PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
MANA SULTAN ?


__ADS_3

Dikurung begitu rupa, Pendekar Trisula Maut tetap tenang-tenang saja, seperti saat itu cuma da sendirian saja berada di situ. Si muka hitam yang tak lain Resi Singo Ireng kaki tangan Parit Wulung adanya, menyapu tebaran-tebaran mayat di hadapannya dengan pandangan sedingin salju. Yang agak mengherankan Resi muka hitam ini ialah, mengapa di antara mayat-mayat pasukan Parit Wulung juga terdapat mayat Mangkubumi Mintra. Tak mungkin si pemuda rambut gondrong itu yang telah menebar mayat, kecuali jika dia mempunyai dendam kesumat terhadap kedua belah pihak yaitu pihak pasukan dan Mangkubumi Mintra. Disamping itu dengan adanya mayat si orang tua tergeletak di situ, pastilah sebelumnya Sultan Hasanuddin juga berada di situ. Singo lreng memang berpikiran tajam. Melihat kepada pakaian Mangkubumi Mintra, tahulah dia bahwa penasihat istana itu berusaha melarikan diri dari Banten dengan menyamar sebagai pengemis. 


"Mana Sultan?", bertanya Singo Ireng dengan suara lantang kasar. 


Pendekar Trisula Maut tidak menjawab. Malahan dia memandang seperti tiada melihat apa-apa berada di sekelilingnya saat itu. Dia menengadah ke atas memperhatikan matahari yang menaik tinggi. Melihat sikap yang sangat menghina ini, apa lagi di hadapan sekian banyaknya prajurit, tentu saja Resi Singo Ireng menjadi sangat penasaran serta malu. Mukanya yang hitam kelihatan semakin tambah hitam. 


" Bocah gondrong! Apa kau tuli atau gagu? Orang bertanya tidak dijawab?! ". 


Pendekar Trisula Maut masih tidak menyahut. Malah kini jari-jari tangan kirinya mencungkil-]cungkil tepi lubang hidungnya, kemudian dia berbangkis dua kali berturut-turut.


"Keparat!", bentak Singo Ireng dengan suara menggeledek. 


"Eeeeh… kau memaki pada siapakah?!", bertanya Pendekar Trisula Maut sambil putar kepala seperti baru saat itu disadarinya, bahwa dia tidak berada sendirian di tempat itu.


" Prajurit-prajurit!! Tangkap bocah edan ini!! “ perintah Resi Singo Ireng dengan geramnya. 


Maka dua puluh prajurit pemberontak melompat turun dari kuda masing-masing, hunus senjata dan bergerak cepat mendekati Pendekar Trisula Maut. 


"Begundal pemberontak", berseru Rangga Geblek atau Pendekar Trisula Maut. "Kalau kau ingin tangkap aku mengapa tidak turun tangan sendiri?!" 

__ADS_1


Di saat itu dua puluh prajurit sudah menyerbu untuk menangkap Pendekar Trisula Maut. 


"Kalian kunyuk-kunyuk pemberontak hanya datang minta digebuk!", ujar Pendekar Trisula Maut dengan tersenyum. 


Tapi bila senyumnya itu putus maka mengumandanglah bentakan dahsyat. Lima prajurit yang paling dekat dan hendak turun tangan menangkapnya terpelanting dan bergelimpangan di tanah tiada nyawa lagi. 


Tersiraplah darah Resi Singo Ireng. Tiada disangkanya pemuda gondrong bertampang bodoh itu mempunyai kehebatan demikian rupa. Maka berserulah dia. "Tak perlu budak hina dina ini ditangkap hidup-hidup. Cincang di tempat!". 


Maka lima belas senjata tajam berkiblat ke arah Pendekar Trisula Maut. 


"Heiyaaah !" 


Dalam kejutnya menyaksikan gebrakan yang dahsyat itu, Resi Singo Ireng melihat satu bayangan berkelebat ke arahnya. Dia tarik tali kekang kuda dengan cepat. Namun sebelum binatang tunggangannya itu sempat bergerak, tubuh kuda ini sudah angsrok ke tanah. Keempat kakinya terbabat putus. Binatang ini berguling di tanah melejang-lejangkan kakinya yang buntung dan meringkik tiada henti. Untung saja Resi yang kosen ini Cepat menyadari apa yang terjadi, sehingga lekas-lekas dia melompat ke samping dan berdiri dengan muka kelam membesi, mata menyorot. Pendekar Trisula Maut tertawa gelak-gelak, sementara prajurit-prajurit yang masih hidup dengan nyali menciut segera menjauhi ini pemuda, yang dianggap mereka sangat berbahaya. 


"Pemuda gondrong! Kehebatanmu cukup untuk dikagumi! Tapi bila kau tahu dengan siapa saat ini berhadapan, maka lekaslah berlutut minta ampun!", berkata Singo Ireng. 


"Uh! Sama manusia jelek macam kau buat apa perlu takut!", ujar Rangga Geblek dan tawanya semakin menjadi-jadi. 


"Ah... kalau begitu kau sebutkanlah nama. Terhadap manusia-manusia yang punya sedikit ilmu, aku tidak begitu senang jika membunuhnya tanpa tahu namanya terlebih dahulu". 

__ADS_1


"Kalau butuh namaku aku tak keberatan. Majulah biar kutulis dijidatmu", kata Rangga Geblek pula sambil acungkan jari telunjuk. 


Menggeramlah sang Resi bermuka hitam itu. Selama dunia terbentang, selama malang melintang dalam dunia persilatan, baru hari itulah dia dihina dan direndahkan terus-terusan oleh seseorang. Oleh seorang yang berusia jauh lebih muda dari padanya. Dari balik pakaian Resi ini keluarkan sebuah senjata berbentuk aneh yaitu sebuah besi panjang yang ujungnya berbentuk Iingkaran. 


"Kalau kau punya senjata pusaka, sebaiknya lekas keluarkan supaya mampus tidak rnenyesal!" 


"Tak perlu banyak cerewet!", semprot Pendekar Trisula Maut. "Majulah. Senjataku cukup pedang butut milik cecungukmu yang sudah mampus itu". 


Resi Singo Ireng yang berbadan kate ini segera maju dan hamburkan serangan dahsyat. Senjata anehnya mengeluarkan suara menderu, menimbulkan angin yang deras dan tajam. Ujung senjata yang berbentuk lingkaran itu berubah laksana ratusan banyaknya. Seorang lawan yang berilmu tanggung dan bermata tidak awas akan sulit membedakan mana lingkaran senjata yang asli dan mana yang bukan. Dalam lawan kebingungan maka senjata itu akan menyeruak lewat kepalanya dan sekali putar saja pastilah patah dan putus batang leher dibuatnya. Inilah kehebatan senjata sang Resi dari pantai selatan itu. 


Namun yang dihadapi Singo Ireng dihari itu bukanlah seorang lawan berilmu tanggung, bukan seorang pemuda yang hanya mengenal sejurus dua ilmu silat. Begitu senjata lawan membadai menghampiri kepalanya, Rangga Geblek cepat merunduk dan selinapkan satu tusukan deras kearah perut sang Resi. Kaget Singo Ireng bukan olah-olah. Cepat dia undur dua langkah dan papasi pertengahan senjata lawan dengan tongkat besi lingkarannya. 


"Trang"  


Dua senjata beradu Karena senjata ditangan Singo Ireng adalah senjata mustika sedang pedang ditangan Rangga hanya pedang biasa maka patahlah pedang itu. Tapi sebaliknya Singo Ireng merasakan bagaimana tangannya tergetar hebat dan panas pada bentrokan itu. Maklumlah dia bahwa pemuda itu mempunyai tingkat tenaga dalam yang hebat sekali. Karenanya sang Resi tanpa memberi peluang segera lancarkan serangan-serangan dahsyat. Sengaja dikeluarkannya jurus-jurus yang hebat, yaitu jurus "memetik bunga membelah buah" lalu disusul dengan jurus "delapan gunung meletus gegap gempita". 


Diserang dengan dua jurus ini berikut pecahan-pecahannya yang tak kalah dahsyat, maka Pendekar Trisula Maut menjadi repot juga. Namun bila dia sudah mempercepat gerakannya, bila suara siulan sudah menggema melesat dari sela bibirnya, maka kelihatanlah kini bagaimana Resi Singo Ireng menjadi terdesak. Meski terdesak, Resi ini dengan segala kelihaiannya sanggup pertahankan diri sampai sepuluh jurus dimuka.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2