PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
MANA SI JARING HANTU ?


__ADS_3

Dunia berputar terus. Siang berganti dengan malam, disambung lagi dengan siang lalu malam demikianlah seterusnya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hari dua belas bulan dua belas semakin dekat juga. Dunia persilatan semakin tegang oleh kemunculan Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya yang hendak mendirikan Partai Lembah Tengkorak. Dimana mereka muncul, disitulah terjadi pembunuhan. 


Enam Partai Persilatan musnah lagi tinggal nama saja. Lusinan tokoh silat menemui ajalnya di tangan perempuan-perempuan itu. Sebenarnya akan lebih banyak lagi Partai Silat dan tokoh-tokoh silat yang bakal tamat riwayatnya jika saja kejahatan-kejahatan atau pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya itu, tidak mendapat halangan dan tantangan dari tokoh-tokoh silat sakti. Satu di antara mereka yang paling menjadi momok bagi Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya ialah Pendekar Trisula Maut Naga Langit Rangga Geblek.


Berkali-kali Pendekar Trisula Maut menggagalkan maksud Dewi Kala Hijau ketika hendak menghancurkan beberapa Partai Persilatan. Berkali-kali pula beberapa tokoh silat karena bantuan Pendekar Trisula Maut berhasil meIoloskan diri dari liang jarum kematian. Karenanya, antara Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya dengan Pendekar Trisula Maut terdapat dendam kesumat yang tiada terkirakan besarnya. Namun demikian dibalik dendam kesumat itu tersembunyi pula Satu perasaan di hati Dewi Kala Hijau. Sang Dewi ini tidak mengetahui bahwa apa yang dirasakannya itu, dialami pula oleh muridnya sendiri yaitu Kala Putih. 


Sebelum masuk ke dalam dunia persilatan, Dewi Kala Hijau pernah jatuh cinta terhadap seorang pemuda. Pemuda itu kemudian menemui kematian di tangan satu gerombolan rampok. Ketika pertama kali bertemu muka dengan Rangga Geblek, terkejutlah Dewi Kala Hijau karena pendekar ini mirip sekali parasnya dengan pemuda yang pernah dikasihinya itu. Cuma bedanya Rangga memiliki rambut panjang gondrong. lngat pada pemuda kekasihnya dulu dan melihat Rangga, Sang Dewi merasakan seperti kekasihnya hidup kembali. Dan api cinta yang dulu padam kini mulai menyala lagi. 


Namun karena Rangga Geblek senantiasa menjadi penghalang besar dalam rencananya untuk mendirikan Partai Lembah Tengkorak, maka benih cinta yang kembali menyubur itu menjadi tertindas tumbuhnya. Di satu pihak Rangga bisa memberikan satu kehidupan yang bahagia bagi masa depannya, dilain pihak Rangga adalah merupakan musuh besar bagi rencana dan dirinya sendiri. 


Sementara itu hari dua belas bulan dua belas semakin dekat juga. Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya tidak ada waktu lagi untuk menumpas Partai-partai Silat dan tokoh-tokoh silat yang menantang-nya, karena dia harus mempersiapkan segala sesuatunya di Lembah Tengkorak guna meresmikan Partai Lembah Tengkoraknya. 


Maka Dewi Kala Hijau menukar siasat. Kedelapan penjuru angin dunia persilatan di sebarkanlah surat-surat undangan guna menghadiri hari peresmian berdirinya Partai Lembah Tengkorak. Bila tokoh-tokoh silat dan ketua-ketua Partai Persilatan, baik dari golongan putih maupun hitam sudah hadir nanti, maka pastilah siasatnya itu akan berjalan baik. Apalagi mengingat sampai saat itu dia telah memiliki sejumlah besar anggota-anggota partai dari jago-jago silat lihai yang telah ditundukkannya. 


Meskipun sudah terbayang oleh Dewi Kala Hijau bahwa Partai Lembah Tengkorak pasti akan berdiri dengan megah, namun hati kecilnya masih gelisah terhadap orang-orang seperti Pendekar Trisula Maut Rangga Geblek. Sekalipun tidak diundang bukan mustahil Pendekar Trisula Maut akan datang ke Lembah tengkorak, apalagi dalam pertempuran di tempat Partai telaga Wangi tempo hari, Dewi Kala Hijau telah menantangnya untuk datang ke Lembah Tengkorak, pada hari dua belas bulan dua belas. 


Selama mempersiapkan segala sesuatunya di Lembah Tengkorak, Dewi Kala Hijau senantiasa mencari akal bagaimana cara yang paling baik untuk menghadapi Pendekar Trisula Maut. Pemuda itu berbahaya sekali dan merupakan musuh besarnya. Namun meski berbahaya, hati kecilnya tak menginginkan Rangga Geblek menemui kematian. Inilah satu ujian yang berat bagi Dewi Kala Hijau. 

__ADS_1


Memang bagaimanapun jahat dan terkutuknya hati Seorang manusia, namun bila sinar cinta dan kasih sayang merayapi hatinya, maka dia akan dihadapkan pada kebimbangan. Cintakah yang musti didahulukannya atau cita-citanya ?!. 


Seminggu sebelum tiba hari dua belas bulan dua belas, Dewi Kala Hijau memerintahkan muridnya si Kala Putih dan seorang anggota Partai untuk mencari dan meringkus Pendekar Trisula Maut hidup-hidup. Menurut keyakinan Dewi Kala Hijau menjelang hari peresmian berdirinya Partai Lembah Tengkorak, pastilah Pendekar itu berada dekat-dekat sekitar kaki Gunung Merapi. Adapun anggota Partai yang bersama Kala Putih ini ialah seorang tokoh silat aliran hitam yang berjuluk "Si Jaring Hantu". Kehebatan Si Jaring Hantu maka sampai dia diberi gelar demikian ialah, karena dia memiliki senjata ampuh yaitu sebuah jaring yang terbuat dari sejenis tali yang tak Satu senjatapun Sampai saat itu sanggup memutusnya. 


Empat hari kemudian maka kembalilah Kala putih hanya seorang diri. Dewi Kala Hijau menyambut kedatangan muridnya itu dengan heran. Ada perubahan pada paras Kala Putih. 


"Mana Si Jaring Hantu?" bertanya Dewi Kala Hijau. 


Kala Putih menjura di hadapan gurunya tapi tak segera menjawab. Kepalanya ditundukkan. 


Kala Putih mengangguk. 


"Dan Si Jaring Hantu berhasil menangkapnya?" 


Kala Putih menggeleng perlahan. Dewi Kala Hijau memukul meja di hadapannya. 


"Putih! Sikapmu aneh sekali! Cepat berikan penuturan!” bentaknya. "Mana Si Jaring Hantu?!" tanya Dewi Kala Hijau Hijau sekali lagi. 

__ADS_1


"Si Jaring Hantu tewas di tangan pemuda itu, guru ...." 


Berubahlah Paras Dewi Kala Hijau. Dan Kala Putih meneruskan: "Kami berhasil menemui pemuda itu disatu jurang sekitar tiga puluh kilo dari sini dua hari yang lalu. Kami berdua mengeroyoknya. Setelah bertempur lima jurus Si Jaring Hantu berhasil meringkus Pemuda itu dengan jaring saktinya. Si pemuda coba lepaskan diri bahkan lepaskan pukulan bintang perak tapi jaring tetap tak mau bobol. Namun keiika Si Jaring Hantu datang mendekat tiba-tiba sangat cepat sekali pemuda itu berhasil mencabut trisulanya dan membabat ke muka. Tali-tali jaring putus dan trisula terus memapas Perut Si Jaring Hantu dan,.. dan mati!" 


"Lantas ... ?" 


"Aku... aku kemudian menghadapi pemuda itu. Tiga jurus saja aku sudah terdesak dan... dan terpaksa harus melarikan diri." 


Dewi Kala Hijau menggigit bibirnya. Matanya meneliti paras muridnya tapi tak jelas terlihat karena Kala Putih terus-terusan menundukkan kepalanya. Namun demikian pandangan dan perasaan Dewi Kala Hijau Yang tajam bisa mengetahui bahwa disamping yang telah diterangkan oleh muridnya, pasti terjadi apa-apa. 


Karena saat itu berada dalam kesibukan maka Dewi Kala Hijau memutuskan pembicaraan dengan berkata: "Kau pergilah bantu yang lain-lainnya membereskan segala sesuatunya. Beberapa diantara undangan telah ada yang datang...." 


Kala Putih menjura lalu pergi dengan cepat. 


Memasuki hari keenam, sementara para tamu telah banyak yang datang, maka Dewi Kala Hijau melihat semakin jelas adanya perubahan pada diri muridnya Si Kala Putih. Maka perempuan itu pun menyuruh muridnya menghadap.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2