PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
MANUSIA PANTAT KUALI


__ADS_3

"Hemm..,” Pendekar Trisula Maut menggumam. Digigitnya bibir perawan itu.


 "Kaupun cinta padaku bukan...?"


"Hemmm…” Rangga menggumam lagi. 


"Jawab Rangga. Katakanlah…,” 


Dan tanpa disadari saat itu tubuh keduanya sudah terbaring berpagutan di lantai. "Rangga . . . ." 


Tiba-tiba di ruangan itu meledaklah suara tertawa yang dahsyat. 


"Ha... ha... sungguh satu pemandangan yang asyik untuk dilihat! Teruskan… teruskanlah! Pendekar Trisula Maut, kenapa tidak kau telanjangi saja tubuh gadis itu?! Itu seribu kali lebih nikmat… Ha… ha... ha!" 


Seorang lain kemudian menyambungi suara yang pertama itu. "Pendekar Trisula Maut nyatanya hanya seorang Pendekar Cabul. Tapi tak apa! Sebelum dikirim ke liang kubur tak apa kalau diberi kesempatan dulu bercumbu rayu! Di liang kubur kau hanya akan bercumbu dan tidur dengan cacing!" 


Baik Pendekar Trisula Maut Rangga Geblek maupun Anggini sama-sama terkejut. Keduanya melompat cepat. Anggini merapikan jubah birunya yang terbuka di bagian dada.


Di Pintu ruangan berdiri berkacak pinggang dua manusia bermuka buruk angker. Yang berselempang kain putih mukanya hitam macam pantat kuali, rambut awut awutan, tampangnya seperti singa dan dia bukan lain Resi Singo Ireng. Di keningnya tercetak gambar trisula. Di sampingnya, berselempang kain biru berdiri kakaknya yaitu Resi Macan Seta yang tampangnya persis seperti macan. Kulit mukanya coreng moreng belang tiga, kuning, merah dan hitam. Kedua pentolan pemberontak kaki tangan Parit Wulung ini telah diperintahkan oleh Parit Wulung untuk mencari kembali Keris Tumbal Wilayuda. 


Dan hari itu mereka sampai di Goa Dewi Kerudung Biru di mana mereka telah dapat mencium jejak Pendekar Trisula Maut. Bukan saja kedua Resi ini berprasangka bahwa Keris Tumbal Wilayuda sudah berada di tangan Pendekar Trisula Maut, tapi Resi Singo Ireng sendiri memang mempunyai dendam kesumat terhadap Pendekar Trisula Maut, yaitu sewaktu dibikin muntah darah dalam pertempuran di perbatasan Kerajaan Banten tempo hari. Dan dendam kesumat itu masih dibawanya ke mana-mana, sampai saat itu dikulit keningnya di mana tercetak gambar trisula. 


"Siapa mereka, Rangga ?” tanya Anggini dengan ilmu menyusupkan suara. 


"Dua manusia keparat yang membantu Parit Wulung si pemberontak terhadap Banten” menyahuti Pendekar Trisula Maut.

__ADS_1


"Eeee… eee... eee. Kenapa acara kalian tidak diteruskan?” bertanya Resi Singo Ireng dengan nada mengejek. 


Pendekar Trisula Maut menyengir. "Bicaramu keren sekali manusia muka pantat Kuali. Tentunya kau andalkan manusia muka harimau yang disampingmu itu, huh?!" 


Mata Resi Macan Seta membeliak garang. "Pentang kau punya mata, bukalah lebar lebar agar tahu dengan siapa berhadapan!" bentaknya. 


"Ah, manusia jelek macammu perlu apa aku kenali. Lagi pula, melihat kepada tampangmu, aku khawatir apa kau betul-betul manusia atau harimau jadi jadian”. Habis berkata begitu maka Pendekar Trisula Maut tertawa mengakak. 


"Pemuda besar mulut, aku mau lihat apakah kau sanggup menerima pukulanku ini?" bentak Resi Macan Seta. 


Kata-kata ini ditutup dengan menghantam tangan kanannya ke muka. Maka bertaburlah sinar merah kekuningan ke arah Rangga dan Anggini. Pukulan "sinar surya tenggelam." . 


Pendekar Trisula Maut dan Anggini melompat ke samping. Anggini sementara itu dengan cepat mengenakan kembali kerudung birunya. Kejut Resi Macan Seta bukan kepalang ketika melihat Pendekar Trisula Maut dan si gadis sanggup mengelakkan serangannya yang ampuh tadi. Nyatalah bahwa nama Pendekar Trisula Maut bukan kosong belaka. Tidak disesalkan kalau tempo hari adiknya dapat dipecundangi. Ketika melihat si gadis mengenakan kerudung kejut Resi Macan Seta dan Singo Ireng lebih-lebih lagi. 


"Kiranya kita berhadapan pula dengan Dewi Kerudung Biru, saudaraku Singo Ireng" kata Macan Seta. 


Marahlah Rangga mendengar ucapan Singo Ireng itu. "Manusia pantat kuali, gambar trisula di keningmu pun belum sanggup kau hapus, sekarang sudah berani-beranian unjuk gigi" 


Si Singo Ireng tidak ambil peduli ucapan Rangga Geblek tapi segera menyerang Dewi Kerudung Biru. Sengaja dikeluarkannya jurus "memetik bunga memotes tangkainya".ini ialah satu jurus meringkus lawan yang didahului oleh satu totokan jarak jauh yang dahsyat. 


Namun dugaan Singo Ireng bahwa dia akan sanggup membekuk hidup-hidup Dewi Kerudung Biru dalam satu jurus hebat itu meleset besar. Dewi Kerudung Biru sambuti serangannya dengan jurus "naga kepala seribu mengamuk" 


Kaget sekali jadinya Resi Singo Ireng ketika menyaksikan bagaimana kedua tangan lawan berkelebat sangat cepat naik turun membabat ke samping dan berputar bergelung, menyerang ke arahnya. Selama malang melintang membuat kejahatan di dunia persilatan, baru kali ini dia menghadapi jurus aneh ini. Sebaliknya Resi Macan Seta yang punya lebih banyak pengalaman segera berseru. "Singo lreng, awas itu pukulan naga kepala seribu mengamuk!" 


Mendengar ini tersurutlah Resi Singo Ireng. Cepat-cepat dia kemudian melompat ke udara. Ketika menukik ke bawah dia lancarkan empat tendangan empat pukulan. Dalam sekejapan saja kedua orang itu sudah terlibat dalam jurus-jurus yang dahsyat. 

__ADS_1


"Manusia muka coreng moreng! Apa hanya kalian berdua saja yang datang antarkan nyawa ke mari?" tanya Pendekar Trisula Maut pada Macan Seta. 


"Bocah gila!" bentak Macan Seta marah sekali sehingga mukanya yang coreng moreng itu semakin menyeramkan. “Jika kau tidak kepingin mampus, sebaiknya lekas serahkan Keris Tumbal Wilayuda dan beri tahu di mana Sultan berada. Niscaya kau punya nyawa akan aku ampunkan!" 


Pendekar Trisula Maut bersiul keras. "Kau bukan Tuhan yang bisa mengampunkan manusia! Sebaiknya kupertemukan saja kau lekas-lekas dengan malaikat maut!" 


Resi Macam Seta mengaum macam harimau terluka. Tubuhnya berkelebatan dan lenyap. Angin dahsyat laksana angin prahara menderu ke arah Pendekar Trisula Maut. Secepat kilat Pendekar Trisula Maut jatuhkan diri dari berguling di lantai. Tangan kanannya memukul ke atas. Pukulan Macan Seta yang tidak mengenai sasarannya terus melanda dinding batu. Dinding itu pecah. Tetapi sebaliknya Resi ini merasakan bagaimana tubuhnya terasa seperti diangkat ke atas dan satu angin tajam menyakiti kulit kakinya. Ketika dia memandang ke muka, Pendekar Trisula Maut sudah tak ada dihadapannya. 


"Aku di sini, Macan Seta!" 


Macan Seta putar tubuh ke belakang. Begitu tubuhnya berputar, begitu dia melihat satu gumpalan angin yang kerasnya laksana baja menderu ke arahnya. Resi ini tak ayal lagi melompat empat tombak ke udara. Mendadak didengarnya suara siulan dekat sekali di telinganya. Dia hantamkan tangannya ke samping. Tapi.... "Bluk!" 


Resi Macan Seta terpelanting ke lantai. Tulang punggungnya serasa remuk. Dia kerahkan tenaga dalamnya dengan cepat ke bagian yang kena dipukul lawan lalu atur jalan nafas. Ketika dia berdiri lurus-lurus kembali, muka macannya kelihatan bertambah angker. Kedua kakinya terpentang lebar. Tubuhnya sedikit membungkuk ke muka. Kedua tangannya yang diangkat ke atas kelihatan bergetar. Rangga maklum bahwa lawannya memusatkan seluruh tenaqa dalamnya pada dua tangan itu, dengan segera pendekar ini bersiap-siap pula. 


Tangan kanan Resi Macan Seta kelihatan berwarna merah kekuningan. Lebih merah dan lebih kuning dari yang tadi. Pendekar Trisula Maut tahu bahwa lawannya bakal lepaskan lagi pukulan "sinar surya tenggelam" tapi yang lebih hebat dari yang pertama tadi. Dan ketika melirik pada tangan kiri sang Resi, tangan itupun kini berwarna sangat merah dan mengepulkan asap merah. 


Dua pukulan sekaligus tak bisa dianggap enteng. Pendekar Trisula Maut tidak mau ambil risiko. Segera tangan kanannya ditinggikan ke atas. Dan cepat sekali lengan sampai ke jari-jari tangan kanan itu menjadi sangat putih dan menyilaukan laksana perak ditimpa sinar matahari. 


Mata Resi Macan Seta membeliak melihat hal itu. "Pukulan Bintang Perak!” keluhnya dengan hati tergetar. "Benar-benar pemuda rambut gondrong ini memiliki ilmu kesaktian yang tinggi luar biasa. Apakah dia benar-benar telah mewarisi seluruh ilmu kepandaian Eyang Ratih Parwati…?” demikian Macan Seta membathin. 


Namun percaya bahwa dua pukulannya yaitu pukulan "inti api" dan pukulan "sinar surya tenggelam" akan dapat mengimbangi pukulan lawan, maka dengan serta merta dia hantamkan kedua tangannya ke muka. Dua gelombang sinar merah pun menderu ke arah Pendekar Trisula Maut. Pendekar Trisula Maut tunggu sampai dua gelombang sinar itu berada di pertengahan jarak antara dia dan lawan. Dan sedetik kemudian tangan kanannya pun turunlah ke bawah. Selarik sinar putih yang sangat panas dan menyilaukan menggebubu melabrak dua gelombang sinar merah. 


"Bumm !" 


Ruangan batu itu tergoncang hebat. Dinding batu angsrok, Lantai longsor sedang bagian atas ambruk. Terdengar keluhan maut Resi Macan Seta. Di saat yang rasanya seperti mau kiamat itu Pendekar Trisula Maut berkelebat cepat menyambar tubuh Dewi Kerudung Biru dan dilarikan ke luar goa. Sesaat mereka sampai di luar goa maka runtuhlah Goa Dewi Kerudung Biru.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2