PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
JARI PENGHANCUR SUKMA


__ADS_3

“Setan alas keparat!” maki Pendekar Kumbang Malam. 


Dengan gerakan yang sulit sekali dia membungkuk. Sabuk mutiara diputar sebat melindungi tubuh sedang tangan kiri diulurkan untuk menjangkau tepi jubah hitamnya. Dengan dua senjata di tangan yaitu tepi jubah di tangan kiri dan sabuk mutiara di tangan kanan, Pendekar Kumbang Malam berdiri kembali menghadapi lawannya. 


Sabuk mutiara mengeluarkan gelombang angin yang laksana gunung besarnya sedang tepi jubah hitam menghamburkan angin pengap yang sanggup menyesakkan jalan pernafasan yang menyendat tenggorokan serta liang hidung. 


Dalam jurus ketiga itu kelihatanlah bagaimana gempuran Datuk Bambu Kuning menjadi lamban. Orang tua itu berteriak keras dan kerahkan seluruh tenaga dalamnya. Namun sia-sia saja. Dirasakannya dadanya menjadi sesak, lobang-lobang hidungnya laksana tersumbat. Sukar baginya untuk bernafas. Menanggapi hal ini si orang tua segera atur jalan darah dan tutup pernafasannya. Tubuhnya lenyap sewaktu din mempercepat gerakannya. 


Namun kedahsyatan angin pengap yang menderu dari tepi jubah memang tidak kepalang tanggung. Sebentar saja serangan-serangan bambu kuning lawan sudah dibendungnya. Gerakan Datuk Bambu Kuning kembali menjadi lamban sewaktu orang tua itu tidak bisa mempertahankan lagi menutup jalan nafasnya terus-terusan, sedang sementara itu pertempuran sudah berjalan lima jurus. 


Pendekar Kumbang Malam kembali keluarkan suara tertawa sewaktu dia tahu bahwa dirinya telah berada di atas angin. “Ha…ha...! Kau disuruh turun gunung oleh penduduk desa hanya untuk mencari kematian saja Datuk Bambu Kuning!” 


“Pendekar terkutuk jangan terlalu besar harapan!” kertak Datuk Bambu Kuning. Diam-diam tiga perempat dari tenaga dalamnya dikerahkan ke dada. 


Tiba-tiba, “Bluuss!” 


Selarik asap kuning menyembur dari mulut si orang tua. Pendekar Kumbang Malam terkejut bukan main dan cepat tutup jalan nafasnya. Keterkejutan dan saat menutup jalan nafas tadi membuat gerakannya mengendur. Sewaktu dia menghindar ke samping sambil babatkan sabuk mutiaranya memapasi semburan asap kuning, bambu di tangan kanan lawan datang menderu. Si pemuda kebutkan tepi jubahnya. Celaka!! Asap kuning itu tak sanggup dibikin buyar oleh angin pengap tepi jubah hitamnya. 


Pendekar Kumbang Malam menjerit setinggi langit. Tubuhnya lenyap dan sesaat kemudian dia berhasil ke luar dari serangan lawan yang bukan kepalang dahsyatnya tadi. Sewaktu berdiri mengatur jalan darah dan nafasnya kembali, diam-diam pemuda ini keluarkan keringat dingin juga. 


“Kau kira kau bisa lari dari sini, manusia bejat?!” hardik Datuk Bambu Kuning. 

__ADS_1


Mulutnya membuka dan asap kuning rnenyembur lagi ke muka lawan. Pendekar Kumbang Malam kembali tutup jalan nafasnya dan melompat ke samping. Serangan kebutan tepi jubah dan sambaran sabuk mutiara dilakukannya berbarengan sekaligus ke arah lawan. Si orang tua melompat tiga tombak ke atas dan sewaktu turun kembali menyemburkan asap kuning dari mulutnya. Pendekar Kumbang Malam menjadi kewalahan kini. Kewalahan dan merutuk. Di samping itu tak habis heran kesaktian apakah yang dikandung oleh asap kuning yang keluar dari mulut lawannya sehingga angin pengap jubah hitam dan angin sabuk mutiara tiada sanggup membuyarkannya. 


Tiba-tiba pemuda itu menggereng macam harimau. Tubuhnya melesat ke muka. Angin pengap menyerang ke tenggorokan Datuk Bambu Kuning sedang sabuk mutiara menerpa dari atas ke bawah. Si orang tua ganda tertawa menghadapi serangan ini. Bambu kuningnya diputar-putar, tiba-tiba di kiblatkan demikian rupa 


“Sreet!” 


Sabuk mutiara di tangan kanan Pendekar Kumbang Malam kena disambar dan terlepas mental dari tangan pemuda itu. Si pemuda sendiri dengan jungkir balik susah payah baru berhasil ke luar dari sambaran tongkat bambu serta semburan asap kuning yang dilepaskan lawan. Matanya membeliak, mulutnya komat kamit. Mukanya mengelam sewaktu si orang tua melangkah perlahan mendekatinya dengan tertawa sedingin salju. 


“Nyawa anjingmu hanya tinggal beberapa detik saja, pemuda terkutuk!” kata Datuk Bambu Kuning. “Sejak hari ini dunia persilatan akan bersih dari noda kotoran manusia macam kau!” 


“Aku masih belum menyerah keparat!” bentak Pendekar Kumbang Malam. Mulutnya masih komat-kamit. Matanya dengan waspada memperhatikan setiap gerak yang dibuat Datuk Bambu Kuning. 


“Soal nyawa soal mudah” tukas Pendekar Terkutuk Kumbang Malam. 


Diam-diam dia salurkan seluruh tenaga dalamnya ke ujung jari telunjuknya. Sesaat kemudian ujung jari itu menjadi hitam legam dan mengeluarkan sinar menggidikkan. 


“Orang tua edan, kau lihat jari ini?! “ 


Datuk Bambu Kuning memandang dengan kerenyit kulit kening pada jari telunjuk tangan kanan Pendekar Kumbang Malam. Darahnya tersirap, mukanya berubah. Pendekar Kumbang Malam tertawa mengekeh. 


“Kenapa mukamu menjadi pucat, kunyuk tua?!” 

__ADS_1


Datuk Bambu Kuning tidak menyahut. Mukanya bertambah pucat dan matanya melotot memandang tajam-tajam pada jari telunjuk si pemuda. Ketika jari telunjuk itu dan ibu jari si pemuda membuat lingkaran. Datuk Bambu Kuning berseru kaget. 


“Ilmu Jari Penghancur Sukma!” 


Dengan serta merta Datuk Bambu Kuning bagi dua aliran tenaga dalamnya. Sebagian ke ujung tongkat bambu dan sebagian lagi ke dada. 


“Makan jariku ini, Datuk keparat!” seru Pendekar Kumbang Malam. 


Dikejap itu juga dia menjentikkan jari telunjuknya. Satu gelombang angin hitam menderu laksana topan prahara, menyerang ke arah Datuk Bambu Kuning. Di saat yang sama Datuk Bambu Kuning sapukan tongkat di tangan kanan dan semburkan asap kuning.


Datuk Bambu Kuning berteriak kaget ketika melihat angin pukulan bambu kuning dan sambaran asap kuningnya buyar berantakan dilanda angin hitam lawan. Dan angin hitam yang menggidikkan ini terus melesat ke arahnya. Datuk Bambu Kuning cepat menyingkir tapi kasip. Orang tua itu mencelat beberapa tombak jauhnya ketika angin hitam menyambar tubuhnya. Dan terdengarlah jeritnya melengking langit. Datuk Bambu Kuning terguling-guling di tanah. Sekujur tubuhnya hitam hangus. Nyawanya tidak ketolongan lagi, putus kejap itu juga. 


Pendekar Kumbang Malam mengatur jalan nafas dan aliran darahnya kembali. Sewaktu dia menggerakkan kakinya baru disadarinya bahwa kedua kakinya itu telah tenggelam ke dalam tanah sedalam lima senti. Bila pemuda ini melangkah mendekati Ning Leswani, kembali terdengar makian gadis itu. Makian yang kemudian disusul dengan jeritan. Tak ada satu orangpun yang berani menghalangi dan berbuat suatu apa ketika Ning Leswani dipanggul oleh Pendekar Kumbang Malam dan dilarikan. 


Sampai pagi, sampai ketika matahari muncul di ufuk timur, desa masih diselimuti oleh kehebohan atas apa yang telah terjadi. Ki Lurah Rantas Madan den Rana Wulung bersama kira-kira selusin penduduk, dengan membawa berbagai senjata dan menunggangi kuda coba mencari jejak Pendekar Kumbang Malam. Namun ke mana manusia durjana itu hendak dicari?! 


Menjelang tengah hari, mereka sudah berbisik-bisik sesama mereka bahwa tak mungkin mereka akan menemui Ning Leswani. Kalaupun bertemu, tentu gadis itu sudah rusak kehormatannya. Dan seandainya pula mereka berhasil menyergap Pendekar Kumbang Malam, belum tentu mereka sebanyak itu bisa membekuk batang lehernya.


Rantas Madan tahu suasana yang dirasakan anggota-anggota rombongannya. Dia berunding dengan Rana Wulung dan akhirnya diambil keputusan untuk pulang saja.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2