
"Bawa masuk tukang kuda itu!" kata Parit Wulung.
Tak lama kemudian pengawal membawa masuk seorang pemuda bermuka pucat pasi. Baik Parit Wulung maupun pemuda ini sebelumnya sudah saling mengenal.
"Siman Tjonet, kau lihat mayat dan kepala di lantai itu ?!"
Siman Tjonet si tukang urus kuda-kuda milik istana mengangguk.
"Tentunya kau tak ingin bernasib demikian, bukan ? Nah coba terangkan di mana Sultan bersembunyi”.
"Aku tak tahu…".
"Ah kau musti tahu. Mungkin sekali Sultan telah melarikan diri bersama beberapa orang dengan menunggangi kuda. Betul ?"
"Aku tidak tahu..", jawab Siman Tjonet lagi seperti tadi.
Maka marahlah Parit Wulung. "Dengar Siman…”, desisnya. "Aku tahu bahwa beberapa bulan di muka kau akan kawin. Kalau kau tetap ingin merasakan kenikmatan perkawinanmu itu, cepat beri tahu di mana Sultan berada”
"Kalau kau kasih keterangan", menyambung Djuanasuta, "kami akan berikan uang serta perhiasan. Kau akan beruntung seumur hidup"
"Aku tidak tahu…"
"Betul-betul tidak tahu ?!"
"Kalaupun tahu aku tidak akan kasih keterangan pada bergundal pemberontak dan pengkhianat macam kau".
Parit Wulung tertawa buruk. Pelipisnya bergerak-gerak. Tangan kanannya bersitekan pada hulu pedang.
"Jangan jadi orang tolol Siman Tjonet", berkata Karma Dipa sementara Resi Macan Seta dan adiknya asyik-asyik makan buah anggur yang terhidang di atas meja. "Bicaralah, kau akan selamat dan jadi orang kaya".
Siman Tjonet diam saja.
"Agaknya kau lebih suka mati daripada hidup senang. Siman ?", tanya Parit Wulung.
"Disangkanya kalau dia mati akan masuk surga dan ketemu bidadari", berkata Resi Macan Seta sambil tertawa dan mengunyah buah anggur dalam mulutnya.
"Aku masuk surga atau tidak itu bukan urusan kalian. Sebaliknya kalian semua kelak akan menjadi puntung api neraka", jawab Siman Tjonet dengan beraninya.
"Wah… kau benar-benar tidak takut mati, anak muda. Tapi bagaimana kalau sebelum mati aku siksa kau lebih dahulu, heh ?!"
"Kalian boleh siksa aku tapi di mana Sultan berada tetap kalian tak bisa tahu".
"He... he... he..” Resi Macan Seta berdiri dari duduknya. Mulutnya masih mengunyah buah anggur. Dia melangkah ke hadapan Siman Tjonet, Tangan kanannya diletakkannya di atas kepala pemuda itu.
__ADS_1
"Manusia bermuka setan, pergi!!!", hardik Siman Tjonet.
Pemuda ini pergunakan kaki kanannya untuk menendang tulang kering Resi Macan Seta. Tapi aneh. Kedua kakinya terasa sangat berat dan sukar digerakkan. Sementara itu kepalanya yang dipegang terasa panas bukan main. Disamping panas kepalanya juga terasa seperti dicucuki oleh ratusan jarum. Dari kepala rasa sakit menjalar ke sekujur tubuh si pemuda. Pemuda ini merintih kesakitan. Bila rasa sakit tak tertahankan lagi maka mulailah dia menjerit-jerit setinggi langit. Betapa mengerikan suara jeritan itu terdengarnya. Peluh dingin membasahi seluruh tubuh Siman Tjonet.
"Masih belum mau bicara ?!", bentak Parit Wulung.
"Pengkhianat terkutuk. Pembalasan akan datang untuk kalian semua!!!".
"Bikin mampus dia Resi Macan Seta”, perintah Parit Wulung.
Sang Resi mengekeh, telapak tangannya semakin keras menekan batok kepala pemuda tukang kuda. Asap mengepul dari telapak tangan laki-laki sakti itu. Jeritan Siman Tjonet terdengar semakin keras dan berubah menjadi suara erangan. Dari telinga, dari mata dan dari lubang hidung serta mulutnya mengalir darah kental. Kedua lututnya terlipat dan sesaat kemudian tubuh pemuda itu terhempas ke lantai, nyawanya lepas.
Resi Macan Seta mengekeh lagi. Dan Parit Wulung bertepuk lagi. Maka tawanan yang ketiga pun dibawa masuklah. Tawanan ini ternyata seorang perempuan muda berparas rupawan. Begitu dia masuk ke ruangan itu maka menjeritlah dia. Kedua tangannya yang tidak terikat dipakai untuk menutupi muka dan matanya. Kengerian membuat tubuhnya gemetar ketika menyaksikan kepala dan tubuh Said Ulon serta tubuh pemuda tukang kuda.
Resi Singo Ireng menunda anggur yang hendak disuapkannya ke dalam mulut. Matanya menjalari si perempuan muda mulai dari ujung rambut sampai ke kaki.
"Ah... ah... ah… Yang satu ini tak boleh dibunuh Parit Wulung. Dia cukup pantas untuk jadi peliharaanku”, kata Resi bertampang singa itu.
Parit Wulung tak ambil perhatian ucapan itu. Dia berkata pada si perempuan muda. "Suri Intan, kau tak usah khawatir atau takut. Tidak ada yang akan menyakiti kau”.
"Aku tak percaya pada kalian. Keluarkan aku dari sini”, teriak perempuan itu.
Suri Intan adalah istri Braja Paksi kepala balatentara Banten yarig telah gugur dalam mempertahankan kerajaan. Karena adik Braja Paksi kawin dengan si pemberontak Parit Wulung, maka dengan sendirinya antara Parit Wulung dengan Suri Intan terdapat hubungan keluarga yang dekat. Parit Wulung coba tersenyum mendengar ucapan perempuan itu.
"Suri, apakah kau tahu di mana Sultan Hasanuddin bersembunyi ? Juga penasihat tua Mangkubumi Mitra ?!"
"Dewiku manis", kata Singo Ireng mengetengahi. "Kau akan ke luar dari sini, aku yang akan bawa kau dan kita berdua akan senang-senang di tempatku di pantai utara. Tapi apa salahnya sebelum pergi kau suka kasih penuturan apa yang kau ketahui mengenai Sultan".
"Aku tidak tahu apa-apa mengenai Sultan. Yang aku tahu ialah bahwa kalian semua manusia-manusia pengkhianat terkutuk. Balasan Tuhan akan datang kelak atas diri kalian".
"Ah... ah... ah… Bicaramu hebat sekali manisku", kata Singo Ireng.
Dia berdiri dari kursinya. Sambil melangkah mendekati Suri Intan dia meneruskan. "Aku suka pada peremppan-perempuan yang pandai bicara".
Dia berdiri dua langkah di hadapan Suri Intan. Bola matanya berkilat-kilat memandangi perempuan berparas rupawan itu lalu dia berpaling pada Parit Wulung.
"Aku yakin betul", katanya pada Parit Wulung. "perempuan ini pasti tidak dusta dengan keterangannya. Dia tak tahu apa-apa tentang Sultan. Parit Wulung, biar aku minta diri saja siang-siang untuk membawa dia ke kamar sebelah.... he... he... he…".
" Singo Ireng! Jangan ribut soal lampiaskan nafsu saja. Kita harus cari dulu Sultan Hasanuddin sampai dapat! ". Yang bicara ini adalah Macan Seta, kakak Singo Ireng.
"Ladalah..", menyahuti Singo Ireng. "Itu urusan kalian. Aku sudah letih. Tubuhku pegal-pegal. Perempuan ini pasti lihay sekali memijit. Bukankah begitu dewiku?"
Dan Singo Ireng mencubit dagu Suri Intan.
__ADS_1
" Tua bangka hidung belang!! ", memaki Suri Intan. Tangannya bergerak hendak mencakar muka Singo Ireng. Tapi sekali cekal saja maka perempuan itu sudah tak bisa berdaya lagi.
" Lepaskan aku, lepaskan! ”. Suri Intan meronta sekuat tenaga. Entah cekalan Singo Ireng yang kemudian agak kurang ketat, entah karena rontakan Suri Intan yang memang sangat keras maka perempuan itu berhasil melepaskan diri dari cekalan Singo Ireng.
Kemudian secepat kilat dia lari ke pintu. Tapi nyatanya pintu dikunci dari luar oleh pengawal. Dalam bingung dan ketakutan sementara itu Suri melihat Singo Ireng mendatanginya dengan menyeringai, dan bola mata berkilat-kilat sedang hidung kembang kempis.
" Singo Ireng! Biarkan dulu perempuan itu! ", bentak Macan Seta.
" Sudah diam sajalah Seta! ”, menggerendang Singo Ireng. "Sekarang kau terlalu banyak ribut, nanti kalau aku lagi asyik kau dobrak pintu kamar dan minta diberi bagian. Puh.."
Singo Ireng maju ke muka dan ulurkan tangan.
" Jangan jamah aku! ”, teriak Suri Intan. Dia lari seputar ruangan dan Singo Ireng mengejarnya. Mengejar dengan tertawa terkekeh-kekeh.
"Manisku, kenapa musti main kucing-kucingan? Tampangku memang buruk. Tapi nantilah, kalau kau sudah rasakan bagaimana pandainya aku di atas tempat tidur, kau akan ketagihan… ha... ha... ha..."
Suri Intan semakin kepepet ke sudut ruangan.Tiba-tiba terjadilah hal yang tidak diduga oleh Singo Ireng dan siapapun yang ada di ruangan itu. Suri Intan melompat ke samping, membenturkan kepalanya ke dinding ruangan. Semua orang yang ada di ruangan itu sudah biasa dengan segala macam pemandangan maut, sudah biasa melihat kematian manusia. Tapi mendengar suara beradunya kepala perempuan itu dengan dinding yang keras, menyaksikan bagaimana kemudian Suri lntan terkapar di lantai dengan kepala rengkah berlumuran darah, semuanya sama menjadi merinding bulu tengkuknya. Suasana di ruangan itu seperti di pekuburan sunyinya.
Kesunyian itu kemudian dipecahkan oleh suara Macan Seta. "Aku bilang apa, Singo Ireng. Kau lihat sendiri sekarang. Apa kau masih bernafsu terhadap perempuan itu ?!"
Singo Ireng tak menjawab. Diputarnya badannya. Dia duduk kembali ke tempatnya. Dan seperti tak ada apa-apa, dia mulai lagi mengunyah buah anggur yang terhidang di atas meja.
Sesudah para pengawal diperintahkan menyeret ketiga mayat itu, maka Parit Wulung melanjutkan pertemuan dengan membuka pembicaraan. "Kurasa mengenai Sultan tak perlu kita bicarakan panjang lebar. Cepat atau lambat orang-orang kita akan segera menangkapnya. Tapi apa yang menjadi pikiranku ialah lenyapnya keris pusaka kerajaan. Tumbal yang menjadi syahnya kedudukanku sebagai seorang Raja nanti".
"Keris itu pasti dibawa kabur oleh Sultan Hasanuddin", kata Resi Macan Seta pula.
"Mungkin, tapi mungkin pula dicuri atau dilarikan oleh seorang lain".
Singo Ireng mengetengahi. "Tanpa keris Tumbal Wilayuda itupun tak akan ada seorang pum yang bisa menolak penobatanmu sebagai Raja Banten, Parit Wulung. Kecuali kalau mereka mau terima nasib digerogoti cacing di liang kubur".
"Soal itu aku tak khawatir. Tapi dalam hal ini kita berhadapan dengan rakyat. Rakyat hanya akan mengakui aku sebagai raja, bila keris Tumbal Wilayuda ada di tanganku".
" Kenapa ambil pusing dengan rakyat ? ”, tukas Singo Ireng. “Mereka mau terima atau tidak, mereka mau mampus sekalipun, kita tak perlu ambil peduli. Rakyat tidak lebih dari domba-domba yang bisa kita halau sesuka hati ".
"Tapi, disamping itu keris Tumbal Wilayuda adalah satu senjata sakti dan keramat”, ujar Parit Wulung.
"Sakti aku percaya, tapi kalau dikatakan keramat itu adalah takhyul”, menyahut Singo Ireng.
Parit Wulung tak berkata apa-apa namun dalam hati dia merasa tidak senang. Maka berkatalah dia. "Aku minta pada kalian, terutama Resi Macan Seta dan Singo Ireng untuk mencari Sultan dan menemukan keris Tumbal Wilayuda itu sampai dapat".
Singo Ireng mengunyah anggurnya lambat-lambat lalu berkata. "Ini tak termasuk dalam hitungan kita Parit Wulung. Tempo hari kau hanya minta aku dan kakakku membantu pemberontakan sampai terlaksana. Kini Banten sudah jatuh dan berada di tanganmu, perjanjian kita beres dan kami sudah saatnya menerima balas jasa".
"Mengenai soal balas jasa, Resi berdua tak usah cemas, kalian berdua boleh membawa segala harta kekayaan apa saja dari Banten ini sebanyak yang kalian bisa bawa. Tapi bila kalian bersedia pula membantu mencari dan menangkap Sultan serta menemukan keris pusaka Tumbal kerajaan itu, maka bagian kalian tentu akan lipat ganda".
__ADS_1
Singo Ireng manggut-manggut. "Baiklah”, katanya. "Soal harta aku tidak begitu temahak. Tapi setiap perempuan cantik di Banten ini adalah milikku".
BERSAMBUNG...