PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
KITA TAK PERNAH BERTEMU


__ADS_3

"Terima kasih Dewi… ribuan terima kasih. Jadi kalau begitu Dewi adalah murid dari Dewi Kencana Wungu?" 


Sang Dewi mengangguk. "Mari kita mulai”, katanya.


Karena Sultan sebelumnya sudah mempunyai dasar ilmu silat yang tinggi juga maka kedua jurus yang diajarkan padanya itu dengan mudah dan cepat bisa dipahaminya. Dewi Kerudung Biru gembira sekali. Kemudian kepada Sultan diajarkan pula ilmu Asap kencana biru. Ilmu ini agak sukar mula-mula dipahami oleh Sultan namun karena tekunnya beberapa jam kemudian dia berhasil juga menguasainya. 


"Kecerdasanmu luar biasa sekali, Sultan”, kata Dewi Kerudung Biru. "Malam ini, sampai esok pagi teruslah berlatih". 


"Nasihat Dewi akan kuperhatikan”, jawab Sultan. 


Dan malam itu, seorang diri Sultan melatih diri. Dewi Kerudung Biru sementara itu duduk bersemadi. Meskipun dia pejamkan mata namun bila ada jurus-jurus yang agak salah dilakukan oleh Sultan dia mengetahuinya dan segera menegur. 


Keesokan paginya… Di luar gua burung-burung berkicau bersahut-sahutan menyambut kedatangan pagi yang ditandai munculnya sang surya di ufuk timur. Di dalam gua Sultan tengah duduk berhadap-hadapan dengan Dewi Kerudung Biru. 


"Yakini dan pelajari terus ilmu-ilmu yang telah kau milik itu Sultan. Kelak kemudian hari kau akan buktikan sendiri kemanfaatannya. Sekarang, selagi hari masih pagi, selagi udara masih segar, maka segeralah berangkat ke Demak. Dalam semediku malam tadi aku mendapat sedikit renungan petunjuk dari Yang Kuasa bahwa kekuasaan kaum pemberontak yang kini bercokol di Banten tidak akan lama” 


Sultan mengangguk. Dia memandang pada tubuh Pendekar Trisula maut  yang sampai saat itu masih juga terbaring dalam pingsannya. 


"Bagaimana dengan sahabatku ini, Dewi? Kalau bisa aku ingin berangkat bersama-sama dia” 


Dewi Kerudung Biru menggeleng. "Dalam rencana untuk menumpas kaum pemberontak, dalam usaha menegakkan yang benar dan menghancurkan yang bathil, kalian berdua sama satu tekat dan satu hati. Namun dalam mencapainya masing masing kalian mempunyai cara tersendiri. Harap kau bisa merenungi hal ini, Sultan” 


Sultan Hasanuddin termenung sejenak. Memang ucapan Dewi Kerudung Biru itu dapat dipahaminya. Dia memandang lagi pada Rangga Geblek. "Apakah dia akan segera siuman dan sembuh kembali, Dewi?" bertanya Sultan. Sang Dewi mengangguk. 


"Mengenai diri Anjarsari dan keris Tumbal Wilayuda, bisakah kau memberi petunjuk?" 


"Anjarsari diculik oleh komplotan Iblis Pencabut Sukma, Keris Tumbal Wilayuda juga mereka yang mencurinya” 


"Kalau begitu”, kata Sultan dengan kepalkan tinju. "aku akan cari sarang mereka...!"


Dewi Kerudung Biru gelengkan kepala. "Selain besar bahayanya, juga kau mesti pergi ke Demak sekarang juga Sultan" 


"Aku tidak takut mati!”, kata Sultan jantan. "Aku rela korbankan jiwa demi tegakkan Kerajaan Banten yang syah kembali." 


"Aku puji hati kesatria dan kecintaanmu pada Kerajaan Banten, Sultan. Tapi ingat, agaknya caramu untuk mencapai rencana itu hanya dengan mengikuti kehendak hati sendiri. Salah-salah kau bisa celaka dan Banten tetap dikuasai oleh kaum pemberontak Parit Wulung."

__ADS_1


 "Kalau begitu katamu, aku menurut”, ujar Sultan Hasanuddin akhirnya. "Tapi sebelum pergi perkenankanlah aku melihat parasmu." 


Dewi Kerudung Biru menggeleng. "Sayang, masih belum saatnya aku mengabulkan permintaanmu Sultan. Harap dimaafkan" 


Sultan Hasanuddin menghela nafas dalam. Dia ucapkan lagi rasa terima kasih yang sebesar-besarnya. "Jasa dan pertolonganmu akan kuingat, akan dikenang oleh rakyat Banten. Disatu ketika aku akan datang lagi menyambangimu, Dewi”. Sultan memanggut memberi hormat lalu meninggalkan tempat itu. 


Kira-kira tiga kali sepeminuman teh lamanya Sultan meninggalkan Goa Dewi Kerudung Biru, maka dihadapan jalan yang ditempuhnya tahu-tahu muncullah tiga orang penunggang kuda. Ketiganya berjubah dan berkerudung kain merah darah. Anggota-anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Sesaat kemudian merekapun berhadap-hadapanlah. 


Anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Suma yang paling muka buka suara membentak, "Lekas mengaku, apa kau Sultan Banten yang melarikan diri itu?!" 


Kawannya yang lain menyela. "Melihat kepada tampangnya pasti tidak salah lagi! Ayo kawan-kawan mari kita berebut pahala meringkus manusia ini!" 


Maka ketiga anggota Perkumpulan Iblis itu pun melompatlah dari kuda masing masing. Sambil melompat ketiganya sekaligus keluarkan jurus warisan Ketua mereka yang dinamai "tiga pasang lengan meremas tangkai bunga teratai" 


Yang satu datang dari atas, yang kedua dari depan dan yang terakhir dari belakang. Tapi Sultan yang sekarang jauh berbeda dengan Sultan sehari sebelumnya. Sekali Sultan membentak, maka terpentanglah kedua tangannya yang mana disusul dengan gerakan sebat laksana ribuan ekor naga menyengat kian kemari.


Melihat ini, terkejutlah ketiga penyerang. Buru-buru mereka batalkan serangan jurus pertama dan menyusul dengan jurus "memukul kasur menggeprak bantal". Ini adalah satu jurus yang cukup lihay. Anggota Perkumpulan Iblis yang di atas hantamkan dua telapak tangannya sekaligus sedang yang di depan dan di belakang kirimkan pukulan keras ke dada dan ke punggung. Tak ayal lagi Sultan segera praktekkan ilmu yang baru diyakininya dari Dewi Kerudung Biru, yaitu keluarkan jurus "cakar garuda emas" 


"Brettt... bret!" 


Dia memberi isyarat pada dua kawannya. Serentak ketiganya menyerbu dan angkat tangan kanan tinggi-tinggi. Namun sebelum pukulan "pencabut sukma" itu sempat mereka laksanakan, Sultan buka mulutnya dan asap biru menggebubu ke arah ketiga penyerangnya. 


"Asap kencana biru!", seru salah seorang anggota Perkumpulan Iblis dengan terkejut. 


Buru-buru dia tutup jalan nafas. Tapi dua orang kawannya terlambat. Begitu tercium oleh keduanya kepulan asap biru yang mengandung racun itu, maka hancurlah pembuluh pembuluh darah dan pecahlah paru-paru mereka. Keduanya mati di situ juga. 


"Pemuda, ada hubungan apa kau dengan Dewi Kerudung Biru? Apakah kau muridnya?!", bentak anggota Perkumpulan Iblis yang masih hidup. 


Sultan kertakkan rahang. Tubuhnya berkelebat. Dua tangan terpentang lebih dahsyat dari yang pertama tadi dan "brak"! 


Hancurlah mulut yang membentak itu. Tubuh anggota Perkumpulan Iblis itu kelojotan sebentar lalu kaku tegang untuk selama-lamanya.


****************************************


Ketika Rangga Geblek siuman dari pingsannya, dirasakannya kepalanya dipangku oleh satu paha yang panas, sedang hidungnya mencium bau harum menyegarkan. Dibukanya matanya dan pandangannya membentur sebuah wajah yang ditutupi kerudung kain biru. Terkejutlah pemuda ini. Cepat-cepat dia bangun dan berdiri. Di balik kerudungnya, Dewi Kerudung Biru menjadi kemerah-merahan pipinya. Rangga Geblek memandang berkeliling. Ruangan itu telah bersih dari mayat-mayat anggota Perkumpulan IbIis Pencabut Sukma. Sultan sendiri tiada kelihatan. 

__ADS_1


"Kemana dia...?!" tanya Rangga. 


"Dia siapa...?" 


"Sultan!" 


"Sudah pergi pagi tadi. Pergi ke Demak" 


Pendekar Trisula maut  memandang lama-lama ke muka yang ditutup kerudung itu. Suara perempuan di hadapannya ini rasanya pernah didengar dan dikenalinya sebelumnya, tapi lupa di mana. 


Ketika ingat bahwa perempuan itulah yang telah menolongnya, maka Pendekar Trisula maut pun segera menjura. "Dewi Kerudung Biru, aku haturkan-terima kasih atas pertolonganmu. Di lain hari kelak aku akan balas budi baikmu itu." 


"Aku tak mengharapkan balasan apa-apa”. 


Dan Dewi Kerudung Biru memandang ke jurusan lain ketika untuk kesekian kalinya mata Pendekar Trisula maut  memperhatikan sepasang matanya lakat-Iekat. Dadanya bergetar. Ditahannya gelora hatinya. Melihat sikap sang Dewi, ingat bahwa dia pernah mengenali suara perempuan itu sebelumnya maka inginlah Rangga melihat paras di balik kerudung itu. Namun diajukannya dulu pertanyaan. 


"Dewi, mungkin kau bisa memberi petunjuk di mana Anjarsari dan keris Tumbal Wilayuda berada?" 


"Anjarsari diculik oleh komplotan Iblis Pencabut Sukma. Keris Tumbal Wilayuda juga ada pada mereka. Kau harus cepat turun tangan Pendekar Trisula maut" 


"Tapi dunia begini luas, dimana aku akan cari mereka?" 


"Komplotan itu bersarang di Lembah Batu Pualam” 


"Terima kasih atas keteranganmu Dewi”. Rangga merenung sejenak. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. "Dewi Kerudung Biru, sewaktu aku bertempur melawan anggota komplotan itu kau telah berseru menyebut namaku. Tahu dari manakah?" 


Tergetarlah hati sang Dewi mendengar pertanyaan ini. Dengan memandang ke jurusan lain baru kemudian menjawab lah dia . "Nama seorang pendekar tentu saja dikenal sampai ke mana-mana" 


"Aku bukan pendekar apa-apa”, kata Rangga merendah. "Dan terus terang saja aku rasa rasa pernah bertemu dengan kau sebelumnya. Aku masih bisa ingat dan mengenali suaramu" 


Dewi Kerudung Biru tundukkan wajah. Matanya yang jeli dan bercahaya kini kelihatan redup dan diambangi air mata. Ditekannya perasaannya yang menggelora. Dikerahkannya tenaga dalamnya agar tidak gemetar suaranya. 


"Tidak . . . kita tak pernah bertemu sebelumnya Pendekar Trisula maut . Dan di dunia ini mungkin saja ada beberapa manusia yang punya suara hampir bersamaan.


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2