
Malam itu untuk kesekian kalinya di dalam kemah besar diadakan pertemuan. Kali ini sangat
penting sekali rupanya karena di luar kemah itu dijaga dengan ketat oleh para pengawal.
Pertemuan ini bukan saja penting karena datangnya dua tokoh sekutu dari kaum
pemberontak yaitu Adipati Warok Gluduk dari Rajasitu dan Adipati Tapak Ireng dari
Ratujaya, tapi juga karena kabar yang dibawa oleh seorang kurir Raden Werku Alit dari Kotaraja.
Sebagaimana biasa pertemuan penting ini di pimpin oleh Mahesa Jenar yang duduk di
kepala meja. Setelah mempersilahkan kelima Adipati meneguk minuman masing-masing
maka Mahesa Jenar segera membuka pembicaraan.
“Pertama sekali perkenankanlah saya atas nama Adipati-Adipati yang terdahulu datang ke
sini dan juga atas nama Raden Werku Alit, mengucapkan selamat datang pada Adipati
Warok Gluduk dan Adipati Tapak Ireng. Kemudian kami juga mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya atas tekad Adipati-Adipati berdua untuk bersedia
membantu dan bersekutu dalam perjuangan mencapai cita-cita kita yang besar yaitu menggulingkan Pajajaran, menumbangkan Kamandaka dari takhta kerajaannya karena
sesungguhnya selama Raden Werku Alit masih hidup maka Kamandaka tidak punya hak
sama sekali untuk menjadi Raja Pajajaran.”
Mahesa Jenar memuntir-muntir kumisnya yang melintang dua tiga kali lalu melanjutkan
bicaranya:
“Kedua kalinya, pertemuan ini adalah juga untuk membahas keterangan yang telah
disampaikan kurir dari Kotaraja. Diterangkan bahwa dua orang mata-mata kita tertangkap.
Yang satu terbunuh dan yang satu lagi bunuh diri. Mayat mereka dibuang ke kali. Mengenai
peristiwa ini ada sedikit keterangan yang bersimpang siur sehingga belum dapat saya
menarik satu kesimpulan bagaimana sampai kedua mata-mata kita itu mengalami nasib
demikian rupa.
Kabar keterangan yang paling buruk ialah bahwa salah seorang pembantu utama kita yaitu kepala pasukan Kalasrenggi juga telah menemui kematiannya. Dia digantung di sebuah kuil
tua di lembah Limanaluk. Mengenai kematian Kalasrenggi ini ada hal-hal aneh dan
keterangan yang agak bersimpang siur. Menurut kurir Raden Werku Alit, ketika pasukan
kerajaan datang ke kuil itu, Kalasrenggi sudah tidak bernafas, digantung kaki ke atas kepala ke bawah dan pada keningnya tercetak gambar Trisula.”
Mahesa Jenar memandang berkeliling dan melihat paras-paras Adipati itu keheran-heranan.
“Sukar diduga siapa sebenarnya yang membunuh Kalasrenggi dan juga tak dapat ditafsirkan
apa arti gambar Trisula tersebut. Di samping itu, sesudah kejadian tersebut, Sang Prabu
memerintahkan pembersihan besar-besaran di kerajaan. Namun semua orang kita sudah
menyingkir. Dan menurut Raden Werku Alit sampai saat dia mengirimkan kurir itu masih
belum ada kecurigaan terhadap dirinya. Namun demikian dalam sehari dua hari ini dia akan
segera berangkat ke sini untuk berunding terakhir kali, menentukan kapan penyerangan
dilakukan terhadap Pajajaran. Raden Werku Alit berharap agar kita terus dalam
kesiapsiagaan.”
Sunyi sebentar, Adipati Lanabelong dari Kendil yang berkepala sulah meneguk tuaknya,
mengumur-ngumurkan minuman itu dalam mulutnya beberapa lama, lalu bertanya:
“Sampai saat ini berapakah kekuatan balatentara Pajajaran ?”
“Menurut keterangan Kalasrenggi sebelum menemui kematiannya tempo hari sekitar dua
ribu lebih. Memang jumlah kekuatan mereka lebih dari kita. Kita cuma sekitar seribu enam
ratusan. Tapi janganlah itu menjadi kekhawatiran para Adipati sekalian. Mengapa aku katakan tak usah khawatir sebabnya begini.
__ADS_1
Pertama, dalam peperangan itu jumlah yang
besar tidak selamanya menentukan untuk mencapai kemenangan. Sering pasukan yang lebih sedikit sanggup mengalahkan pasukan yang lebih besar. Ini adalah disebabkan bahwa
sesungguhnya unsur kekuatan atau jumlah tidak terlalu menentukan tapi unsur taktiklah yang lebih menentukan. Dengan taktik yang tinggi serta matang, dengan mengetahui di
mana kelemahan-kelemahan pertahanan pasukan Pajajaran, pasti kita dalam sekejapan mata bisa mengobrak abrik mereka.
Kedua, dalam peperangan, kecepatan tempur atau waktu penyerangan yang tepat adalah
sangat menentukan. Bila lawan sedang lengah, meskipun jumlahnya besar, sanggup
dikacau balaukan dan disapu bersih oleh sepasukan kecil saja. Demikian pula dengan kita.
Kita akan menyerang dengan tiba-tiba, dengan menyergap.
Pajajaran hanya baru akan mengetahui bila balatentara kita sudah berada di depan mata
hidung mereka. Dan saat itu mereka tak akan ada waktu lagi untuk mempersiapkan diri.
Aku
rasa dengan berpegang teguh pada dua hal itu, tidak sukar bagi kita untuk membereskan Pajajaran. Apalagi para Adipati di sini bukan pula manusia-manusia berilmu rendah. Sedikit banyaknya adalah murid-murid dari perguruan-perguruan silat yang ternama juga, bukankah demikian?”
Kelima Adipati itu sama mengulum senyum. Memang rata-rata mereka adalah pewaris
ilmu-ilmu silat dari pelbagai cabang dan aliran serta ilmu-ilmu mereka tidaklah dapat
dianggap ilmu pasaran yang rendah belaka.
“Di samping itu,” kata Mahesa Jenar pula, “Jangan pula kita lupakan bantuan yang akan
diberikan oleh seorang tokoh dunia persilatan yang terkenal yakni Begawan Sitaraga.”
“Oh, jadi Begawan sakti yang diam di puncak Gunung Halimun itu membantu kita pula?” tanya Warok Gluduk, Adipati dari Rajasitu.
“Ya,” sahut Mahesa Jenar.
“Bagaimana sampai Begawan ini mau membantu perjuangan kita?” tanya Tapak Ireng.
“Setahuku dia mempunyai pertikaian dengan Toa Kamandaka.“ jawab Mahesa Jenar pula.
“Kalau benar begitu, satu hari saja Pajajaran pasti sudah sama rata dengan tanah.” kata
bakai diterimanya bila pemberontakan mereka berhasil nanti.
* * *
Waktu itu hari hujan rintik-rintik. Angin malam bertiup kencang dan dingin. Sosok tubuh itu berjalan dengan acuh tak acuh. Tidak perduli hujan rintik-rintik, tidak perduli angin kencang, tidak perduli segala rasa dingin yang menyembilui tulang-tulang sumsum. Dia berjalan terus bahkan sambil bersiul-siul. Sesampainya di ujung jalan itu maka disusurinya tembok tinggi dan sekali-sekali, dalam jarak-jarak tertentu dilewatinya seorang pengawal bersenjata lengkap.
Di hadapan sebuah pintu gerbang yang dikawal oleh delapan orang prajurit berhentilah pemuda itu. Dia memandang ke kiri dan ke kanan, memandang ke atas pintu gerbang lalu memandang pada barisan pengawal dengan pandangan orang bodoh. Pengawal-pengawal pintu gerbang mula-mula memandang saja dengan penuh curiga namun kemudian salah seorang daripadanya membentak:
“Pemuda gondrong!! Ada apa kau celangak celinguk di sini?!”
Dibentak malahan pemuda itu tersenyum.
“Apa kau tidak tahu berada di mana saat ini?!” bentak prajurit pengawal yang lain.
“Ah.. itulah yang aku mau tanya, saudara. Apakah ini istananya Sang Prabu Raja Pajajaran?”
Delapan pasang mata prajurit pengawal memandang dari atas ke bawah. Tak ada kesimpulan lain bagi mereka daripada berpendapat bahwa tentulah pemuda berambut gondrong itu seorang yang kurang ingatan. Seorang prajurit yang agak berumur maju ke muka.
“Orang muda, ini memang istana Raja Pajajaran. Siapapun tak diperkenankan berdiri lama-lama di sekitar sini.”
Pemuda itu garuk-garuk kepalanya.
“Kalau berdiri di sini tidak boleh, tentu masuk lebih tidak boleh lagi.“ katanya perlahan seperti pada dirinya sendiri.
“Berlalulah dari sini,” kata prajurit tadi.
“Tapi, aku mau bertemu dengan Rara Murni.” kata si pemuda.
Prajurit tua itu tertawa. “Tak seorang pun yang diizinkan bertemu dengan Tuan Puteri, apalagi kau.”
“Ini urusan penting sekali, Saudara.” desak si pemuda.
Salah seorang prajurit yang lain, yang sudah tak sabaran berkata: “Pemuda gila, berlalulah dari sini. Atau pangkal tombakku akan membenjutkan kepalamu.”
Tapi si pemuda tidak memperdulikan ancaman itu.
“Saudara pengawal, dengarlah,” katanya. “Aku pernah kenal dengan Rara Murni. Mungkin aku lebih kenal padanya dari kalian semua di sini. Aku musti ketemu dengan dia. Katakan saja bahwa ada seorang pemuda berambut gondrong bernama Trisula mau bertemu dengan dia. Pasti dia tahu dan mengizinkan aku masuk.”
Kedelapan prajurit pengawal itu tertawa membahak. Beberapa di antaranya malah mencibir. Dan seseorang di antara mereka berkata:
__ADS_1
“Kau salah alamat, kawan. Mustinya kau datang ke rumah dukun Gendong di kampung Andawa, minta obat kepadanya agar otakmu yang geblek sinting itu bisa diperbaikinya.”
“Siapa bilang aku sinting?” radang si pemuda rambut gondrong.
“Kau memang tidak sinting. Tapi berotak miring atau setengah gila.” Dan gelak membahak terdengar lagi di depan pintu gerbang istana itu.
“Kalau kalian tidak mau kasih aku masuk, tak apa,” kata si pemuda yang tiada lain daripada pendekar Trisula Maut Rangga Geblek. “Tapi satu hal aku katakan, aku tidak gila. Kalianlah semua yang gila tertawa tiada pangkal sebab.”
Habis berkata begini pemuda itu berlalu, melangkah sambil bersiul-siul.
Rara Murni seperti tidak percaya pada pemandangannya ketika melihat pintu terbuka dan dua sosok tubuh masuk ke dalam. Yang seorang adalah inang pengasuhnya, seorang perempuan tua, sedang yang satu lagi adalah pemuda rambut gondrong yang pernah menolongnya tempo hari.
“Kita bertemu lagi, Rara,” kata Rangga Geblek. “Di pintu gerbang aku tak diperbolehkan masuk, terpaksa lompat lewat tembok dan memaksa perempuan tua ini untuk memberitahukan kamarmu. “
“Ada apakah kau datang ke sini, Saudara Trisula?” tanya Rara Murni.
“Ah... rupanya kau masih belum melupakan gambar itu. Bagus sekali. Mengapa aku datang ke sini ?, Untuk bertemu dengan kau tentunya.” kata pendekar Trisula Maut pula seraya menyandarkan punggungnya ke pintu yang tadi ditutupkannya.
Merah paras Rara Murni mendengar kata-kata Rangga Geblek. Tentang diri penolongnya ini memang tak pernah dilupakannya, terutama mengingat kehebatannya. Maka bertanya pula dia:
“Mengapa kau ingin ketemu aku ?”
“Oh, jadi tak boleh ketemu?”
“Bukan begitu maksudku, Saudara.”
“Dengar Rara, aku musti bertemu dan bicara dengan Sang Prabu malam ini juga.”
Rara Murni terkejut. “Ada urusan apa...?”
“Urusan penting. Penting sekali.”
Rara Murni berpikir-pikir. Pemuda ini selama dikenalnya meski ceriwis dan suka bicara ngelantur tapi hatinya polos. Namun demikian dia masih belum tahu siapa adanya pemuda ini. Bukan mustahil dia adalah seorang pengkhianat macam Kalasrenggi tapi yang menjalankan taktik secara lain. Pura-Pura menolong pertama kali, kemudian bila tiba saatnya akan menggolong.
“Katakan saja urusan pentingmu itu, saudara. Nanti aku yang sampaikan kepada Sang Prabu.”
“Ini bukan urusan perempuan, Rara Murni.” kata Rangga Geblek pula.
Rara Murni yang lebih mementingkan keselamatan kakak kandungnya Prabu Kamandaka menjawab:
“Maaf, walau bagaimanapun aku tak dapat mempertemukan kau dengan Sang Prabu.”
Rangga Geblek tak berkata apa-apa. Digaruknya kepalanya.
“Sukar memang untuk percaya pada manusia macamku. Tapi biarlah, bertemu dengan kau puas juga hatiku.”
Pendekar itu tertawa dan kembali melihat bagaimana kedua pipi Rara Murni menjadi merah. Tiba-tiba tangan kirinya dihantamkan ke muka dengan telunjuk terpentang lurus-lurus. Tanpa keluarkan suara inang pengasuh yang tadi berlutut kini rebah tiada sadarkan diri. Rara Murni hendak menjerit. Tapi mulutnya ditekap oleh Rangga Geblek.
Pemuda ini berkata: “Rara, perempuan itu tak apa-apa. Aku hanya menotoknya agar jangan sampai dia membocorkan rahasia. Ketahuilah, istanamu ini kini penuh dengan pengkhianat. Aku tak tahu siapa yang menjadi biang pengkhianat. Kalau tahu siang-siang sudah kupuntir kepalanya dan kubawa ke hadapan Sang Prabu. Kuharap besok pagi atau malam ini juga kau bawalah Sang Prabu ke kamarmu dan baca pesanku ini.”
Habis berkata demikian pendekar Trisula Maut melangkah ke dinding dan pergunakan jari telunjuknya untuk menulis. Menulis serentetan syair yang mengandung nasihat dan peringatan.
Dalam waktu yang dekat akan pecah pemberontakan
Pemberontakan menggulingkan Sang Prabu dari takhta
kerajaan Istana penuh dengan pengkhianat-pengkhianat bermuka jujur
tapi berhati seculas setan
Siapkan bala tentara di luar tembok kerajaan
Trisula
“Sampai ketemu lagi Rara Murni.” kata pendekar Trisula Maut Wiro Sableng sehabis menulis rentetan syair itu.
Lalu cepat-cepat ditinggalkannya kamar itu. Rara Murni memburu ke pintu tapi si pemuda sudah lenyap. Ketika malam itu juga Rara Murni menemui Sang Prabu dan menerangkan tentang kedatangan pemuda aneh itu maka terkejutlah Prabu Kamandaka.
Dengan langkah besar-besar dan tanpa pengawal sama sekali Raja Pajajaran itu bersama adiknya pergi ke kamar. Dan memang apa yang tertulis di dinding kamar cocok seperti apa yang diterangkan adiknya. Dinding kamar itu dari batu dan dilapisi dengan marmer putih yang sangat keras. Dengan pahat sekalipun akan sukar menuliskan rentetan syair itu. Tapi si pemuda aneh telah menuliskannya dengan ujung jari.
“Bagaimana pendapat Kanda?” tanya Rara Murni kepada kakaknya.
“Pemuda itu tentu seorang yang sakti luar biasa.” kata Prabu Kamandaka.
“Tapi apa yang dituliskannya di dinding ini, adalah satu hal yang aku belum bisa percaya. Tentara kerajaan telah mengadakan pembersihan. Dan tak seorang pengkhianat pun ditemukan.”
“Mungkin mereka semua sudah menyingkir dan mempersiapkan diri di satu tempat yang tersembunyi di luar kerajaan,” kata Rara Murni pula.
Prabu Kamandaka mengusap-usap dagunya. Lalu katanya: “Rahasiakan tentang tulisan ini, Dinda. Meski aku tak percaya, aku akan mengadakan penyelidikan juga.”
Sesudah itu, keluarlah Kamandaka dari kamar adiknya.
Bersambung
__ADS_1