PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
PERDEBATAN DENGAN PENDUDUK DESA


__ADS_3

Di pelosok-pelosok desa terdengar kokokan-kokokan ayam bersahut-sahutan. Puncak dinginnya malam telah lewat dan kesegaran pagi yang ditandai oleh terangnya langit di ufuk timur menyatakan bahwa malam sudah sampai ke ujungnya untuk digantikan kini oleh kehadiran pagi. 


Ki Lurah Kundrawana menyalakan tembakau pipanya. Mukanya sudah cekung dan matanya kelihatan kuyu sedang parasnya pucat. Namun dibalik keredupan wajahnya itu tersembunyi sesuatu yang seperti menyala. Sesuatu itu ialah amarah dan rasa geram yang tiada terperikan. 


Di sedotnya pipa itu. Mulutnya terasa tak enak. Dia meludah ke tanah lewat langkan. Sejak dulu apalagi sejak beberapa hari terakhir ini lidahnya memang terasa tidak enak, pahit. Makannya boleh dikatakan dapat dihitung suapnya. 


Semakin terang hari semakin gelisah dia, semakin kuatir Lurah Bojongnipah ini. Yang dikhawatirkannya ialah kalau-kalau penduduk akan datang lebih dahulu dari pada Tiga Hitam dari Kali Comel. 


Sebentar-sebentar matanya memandang ke luar halaman. Namun segala sesuatunya dipagi itu masih diliputi oleh kesunyian. Dan kesunyian ini pula justru tidak menyenangkan hati Ki Lurah Kundrawana. 


Ditempelkannya lagi ujung pipa ke bibirnya. Disedotnya dalam-dalam kemudian dihembuskannya asap pipa itu. Sekali lagi dia meludah ke tanah lalu mengusap-usap bibirnya. Dia terkejut dan memutar kepalanya mendengar langkah-langkah kaki di belakangnya. Yang datang ternyata isterinya sendiri. Badan perempuan ini sudah jauh susut, lebih kurus dari dahulu. Seperti suaminya, parasnya juga pucat. Warih Sinten seorang perempuan berwajah ayu, namun keayuan itu kini tiada kelihatan lagi karena tertutup mendung kegelisahan. Gelisah memikirkan nasib anaknya, gelisah memikirkan nasib suaminya jika sebentar lagi penduduk benar-benar datang. Hari itu adalah hari pemungutan pajak yang ketiga. Semestinya pembantu Lurah Bojongnipah yang biasa berkeliling di seluruh desa memungut pajak itu sudah datang. Tapi kali ini tak kelihatan mata hidungnya. Bagaimana dia akan berani memunculkan diri jika sudah tahu kalau hari ini penduduk akan berontak. 


“Mudah-mudahan saja penduduk tidak datang.” 


Ki Lurah Kundrawana menggigit bibirnya. Dia tahu bicara isterinya itu hanya sekedar bicara saja. Memang apa yang diharapkan isterinya itu juga menjadi harapannya. Namun dia tahu betul bahwa harapan itu adalah satu hal yang mustahil. Rakyat akan datang. Penduduk akan datang. Dia tahu, dia pasti. 


Warih Sinten memandang lagi ke luar halaman. Lalu berkata lagi: “Kalaupun mereka datang, kurasa kita tak bisa lagi menyembunyikan kebejatan ketiga manusia terkutuk itu, Kakang. Kita musti katakan terus terang pada penduduk sebelum penduduk membunuh kita beramai-ramai.” 


“Nyawaku tak ada harganya, Warih,” ujar Ki Lurah Kundrawana. 


“Demi segala-galanya aku rela mati. Tapi percuma saja arti kematian jtu, kalau keselamatan jiwa anak tunggal kita sendiri akan tersia-sia pula.” 


Kesepian berjalan beberapa lamanya. 


Tiba-tiba. “Kakang…”. 


Warih Sinten memegang lehernya dengan kedua tangan. “Mereka… mereka datang…” 


Ki Lurah Kundrawana mengangkat kepalanya dan memandang ke luar halaman. Apa yang dikatakan isterinya memang betul. Serombongan laki-laki penduduk desa kelihatan muncul di tikungan jalan dibalik pohon-pohon bambu. Rombongan yang muncul ini merupakan kepala saja dari barisan penduduk yang jumlahnya tak kurang dari seratus orang. 


Dari jauh tak kelihatan mereka membawa senjata. Tapi Ki Lurah Kundrawana tahu bahwa di antara mereka pasti, ada yang membawa dan menyembunyikan senjata. Sesaat kemudian halaman luas itupun penuhlah oleh penduduk desa. Suasana menjadi bising kini. Ki Lurah Kundrawana dan istrinya berdiri mematung di atas langkan. Hanya kedua bola mata mereka yang berputar memandangi penduduk Bojongnipah itu. 


Seorang di antara penduduk kemudian menyeruak ke muka dan naik ke langkan, berdiri beberapa langkah dihadapan Kundrawana. Kundrawana kenal baik dengan laki-laki ini. Dia adalah seorang petani yang diam di desa sebelah timur. Namanya Kratomlinggo. Sewaktu laki-laki ini bertindak naik ke langkan, maka suasana di tempat itu sehening di pekuburan. 


“Ki Lurah…, Kratomlinggo buka mulut merobek keheningan itu. “Kau tentu sudah tahu maksud kedatangan kami bukan ?” 


Kundrawana tak menjawab. Pada wajah Kratomlinggo dilihatnya senyum mengejek. 

__ADS_1


“Ketahuilah bahwa aku berdiri dihadapanmu saat ini adalah, sebagai wakil dari sekian banyak penduduk Bojongnipah,” Kratomlinggo menunding ke belakang lalu meneruskan: “penduduk Bojongnipah yang sejak satu bulan belakangan ini telah menjadi korban pemerasan, korban penindasan, korban pengisapan, dicekik oleh pajak sebelas kali lipat. Penduduk Bojongnipah…” 


“Saudara Kratomlinggo,” memotong Ki Lurah Kundrawana. “Ringkaskan saja bicaramu. Katakanlah apa yang kalian mau”. 


Dan lagi-lagi Kundrawana melihat senyum mengejek tersungging di mulut Kratomlinggo. 


“Apa mau kami ? Itu semua sudah kami katakan pada saat pertama kali kau memungut pajak gila itu.” 


“Aku pribadi memang tak ingin berbuat begitu. Tapi ini adalah perintah atasan. Perintah Raja, untuk pembangunan dan pemeliharaan pasukan.” 


“Perintah atasan tinggal perintah atasan. Apakah kalau atasan menyuruh kau cebur ke sumur lantas kau akan berbuat begitu ? Nyemplung ke sumur ? Setiap perintah harus berdasarkan pertimbangan otak Ki Lurah.” 


Merah muka Kundrawana. Sementara itu Warih Sinten mulai menangis terisak-isak. 


“Saudara Krato, mungkin pemungutan pajak itu hanya bersifat sementara saja.” 


“Ya sementara. Sementara.. Baru dihentikan bila semua penduduk Bojongnipah ini mati dicekik pajak ?”  


“Aku tahu pajak sebesar itu memang berat…” 


“Kalau berat mengapa dilaksanakan ?!” tukas Kratomlinggo. 


“Kami penduduk desa Bojongnipah ingin agar peraturan pajak gila itu dicabut kembali.” berkata Kratomlinggo. 


“Aku tak punya wewenang untuk melakukan hal itu, saudara Krato”. 


“Kau bisa menyampaikan kepada Adipati di Linggajati. Adipati meneruskannya ke Kotaraja. Dan kalau kau tidak mau melakukan hal itu, kami tidak ragu-ragu untuk bertindak berdasarkan apa yang kami rasa benar.” 


“Apakah ini suatu ancaman ?” 


“Kau boleh bilang begitu., Ki Lurah!” 


“Saudara Krato…,” terdengar suara Warih Sinten. “Kau… kau dan semua penduduk Bojongnipah tidak tahu… tidak tahu…” 


“Kami lebih dari tahu.” geretus Kratomlinggo. “Meskipun apa yang kini kami ketahui itu adalah hal yang tak pernah kami duga. Kami tahu bahwa suamimu, Ki Lurah Kundrawana tak lebih dari seorang tukang peras. Yang menjilat ke atas dan menggilas ke bawah. Yang cari nama ke atas dan menjerat leher penduduk di bawah. Kami lebih dari ta….” 


“Kuharap bicara sepantasnyalah Kratomlinggo!!” memotong Ki Lurah Kundrawana karena panas hati dan telinganya mendengar dicap sebagai penjilat dan pemeras demikian rupa. Kratomlinggo berpaling ke arah orang banyak. Kemudian dia tertawa bergelak. Sementara itu salah seorang penduduk berteriak: 

__ADS_1


“Buat apa bicara sepanjang lebar dengan biang lintah darat itu ? Sumpal saja mulutnya dengan golok.” 


Kratomlinggo berpaling pada Kundrawana kembali. “Kau dengar teriakan itu Ki Lurah?” tanyanya. 


Mulut Kundrawana komat kamit. “Kalau kalian ingin pajak itu dicabut, silahkan pergi sendiri menghadap Raja di Kotaraja…” 


“Lantas, apa perlunya kau jadi Lurah di sini ?!” teriak seorang penduduk pula. 


“Apa hanya untuk ongkang-ongkang ?!” teriak penduduk yang lain. 


“Ongkang-ongkang dan memeras?!” teriak yang lain lagi. 


Kemudian penduduk lainnya berteriak pula: “Kami tidak percaya ini aturan dari Raja. Bukan mustahil pajak itu adalah aturan gila yang kau buat sendiri.” 


Masih banyak lagi teriakan-teriakan yang membuat muka Kundrawana menjadi merah dan tebal rasanya. Telinganya berdesing. 


“Kratomlinggo, kuharap kau bawalah orang-orang itu meninggalkan tempat ini,” kata Kundrawana. 


“Begitu ...?,” ujar Kratomlinggo dengan lontarkan senyum sinis. “Kami semua baru akan pergi sesudah kau menyatakan blak-blakan bahwa mulai saat ini aturan pajak gila itu dicabut” 


“Tak satupun yang bisa mencabut segala keputusan Raja.” jawab Kundrawana. 


Suaranya saja yang keras namun ucapannya itu sama sekali tiada dengan kesungguhan hati. 


“Kalau begitu agaknya kami terpaksa menggunakan kekerasan…” 


“Kau menentang Kerajaan, Kratomlinggo?” tanya Ki Lurah Kundrawana. 


Pertanyaan yang setengah menggertak ini dimaksudkannya untuk dapat ke luar dari keadaan yang terdesak saat itu. Namun jawaban Kratomlinggo adalah lontaran seringai mengejek. “Jangan takuti penduduk Bojongnipah dengan kata-kata Kerajaan, Ki Lurah. Kami semua yakin bahwa pajak gila itu adalah kau punya bisa. Kerajaan selama ini selalu bertindak adil dan bijaksana.” 


Kratomlinggo melangkah ke hadapan Ki Lurah Kundrawana dengan kedua tinju terkepal. Beberapa penduduk Bojongnipah melangkah pula naik ke atas langkan. Ki Lurah Kundrawana mundur beberapa langkah ke belakang. Warih Sinten menjerit. 


“Kratomlinggo, kau… kalian mau bikin apa…?” 


“Kami coba minta keadilan dengan cara wajar, tapi kau maukan kekerasan…” jawab Kratomlinggo. Tangan kanannya bergerak. 


Tiba-tiba terdengar ringkikan kuda dan suara hiruk pikuk. Penduduk di halaman muka berhamburan cerai berai. 

__ADS_1


“Atas nama Kerajaan, yang tidak mau mati, minggirlah.” 


Terdengar jeritan beberapa orang yang terserampang kuda.


__ADS_2