PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
HENTIKAN PERTEMPURAN!!


__ADS_3

Mendengar ucapan Si Cawat Gila, Dewa Pedang segera maklum bahwa antara Si Kuku lblis dengan si Cawat Gila pasti ada hubungan apa-apa. Maka menjawab lah Ketua Partai Telaga Wangi itu "Apa yang dikerjakan oleh Si Kuku lblis, yaitu kejahatannya yang telah membunuhnya, Cawat Gila. Bukan aku! Setiap manusia macam dia akan menerima ganjaran seperti itu!" 


"He ... he ... he! Kau pandai bicara! Tapi apakah kau sudah tahu jalan ke neraka?! Kalau belum aku Si Cawat Gila akan tunjukkan jalannya!" 


Manusia sakti kurus kering itu maju dua langkah. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi ke atas! "Terima jurus kematianmu ini, Dewa Pedang! He ... he...!" 


"Cawat Gila!" seru Dewa Pedang sambil alirkan tenaga dalamnya ke tangan kanan. "Apa hubunganmu dengan Si Kuku Iblis?!" 


"Oh, kau tanya itu?! Tak susah untuk menjawabnya, Si Kuku lblis adalah adikku! Sekarang kau tahu bagaimana aku inginkan kau punya nyawa, bahkan nyawa keluarga serta anggota-anggota Partaimu!" 


Dewa Pedang bahkan hampir semua dari tamu yang hadir barulah hari itu mengetahui bahwa Si Kuku Iblis adalah adik Si Cawat Gila. 


"Cawat Gila," kata Dewa pedang, "Siapa pun adanya Si Kuku lblis itu bukan soal! Yang penting ialah bahwa dia telah melakukan kejahatan. Dan kebenaran tidak sudi melihat dia malang melintang menyebar kejahatan itu ...." 


"Ah di sini bukan tempat dan waktunya untuk bicara bahasa tinggi begitu rupa! Bicaralah nanti pada setan-setan neraka ... !" 


Sudut mata Si Cawat Gila menangkap seseorang melangkah ke arah di mana dia berdiri berhadap-hadapan dengan Dewa Pedang. Ketika dia menoleh sedikit ke samping ternyata orang ini adalah Resi Godapati atau Tiga Tombak Emas Trisula yang sejak tadi masih berdiri di atas panggung itu. Suasana hening menegangkan. 


"Cawat Gila, dengan memperhatikan sedikit suasana serta tempat di mana kita berada, serta memandang muka para tokoh-tokoh persilatan yang hadir di sini, kuharap kau jangan meneruskan maksud-maksud yang terkandung di hatimu...!" 


"Eh, kunyuk jubah ungu! Apakah kau bicara mengigau atau memang otakmu sudah miring...?!" tukas Si Cawat Gila. 


Diajak bicara baik-baik tapi dijawab sedemikian rupa maka panaslah hati Resi Godapati. "Otakku mungkin sudah miring, tapi belum lagi semiringmu!" jawabnya. 


"Hem .... Ini lagi contohnya manusia yang tidak tahu tingginya gunung dalamnya laut. Kalau sudah bosan hidup bilang saja, biar lekas-lekas kukirim roh busukmu ke neraka!" 


"Bicaramu terlalu besar, Cawat Gila!" 


"Nyalimu juga keliwat besar Godapati!" 


"Kau masih belum punya enam kepala selusin tangan, Cawat Gila...!" 

__ADS_1


"Oh ... apakah kau punya nyawa rangkap?!" menukasi Si Cawat Gila. 


"Aku memang tak punya nyawa rangkap. Tapi untuk menghadapimu, sampai seribu jurus pun akan kujalani!" 


"Bagus sekali! Tapi biar kutanya dulu, apakah dalam hal ini kau membela Dewa Pedang?" 


"Aku tak membela siapa-siapa!" 


"Lantas kenapa jual mulut?! Jangan coba menunjukkan kebesaran budi serta kebaikanmu dimuka orang banyak! Semua orang tahu, perkumpulan yang bagaimana adanya perkumpulan yang kau dirikan di Pulau Wuwutan! Semua orang di sini tahu bahwa kau adalah resi sesat bau tengik yang melakukan apa saja asal disumpal pantatnya dengan uang dan mulutnya dengan harta!" Habis berkata begitu Si Cawat Gila tertawa terkekeh-kekeh. 


"Tak ada jalan lain," kata Resi Godapati sambil mengeluarkan senjatanya yaitu tombak berkepala tiga yang terbuat dari emas. 


"Rupanya kau betul-betul ingin cepat-cepat menghadap hantu neraka…. !" Si Cawat Gila tertawa bergelak. 


Tiba-tiba dia melengking nyaring. Kedua tangannya dipukulkan ke muka. Angin laksana topan menggebubu. Resi Godapati melompat enam tombak dan ayunkan tombak kepala tiganya ke arah lawan lalu susul dengan tendangan kaki kiri kanan. 


Hebatnya, sebelum tombak dan dua tendangan mencapai sasaran yang diarah, tahu-tahu ketiga serangan tersebut sudah berubah arah ke bagian tubuh yang lain dari Si Cawat Gila. Geram dan kaget juga Si Cawat Gila melihat serangan lawan ini. Tubuhnya yang kurus kering itu berkelebat ganas, kedua tangan sambar menyambar menimbulkan angin deras. 


“Manusia sontoloyo! Terima ini!" bentak Cawat Gila. 


Tubuhnya lenyap. Dua tangan dan dua kakinya bergerak tak kelihatan. Kemudian terdengarlah jeritan Resi Godapati. Tombak emasnya kelihatan mental ke udara sedang tubuhnya sendiri terlempar ke bawah panggung. Resi ini coba duduk bersila untuk mengalirkan tenaga dalam dan mengobati luka hebatnya. Namun tulang dadanya sudah hancur, iga-iganya telah patah. Hanya sesaat tubuhnya duduk bersila, sesudah itu Godapati rebah ke tanah tanpa nyawa. Semua yang hadir sama terkatup mulutnya. Suasana sehening di pekuburan. 


Si Cawat Gila tertawa membahak. Kemudian diputarnya tubuhnya menghadapi Dewa Pedang yang berdiri sembilan tombak di depannya. Dia menyeringai dan berkata: "Kematianmu lebih buruk dari Resi keparat itu, Dewa Pedang!" 


Perkataannya itu langsung saja ditutup dengan satu serangan dahsyat. Tangan kanan mencengkeram ke muka sedang tendangan kaki kiri menyeruak ke bawah ************. Dewa Pedang yang memang sudah hampir hilang kesabarannya serta dendam terhadap kematian puteranya kini tidak tinggal diam. Tubuhnya merunduk, kedua tangan dipukulkan ke muka. Inilah satu pukulan jarak jauh yang hebat yang hendak dilepaskan nya. 


Ketika kedua tangan Dewa Pedang kelihatan bergerak ke muka maka Si Cawat Gila merasakan tubuhnya yang melesat di udara itu menerima tekanan yang hebat. Tubuhnya terhuyung-huyung dan serangannya buyar. Kaget sekali dia jadinya. Tak salah kalau adiknya Si Kuku lblis menemui ajal di tangan Ketua Partai Telaga Wangi yang nyatanya memiliki ilmu pukulan tangan kosong demikian lihainya. 


Didahului dengan bentakan menggeledek, maka kelihatanlah tubuh Si Cawat Gila menukik ke bawah laksana seorang perenang yang tengah menyelam, dan tahu-tahu kedua tinjunya sudah menjotos ke perut dan dada Dewa Pedang. Dewa Pedang dengan beringas sambuti tinju lawan dengan tinju pula. 


"Bukk!" "Bukk!" 

__ADS_1


Dua tinju yang mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi sama-sama beradu dan mengeluarkan suara keras. Akibatnya juga hebat. Tubuh Dewa Pedang terbanting ke belakang. Kalau saja ilmu meringankan tubuhnya tidak sempurna pastilah dia akan terus jatuh duduk atau terjerongkang di lantai panggung. Sebaliknya Si Cawat Gila sendiri kelihatan terpelanting ke belakang sampai satu tombak. 


Untuk kedua kalinya tokoh silat berotak miring ini jadi terkejut. Yang sudah-sudah bila seorang lawan berani menyambuti dua jotosannya, kalau tidak hancur kedua tangannya pasti akan terluka tubuhnya di sebelah dalam. Tapi di saat itu dilihatnya Dewa Pedang masih berdiri dan dalam keadaan segar bugar. Hanya kedua tangannya saja yang kelihatan kemerah-merahan. 


Mulut Si Cawat Gila berkemak kemik. "Rupanya kau memang ada isi juga huh...!" ujarnya menyeringai buas. 


Kedua tangannya saling digosok-gosok satu sama lain. Dan sesaat kemudian kedua tangan itu terkepal membentuk tinju dan berwarna biru. Dewa Pedang maklum kalau lawan hendak mengeluarkan ilmu pukulannya yang dahsyat. Karenanya segera dia bersiap-siap. 


Para penonton keseluruhannya menahan nafas melihat pertempuran yang bukan main hebatnya ini. Cawat Gila mengangkat kedua tangannya keatas, sejajar dan sama tingginya dengan kepalanya yang bermuka cekung itu. Tampangnya kelihatan semakin angker. 


"Selama aku memiliki llmu Pukulan Siluman Biru, tak satu manusia pun yang sanggup menahannya! Telah dua ratus empat puluh tokoh-tokoh silat yang mampus di tanganku, kau adalah korban yang ke dua ratus empat puluh satu, Dewa Pedang!" 


Mendengar nama pukulan yang bakal dilancarkan oleh lawannya, maka Dewa Pedang lipat gandakan tenaga dalamnya. Dan disaat itulah Si Cawat Gila dengan suara tertawa melengking-lengking menyerbu ke muka. Dua larik sinar biru melesat dan menukik ke bawah ke arah kepala Dewa Pedang. Ketua Partai Telaga Wangi ini cepat berkelit dan balas mengirimkan sodokan siku ke arah tulang iga lawan, namun dengan lipatkan lututnya Si Cawat Gila berhasil membuyarkan sodokan siku Dewa Pedang, sedang kedua tinjunya kiri dan kanan masih terus menderu deras ke batok kepala Dewa Pedang.Dewa Pedang ragu-ragu untuk menangkis pukulan lawan, karenanya dengan cepat membuang diri ke samping. Dua pukulan Si Cawat Gila lewat menderu di sisinya. 


"Braaak ... braak!" 


Lantai panggung yang terbuat dari papan tebal patah dan pecah kena dihantam angin Pukulan Siluman Biru yang dilancarkan oleh Si Cawat Gila. Semua orang meleletkan lidah. Dapatlah dibayangkan bagaimana hebatnya ilmu pukulan itu. Dewa Pedang sendiri terkejutnya bukan main. 


Dua tokoh silat yang duduk di antara jejeran para tamu saling berbisik. ”Naga-naganya Ketua Partai Telaga Wangi tak bakal sanggup menghadapi lawannya sampai dua puluh jurus ...." 


"Sukar di jajaki memang tingginya ilmu Si Cawat Gila! Tapi Dewa Pedang sendiri agaknya belum mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya. Meski umur muda tapi jangan terlalu memandang remeh Dewa Pedang ...." balas membisik tokoh silat lainnya. 


Pada saat itu di atas panggung terjadi pertempuran sangat seru antara Si Cawat Gila dan Dewa Pedang. Sinar biru dan sinar putih gulung bergulung. Agaknya Dewa Pedang pun sudah mengeluarkan ilmu pukulan yang diandalkannya. 


Di saat pertempuran berjalan seru-serunya itu, di saat semua mata hampir tak berkedip memandang ke atas panggung, maka terdengarlah pekikan-pekikan dahsyat itu. Dan didetik itu pula mata semuanya menangkap bayangan empat sosok tubuh manusia. 


"Hentikan pertempuran!", membentak salah seorang dari keempat pendatang itu. 


Suaranya menggetarkan lembah. Menyirapkan dada setiap yang hadir. Kemudian kelihatanlah empat sosok tubuh gadis berbadan ramping bagus berdiri di atas panggung. Ketika diperhatikan parasnya, maka gemparlah suasana mereka yang hadir. Bagaimana tidak, keempat gadis berbadan langsing bagus dan berkulit kuning mulus itu memiliki paras-paras yang mengerikan. Paras tengkorak!!!


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2