
"Suralangi, lekas disudahi saja!" terdengar seruan Ketua Partai Telaga Wangi.
Mendengar ini maka Suralangi dengan gesitnya bergerak ke samping satu langkah. Ketika lawan memburu dengan sambaran besi hitam berbentuk pendayung, maka Suralangi kembali ke posisinya semula dan dari sini menggempur dengan jurus yang dinamai "Ular Sanca ke Luar Sarang Mematuk Gunung".
"Buk!"
Besi hitam di tangan Si Bayangan Setan mental ke udara. Dari mulut manusia berjubah hitam ini keluar keluhan kesakitan Ketika diperhatikannya ternyata tulang belakang telapak tangannya remuk.. Suralangi telah mempergunakan hulu pedangnya untuk menghantam belakang telapak tangan Si Bayangan Setan.
Sementara Si Bayangan Setan masih merintih kesakitan maka Suralangi menyarungkan pedang dan berkata: "Terima kasih, kau telah memberi banyak pelajaran padaku, Bayangan Setan!"
Kali ini Si Bayangan Setan benar-benar kehilangan muka. Di bawah sorak sorai para hadirin dia membungkuk mengambil senjata besi hitamnya dan melompat meninggalkan panggung, menghilang di jurusan Timur. Suralangi menjura di hadapan Ketua Partainya lalu melangkah kembali ke tempatnya. Namun disaat inilah satu sosok tubuh melesat ke atas panggung dari kelompok hadirin sebelah Barat. Ternyata manusia ini adalah seorang nenek-nenek bongkok bermuka keriput cekung, bermata besar dan lebar seperti jengkol. Tubuhnya yang bongkok itu ditutupi oleh sehelai kain merah sedang pada pinggangnya tergantung sebuah kelewang yang juga berwama merah.
"Saudara," menegur si nenek terhadap Suralangi. "Kepandaianmu memang patut dipuji. Jurus Ular Sanca Ke Luar Sarang Mematuk Gunung tadi patut dikagumi. Aku percaya tentu kau masih banyak mempunyai simpanan jurus-jurus silat Partaimu yang hebat! Bersediakah kau memperlihatkannya kepadaku?!"
Kaget sekali Suralangi melihat kemunculan nenek-nenek ini. Dan lebih kaget lagi karena si nenek mengetahui betul nama jurus permainan pedang yang telah dikeluarkannya ketika mempecundangi Si Bayangan Setan tadi. Suralangi melirik ke sebelah kanan di mana Ketua Partai Telaga Wangi duduk. Dan dilihatnya Dewa Pedang merangkapkan kedua tangan di muka dada, sedang kulit kening mengerenyit.
Munculnya nenek-nenek berkain merah ini yang bukan lain adalah Nenek Kelewang Merah, juga mengejutkan Dewa Pedang. Lima tahun berselang dia pernah bentrokan dengan perempuan tua ini, ketika Nenek Kelewang Merah berusaha membantu satu gerombolan jahat yang mengacau di Kotaraja Demak. Karena pihaknya lebih kuat dan banyak, maka Nenek Kelewang Merah dan kawan-kawannya berhasil dikalahkan oleh Dewa Pedang dan rekan-rekannya. Itu terjadi lima tahun yang lalu.
Jika Nenek Kelewang Merah di saat ini muncul kembali, pastilah ada sangkut pautnya dengan peristiwa lama itu. Menurut pertimbangan Dewa Pedang, Suralangi akan sukar untuk menghadapi perempuan tua ini kalau tak mau dikatakan akan dapat dikalahkan. Namun untuk menyuruhnya mundur tidak pula mungkin karena ini akan membuat lunturnya nama Partai.
Ketika melihat Ketuanya menganggukkan kepala maka Suralangi maju selangkah. "Terima kasih, rupanya masih ada di antara para hadirin yang ingin menguji terhadap Partai kami. Tapi sebelumnya bolehkah aku mengenal nama dan gelarmu, Nenek?"
Perempuan tua itu tertawa terkempot-kempot. "Namaku tidak penting. Orang-orang memanggil aku Nenek Kelewang Merah!"
__ADS_1
Dugaan Suralangi bahwa perempuan ini adalah Nenek Kelewang Merah ternyata tidak meleset. Tergetar juga hatinya begitu mengetahui siapa lawan yang dihadapinya.
"Nah, kuharap kita tak perlu banyak tutur kata lagi, silahkan mulai" ujar Nenek Kelewang Merah pula, lalu mengambil kelewangnya. "Keluarkan semua ilmu simpananmu yang hebat-hebat! Terhadapku yang tua tak usah sungkan-sungkan"
Seperti berhadapan dengan Si Bayangan Setan Tadi, maka pada jurus permulaan Suralangi segera menggempur lawannya dengan ilmu pedang " Seribu Pedang Mengamuk"
"Ah, kalau cuma Jurus Seribu Pedang Mengamuk, ini namanya bukan ilmu simpanan!" mengejek Nenek Kelewang Merah. Kelihatannya memang dia acuh tak acuh saja terhadap sinar senjata lawan yang membungkusnya dengan ketat. "Ayo! Keluarkan jurus Partaimu yang paling lihai, kalau tidak aku tak tanggung jawab!"
Penasaran sekali maka Suralangi percepat putaran pedangnya sehingga senjata itu benar-benar laksana ribuan banyaknya.
"Manusia tolol! Disuruh keluarkan ilmu simpanan malah meneruskan jurus gila ini!"
"Wut ... wut ... wut ... "
Nenek Ke!ewang Merah kiblatkan kelewangnya tiga kali berturut-turut. Tiga larik sinar merah menderu membentuk silang enam. Angin yang diterbitkan senjata ini deras sekali dan hebatnya, sinar putih dari pedang Suralangi yang mengurungnya dengan serta merta menjadi tertindih lalu buyar. Suralangi terkejut sekali. Dewa Pedang menghela nafas dalam.
Kemudian dengan ilmu menyusupkan suara dia memberi peringatan: "Hati-hati Sura, manusia ini lihai sekali. Gempur dia dengan jurus-jurus terhebat!"
Di hadapannya, Nenek Kelewang Merah berdiri terbongkok-bongkok dan menyeringai. "Apa kau masih belum mau perlihatkan ilmu simpananmu? Jangan menyesal kalau terlambat!"
"Nenek Kelewang Merah, lihat pedang!" seru Suralangi.
Pedang perak murni itu berkelebat deras, memapas sekaligus keenam bagian tubuh si nenek. Namun dengan gesitnya Nenek Kelewang Merah berhasil menghindarkan serangan ganas itu dan malahan berbalik melancarkan serangan balasan yang betul-betul menyirapkan darah.
__ADS_1
"Trang!"
Suralangi terpaksa pergunakan pedangnya untuk menangkis sambaran kelewang lawan ke arah leher yang tak mungkin untuk dielakkan lagi. Tangannya terasa pedas dan pegal ngilu sedang mata pedangnya kelihatan gompal dihantam senjata lawan.
Menyaksikan hal ini maka tak ayal lagi Suralangi segera putar pedangnya demikian rupa dan lancarkan tiga serangan ilmu pedang yang terlihai dari ilmu pedang Partai Telaga Wangi. Ketiganya ialah jurus "Garuda Menukik Minum Air Telaga" disusul oleh jurus "Naga Sakti Sebatkan Ekor" dan diakhiri dengan jurus "Halilintar Membelah Bumi".
Pedang perak itu yang kelihatan hanya merupakan sinar putih belaka menyambar ke arah kepala Nenek Kelewang Merah, membalik memapas pinggang kemudian naik lagi ke atas dan menetak dari atas ke bawah. Jika jurus ini berhasil, maka kalau tidak kepala Nenek Kelewang Merah terbabat putus, mungkin akan kutung pinggangnya, atau mungkin juga akan terbelah kepalanya sampai ke dada. Namun Nenek Kelewang Merah tidak cidera. Tangannya bergerak. Sinar merah dari kelewang menggebubu. Tiga jurus terhebat tadi dengan serta merta buyar.
Si nenek tertawa melengking dan mengejek.
"Kiranya Partai Telaga Wangi hanya memiliki jurus-jurus butut!"
Geram sekali, Suralangi susul serangannya yang tadi buyar dengan dua serangan berantai serta pukulan tangan kiri dan tendangan kaki kanan. Si nenek putar kelewangnya dua kali dan lagi-lagi serangan Suralangi dibikin lumpuh.
"Sekarang terima jurusku ini! Jurus yang kunamakan Naga Sakti Keluar dari Laut".
Ucapannya itu ditutup dengan mengiblatkan kelewangnya sebat sekali, betul-betul Iaksana seekor naga yang keluar dari dalam laut, karena meskipun sebat, tapi sambaran kelewang itu berliku-liku sukar diduga bagian mana sebenarnya yang menjadi sasarannya.
"Sura, cepat keluar dari kalangan! Serang lawan dari samping!", memperingatkan Dewa Pedang dengan ilmu menyusupkan suara.
Suralangi segera melompat ke belakang dan bergeser ke samping, namun gerakannya selanjutnya tak mampu dilakukannya. Kelewang lawan menderu menyambar ke mukanya. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah mempergunakan pedang untuk menangkis. Dan laksana sebuah pisau tajam memutus wortel, demikianlah kelewang merah si nenek membabat putus pedang perak Suralangi tepat di batas muka hulunya. Dan gerakan Nenek Kelewang Merah tidak sampai di situ saja. Tubuhnya melesat kemuka.
“Sura, awas!" teriak beberapa orang anggota Partai Telaga Wangi.
__ADS_1
Namun terlambat, kaki kanan Nenek Kelewang Merah lebih dahulu menghantam dada Suralangi. Tak ampun lagi, Suralangi tubuhnya mencelat mental, terus masuk ke dalam telaga.
BERSAMBUNG.....