
Pahat Tiga Racun dengan cepat lepaskan japitan kedua pahatnya atas bambu kuning. Kedua senjata itu kemudian diputarnya untuk menangkis serangan lawan, tapi kasip. Angin pukulan Pendekar Bambu Kuning telah menghantam dadanya lebih dahulu. Si Pahat Tiga Racun mencelat dua tombak, terguling di panggung dan muntah darah.
Pada saat Pendekar Bambu Kuning membungkuk mengambil bambunya, tahu-tahu tiga bayangan melesat ke atas panggung dan langsung menyerang. Dengan jatuhkan diri dan bergulingan, Pendekar Bambu Kuning berhasil menyelamatkan diri. Yang menyerangnya adalah tiga manusia berbadan kate dan mengenakan pakaian bertambal-tambal dan robek-robek.
"Hem, pengemis Baju Rombeng! Kalian bertiga rupanya juga tersesat jadi begundalnya perempuan iblis itu huh?! Baik, majulah sekaligus biar lekas kumusnahkan!"
Pengemis-pengemis Baju Rombeng cabut senjata mereka yaitu sebentuk sapu ijuk pendek. Berbarengan ketiganya menggerakkan sapu ijuk itu. Tiga ratus jarum hitam kemudian mendesing ke arah Pendekar Bambu Kuning dari tiga jurusan.
”Curang!" terdengar seruan hadirin.
Di atas panggung, Pendekar Bambu Kuning sangat terkejut dan tak menduga kalau akan diserang sehebat itu. Segera diputarnya senjatanya. Namun seberapa dari jarum hitam yang datang dari samping kiri kanan masih sempat menancapi tubuhnya.
”Ha... ha!" tawa salah seorang dari Pengemis Rombeng. ”Jarum-jarum itu mengandung racun jahat! Nyawamu hanya tinggal tiga jam lagi!”
Mendengar itu, maka kalaplah Pendekar Bambu Kuning. Senjatanya di bolang balingkan cepat sekali. Jurus-jurus simpanannya dikeluarkan. Sesaat kemudian terdengar jeritan salah seorang dari Pengemis Baju Rombeng. Kepalanya hancur dihantam ujung bambu. Namun disaat itu pula tubuh Pendekar Bambu Kuning semakin lemah akibat rangsangan racun jarum. Setelah bertempur tujuh jurus akhirnya dia terpaksa menemui ajalnya di tangan kedua orang Pengemis Baju Rombeng itu.
"Bagus!" seru Dewi Kala Hijau memuji kedua Pengemis Baju Rombeng. "Kelak kau akan kuberi tanda jasa!"
Kedua orang itu tersenyum girang dan menjura lalu siap-siap untuk meninggalkan panggung. Namun langkah mereka terhenti ketika satu sosok bayangan biru melesat ke atas panggung sambil membentak: "Pengemis-pengemis pengecut curang hina dina! Tetap tinggal di atas panggung! Aku mau lihat apakah kau juga bisa melakukan kecurangan terhadapku?!"
Bentakan itu adalah bentakan suara perempuan. Tapi nyaring dan kerasnya bukan olah-olah. Panggung tengkorak bergetar, telinga yang hadir mendenging. Semua mata tanpa berkedip memandang pada si pembentak. Dan ternyata dia memang seorang perempuan. Perempuan ini mengenakan pakaian biru. Parasnya sebatas mata ke bawah ditutup dengan sehelai kain yang juga berwarna biru.
"Dewi Kerudung Biru!" berseru beberapa tokoh silat utama yang mengenali siapa adanya perempuan itu.
Maka ketegangan pun semakin bertambahlah. Dewi Kerudung Biru bertemu dengan Dewi Kala Hijau tentu tak dapat dilukiskan kehebatannya nanti. Dewi Kala Hijau di bailik topeng tengkoraknya mengerutkan kening. Sepasang matanya memandang tak berkedip dan menyorot tajam pada Dewi Kerudung Biru. Menurut taksiran Dewi Kala Hijau, perempuan berkerudung biru itu sebaya dengan dia.
"Ayo, kenapa kalian melongo dan mematung saja?! Perlihatkan lagi kebiadaban dan kecurangan serta kepengecutan kalian!" bentak Dewi Kerudung Biru pada kedua Pengemis Baju Rombeng.
__ADS_1
Yang menjawab adalah Dewi Kala Hijau "Dewi Kerudung Biru, jika kedatanganmu ke atas panggung ini untuk mengacau, berarti kau tidak melihat tingginya Gunung Merapi di depan mata. Tapi jika kedatanganmu untuk memasuki Partai Lembah Tengkorak, kelak aku akan berikan kedudukan tinggi kepadamu"
"lblis betina!" jawab Dewi Kerudung Biru. "Aku tidak buta sampai tak melihat Gunung Merapi di depan mata," dan Dewi Kerudung Biru menunjuk ke arah Gunung Merapi yang berdiri megah di depan sebelah Barat Lembah Tengkorak, "Tapi dosa dan kejahatanmu lebih besar dan lebih tinggi dari gunung itu! Hari ini kau meresmikan berdirinya Partai Lembah Tengkorak dan mengangkat diri sebagai Ketua! Tapi apa kau tahu bahwa hari ini juga adalah merupakan akhir hayatmu?!"
"Perempuan setan!" balas memaki Dewi Kala Hijau. "Namamu memang besar! Tapi di sini jangan jual tampang! Pengemis Baju Rombeng, Bunuh perempuan setan itu!"
Mendengar perintah itu, tak menunggu lebih lama kedua Pengemis Baju Rombeng kebutkan sapu ijuk masing-masing. Ratusan jarum hitam beracun jahat menderu menyambar ke arah Dewi Kerudung Biru. Seperti dituturkan sebelumnya, Dewi Kerudung Biru ini adalah Anggini, murid tokoh silat yang bergelar Raja Tuak.
Melihat serangan jarum maut itu, Dewi Kerudung Biru mendengus. Dia melompat setinggi lima tombak kemudian laksana kilat berkelebat ke bawah, tangan kanan dipentang ke muka, jari-jari ditekuk kedalam.
"Cakar Garuda Emas!" seru Dewi Kala Hijau. “Pengemis Baju Rombeng, awas!"
Tapi percuma saja peringatan itu. Salah seorang dari dua Pengemis Baju Rombeng menjerit. Mukanya mandi darah. Hidung tanggal, kedua biji mata hancur luluh. Yang seorang lagi saking kecut dan terkejutnya sampai melompat mundur beberapa langkah sedang para hadirin diam-diam sangat memuji kelihaian Dewi Kerudung Biru.
Terdengar bentakan nyaring. Pengemis Baju Rombeng yang ketiga cabut pedang dan kebutkan sapu ijuknya. Satu jurus dia berkelebat cepat menggempur lawan namun tiada guna. Sekali Dewi Kerudung Biru gerakkan tangan kirinya maka, "Buk!". Pengemis Baju Rombeng mencelat ke luar panggung. Tulang lehernya patah.
Empat bayangan putih berkelebat melompat ke atas panggung. Keempat manusia ini yang berjuluk Empat Serigala Putih mengurung Dewi Kerudung Biru dari empat sudut panggung.
"Hemm ... jadi kalian juga merupakan kaki tangan iblis dajal itu ya? bagus! Majulah cepat!" ejek Dewi Kerudung Biru.
"Lima tahun malang melintang di daerah ini tak satu jago pun yang berhasil merubuhkan kami! Katakan cara mati yang bagaimana yang kau ingini perempuan hina?!"
"Cara mati yang begini, sobatku!" jawab Dewi Kerudung Biru.
Bersamaan dengan itu, tubuhnya lenyap ke hadapan orang yang bicara tadi. Dan terdengarlah satu pekikan hebat. Orang tadi kelihatan menutupi mukanya, Darah mengalir dari sela-sela jari. Sesaat kemudian tubuhnya pun tergelimpang di atas panggung tengkorak.
Tiga rekannya yang lain melolong tinggi persis seperti serigala yang kemudian dengan serentak menyerang Dewi Kerudung Biru. Lima jurus berlalu sangat cepat. Dewi Kerudung Biru membentak. Satu jeritan lagi terdengar. Satu orang lagi menggelimpang di lantai panggung.
__ADS_1
Rahang-rahang Dewi Kala Hijau bergemeletakan. Mulutnya komat kamit seketika. Kemudian terdengarlah lengkingannya. "Sepuluh Pemimpin Cabang Partai, majulah!"
Maka ke atas panggung, sepuluh laki-laki berpakaian merah darah berlompatan gesit. Sedetik kemudian sepuluh pedang merah bergulung-gulung. Angin sepuluh senjata itu laksana topan prahara dan kesemuanya menyerang satu sasaran yaitu Dewi Kerudung Biru, ditambah lagi tekanan-tekanan gencar yang dilancarkan dua dari Empat Srigala Putih yang masih hidup.
Karena kedua belas orang ini bukanlah berkepandaian rendah, maka satu jurus saja Dewi Kerudung Biru pun terdesak lah. Tapi sang Dewi tiada kelihatan gugup atau kecut sedikit pun. Malahan dia berseru dengan nada mengejek kepada Dewi Kala Hijau. "Ketua Partai Lembah Tengkorak! Kurasa masih kurang jumlahnya cecunguk-cecungukmu yang mengeroyokku!"
"Jangan merocos juga betina edan! Sebentar lagi, kepalamu sampai ke kaki akan tercincang *****!"
Keroyokan kedua belas orang itu memang luar biasa hebatnya. Namun Dewi Kerudung Biru benar-benar luar biasa pula tinggi ilmunya. Begitu kedua tangannya bergerak mengeluarkan jurus "Naga Kepala Seribu Mengamuk", maka tiga dari pengeroyok rubuh tanpa nyawa, sesudah itu dua orang lagi roboh terjungkal ke luar panggung.
Dengan geram Dewi Kala Hijau memerintahkan lagi sepuluh orang anggota Partai yang berkepandaian tinggi untuk mengeroyok Dewi Kerudung Biru. Dilain pihak yang dikeroyok pun mengamuk dengan hebatnya. Jurus-jurus "Naga Kepala Seribu Mengamuk" dan "Cakar Garuda Emas" menebar silih berganti. Meskipun demikian jalannya pertempuran tetap tak seimbang. Dewi Kerudung Biru terdesak ke sudut panggung sebelah kanan.
"Ketua Partai Lembah Tengkorak!" terdengar seruan dari bawah panggung. "Kami Tiga Brahmana dari Gunung Nagajembangan tidak bisa tinggal diam! Pengeroyokan ini sudah sangat keterlaluan!"
Sesaat kemudian tiga sosok bayangan putih melompat ke atas panggung. Dewi Kala Hijau memutar kepalanya dengan cepat. Pandangannya tampak bengis.
"Brahmana-brahmana tidak tahu diri, kalian mau turun tangan, baik! Tapi terima dulu hadiahku ini!"
Ketua Partai Lembah Tengkorak mengangkat tangan kanannya. Selarik besar sinar hijau menderu dahsyat.
"Pukulan Kala Hijau!" seru Brahmana yang paling muka.
Serentak dengan itu dia bersama dua kawannya melompat ke samping dan kebutkan lengan jubah masing-masing. Tapi terlambat. Dua puluh ekor kala beracun telah menyusup dan menancap di muka serta dada mereka. Ketiganya terjungkal kembali ke bawah tanpa sempat menjejakkan satu kakipun di lantai panggung, yang terbuat dari tulang belulang dan tengkorak manusia itu.
BERSAMBUNG....
( mohon maaf kalau telat update, sibuk cari uang receh. istri lagi hamil anak pertama, tiap hari harus ngemil )
__ADS_1