga Saksana!


”Ah, cuma bijinya siapa yang sudi!,” jawab Rangga Saksana.


Dia menghembus ke udara dan melambai-lambaikan kedua tangannya. Dua puluh satu butir biji jambu klutuk itu


berguguran ke tanah bahkan tujuh butir di antaranya berbalik menyerang Ratih Parwati.


Tapi dengan goyangkan sedikit saja kaki kanannya, maka nenek-nenek sakti itu membuat ketujuh biji jambu klutuk itu bermentalan!


”Kalau tak sudi biji jambu, terimalah ranting kering ini!” kata Ratih Parwati.


Dan ranting kering yang di tangan kirinya dilemparkannya ke bawah, mendesing laksana anak panah mengarah batok kepala muridnya!


Memang Ratih Parwati benar-benar seorang perempuan tua yang aneh. Dalam melatih muridnya setiap serangan yang dilancarkannya benar-benar merupakan serangan yang mematikan atau sekurang-kurangnya bisa menimbulkan celaka hebat bila sang murid tidak berhati-hati. Setiap jurus ilmu silat yang diciptakannyapun aneh-aneh namanya.


Melihat serangan ranting kering ini Rangga ganda tertawa. Sekali dia gerakkan tangan kanan yang memegang keris maka ranting kering itu belah dua tepat di pertengahannya dan jatuh ke tanah.


”Sebaiknya turun saja dari pohon eyang” kata Rangga Saksana. ”Kalau tidak....”


”Kalau tidak kenapa?” memotong Eyang Ratih Parwati.


”Sambut keris ini, Eyang....! Sambut dengan jidatmu biar konyol!”


Habis berkata begitu Rangga Saksana tertawa mengakak dan melemparkan keris eluk tujuh yang di tangan kanannya. Senjata itu melesat hampir tidak kelihatan karena cepatnya.

__ADS_1


Namun empat detik kemudian terdengarlah suara cekikikan Eyang Ratih Parwati. Dan ketika Rangga mendongak ke atas dilihatnya keris yang dilemparkannya tadi berada dalam jepitan


telunjuk dan jari tengah kanan gurunya.


Rangga Saksana menggerendeng.


Tiba-tiba. ”Ini balasan kehormatan untuk keris bututmu, Rangga!”


Ratih Parwati cabut dua tusuk kundainya dari batok kepalanya yang berambut putih dan jarang itu. Dibarengi dengan angin lemparan yang bukan olah-olah dahsyatnya maka menyambarlah dua tusuk kundai itu ke arah Rangga Saksana. Yang satu menyerang kepala, yang lain menyerang perut!


Rangga Saksana yang tahu kehebatan tusuk kundai itu tak mau memapaki senjata tersebut dengan mengandalkan lambaian tangan yang mengandung tenaga dalam.


Didahului dengan bentakan nyaring maka pemuda ini menjejek bumi dan melintangkan badannya ke udara. Tusuk-tusuk kundai itu lewat di kiri kanannya, terus amblas ke dalam tanah!


Eyang Ratih Parwati tertawa gelak-gelak.


”Bagus...., bagus kau tidak menangkis seranganku dengan hantaman tenaga dalam!


Tak satu tenaga dalam yang bagaimana hebatnyapun yang sanggup memapaki tusuk kundai itu Rangga!


Eeee.... aku haus! Hik.... ambilkan air buatku Rangga! Cepat!”


”Kalau haus jilat saja air keringat!” kata murid yang lucu dan seperti kurang ingatan pula macam gurunya.


Dan dasar Eyang Ratih Parwati manusia aneh, dia sama sekali tidak marah mendengar gurau yang keliwatan dari muridnya itu, melainkan tertawa mengakak.


Tiba-tiba tawanya lenyap. ”Air, Rangga! Lekas!” bentak perempuan itu.


Sang murid berlalu juga dari tempat itu. Melangkah ke sebuah pondok kecil. Di bagian belakang pondok ini ada sebuha gentong berisi air putih dingin. Rangga mengambilnya segayung.


Ketika dia melangkah kembali ke tempat tadi untuk memberikan air itu kepada gurunya maka didengarnya suara Eyang Ratih Parwati menyanyi. Suaranya sama sekali tidak merdu. Namun kata-kata yang terjalin dalam nyanyian itu membuat Rangga Saksana menjadi heran dan bertanya-tanya dalam hati


Pitulas taun wus katilar,


Pucuking Gunung Cereme isih panggah kaya biyen mulo,


Langit isih tetep biru,


Wulan lan suryo isih tetep mandeng lan kangen,


Pitulas taun agawe kang tua tambah tua.


Pitulas taun ndadekake bayi abang dadi pemuda kang gagah,


Pitulas taun wektu perjanjian,


Pitulas taun wiwitane perpisahan,


Pitulas taun wekdaling pamales....


Artinya: (Tujuh belas tahun telah berlalu.


Puncak Gunung Ciremai masih tetap seperti dulu,


Langit masih tetap biru,


Bulan dan matahari masih berpandangan jauh dan rindu.


Tujuh belas tahun membuat si tua tambah tua,


Tujuh belas tahun membuat seorang orok menjadi pemuda gagah,


Tujuh belas tahun masa perjanjian,


Tujuh belas tahun ujung perpisahan,


Tujuh belas tahun saat pembalasan).

__ADS_1


__ADS_2