
Usaha terakhir yang dilakukan Gagak Kumara untuk menyelamatkan dirinya ialah melintangkan keris dimukanya. Pedang Siluman Biru buntung terus membabat, senjata masing-masing beradu keras, bunga api memercik dan keris Gagak Kumara patah dua sedang senjata lawan terus membabat mukanya. Murid tertua dari Perguruan Teratai Putih itu terhuyung ke belakang. Mukanya banjir oleh darah dan mengerikan sekali.
Perlahan-lahan lututnya tertekuk dan pinggangnya meliuk. Gagak Kumara terduduk di lantai, sebelum tergelimpang dan menghembuskan nafas penghabisan, buntungan keris yang masih tergenggam di tangannya dengan segala tenaga yang ada dilemparkannya ke arah Kaligundil. Tapi serangan yang hampir tiada artinya ini dengan mudah dielakkan oleh Kaligundil. Kaligundil tertawa mengekeh. Noda darah yang membasahi Pedang Siluman Biru yang buntung itu disekakannya kembali ke balik pinggang. Kemudian laki-laki ini memutar tubuh. Sepasang matanya kini berkilat-kilat memandangi tubuh dan paras Wurnimulan serta Nyiratih yang saat itu berdiri kaku tak berdaya karena ditotok tadi.
“He… he… he… kalian berdua tak perlu mati buru-buru,” kata Kaligundil.
Ujung lidahnya dijulurkannya untuk membasahi bibirnya. Dia melangkah mendekati Wurnimulan. Tangan kirinya bergerak dan “bret!”
Robeklah baju perguruan yang dipakai oleh gadis itu. Dadanya terbuka lebar, putih dan mulus padat. Kaligundil menjadi terbakar tubuhnya oleh nafsu yang menggelegak. Tangan kirinya bergerak lagi…. bergerak lagi… bergerak lagi….
Sementara itu di puncak Gunung Galunggung.
Dalam tapanya yang sudah berjalan sembilan belas hari itu, tiba-tiba saja Wirasokananta tak dapat meneruskan upaya memusatkan segenap jalan pikirannya. Satu demi satu panca inderanya mulai terganggu. Walau bagaimanapun usahanya untuk memusatkan pikiran dan tenaga batin serta menutup segenap panca inderanya, namun sia-sia saja. Semuanya membuyar kembali. Semakin dipaksanya semakin sulit. Mau tak mau akhirnya tokoh silat yang sudah setengah abad ini umurnya terpaksa buka kedua matanya yang sejak sembilan belas hari telah dipejamkannya.
Kedua matanya itu memandang jauh ke muka, memandang ke luar pintu goa dimana dia bertapa. Segala apa yang dilihatnya saat itu, rimba belantara, bukit, sungai, matahari, langit dan awan, semuanya masih seperti sebelumnya dia datang ke situ, tak ada perubahan. Namun hatinya tidak enak, nalurinya membawanya ke satu hasrat yang mendebarkan dada dan menggelisahkan dirinya. Dan meski ujud kenyataan dari benda-benda di depannya, yang dapat dilihatnya dari puncak Gunung Galunggung itu tiada perubahan, namun orang tua yang sudah banyak pengalaman dan mengecap ragam kehidupan itu tahu, bahwa dibalik semua itu pasti telah terjadi apa-apa di dunia luar sana.
Diusapnya wajahnya dengan kedua tangannya. Dia merenung, sejurus kemudian perlahan-lahan turun dari batu hitam di mana dia sebelumnya duduk bertapa. Batu hitam yang diduduki orang tua ini kelihatan berbekas leguk. Ini cukup memberi pertanda bagaimana kehebatan tenaga dalam dan luar Wirasokananta.
Diusapnya lagi mukanya. “Mungkin ada apa-apa terjadi di Perguruan,” kata Wirasokananta dalam hatinya.
Dengan mempergunakan ilmu lari “seribu angin” maka sekali berkelebat lenyaplah sosok tubuh orang tua itu dari mulut goa dan kemudian kelihatanlah dia berlari menuruni puncak Gunung Galunggung cepat sekali laksana angin. Karena sangat terkejutnya, di ambang pintu rumah besar itu sampai-sampai Wirasokananta berdiri mematung untuk beberapa lamanya. Kemudian tubuh yang mematung ini sekujurnya jadi bergetar.
__ADS_1
“Demi Tuhan, siapakah yang punya pekerjaan ini?,” desisnya.”Dosa besar apakah yang telah kami perbuat sampai menerima malapetaka begini rupa?”
Murid-muridnya bergeletakan di mana-mana. Semuanya tanpa nyawa dan bergelimang darah. Namun apa yang sangat menusuk mata Ketua Perguruan Teratai Putih itu ialah akan keadaan diri dua orang murid perempuannya, Wurnimulan dan Nyiratih. Keduanya menggeletak di lantai rumah besar tanpa tertutup selembar benangpun. Keris milik masing-masing menancap ditenggorokan dan darah menggelimangi hampir sekujur tubuh kedua gadis itu, dari leher sampai ke dada terus ke ************.
Wirasokananta pejamkan kedua matanya, tak tahan memandangi lebih lama apa yang membentang dihadapannya itu. Bagaimana juga dikuatkannya hatinya, namun air mata meleleh juga dari sela-sela kelopak mata yang dipejamkannya itu. Tenggorokannya turun naik menahan keluarnya suara isakan.
Beberapa tahun dia telah mendidik kedelapan muridnya itu, beberapa tahun mereka telah berjuang bersama-sama untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebathilan. Beberapa tahun mereka bersama-sama telah berjuang untuk menghancurkan kemaksiatan dan memusnahkan kebejatan serta kejahatan. Namun hari ini mereka semua menemui nasib semacam itu. Menemui kematian dengan cara yang mengenaskan di luar dugaan Wirasokananta.
Dalam masih pejamkan kedua matanya itu, Ketua Perguruan Teratai Putih ini coba berpikir dan menduga-duga siapakah kiranya manusia yang telah menjatuhkan malapetaka yang begini kejam terhadap anak-anak muridnya. Tak bisa diduganya, tak bisa dipikirkannya karena seingatnya dia tak pernah mempunyai seorang musuh pun dalam dunia persilatan.
Wirasokananta membuka kedua matanya kembali. Pada saat inilah, di balik pandangan matanya yang masih digenangi air mata itu, pandangannya membentur buku besar buah tulisannya sendiri yang dipantek dengan sebilah keris milik salah seorang muridnya. Serentetan kalimat -- yang ditulis dengan darah -- tertera dikulit buku itu.
Kepada Ketua “ Perguruan Teratai Putih “
datanglah ke puncak Gunung Tangkuban perahu
pada hari 13 bulan 12.
Pendekar Trisula Maut Naga Langit
RANGGA GEBLEK
__ADS_1
Mata yang digenangi air mata dari Wirasokananta menyipit, membuat air mata yang tadi mengambang menjadi turun meleleh membasahi pipinya. Ingatannya kembali pada masa puluhan tahun yang silam.
Dulu, dunia persilatan memang pernah dibikin geger oleh seorang tokoh utama yang digjaya tiada tandingan. Tokoh yang telah merajai dunia persilatan selama bertahun-tahun ini adalah Eyang Ratih Parwati, seorang pendekar perempuan yang bersenjatakan sebuah trisula sakti bernama Trisula Maut Naga Langit. Namanya harum di kalangan tokoh-tokoh silat golongan putih, karena Pendekar trisula maut adalah pembasmi kejahatan dan penolong kaum lemah. Sedang bagi golongan hitam, tokoh ini sudah barang tentu menjadi momok besar yang sangat ditakuti.
Pada masa kehidupan Pendekar trisula maut itu, di mana saat itu Wirasokananta masih belum mendirikan Perguruan Teratai Putih, karena sama-sama dari golongan putih yang sehaluan dalam perjuangan maka dengan sendirinya tiada permusuhan atau silang sengketa antara dia dengan Pendekar trisula maut. Tapi hari ini terjadi peristiwa berdarah, peristiwa maut yang diakhiri dengan meninggalkan pucuk surat tantangan, dan surat ini justru ditandatangani dengan nama “Pendekar Trisula Maut Naga Langit”.
Tentu saja ini satu hal yang tidak dimengerti Wirasokananta. Kemudian apa pula arti dan hubungannya nama “Rangga Geblek” itu ?!
Ketua Perguruan Teratai Putih itu coba merenung. Renungannya ini menyangkut pada masa puluhan tahun yang silam itu. Di masa dunia persilatan geger oleh kehebatannya Pendekar Trisula Maut, tiba-tiba entah kemana perginya Pendekar itu lenyap. Tentang kelenyapannya ini, banyak tokoh-tokoh persilatan memberikan tanggapan.
Mungkin Pendekar trisula maut sendiri yang sengaja lenyap mengundurkan diri dari dunia persilatan, mungkin juga tokoh itu telah menemui kematiannya dengan cara yang tak bisa diduga, meski tanggapan yang kemudian ini agak diselimuti rasa keragu-raguan.
Tapi kini dengan adanya kejadian maut di Perguruan Teratai Putih itu, Wirasokananta merasa yakin bahwa sesuatu memang telah terjadi dengan diri Eyang Ratih Parwati atau Pendekar Trisula Maut. Dia berkesimpulan bahwa Pendekar Trisula Maut dalam satu pertempuran hebat dan tak diketahui oleh dunia luar telah dikalahkan oleh seorang pendatang baru bernama Rangga Geblek. Kemungkinan sekali Pendekar Trisula Maut menemui ajalnya di tangan Rangga Geblek itu, merampas Trisula Maut Naga Langit yang kemudiannya malang melintang di dunia persilatan dengan memakai gelar Pendekar Trisula Maut Naga Langit.
Dan kelanjutan renungan Ketua Perguruan Teratai Putih itu ialah siapa manusia Rangga Geblek ini sebenarnya. Nama itu satu nama baru baginya. Namun meski nama baru satu hal diyakini oleh Wirasokananta bahwa dengan itu manusia, baik dia maupun Perguruan Teratai Putih, tak pernah mempunyai permusuhan dan menanam dendam kesumat.
Apa yang menjadi latar belakang pembunuhan besar-besaran atas murid-muridnya benar-benar sangat gelap bagi Wirasokananta. Dan bila matanya membentur lagi tulisan berdarah yang menyatakan tantangan itu, benar-benar Ketua Perguruan Teratai Putih ini merasa dibakar hatinya.
Bulan 12 masih sembilan bulan lagi. Apakah dia akan menunggu sampai sekian lama untuk kemudian baru bertemu muka dan membuat perhitungan dengan Rangga Geblek?
Ataukah detik itu juga ia meninggalkan Perguruan dan mencari musuh durjana itu ?
__ADS_1
Namun, Wirasokananta tahu, bahwa apa yang musti dilakukannya saat itu ialah menguburkan jenazah-jenazah ke delapan orang muridnya di halaman Perguruan.
Bersambung......