
Kedai nasi itu cukup besar. Tapi saat itu pengunjungnya cuma beberapa orang. Rangga Geblek meneguk air liurnya. Dia tak punya banyak uang tapi perutnya perih dan lapar, tenggorokannya kering dahaga.
Akhirnya dia masuk juga ke dalam kedai itu. Rangga duduk di satu sudut. Kursi-kursi dan meja lengket oleh debu. Tapi pemuda rambut gondrong ini terus saja duduk seenaknya tanpa mengacuhkan debu itu.
Seorang laki-laki tua ubanan datang mendekatinya. Dia adalah pemilik kedai.
”Makan nak....?” tegurnya.
Rangga mengangguk. ”Tapi jangan mahal-mahal, aku tak punya banyak uang!” kata Rangga terus terang.
Pemilik warung itu kerutkan kening. Selama dia membuka kedai di Jatiwalu itu baru hari ini ada seorang tamu yang datang di kedainya dan berkata seperti itu. Matanya meneliti Rangga Geblek dari rambutnya yang gondrong sampai ke kakinya yang berdebu.
”Kau tentu seorang pendatang....”, katanya.
”Betul,” Rangga menggaruk-garuk rambutnya. ”Tolong lekas nasinya, pak, perutku sudah lapar betul....!”
Orang kedai itu segera mengambilkan sepiring nasi dan segelas air lalu diletakkannya di atas meja di hadapan Rangga. Titik air liur pemuda ini. Selama tujuh belas tahun di puncak Gunung Ciremai dia hanya kenal nasi merah dan sayur. Kini menghadapi nasi putih dan ikan serta gulai yang lezat maka lahaplah makan Rangga. Keringat memercik di kulit mukanya. Kemudian diteguknya air. Pada saat dia mengusapi perutnya yang buncit keras itu maka masuklah empat orang laki-laki. Semuanya berpakaian serba hitam, memakai golok dipinggang. Tampang-tampang mereka sungguh tak sedap dipandang. Mereka masuk dan duduk dengan seenaknya. Keempatnya memelihara berewok.
Pemilik kedai melihat kehadiran keempat orang ini dengan cepat datang melayani. Agaknya keempat manusia ini pastilah orang-orang penting juga. Tak lama kemudian maka dihidangkanlah makanan yang lezat-lezat di atas meja. Tuak murni pun diletakkan dalam sebuah bumbung bambu berikut empat buah gelas yang juga dari bambu.
Keempat orang itu makan dengan angkat kaki. Suara celepak-celapak mulut mereka terdengar sampai ke tempat Rangga Geblek duduk. Tapi tentu saja pemuda ini tak mau ambil peduli. Meski mereka menyiplak sampai sekeras geledek pun dia tak akan ambil pusing!
Rangga melambaikan tangan memanggil pemilik kedai.
”Berapa aku musti bayar?” tanya Rangga.
Orang kedai itu menyebutkan jumlah uang yang musti dibayar Rangga.
”Waduh... mahal sekali!” keluh Rangga. ”Tadi aku sudah bilang jangan mahal-mahal...”
”Itu juga sudah sangat murah, Nak,” kata orang kedai.
__ADS_1
Rangga Geblek garuk-garuk kepalanya. ”Habis uangku buat bayar makanan itu.”
Dikeluarkannya uangnya dan diberikannya pada orang di kedai. Pada saat itu pula terdengar gelak tawa keempat orang yang duduk di meja seberang sana. Salah seorang dari mereka, yang berbadan gemuk pendek dan berkepala botak berkata,
”Kalau tidak gablek uang, jangan masuk kedai, Bung!”
Yang seorang lagi menyambungi, ”Dari pada takut-takut keluar uang, sebaiknya cari saja makanan di tong sampah!”
Keempat orang itu tertawa gelak-gelak.
Rangga memandang kepada mereka. Diejek demikian rupa pemuda ini tenang-tenang saja malahan sunggingkan senyum dan garuk-garuk kepala.
Laki-laki yang berkumis panjang menjulai ke bawah bertanya, ”Kau mau uang buat beli makanan?”
”Mau saja kalau diberi,” jawab Rangga sejujurnya. Digaruknya lagi kepalanya.
”Merangkaklah dihadapanku, menyalak tiga kali dan tuanmu ini pasti akan kasih uang kepadamu”
cukup untuk membeli sesisir pisang.
”Aku beli pisangmu, pak,” kata Rangga.
Diturunkannya sesisir sambil melangkah ke pintu dipotesnya sekaligus empat buah pisang. Dia melangkah juga ke pintu sementara di belakangnya masih terdengar suara gelak tawa keempat orang tadi.
Tiba-tiba hampir tak kelihatan saking cepatnya, dan tanpa berpaling sama sekali Rangga gerakkan tangan kanannya. Empat buah pisang meluncur lewat bahunya. Di belakangnya suara tertawa keempat orang tadi mendadak sontak berhenti, berganti dengan suara-suara tercekik.
Keempat buah pisang itu telah jeblos ke dalam mulut empat manusia berpakaian hitam-hitam itu. Jangankan untuk tertawa, bernafas pun mereka sudah megap-megap.
Dan diluar sana Rangga Geblek Sambil senyum-senyum melangkah terus sepanjang jalan. Dipotesnya sebuah pisang dan mulai memakannya. Dia melangkah terus dan acuh tak acuh ketika beberapa saat kemudian didengarnya derap kaki empat orang dalam kedai tadi mengejarnya.
”Bikin mampus saja sama kawan-kawan!” teriak salah seorang pengejar.
__ADS_1
”Berani kurang ajar sama kita orang! Cincang sampai *****!,” kata yang berbadan paling tinggi.
Rangga Geblek terus juga melangkah enak-enak. Cuma sekali-kali tangan kanannya dilambaikannya ke belakang untuk melemparkan kulit-kulit pisang yang dimakannya. Namun lambaian tangan itu bukan lambaian tangan biasa yang hanya sekedar melemparkan kulit pisang belaka!
Dari tangan kanan pemuda itu membadai angin dahsyat laksana tembok baja yang membendung lari keempat orang pengejar itu! Betapapun mereka mempercepat lari mereka namun tetap saja mereka tak sanggup mengejar Rangga Geblek padahal kelihatannya pemuda itu hanya tinggal sepejangkauan tangan lagi!
Keempat orang itu berteriak-teriak, memaki dan menggeram, menggapai-gapaikan tangan ke muka karena merasa hampir-hampir dapat menangkap punggung baju Rangga Geblek.
Namun gerakan-gerakan mereka itu tak ubahnya seperti empat ekor monyet yang menjadi gila mencak-mencak kian kemari!
Dan orang yang dikejar terus juga berjalan ongkang-ongkang bahkan sambil makan pisang ambon.
Mengapa sampai terjadi hal yang demikian, lain tidak karena Rangga telah mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang bernama: dinding angin berhembus tindih menindih.
”Gila betul!” teriak laki-laki tinggi jangkung yang lari paling depan.
Namanya Bergola Wungu. Dialah yang menjadi pemimpin dari tiga orang lainnya dan dialah yang memiliki ilmu paling tinggi.
Dengan sangat geram, sambil lari dicabutnya sebilah belati dari pinggangnya dan dilemparkannya ke arah punggung Rangga Geblek. Tapi anehnya pisau itu melesat kembali, berbalik menyerang Bergola Wungu.
Kalau saja dia tidak cepat-cepat buang diri ke samping pastilah lehernya akan dimakan ujung pisau.
Akhirnya dengan keluarkan keringat dingin, Bergola Wungu dan anak-anak buahnya hentikan pengejaran. Baru hari ini Bergola Wungu serta anak-anak buahnya menghadapi kejadian seperti itu. Kejadian yang mendekam hati tapi juga aneh tak bisa mereka
mengerti.
Sebagai pemimpin dari tiga orang itu, sebagai orang yang paling tinggi ilmu silat dan kesaktiannya sudah barang tentu Bergola Wungu malunya bukan main!
Untuk mencuci mukanya dia berkata menggerendeng:
”Kalau bangsat itu bukannya manusia siluman pastilah dia iblis bermuka manusia!”
__ADS_1