PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
ASAP KENCANA BIRU


__ADS_3

"Namaku tidak perlu. Tapi gelarku adalah Si Penggoncang Langit!". 


"Ho... ooo.... gelarmu keliwatan sekali sehingga tidak cocok dengan tubuhmu yang kontet itu. Bagusnya kau pakai gelar Kodok Buduk", mengejek Dewi Kerudung Biru. 


Mulut Si Penggoncang Langit berkemik. Sekali kedua tangannya bergerak, maka dua gelombang angin yang menggetarkan ruangan itu melesat ke arah Dewi Kerudung Biru. Hebatnya, sang Dewi yang saat itu masih tetap duduk di atas batu keluarkan tertawa menghina dan kebutkan tangan kanannya. Maka runtuhlah angin pukulan Si Penggoncang Langit.


Penasaran sekali anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma ini melompat ke muka. Dua tangan terpentang lebar dan bergerak bersamaan dalam satu gerakan yang sukar dilihat oleh mata. 


"Manusia busuk macam kau tidak pantas dekat-dekat padaku!", bentak Dewi Kerudung Biru. 


Tangan kanannya memukul. Si Penggoncang Langit mencelat empat tombak terguling di tanah, mengeluarkan suara seperti orang muntah, tapi yang keluar dari mulutnya adalah semburan darah segar. 


Dalam keadaan begini Si Penggoncang Langit segera keruk saku jubah merahnya, keluarkan sebuah pil, menelannya dengan cepat lalu bersemedi pula dengan cepat dalam cara yang aneh yaitu kepala ke bawah kaki ke atas. 


Melihat dua kawannya dibikin kalah mentah-mentah maka majulah anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma yang ketiga. Manusia ini berbadan gemuk. 


"Dewi Kerudung Biru, aku tak akan kasih tahu nama juga tak perlu sebutkan gelaranku padamu. Tapi jika kau berpemandangan dan berpengalaman luas lihat seranganku ini!". 


Si Gemuk ini menutup kata-katanya dengan gerakkan dua tangannya. Maka enam pisau terbang merah melayang ke arah enam bagian tubuh Dewi Kerudung Biru. Diam-diam Sultan terkejut melihat kehebatan serangan pisau ini. Dia khawatir kalau Dewi Kerudung Biru tak sanggup mengelakkan keenam pisau itu sekaligus.

__ADS_1


Tapi anehnya yang diserang ganda tertawa semerdu perindu. Pisau terbang yang pertama ditangkapnya dengan tangan kanan. Kemudian senjata ini dipergunakannya untuk menangkis lima pisau terbang lainnya sehingga pisau yang di tangan maupun yang ditangkisnya patah dua dan bermentalan. 


Terbeliaklah mata keempat anggota Iblis Pencabut Sukma itu. Lebih-lebih Si Pisau Terbang. Selama hidup baru kali ini dia melihat serangan pisau-pisau terbangnya dihancurkan demikian rupa. Dan dalam terkejutnya itu dia melihat Dewi Kerudung Biru lemparkan kutungan pisau kearahnya. 


Cepat-cepat Si Pisau Terbang berkelit tapi luput. Kutungan pisau masih sempat menyambar telinga kirinya. Dan putuslah daun telinga laki-laki itu. Senjata makan tuan. Darah berlelehan. Dewi Kerudung Biru tertawa cekikikan. 


Kalap sekali, maka berserulah Si Pisau Terbang. "Kawan-kawan mari kita kermus dajal betina ini!". 


Maka menyerbulah keempat anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma itu. Melihat sang Dewi dikeroyok begitu rupa, Sultan Hasanuddin tak tinggal diam. Dia menerjang ke muka dan lancarkan satu serangan cepat ke arah Tangan Perenggut Jiwa. Namun disaat itu Dewi Kerudung Biru menyibakkan badannya ke samping dengan berkata. "Sultan, kau tenang-tenang sajalah. Tak perlu susah-susah mengotorkan diri terhadap kroco-kroco bau tengik ini!". 


Sultan merasa tidak senang. Walau bagaimanapun saktinya Si Kerudung Biru, namun pengeroyokan curang demikian rupa bertentangan dengan hati kesatrianya. Untuk kali kedua dia hendak menyerbu kembali. Namun disaat itu, terdengar jeritan Si Penggoncang Langit. Tubuhnya mencelat ke atas ruangan batu. Kepalanya hancur. Belum lagi tubuh Si Penggoncang Langit sampai ke lantai, maka terdengar lagi pekik anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma yang kedua. Tulang dadanya melesak ke dalam, iga-iganya putus. Si Pisau Terbang dan Tangan Perenggut Jiwa mengamuk habis-habisan. Dua puluh jurus berlalu sangat cepat. Dalam dua puluh jurus itu keduanya terus menerus mendesak Dewi Kerudung Biru dengan hebat. Ruangan bergoncang laksana dilanda lindu. 


Sepasang tangan sang Dewi yang halus tapi mengandung hawa kematian yang dahsyat membagi serangan dalam jurus dahsyat bernama "sepasang tangan menebar maut". Si Pisau Terbang dan Tangan Perenggut Jiwa tiada kesempatan lagi untuk mengelak. Menangkis mereka tiada punya nyali. Menghadapi maut di depan mata ini maka menjeritlah keduanya. 


Namun disaat itu pula dari luar terdengar suara menggeledek. "Manusia yang berani menghina anggota Perkumpulan adalah korbanku yang kedua ratus!". 


Begitu suara habis maka dua larik sinar merah yang panas menyembur ke arah Dewi Kerudung Biru. Sultan melompat ke samping untuk hindarkan sambaran sinar merah, sedang Dewi Kerudung Biru sebaliknya malah pentang kedua tangan dan mendorong ke muka. Pertemuan yang dahsyat dari dua aliran pukulan menimbulkan goncangan yang hebat laksana dunia ini mau kiamat. 


Dewi Kerudung Biru berdiri tergontai seketika sedang lawan yang lepaskan pukulan tadi, yang saat itu hendak masuk ke dalam goa, terdorong kembali keluar mulut goa kena diterpa angin pukulan Dewi Kerudung Biru. Sesaat kemudian ketika manusia yang di luar goa itu masuk ke dalam ternyata dia adalah Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Di belakangnya menyusul satu lusin anggota lainnya. 

__ADS_1


Dengan marah, Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma itu membentak. "Pisau Terbang dan Tangan Perenggut Jiwa, kalian memalukan saja tidak sanggup menghadapi betina galak ini. Biar aku yang jinakkan dia!". 


Habis berkata begitu maka Iblis Pencabut Sukma segera lancarkan jurus "menendang langit menjungkir awan". Tidak sampai di situ saja maka dia susul serangan itu dengan taburan pukulan kipas merah. Betul-betul dua jurus yang sangat menggetarkan dan luar biasa. 


Dewi Kerudung Biru berkelebat cepat. Mulutnya terbuka. "Huaaah....". 


Dari mulut sang Dewi menyembur sinar biru yang dahsyat. Iblis Pencabut Sukma terkejut. Bukan saja dua jurus serangannya tadi menjadi buyar, tapi serangan lawan dengan hebatnya terus menyerang kearahnya. 


"Asap kencana biru!”, seru Iblis Pencabut Sukma dengan kaget. 


Cepat sekali dia melesat enam tombak ke atas. Sewaktu turun dia sudah cabut sebilah pedang merah kemudian sambil menyerang dia berteriak. "Anak-anak, ayo tunggu apa lagi?!". 


Mendengar ini maka semua anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma segera menyerbu. Sultan lagi-lagi hendak turut membantu sang Dewi, namun setiap saat dia gerakkan badan, setiap kali pula Dewi Kerudung Biru mendorongnya ke belakang sehingga dia tak bisa berbuat apa-apa. Dewi Kerudung Biru sungguh luar biasa dalam bertahan dan menyerang. Namun lawan lawannya banyak sekali, apalagi di bawah pimpinan Wakil Ketua mereka. 


Sesudah tiga puluh jurus berlalu maka sang Dewi mulai terdesak. Dua anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma berhasil ditewaskannya, namun serangan-serangan lawan bukannya mengendur melainkan bertambah dahsyat. Diam-diam Sultan menjadi gelisah. Kali ini sang Dewi pasti tak bisa bertahan lebih dari sepuluh jurus lagi, pikirnya. 


Maka pada saat Dewi Kerudung Biru sibuk menghadapi lawannya, terbungkus oleh sinar pedang merah, dengan cepat Sultan menerjang ke muka. Bantuan Sultan dalam lima jurus di muka sanggup mengimbangi lawan-lawan yang lihay itu. Namun lambat laun mulai mengendor. Bersama sang Dewi kembali keduanya terdesak. Dewi Kerudung Biru semburkan lagi "asap kencana biru"nya. Namun angin pedang merah di tangan Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma, dengan hebatnya berhasil membuyarkan asap sakti itu. 


"Betina galak! Sekarang terimalah kematianmu!", bentak Iblis Pencabut Sukma.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2