
Sinar matahari yang menyapu mukanya membuat gadis ini terbangun dari kenyenyakan tidurnya. Dibukanya kedua matanya dengan pelahan, digosoknya beberapa kali kemudian
dipalingkannya kepalanya ke samping. Dia terkejut mendapatkan pemuda itu tak ada di sampingnya, la segera bangun duduk, lalu berdiri dan memandang ke belakang. Tapi pemuda itu tidak kelihatan.
“Rangga,” panggilnya.
Tak ada yang menyahut.
“Rangga.... !” panggilnya sekali lagi lebih keras. Hanya gaung suaranya yang menjawab.
Tiba-tiba ketika matanya memandang ke batu besar di samping pembaringan di mana dia dan Rangga tidur semalam terbentur olehnya tulisan.
Anggini
Maafkan kalau aku pergi tanpa pamit. Aku terpaksa
meninggalkan kau. Kalau ada umur kita pasti bertemu lagi.
Kembalilah ke tempat gurumu. Terima kasih untuk segala-galanya malam tadi.
Rangga
Anggini merasakan dadanya menyesak. Digigit-gigitnya bibirnya. Nyatanya pemuda itu sudah pergi. Tubuhnya masih terasa hangat oleh pelukan Rangga malam tadi. Seperti masih terasa jari-jari tangan pemuda itu mengelusi kulit tubuhnya.
Juga kecupan-kecupan yang disertai gigitan-gigitan kecil.
Terima kasih untuk segala-galanya malam tadi
Anggini membaca lagi tulisan itu. Termangu dia. Diputarnya tubuhnya, parasnya ke kemerahan, ditambah lagi sentuhan sinar matahari pagi. Tak mungkin baginya untuk mengejar pemuda itu kembali. Dia tak tahu apakah Rangga pergi larut malam tadi atau dinihari, atau pagi tadi sebelum dia bangun.
Gadis ini tarik nafas panjang dan dalam. Ketika dia membetulkan ikatan selendang ungunya yang di pinggang, maka pada ujung selendang itu dilihatnya Gambar Trisula. Sekali lagi gadis ini tarik nafas dalam dan panjang. Lalu dengan langkah gontai ditinggalkannya tempat itu.
*******
Kerajaan Pajajaran…
Pada masa itu Kerajaan Pajajaran masih belum luas pengaruhnya di Jawa Barat. Bahkan dengan kesultanan Banten di pantai Utara masih terdapat hubungan baik, belum ada silang sengketa.
Di bawah pemerintahan Prabu Kamandaka maka Kerajaan
Pajajaran aman tenteram. Penduduk hidup berkecukupan.
Tapi di dunia ini selalu saja ada manusia yang berbusuk hati, yang iri dan dengki. Yang tidak senang dengan kebahagiaan orang lain, yang tidak suka dengan keberuntungan orang lain,
yang tidak suka akan kekuasaan orang lain dan ingin meruntuhkan kekuasaan orang lain itu lalu ganti menguasainya!
Saat itu satu-satunya manusia di seluruh Pajajaran yang paling membenci Prabu Kamandaka ialah Werku Alit.
Dalam tambo keturunan raja-raja Pajajaran maka Prabu
Purnawijaya adalah satu-satunya raja pajajaran yang tidak mempunyai keturunan kandung dari permaisurinya. Mungkin ini sudah menjadi takdir Dewa-dewa di Kahyangan, dan ini jugalah
yang menjadi pangkal sebab buntut daripada terjadinya banjir darah di Pajajaran.
__ADS_1
Ketika Prabu Purnawijaya mangkat maka tokoh-tokoh istana, ahli-ahli agama dan orang-orang tua kerajaan menyepakati untuk menobatkan Kamandaka, adik kandung Prabu Purnawijaya, menjadi raja Pajajaran.
Kamandaka memang seorang yang bijaksana, pandai serta
berilmu tinggi, disegani dan dihormati. Memang dia telah menunjukkan bakat untuk menjadi seorang pemimpin agung.
Lagi pula memang tak ada manusia lain di Pajajaran saat itu
yang punya hak dan pantas untuk dinobatkan sebagai pengganti mendiang Prabu Purnawijaya.
Dari seorang selirnya, Prabu Purnawijaya mempunyai seorang anak yang bernama Werku Alit. Werku Alit ini tua beberapa bulan dari Kamandaka. Ketika masih orok keduanya
sama-sama disusukan pada seorang perempuan penyusu istana sehingga boleh dikatakan antara Werku Alit dan Kamandaka terjalin sudah satu pautan tali persaudaraan!
Namun ketika Kamandaka dinobatkan sebagai Prabu Pajajaran timbullah dengki di hati Werku Alit. Bukankah Kamandaka hanya adik Prabu Purnawijaya, bukan anak kandungnya?
Dan bukankah dia sebagai anak dari Prabu Purnawijaya, lebih mempunyai hak untuk memegang tahta kerajaan?
Werku Alit dalam dengkinya, apalagi sesudah kena hasutan oleh golongan-golongan tertentu yang memang tidak suka pada Kamandaka, lupa bahwa dirinya hanyalah seorang anak yang dilahirkan dari selir Prabu Pumawijaya, yang sama sekali tidak punya hak untuk menjadi raja Pajajaran.
Demikianlah, secara diam-diam Werku Alit meninggalkan istana Pajajaran, mengembara menuntut ilmu dan menghubungi beberapa orang tertentu. Ketika dia kembali ke istana maka
saat itu dia sudah menyusun suatu rencana besar. Yaitu untuk merebut takhta kerajaan dengan jalan kekerasan!
Dengan pertempuran, dengan peperangan!
Dalam pengembaraan itulah Werku Alit bertemu dengan Suranyawa atau Mahesa Jenar. Tahu bahwa Mahesa Jenar seorang manusia sakti luar biasa maka Werku Alit mengambilnya sebagai tangan kanan dengan perjanjian bila kerajaan berhasil digulingkan maka Mahesa Jenar akan dijadikan
Perdana Menteri!
*********
Di hutan belantara di sekitar kaki Gunung Halimun kelihatan bertebaran ratusan buah kemah. Inilah pusat balatentara pemberontak yang hendak merebut tahta kerajaan Pajajaran
di bawah pimpinan Werku Alit. Sementara Werku Alit kembali ke Pajajaran maka pimpinan dipegang langsung oleh tangan kanannya yaitu Mahesa Jenar.
Di sini berhimpun sekitar seribu prajurit. Kebanyakan dari pasukan-pasukan ini didapat Werku Alit dan Mahesa jenar dari
Adipati-adipati kecil yang bernaung di bawah Pajajaran tapi yang kena dipengaruhi dan dihasut oleh kedua orang itu. Bahkan saat itu Mahesa Jenar masih menunggu beberapa orang Adipati
lagi yang telah dihubunginya.
Jika Adipati-adipati ini datang dan menyerahkan beberapa ratus prajurit tambahan maka dapatlah diatur kapan dilaksanakan penyerangan terhadap Pajajaran. Sementara waktu menunggu
maka semua prajurit senantiasa dilatih perang-perangan. Para kepala-kepala pasukan diberi tambahan ilmu silat dan kesaktian yang lumayan oleh Mahesa Jenar. sedang para Adipati yang
saat itu sudah bergabung, Mahesa Jenar menurunkan beberapa ilmu kesaktiannya.
Mahesa merasa sangat menyesal sekali ketika mendapat kabar bahwa tiga orang anak buahnya yang
diam di Jatiwalu telah menemui ajal akibat bentrokan dengan anak-anak murid Perguruan Gua Nagreg, sedang Kalingundil hilang lenyap tak tentu rimbanya.
Kalau saja keempat manusia itu ada di sana tentu tak usah payah-payah dia menggembleng kepala-kepala pasukan dan
__ADS_1
Adipati-adipati itu. Tapi tak apa payah sedikit. Nanti dia akan memetik hasilnya sendiri!
Di dalam kemah besar yang terletak di tengah-tengah ratusan kemah di kaki Gunung Halimun itu, mengelilingi sebuah meja bulat telur maka duduklah empat orang laki-laki.
Yang pertama tak lain dari Mahesa Jenar, kumis melintang dan badan semakin gemuk.
Yang kedua Adipati Karangtretes yaitu Jakaluwing, bercambang bawuk lebat, potongan tubuhnya tegap kekar.
Yang ketiga, yang duduk di samping kiri Mahesa Jenar ialah seorang berbadan tinggi kurus bermuka licin bernama Surablabak. Dia adalah Adipati Manganreja.
Yang terakhir seorang laki-laki berbadan gemuk pendek, berkepala sulah. Sinar lampu dalam kemah membuat
kepalanya itu berkilat seperti bersinar-sinar. Manusia ini bernama Lanabelong, Adipati Kendil.
Di atas meja, di hadapan keempatnya terletak masing-masing segelas tuak murni dan harum.
Keempat Adipati itu telah kena dihasut oleh Mahesa Jenar dan Werku Alit untuk memberontak terhadap Pajajaran dan kepada mereka dijanjikan kedudukan sebagai Menteri kerajaan bila
pemberontakan mereka berhasil kelak.
“Silahkan diteguk tuaknya, saudara-saudara Adipati,” kata Mahesa Jenar pula sesudah keheningan mengungkungi kemah itu beberapa lamanya.
Masing-masing kemudian meneguk tuak yang enak itu. Di malam yang dingin minum tuak memang enak menghangatkan tubuh.
Jakaluwing raba cambang bawuknya. Lalu bertanya:'“Kapan kira-kira saatnya kita akan menggempur Pajajaran, adimas Mahesa Jenar?”
“Soal penggempuran itu kangmas Jakaluwing, sebenarnya saat ini pun kita sudah sanggup melakukannya. Jumlah prajurit cukup, tenaga pimpinanrata-rata sudah berpengalaman dan dapat diandalkan. Cuma kita tak enak kalau meninggalkan saudara-saudara Warok Gluduk dan Tapak Ireng. Kedua Adipati itu telah berjanji akan bergabung dengan kita bersama
beberapa ratus prajurit-prajurit mereka. Ada baiknya jika kita tunggu kedatangan mereka. Sesudah itu baru kita hubungi Raden Werku Alit untuk menentukan kapan saat yang baik untuk
penyerangan....”
Adipati Jakaluwing manggut-manggut.
“Begitu memang bagus,” kata Lanabelong. Adipati berkepala sulah. Lalu diteguknya tuaknya.
“Di samping itu, mengingat bahwa di Pajajaran tentunya terdapat tokoh-tokoh pelindung yang berilmu tinggi maka kita musti tidak pula menyia-nyiakan bantuan yang hendak diberikan oleh Begawan Sitaraga yang diam di puncak Gunung Halimun!”
“Ah, hebat sekali kalau Begawan yang tersohor ini ikut di pihak kita!” kata Surablabak sambil pukul meja.
“Sebenarnya,” kata Mahesa Jenar pula. “Begawan Sitaraga ini mempunyai dendam kesumat yang masih belum terbalaskan terhadap tetua Pajajaran yaitu kakek dari Kamandaka....”
“Kalau Begawan ini setingkat umurnya dengan kakek Kamandaka, tentu kini kira-kira sudah seratusan usianya...” kata Lanabelong.
“Kira-kira begitulah,” sahut Mahesa Jenar.
Kemudian laki-laki ini berseru memanggil pelayan untuk menyuruh tambah tuak di keempat gelas itu.
Sesudah pelayan pergi Mahesa Jenar buka mulut kembali. “Besok aku akan kirimkan dua orang kurir ke Pajajaran untuk menemui Raden Werku Alit. Kuminta kepadanya untuk
menyebar mata-mata lebih banyak, terutama di dalam istana guna mengetahui perkembangan terakhir, terutama mencari kabar selentingan apakah gerakan kita ini bocor atau tidak.... “
“Dan jangan lupa pula untuk meneliti pertahanan Pajajaran di mana yang lemah,” kata Lanabelong.
__ADS_1
Mahesa Jenar mengangguk. “Saudara-saudara Adipati, agaknya pertemuan kita malam ini cukup. Sampai bertemu besok pagi.”
Keempat orang itu saling menjura kemudian satu demi satu meninggalkan kemah besar khusus untuk tempat perundingan, menuju ke kemah masing-masing.