
Angin sedahsyat topan melanda Pendekar Trisula Maut. Pemuda ini balas dengan hantaman tangan ke udara mengirimkan putaran lengan yang mengandung serangkum angin puyuh!
Hal yang hebat sekali terjadilah.
Dua pukulan angin yang sama mengeluarkan suara mengaung itu begitu bentrokkan menimbulkan letupan udara yang kerasnya bukan kepalang.
Bukit-bukit dan puncakpuncak, karang bergetar. Semak-belukar dan pohon-pohon rambas ke tanah. Pukulan angin puyuh
Rangga telah membuyarkan pukulan angin topan dari tongkat Bladra Wikuyana. Namun demikian Rangga masih kena juga diterpa kipratan angin pukulan lawan sehingga sesaat
tubuhnya menjadi limbung huyung!
Bladra Wikuyana terbeliak kaget.
Hantaman tongkat birunya tadi telah mempergunakan hampir sepertiga bagian tenaga dalamnya. Dia sudah memastikan kalau tidak mampus pastilah sekurang-kurangnya pemuda itu
kelojotan muntah darah!
Tapi kepastiannya itu tidak berkenyataan. Di bawahnya Rangga
ditihatnya masih berdiri utuh!
Maka berserulah Bladra Wikuyana: “Orang muda! Ilmumu cukup bagus untuk diandalkan!
Aku tunggu kau di Perguruan Gua Nagreg!”
Habis berkata begitu manusia ini menarik lengan Bergola Wungu. Sekejapan saja guru dan murid itu lenyap dari pemandangan Rangga Geblek.
Si pemuda garuk kepala. “Tongkat itu hebat sekali!,” katanya dalam hati.
Tapi dia tak menunggu lebih lama. Segera dia lompatkan diri ke atas puncak karang yang tingginya puluhan tombak itu. Puncak karang itu ternyata licin sekali. Kalau saja ilmu meringankan tubuhnya dari kelas rendahan pastilah kakinya akan tergelincir!
Rangga memandang berkeliling mencari jejak ke mana larinya kedua orang tadi. Matanya yang tajam segera menangkap bayangan Bladra Wikuyana dan muridnya di balik karang
sebelah Timur. Tanpa buang waktu Pendekar Trisula Maut segera lompat ke karang yang terdekat.
Laksana seekor rajawali demikianlah dia melompat kian kemari sampai akhirnya orang yang dikejamya itu lenyap di sebuah jurang batu karang yang dalam sekali!
Rangga berdiri di tepi jurang batu itu, memandang ke bawah. Untuk melompat turun tidak mungkin. Jurang itu dalamnya lebih dari seratus tombak.
Berarti tidak mungkin pula Bladra Wikuyana dan Bergola Wungu lenyap turun ke jurang batu itu. Tapi tiba-tiba Rangga melihat
sebuah tangga tali yang kuat di tepi jurang sebelah Selatan. Segera dia menuju ke sana dan memeriksa tangga tali itu. Dia berpikir sebentar, kemudian dengan cepat menuruni tangga
tali.
Bagian bawah jurang batu itu hampir merupakan pedataran batu yang sedikit sekali tetumbuhannya. Penuh waspada Pendekar Trisula Maut segera memeriksa keadaan. Tiba-tiba menggema
suara suitan dari arah Utara yang dibalas pula oleh suara suitan dari arah barat. Rangga segera menuju ke Barat!
Sementara itu di atas jurang, sesosok tubuh yang sudah sejak lama menguntit Rangga Geblek hentikan langkahnya dekat tangga tali, tak berani terus ikut menuruni tangga tali itu.
Rangga berdiri di balik sebuah batu karang berbentuk pilar. Sekurang-kurangnya batu karang itu bisa menjadi tameng baginya dari musuh yang menyerang dengan diam-diam.
__ADS_1
Dari balik batu berbentuk pilar ini dia memandang ke muka. Tepat di antara dua batang kayu besar yang sangat rendah maka beberapa puluh tombak di mukanya dilihatnya sebuah gua
besar.
Kemudian didengarnya lagi suara suitan. Kali ini dari sebelah belakangnya. Suitan ini disambut oleh suitan yang menggema ke luar dari dalam gua.
Pemuda ini menunggu dengan tidak sabar. Ke mana perginya kedua orang tadi? Apakah masuk ke dalam gua itu? Dan apakah gua Itu yang bernama Gua Nagreg? Lalu apakah
saat itu dia sudah berada di Perguruan Gua Nagreg?
Tiba-tiba terdengar suara suitan yang lebih hebat dari suitan-suitan tadi. Dan Rangga melihat dari mulut gua ke luar dua lusin manusia, semuanya laki-laki, ada yang berewokan ada
yang tidak dan semuanya mengenakan pakaian hitam dengan ikat pinggang kain putih. Pada pinggang masing-masing tersisip sebatang tongkat biru yang sama bentuknya dengan milik Bladra
Wikuyana. Keduapuluh empat orang itu membentuk dua barisan panjang mulai dari mulut guabsampai ke pelataran batu. Tak lama kemudian muncullah Bladra Wikuyana diiringi oleh Bergola
Wungu.
“Pendekar Trisula Maut tak usah sembunyi di balik pilar! Keluarlah!,” seru Bladra Wikuyana.
Pemuda itu segera ke luar dari balik tiang batu karang dan berdiri waspada di ujung pelataran.
“Angin Topan Dari Barat! Sandiwara atau tari-tarian apakah yang akan kau pertunjukkan kepadaku?!”
Bladra Wikuyana tertawa hambar. “Dasar manusia tolol! Ajal sudah di depan mata masih juga mau jadi badut! Tahukah kau bahwa siapa-siapa yang sudah masuk ke mari berarti tak ada
lagi jalan keluar! Berarti mampus di sini?!”.
Kembali Bladra Wikuyana tertawa hambar. Ditepukkannya kedua tangannya.
“Turunkan tangga tali,” perintahnya.
Dua orang anak murid Perguruan Gua Nagreg segera melaksanakan tugas itu.
Bladra Wikuyana berkemik. “Tangga tali telah diturunkan berarti umurmu semakin singkat. Tapi ada syarat jika kau kepingin hidup terus...”
“Apa?” tanya Rangga Geblek kepingin tahu.
“Berlutut minta ampun di hadapanku dan bergabung denganku!”.
Rangga Geblek tertawa meledak.
“Muridmu Bergola Wungu menantang aku datang kemari untuk bertempur! Tahutahu kini diajak bergabung, disuruh berlutut malah! Enak betul bikin aturan...!”
“Kalau begitu kau datang ke sini betul-betul untuk antarkan jiwa!” kata Bladra Wikuyana pula.
Habis berkata begini dia bertepuk tangan satu kali.
“Bereskan dia dengan gebrakan enam tongkat merenggut nyawa!” bentak Bladra Wikuyana dengan geram sekali.
Maka enam orang muridnya segera melompat mengurung Pendekar Trisula Maut dengan tongkat di tangan.
“Ketahuilah:..” kata Bladra Wikuyana pula. “Yang akan kalian hajar itu adalah seorang bocah yang mengaku bergelar Pendekar Trisula Maut Naga Langit! Mulai!”
__ADS_1
Bladra Wikuyana bersuit keras. Keenam muridnya juga bersuit keras dan dengan serentak menyerang Wiro Sableng!
Enam larik sinar biru mengambang di udara kian ke mari dalam gerakan yang sangat tak menentu, mengeluarkan suara bersiuran dan kesemuanya menyerang pendekar bertangan kosong itu.
Rangga lompat ke udara dan berteriak: “Angin Topan Dari
Barat! Kenapa anak muridmu yang tak ada sangkut paut dengan aku kau suruh maju? Apa kau tidak punya nyali?!”.
Bladra Wikuyana menyahut dengan membentak: “Kalau kau ada urusan dengan salah seorang di sini berarti kau berurusan dengan Perguruan Gua Nagreg...!”
Saat itu keenam murid Perguruan Gua Nagreg melompat pula ke udara dan menyerang Rangga Geblek dengan sebat.
Tapi dengan pergunakan jurus: Belut Menyusup Tanah, maka Pendekar Trisula Maut yang diserang oleh mereka telah berdiri di pelataran batu kembali. Maka bentrokkanlah enam tongkat biru itu di udara!
“Tolol,” maki Bladra Wikuyana pada murid-murudnya: “Aku beri kesempatan tiga jurus lagi pada kalian! Kalau tak berhasil merubuhkan bangsat itu kalian musti mundur dan terima hukuman!”.
Ternyata gebrakan enam tongkat merebut nyawa yang dikeluarkan enam murid Perguruan Gua Nagreg tadi tidak mampu merubuhkan Pendekar Trisula Maut. Kini karena
takut terima hukuman dari guru mereka, keenamnya segera putar tongkat dengan sebat dan lancarkan enam tusukan pada enam bagian tubuh Rangga Geblek!
“Ciaaat!”
Bentakan dahsyat menggema dan menggetarkan jurang batu itu. Bulu-bulu tengkuk anak-anak murid Perguruan Gua Nagreg meremang, bukan saja oleh kedahsyatan bentakan tadi tapi juga menyaksikan bagaimana enam kawan mereka kini berdiri kaku tegang di tengah pelataran karena tubuh masing-masing sudah kena ditotok lawan. Sedang Pendekar Trisula Maut saat itu berdiri tenang-tenang bahkan bersiul-siul!
Rasa tak percaya membuat Bladra Wikuyana buka matanya lebar-lebar. Dan hatinya merutuk. Tiba-tiba dicabutnya tongkat birunya dari pinggang dan disapukannya ke muka.
Keenam tubuh muridnya berpelantingan laksana daun kering tapi sekaligus angin topan dashyat yang keluar dari tongkat ampuh itu telah melepaskan keenamnya dari totokan!
Kemudian Pemimpin atau Ketua Perguruan Gua Nagreg itu berkata pada Bergola Wungu: “Kau majulah, pimpin semua muridku yang ada di sini! Bentuk-lingkaran pasang surut!”.
Mendengar ini Bergola Wungu segera melangkah ke muka seraya cabut golok panjang dan bersuit keras tiga kali berturut-turut. Maka dua puluh empat manusia berpakaian
hitam-hitam dengan tongkat di tangan di bawah pimpinan Bergola Wungu yang memegang golok panjang segera membentuk dua lapis lingkaran yang disebut lingkaran pasang surut, mengurung Rangga Geblek di tengah-tengah.
Gilanya, yang mau diserang malah tetap berdiri tenang-tenang,
kemak kemik dan sambil bersiul-siul.
Tiba-tiba Bergola Wungu bersuit nyaring. Maka berputarlah barisan lingkaran yang sebelah dalam ke kiri sedang barisan lingkaran sebelah luar berputar ke kanan. Mula-mula lambat
perlahan kemudian makin lama makin kencang, makin kencang sampai tubuh kedua puluh empat manusia berpakaian hitam itu tidak jelas iagi, hanya merupakan bayang-bayang.
Debu yang menutupi pelataran menggebu ke atas dan sambil berputar-putar itu Bergola Wungu dan kawankawannya tiada henti berteriak melengking-lengking.
Karena putaran dua barisan lingkaran itu makin cepat dan saling berlawanan serta diiringi lengking pekik hiruk pikuk yang memekakkan dan mengacaukan pikiran lambat laun kedua
pandangan mata Pendekar Trisula Maut menjadi berkunang. Kepalanya terasa pusing. Dia tertegun beberapa jurus lamanya. Dan dua baris lingkaran itu kini kelihatan semakin menciut mendekatinya!
Bergola Wungu melihat lawan muiai terpengaruh dengan bentakan lantang menyerbu dan tebaskan goloknya ke kepala lawan yang terkurung ditengah lingkaran. Serangan ini datangnya
secara pengecut yaitu dari belakang!
Dan Rangga Geblek dalam tertegunnya itu masih juga bersiul-siul seperti orang lupa diri!
__ADS_1